All for Glory of Jesus Christ

Bangkit

Setelah jatuh, banyak pilihan yang dapat Anda ambil. Pilihan yang Anda miliki sangat bervariasi, yaitu:
1. Anda dapat merenungi nasib Anda yang malang
2. Anda dapat terus memilih untuk berada dalam kondisi yang sama (jatuh).
3. Anda dapat mengeluh, memaki, meratapi, menangisi kejatuhan Anda.
4. Anda dapat berpikir dan mencari alasan kejatuhan Anda.

Mungkin bahkan tersedia lebih dari lima pilihan selain dari yang sudah saya sebutkan tadi. Setiap orang memiliki fase-fase tersendiri. Jika disusun dalam bentuk algoritma, maka susunannya bisa bermacam-macam.

Mari kita sederhanakan. Setidaknya awal algoritma selalu dimulai dari peristiwa jatuh dan akhir dari algoritma adalah peristiwa bangkit. Jadi akan ada 4 hal yang dapat kita cari kombinasinya. Dalam hal ini yang kita gunakan adalah bentuk permutasi. Dalam kondisi normal, yaitu dengan situasi setiap pilihan yang ada terjadi satu kali, maka akan terdapat 24 pilihan urutan fase yang dapat ditempuh.

Jika terjadi dalam kondisi tidak normal, yaitu dengan situasi setiap pilihan yang ada dapat terjadi lebih dari satu kali, maka proses dari jatuh sampai bangkit bisa memiliki lebih dari 24 pilihan urutan fase yang ditempuh, bahkan bisa mengulang (looping) terus sampai tak hingga.

Bayangkan saja urutan 1-2-3-4-1-2-3-4 dan seterusnya. Itu baru berputar 2 kali. Setiap fase dari jatuh sampai bangkit itu membutuhkan waktu, tenaga, pemikiran, dan emosi yang dihabiskan untuk setiap fasenya. Semakin banyak fase yang ditempuh dan semakin lama bergelut dalam suatu fase tertentu, maka akan semakin banyak investasi waktu, tenaga, pemikiran, dan emosi yang dikeluarkan.

Dalam setiap sistem, hal yang terpenting adalah mengubah input menjadi output melalui serangkaian proses di dalamnya. Dalam artikel kali ini, anggaplah sistem yang kita hadapi adalah sistem jatuh-bangkit. Proses di dalamnya kita tinjau bukan sebagai black-box (kotak yang dianggap kita tidak tahu proses di dalamnya), tetapi kita tinjau sebagai white-box (jelas kita tahu prosesnya, setidaknya terdapat 4 pilihan yang sudah dibahas sebelumnya).

Dalam suatu sistem sangat penting untuk mengubah input menjadi output. Jika input tidak bisa dikeluarkan menjadi output, maka akan dibutuhkan feedback (umpan balik) untuk menghasilkan output itu.

Dalam proses jatuh-bangkit kita, feedback bisa berupa masukan dari orang lain, bacaan-bacaan yang bermutu yang akan mendorong kita untuk bangkit, serta hal-hal yang kita lihat dan dengar yang akan memacu kita untuk bangkit.

Dari yang saya sering alami, jika saya berada dalam fase jatuh bila saya terus-menerus merenungi, menangisi, memikirkan alasan saya jatuh; ini sangat tidak produktif. Menghabiskan waktu banyak dan sangat tidak berguna. Ya, boleh-boleh saja merenung, menangisi, dan lain sebagainya itu; tapi hanya untuk waktu singkat.

Pikiran kita itu adalah suatu sumber yang perlu kita jaga dengan sangat waspada. Mengapa demikian? Karena pikiran kita itu akan mempengaruhi hidup kita. Saat kita berpikir kita jatuh dan habislah sudah, perasaan kita juga akan ikut jatuh dan merana. Saat perasaan kita sudah terpukul sedemikian rupa, maka tubuh akan merespon hal itu dengan mengeluarkan tanda-tanda protes.

Tanda-tanda protes bisa berupa: sakit kepala, sakit perut, sakit maag, sakit jantung, gatal-gatal pada kulit, insomnia, dan lain sebagainya. Akhirnya hidup terasa begitu menyiksa dan seperti di neraka.

Itulah sebabnya dikatakan dengan tegas di Amsal untuk menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Begitu penting hal ini dalam Filipi juga ditegaskan kepada kita untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Dari rangkaian yang saya tadi sudah ceritakan sebelumnya kiranya menjadi jelas kedua ayat ini.

Tuhan Yesus sendiri mengalami fase untuk bangkit ini. Karena Ia adalah Allah, Ia hanya membutuhkan waktu 3 hari untuk bangkit. Kebangkitan ini bukan kebangkitan yang main-main, karena mengalahkan maut. Hal yang tak seorangpun dapat lakukan. Ia dapat lakukan, karena Ia memang Allah sendiri.

Saya yakin sebenarnya Tuhan Yesus bisa saja begitu wafat, langsung bangkit pun bisa. Mengapa? Karena Ia adalah Allah. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Namun mengapa Ia harus menunggu sampai tiga hari untuk bangkit? Setidaknya ada dua alasan yang saya saat ini pikirkan.

Pertama karena memang untuk menggenapi nubuatan 3 hari bangkit. Kedua karena Tuhan Yesus mau menanamkan iman dan memberi pengajaran yang luar biasa kepada para murid-Nya.

Bayangkan Anda memiliki sebuah benda yang sangat Anda sukai. Begitu sukanya Anda pada benda ini, sampai-sampai ketika suatu ketika Anda kehilangan benda ini, Anda mencarinya kemana-mana.

Bayangkan ada dua skenario yang terjadi. Skenario pertama Anda kehilangan benda ini, lalu dalam waktu singkat (mungkin satu atau dua jam kemudian menemukannya). Skenario kedua Anda kehilangan benda ini, lalu Anda menemukannya setelah tiga hari.

Saya tanya sekarang. Bagaimana perasaan Anda berkaitan dengan skenario pertama atau kedua? Saya yakin semua akan menjawab “senang, lega, gembira” atau masih banyak ungkapan senada lainnya.

Saya ganti pertanyaannya. Antara skenario pertama dan kedua, intensitas perasaan yang Anda rasakan akan lebih tinggi pada skenario pertama atau pada skenario kedua? Saya yakin pada skenario kedua.

Begitu juga saat Tuhan Yesus bangkit pada hari ketiga, Ia menanamkan iman yang besar pada para Murid, memberikan pengajaran yang luar biasa, dan rasa suka cita yang begitu mendalam. Bagaimana dengan kita?

Jika kita diberikan kebebasan untuk memilih, saya tidak berharap kita akan mengambil skenario kedua setiap saat. Jika kita mengerti bahwa kita perlu bangkit segera dari peristiwa jatuh, segeralah bangkit! Tidak ada gunanya untuk menunda-nunda bangkit.

Memang normal bagi kita untuk beranjak dari fase jatuh untuk menuju fase bangkit dalam kurun waktu tertentu. Dalam artian tidak selalu kita begitu jatuh, akan langsung bangkit. Tapi bisa melalui empat atau lebih pilihan fase yang saya sudah tuliskan di awal artikel. Khususnya hal ini sangat wajar untuk suatu peristiwa yang baru pertama kali dialami. Seperti kata pepatah:

”There’s always a first time.”
(“Selalu ada saat pertama kali.”)

Hanya saja bukan berarti lalu ini menjadi alasan untuk berlama-lama dalam fase jatuh. Kita perlu bergegas bangkit dan berjalan lagi, berlari lagi, melompat lagi. Uang, barang, dan tenaga yang hilang dapat diusahakan lagi. Waktu adalah sesuatu yang tidak dapat kita putar kembali.

Semoga algoritma dan sistem jatuh-bangkit ini bisa berjalan efisien dan efektif dalam hidup Anda. Berjalan bersama Kristus seharusnya membuat kita semakin tangguh dan memampukan kita menjalani fase jatuh-bangkit ini dengan lebih tegar.

Siap bangkit?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: