All for Glory of Jesus Christ

Cerah

Seharusnya saya menuliskan topik ini kemarin tapi kemarin saya sakit akhirnya saya tuliskan pada hari ini bersama dengan artikel hari ini. Yah, sedikit mengejutkan karena sudah lama sekali saya tidak sakit. Betul-betul sudah tidak ingat waktu terakhir saya sakit.

Biasanya saya sakitpun hanya butuh waktu setengah hari, hanya saja kemarin entah karena saya salah makan atau kurang istirahat, saya juga tidak mengerti, ternyata butuh satu hari penuh untuk saya beristirahat.

Akan tetapi, ada dua hal yang mencerahkan hari saya pada hari kemarin. Yah, karena topik hari ini adalah mengenai cerah, saya akan membagikan cerita tentang cerah ini. Pertama ada teman yang menanyakan mengenai suatu ayat. Ternyata bukan teman saya yang menanyakan, tetapi temannya teman saya.

Lalu akhirnya kami (saya dan temannya teman saya) terlibat dalam diskusi yang cukup menarik seputar Alkitab dan ayat Alkitab. Yah, walaupun kemarin sedang sakit, tapi tetap menyenangkan untuk berdiskusi. Setidaknya daripada saya tidur terus sepanjang hari yang membuat saya agak lemas hari ini, diskusi membuat pikiran saya lebih cerah.

Hal kedua yang mencerahkan hari saya adalah memiliki seorang ibu yang sangat telaten mengurus anaknya. Rasa-rasanya senang juga dirawat dalam kondisi sakit, karena memang saya sangat jarang sakit. Walaupun jelas kalau disuruh memilih, saya akan memilih untuk tetap dalam keadaan sehat.

Sebenarnya masalah cerah atau tidak, itu bukan tergantung dari cuaca saat itu. Entah hari cerah, mendung, berawan, atau hujan; hari Anda tetap dapat cerah terus sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan, dan sepanjang tahun.

Hari Anda ditentukan oleh kondisi Anda sendiri sebenarnya. Kondisi yang saya maksud adalah mengenai reaksi yang Anda berikan kepada hal-hal yang terjadi pada diri Anda.

Jika hari hujan dan kemudian Anda menjadi kesal, sebenarnya kondisi Anda ditentukan oleh cuaca di luar. Jika bawahan Anda bekerja dengan teledor sehingga menyebabkan jadwal jadi berantakan dan membuat Anda jadi emosi, sebenarnya kondisi Anda ditentukan oleh kinerja bawahan Anda.

Jika bos Anda super penuntut dan perfeksionis sehingga hal terkecil pun disorotinya bagaikan seorang laboran yang meneliti bakteri lewat mikroskop; lalu hal itu membuat Anda menjadi senewen sepanjang hari, sebenarnya kondisi Anda ditentukan oleh sikap atasan Anda.

Jika pasangan Anda tidak bisa memahami Anda dan Anda jadi marah karenanya, sebenarnya kondisi Anda ditentukan oleh pasangan Anda. Jika anak-anak Anda mengecewakan dan membuat Anda sedih, sebenarnya kondisi Anda ditentukan oleh anak-anak Anda.

Betapa hidup ini akan menjadi begitu ruwet, seruwet benang kusut yang dimainkan oleh seekor kucing, jika hidup Anda terus-menerus dikondisikan oleh orang-orang , situasi, dan kondisi di sekitar Anda.

Dalam 24 jam sehari akan ada banyak sekali hal yang terjadi. Kalaupun mengikuti teori probabilitas, peluang terjadinya kejadian baik dan buruk adalah 50% – 50%, berarti terdapat 50% kejadian buruk yang akan terjadi. Jika 50% dari kejadian buruk itu adalah 10 kejadian saja, maka bayangkan ada 10 hal yang akan membuat Anda berada dalam kondisi emosi Anda terjungkat-jungkit.

Bukankah ruwet jadinya jika kondisi emosi Anda ditentukan oleh faktor-faktor eksternal? Saya bukan berkata bahwa setiap orang tidak boleh mengeluarkan emosi negatif. Oh silakan saja. Hanya saja jangan berlama-lama terjerat di dalamnya.

Semakin lama Anda terjerat di dalamnya, semakin berat langkah kaki Anda untuk beranjak darinya. Jika Anda ingat dalam pelajaran Fisika pada saat SMU, terdapat sejumlah hukum dalam Gaya Newton, yang salah satunya adalah suatu benda akan tetap diam (lembam) jika tidak diberi gaya apapun. Hukum ini dikenal sebagai hukum kelembaman.

Hal yang sama juga berlaku pada emosi manusia. Siapa bilang Fisika hanya berlaku pada benda semata? Coba saja praktekkan. Ketika Anda sedang sedih, Anda terus-menerus berada dalam kesedihan, diam dan terpuruk, menangis dan meratapi nasib. Ah, dijamin Anda akan semakin jatuh ke dalamnya.

Bahwa ada orang yang patah hati kemudian memilih untuk bunuh diri sementara yang lainnya kemudian bangkit dan berjalan lagi, itu ditentukan juga oleh hukum kelembaman ini. Setiap orang memiliki pilihan dalam hidupnya untuk terus terbenam (lembam) dalam suatu emosi negatif atau tidak. Bahkan sebelum itu, setiap orang memiliki pilihan untuk masuk dalam emosi negatif atau tidak.

Kecerahan suasana hati ditentukan dari dalam, yaitu dari sikap mental Anda. Itulah sebabnya ribuan tahun yang lalu Rasul Paulus, seorang rasul yang luar biasa militan dan merupakan tokoh yang saya kagumi menuliskan demikian, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Sukacita bukan berdasarkan kondisi yang terjadi, tetapi lebih berupa keputusan hati. Seperti sudah dituliskan dalam artikel-artikel sebelumnya, perasaan kita ditentukan oleh pikiran kita. Jadi saat pikiran kita memutuskan untuk bersukacita, demikianlah pula dengan perasaan kita.

Rasul Paulus memang tokoh yang luar biasa. Ia menuliskan ayat tadi kepada umat di Filipi pada saat ia sedang dalam penjara. Ia dipenjara bukan karena melakukan kejahatan. Ia dipenjara karena memberitakan Injil Kabar Baik, bahwa Yesus yang telah disalibkan, wafat, dan dibangkitkan pada hari ketiga adalah Allah sendiri, dan bahwa dengan nama Yesus Kristus itulah, bagi orang yang percaya kepada-Nya akan mengalami hidup yang baru.

Dipenjara saja sudah sangat buruk, dipenjara bukan karena kesalahannya, itu lebih buruk lagi. Tetapi bukannya bersedih, marah, kesal, kecewa; Rasul Paulus malah menyemangati jemaat di Filipi untuk bersukacita!

Luar biasa! Saya selalu merasa terbakar setiap kali membaca dan menuliskan mengenai ayat ini. Bahkan Tuhan kita, walaupun mengalami betapa beratnya beban yang harus Ia pikul di kayu salib, walaupun merasa takut; namun dengan sadar menyisihkan itu semua dan menyerahkan semua kegalauan-Nya dan maju untuk mengemban tugas-Nya: penyelamatan umat manusia.

Bayangkan kalau Tuhan Yesus begitu terserap dalam emosi negatifnya lalu mengundurkan diri dari tugas untuk menyelamatkan manusia. Apa yang terjadi? Hal yang pasti adalah kita semua menjadi orang-orang yang sangat kasihan, karena kita pasti menerima upah dari perbuatan kita, yaitu maut.

Karena tidak ada seorangpun yang benar di dunia ini, ya tidak ada; hanya karena pengorbanan-Nya di kayu salib, akhirnya kita bisa menerima pembenaran itu. Salah satu bagian kita sekarang adalah untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya setiap hari.

Menyangkal diri dalam konteks artikel ini bisa diartikan tetap bersukacita walaupun kondisi yang dihadapi sedang sulit dan menekan. Bersukacita bukan berarti membohongi diri atau mengecilkan atau bersikap seolah meniadakan persoalan. Bersukacita berarti tetap realistis terhadap apapun yang terjadi, namun tidak menjadikan masalah sebagai suatu hal yang menahan kita untuk maju.

Apapun yang terjadi dalam hidup Anda, biarlah perjalanan Anda bersama Tuhan penuh dengan kecerahan. Saya akan berikan satu tips kecil untuk tetap bersukacita. Temukanlah hal-hal kecil setiap hari yang membuat Anda tetap bersyukur.

Sangat sederhana bukan? Contohnya: saat ini saya bersyukur atas combro yang dibuat ibu saya, nikmat sekali. Kecil sekali bukan contoh ini, tapi nilainya besar. Nah, silakan menemukan hal-hal kecil dalam hidup Anda yang dapat membuat Anda tetap bersyukur dalam berjalan bersama Tuhan.

Selamat hari yang cerah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: