All for Glory of Jesus Christ

Hujan

Bagaimana perasaan Anda ketika hujan turun? Jika Anda seorang petani, saya yakin Anda termasuk seorang yang senang sekali. Hujan yang turun berarti akan membasahi tanaman yang ada dan membuatnya tumbuh.

Jika Anda seorang pejalan kaki atau pengguna kendaraan bermotor, mungkin hujan bukanlah saat yang paling Anda nantikan. Masih ingat kata-kata penuh kesamaan rima yang dipopulerkan oleh seorang artis belia di negeri ini?

“Sudah hujan, macet, becek, tidak ada ojek, capek deh.”

Ah, hujan. Hujan membuat udara yang terik dan tanah yang berdebu menjadi sejuk dan tanah pun jadi basah. Tumbuh-tumbuhan menjadi menghijau. Aroma tanah yang kuat akan tercium di kala hujan. Benar-benar waktu yang pas untuk dinikmati bersama dengan secangkir teh hangat yang harum.

Sebaliknya bagi pejalan kaki yang tidak membawa payung ketika hujan, para pengendara motor yang dihadang hujan lebat, terpaksa harus berteduh dahulu untuk menghindari garangnya curahan air hujan yang turun. Saat itulah hujan diharapkan segera berhenti. Kalau perlu, seketika itu juga.

Saya yakin banyak dari Anda yang pernah atau sering mengalami hal berikut ini: ketika awan hitam mulai menggumpal, Anda berdoa supaya Anda bisa sampai ke rumah dengan tepat sebelum hujan turun. Ternyata benar, ketika sampai di dalam rumah, barulah hujan turun dengan derasnya.

Kejadian lain adalah ketika Anda akan pergi beberapa saat lagi, tapi hujan turun. Akhirnya karena memang tidak ada waktu lagi, Anda memutuskan untuk pergi juga. Saat itu ternyata hujan sudah berhenti turun.

Ah senang sekali bukan menghadari kedua kejadian di atas? Ya, memang menyenangkan. Akan tetapi, tidak selalu dalam hidup ini semua yang kita inginkan terwujud. Ada kalanya tidak.

Di Kejadian dituliskan hal berikut ini: belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu;

Menarik sekali bahwa hujan merupakan suatu sarana pertumbuhan. Lebih menarik lagi dan saya yakin bukan suatu kebetulan karena sebelum saya menuliskan artikel ini ada seseorang yang menanyakan kepada saya mengenai pertumbuhan rohani.

Setiap orang perlu bertumbuh dalam kerohanian. Untuk tumbuh, perlu sarana yang tepat: tempat yang tepat (di sini saya bicara adalah bukan tempat dalam arti gereja, kelompok sel, komunitas dan lain-lain, walau itu juga sangat penting. Tetapi saya bicara hati sebagai ladang pertumbuhan). Di ayat di atas dikatakan padang. Nah padang dan tempat bicara hal yang sama, hati kita.

Faktor kedua bicara mengenai orang. Di sini adalah faktor-faktor kedisiplinan, kesetiaan, kemauan membayar harga untuk bertumbuh. Jika tempat sudah tepat, tapi orangnya tidak mau mengusahakan tempat itu, maka tetap tidak bisa. Perlu keduanya.

Satu lagi yang paling krusial adalah hujan. Hujan adalah kuasa Tuhan untuk menumbuhkan dalam diri manusia. Selalu akan ada faktor manusia dan faktor Tuhan. Akan sangat repot manusia bertahan hanya di salah satu faktor saja.

Bayangkan ingin bertumbuh tapi hanya berharap pada Tuhan saja dan tidak mau berusaha. Ekstrim lain adalah hanya berusaha saja tanpa melibatkan Tuhan. Jelas tidak akan bisa. Dalam hubungan selalu terjadi timbal balik, kalau hanya satu pihak saja tidak bisa.

Ya, Allah kita adalah Allah yang luar biasa. Ia Tuhan yang penuh inisiatif. Tanpa permintaan manusia, Ia mau datang untuk menyelamatkan manusia, menebus dosa manusia. Jika Tuhan tidak penuh inisiatif, kita semua sudah binasa.

Dari ayat yang sama pula dapat ditinjau bahwa hujan merupakan sumber berkat. Karena bisa bertumbuh, berarti bisa ada sesuatu yang bisa dihasilkan. Berkat itu macam-macam, bukan hanya faktor materi saja yang disebut berkat. Kesehatan itu juga berkat. Umur panjang itu berkat.

Keluarga dan sahabat yang luar biasa itu berkat. Bisa dicukupi kebutuhan kita sehari-hari itu berkat. Bahkan kita bisa hidup saja sekarang ini, bisa menghirup udara saja secara gratis, menikmati sinar matahari secara gratis itu berkat. Bayangkan negara yang memiliki iklim 4 musim yang tidak senantiasa mengalami sinar matahari yang berlimpah dan merindukan datangnya musim panas untuk menikmati hangatnya sinar matahari.

Selain sebagai sarana pertumbuhan dan berkat, hujan juga dapat ditinjau sebagai hal yang lain. Juga masih dalam Kejadian dituliskan sebagai berikut: Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu.”

Hujan dapat ditinjau sebagai pembersih. Jangankan hujan empat puluh hari empat puluh malam seperti pada zaman Nabi Nuh, hujan sebentar saja banyak daerah sudah kuatir kebanjiran.

Jika ada hal-hal yang memang perlu dibersihkan, Tuhan akan mendatangkan hujan. Dari sudut pandang manusia, pasti kita akan bertanya-tanya mengapa harus Tuhan mendatangkan kesukaran. Mengapa semua tidak dibiarkan aman, nyaman, mudah, dan nikmat?

Kalau kita mau berefleksi secara jujur pada diri kita masing-masing, coba tengok dan perhatikan saat kita benar-benar datang pada Tuhan itu pada saat kapan? Ya, hal yang terbaik adalah kita datang setiap saat. Akan tetapi, sering halnya manusia jadi terlalu asyik dan terlalu sibuk dengan dirinya sendiri saat segala sesuatu baik-baik saja.

Sebaliknya ketika pembersihan datang, manusia mulai berefleksi, mulai merenung, mulai menilik ke dalam hidup dan hatinya yang paling dalam. Saat itulah biasanya saat yang paling potensial untuk manusia berseru kepada Tuhan.

Oleh karena itu tidak heran kalau akhir-akhir ini gempa sering terjadi di berbagai belahan negeri kita tercinta. Itulah bentuk hujan yang Tuhan izinkan. Kita tidak akan pernah dapat mengerti 100% cara pandang ataupun rencana Tuhan.

Ia yang adalah Allah yang Maha Kuasa, Maha Besar, dan sempurna; jelas tidak akan pernah dapat kita mengerti seluruhnya. Jika kita bisa mengerti Tuhan dengan sepenuhnya, berarti Ia bukan yang Maha Luar biasa karena kita makhluk ciptaan-Nya pun mampu untuk menyelami Dia secara 100%.

Apapun hujan yang Tuhan turunkan, berjalan bersama Tuhan sepanjang hidup kita pastilah kita tidak akan pernah kecewa. Karena hati-Nya yang begitu penuh kasih selalu terbuka dan memberi kesempatan kepada kita untuk selalu menggapai-Nya.

Selamat menikmati hujan!

Iklan

Comments on: "Hujan" (1)

  1. i love rain…
    barusan abis dari suniaraja. ujan gede, lgsg ujan2an plg k kos. hahahhaa…

    tadi ny mo k BEC trus k IP. jd d undur gara2 gw pgen ujan2an. hhahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: