All for Glory of Jesus Christ

Manis

Wah saya baru saja melihat-lihat foto teman di facebook. Saya akui dia memang manis hahahaha. Cocok sekali dengan username yang dia pakai dan pas sekali dengan tema hari ini.

Saya sekitar satu minggu lalu kalau tidak salah baru saja menyelesaikan membaca buku “Eating Right in A Modern Life” yang ditulis oleh Hale Sofia Schatz dan Shifra Shaiman. Hale Sofia Schatz adalah konsultan makanan dan gizi.

Hal yang menarik waktu saya baca di sana adalah ternyata untuk keseimbangan, setiap hari kita perlu makan makanan mengandung 5 rasa, yaitu manis, asin, asam, pahit, dan pedas. Jadi selama 5 hari ke depan topik saya akan mengangkat topik-topik berkaitan dengan rasa ini.

Manis merupakan rasa yang paling banyak digemari orang. Apalagi memang dari bayi kita semua memang sudah mengonsumsi makanan dan minuman manis. Ya, susu dan bubur itu mengandung karbohidrat. Karbohidrat seperti kita tahu berasal dari zat tepung dan zat tepung mengandung memang bersifat manis.

Apakah Anda mempunyai kecenderungan untuk makan makanan yang manis? Hati-hati, ternyata gula mengandung unsur racun bagi tubuh. Efek setelah makan banyak makanan yang mengandung gula ternyata membuat metabolisme bekerja lebih keras. Akibatnya tubuh terasa lelah dan mengantuk.

Walaupun begitu, makanan/minuman yang manis ini diperlukan juga oleh tubuh walau dalam kadar yang tidak berlebihan. Hal-hal yang manis juga kita perlukan dalam hidup. Dalam Amsal dikatakan bahwa Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan.

Perlu digarisbawahi bahwa perkataan manis memang akan lebih dapat meyakinkan orang namun perlu disertai dengan kebijakan (pengertian/hikmat). Tanpa itu, maka perkataan manis hanya akan menjadi lip service belaka.

Jika banyak orang tertipu karena banyak janji-janji manis yang diucapkan, ya itulah pembuktian dari ayat di Amsal tadi. Janji akan mendapat hadiah dari produk A, B, C; dan lain sebagainya biasanya diutarakan ketika menjual produk. Hanya saja ketika sudah menjual, lalu ternyata memang hanya lip service belaka.

Mungkin saat itu meyakinkan bagi si pembeli, akan tetapi tindakan yang dilakukan si penjual sangat tidak bijaksana. Mengapa demikian? Karena pembeli yang merasa tertipu tidak akan kembali untuk membeli produk itu atau produk lain yang ditawarkan di toko tersebut.

Mungkin Anda akan berpikir bahwa hal itu hanya akan mengakibatkan hilangnya 1 konsumen. Jangan salah! Konsumen yang tidak puas dapat menyebabkan hilangnya lagi calon konsumen yang lain.

Saya yakin Anda pernah mendengar salah satu teknik marketing word of mouth (promosi dari mulut ke mulut). Nah selain promosi positif, promosi negatif juga berlaku untuk word of mouth ini. Apalagi hal-hal yang negatif lebih mudah tersebar daripada hal-hal yang positif, jadi Anda perlu mempraktekkan bicara manis (ramah) kepada konsumen Anda yang memang disertai dengan hikmat.

Bila Anda memiliki kekasih, katanya wanita itu suka sekali dikatakan yang manis. Walaupun sebenarnya saya perhatikan pria juga suka dikatakan hal-hal yang manis. Nah ayat di Amsal tadi juga berlaku. Perkataan manis memang lebih meyakinkan.

Anda bisa membuat pria atau wanita tertarik lebih mudah kepada Anda dengan kata-kata yang manis daripada kata-kata yang ketus. Hanya saja jika tanpa disertai dengan hikmat, akhirnya akan berbahaya.

Sering mendengar kata “tebar pesona”? Biasanya hal itu dikenakan kepada seseorang yang gemar membuat orang tertarik kepada dirinya tanpa disertai keseriusan niat untuk berhubungan. Jadi hanya sekedar pembuktian untuk melihat jumlah orang yang akan tertarik kepada dirinya.

Baik para pria maupun para wanita, saya sangat menyarankan kepada Anda untuk berhikmat. Jika Anda seseorang yang menarik, tanpa Anda tebar pesona pun pasti Anda sudah menarik perhatian seseorang. Tidak perlu lagi menebar pesona.

Bahkan jika ada yang tertarik pada Anda, sangat bijak jika Anda menyikapinya dengan berhikmat. Bersikap tarik ulur sementara Anda tidak berminat padanya sangatlah tidak disarankan. Bijaksanalah.

Saya dapat membayangkan jika saya memiliki anak perempuan atau anak laki-laki lalu anak perempuan atau anak laki-laki saya dipermainkan oleh orang lain yang disukainya. Ah, menghancurkan hati saya.

Tidak perlu terlalu jauh membayangkan. Anggaplah Anda memiliki adik perempuan atau laki-laki atau teman yang sangat akrab dengan Anda lalu ia dipermainkan oleh orang yang disukainya, bagaimana perasaan Anda? Jadi, bijaksanalah.

Berkaitan dengan hal yang manis ini ada satu ayat lagi di Mazmur yang akan saya ketengahkan di sini, yaitu biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar. Wah, keras sekali ayat ini.

Jika kita senang berbicara manis tapi itu bukan kejujuran, akibatnya Tuhan akan mengeratnya. Mengerat berarti memotong atau mengiris. Uh, seram. Bayangkan bibir dan lidah yang dipotong. Hmmm..

Kita tidak hidup di zaman Taurat lagi sehingga jika kita berbohong maka bibir dan lidah kita akan sungguh-sungguh dipotong. Hanya saja makna ayat ini jauh lebih mendalam lagi dari sekedar bibir dan lidah yang dipotong.

Jika kita senang bicara manis tapi palsu (dalam dunia percintaan disebut sebagai gombal, silakan baca di “Gombal vs True Love“), besar kemudian kita akan sulit dipercayai orang lagi. Apalagi jika reputasi kita sudah terkenal sebagai seorang yang senang berbohong, wah sulit sekali untuk memulihkan reputasi.

Reputasi dan nama baik dalam bisnis merupakan intangible assets (harta-harta tak berwujud) namun nilainya bisa lebih besar daripada tangible assets (harta-harta berwujud). Mengapa demikian? Bisnis jika sudah menyangkut nama baik, reputasi, kepercayaan; maka jika sekali meleset dan gagal ya habislah semua.

Bahkan ada orang yang begitu luar biasanya reputasinya sampai-sampai orang-orang lain yang berbisnis dengannya yakin, bahwa mereka pasti akan dapat memegang perkataannya. Mengapa bisa begitu? Karena memang reputasi itu sangat bernilai. Jika Anda terkenal bermulut manis tapi tidak dapat dipercaya, orang hanya akan percaya pada Anda sekali dua kali, setelah itu mungkin tidak lagi.

Bahkan hari ini saya membaca di suatu forum ada yang menuliskan sebagai berikut:

“Jika ada yang memuji-muji saya, saya akan lebih waspada sementara jika ada yang menegur dan mengoreksi saya, saya akan lebih berterima kasih.”

Ah, pujian dan sanjungan merupakan hal yang manis. Kita perlu melakukan itu dengan tulus. Tetapi jika kita perlu menegur dan mengoreksi, lakukan juga hal itu. Walaupun awalnya pahit, buahnya manis.

Ibarat obat lebih baik makan obat pahit tapi buahnya manis (sembuh) daripada makan obat manis tapi buahnya pahit (tidak sembuh). Begitu juga kata-kata dan perbuatan kita bukan? Lebih baik jika bisa manis-manis, tapi jika tidak bisa pahit-manis jauh lebih baik daripada manis pahit.

Selamat meracik rasa manis!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: