All for Glory of Jesus Christ

Asin

Hari ini kita masuk pada rasa kedua, yaitu asin. Dalam masakan rasa asin itu penting, memang tidak asin sekali, tapi ada rasa asin yang terasa. Dengan adanya rasa asin, maka makanan terasa lebih nikmat.

Untuk itu dalam makanan umumnya digunakan garam atau kecap asin sebagai penambah rasa. Kurang garam menyebabkan makanan terasa tawar dan kurang nikmat. Terlalu banyak garam menyebabkan lidah terasa kebas.

Baru saja saya mengalaminya tadi malam. Entah karena baru sembuh dari tidak enak badan atau memang saya sedang lapar, saya tadi malam memasak nasi goreng. Hanya saja karena saya lupa bahwa saya sudah menggarami telurnya, saya menggarami lagi nasinya.

Lalu saya aduk-aduk dan saya coba sedikit. Lho, ternyata tidak ada rasa asin sedikitpun. Perlu diketahui bahwa saat sedang dimasak (dalam kondisi sangat panas), makanan yang dicicipi biasanya memang kurang berasa.

Saat itu saya tambahkan lagi garam, lalu setelah itu ketika saya makan wah luar biasa. Luar biasa asin ternyata hahahaha. Ya, waktu saya mencicipi ketika nasi sedang dimasak, saya lupa prinsip mengenai kurang berasanya suatu makanan saat sedang dimasak dalam keadaan sangat panas.

Garam yang berperan sebagai pemberi rasa asin itu, selain memberi rasa juga untuk mengawetkan dan juga untuk mencegah gondok. Untuk yang terakhir ini memang karena biasanya pada garam ditambahkan zat yodium.

Hanya saja, terlalu banyak garam juga tidak terlalu baik. Selain karena memang membuat rasanya jadi terlalu asin, juga dapat menyebabkan tubuh mengalami hipertensi (tekanan darah tinggi) di masa mendatang.

Bahkan bukan hanya itu, saya memperoleh informasi dari sini bahwa mengonsumsi terlalu banyak garam juga memicu serangan jantung dan stroke, juga memperburuk kondisi orang dengan penyakit asma. Mengenai efek memicu serangan jantung dan stroke sebenarnya dua hal ini merupakan efek turunan juga dari hipertensi, jadi memang saling tarik-menarik antara ketiga hal itu.

Dalam surat Yakobus ditulis sesuatu yang menarik: saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Mata air asin tentu saja seharusnya mengeluarkan air asin, tidak akan pernah mengeluarkan air tawar. Jika mengeluarkan air tawar berarti terjadi kelainan di dalam mata air tersebut. Begitupula dengan hidup kita. Jika kita mengaku sebagai pengikut Kristus, maka kita harus pula memancarkan Kristus itu.

Entah kadar banyak atau sedikit, tentu saja harus ada. Semakin banyak, berarti semakin kita menyerupai Kristus. Walaupun tentu saja, ukuran banyak dan sedikit ini sifatnya relatif dan sulit sekali diukur.

Dalam perumpamaan yang terkenal mengenai garam dunia dikatakan dengan jelas bahwa garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”

Kita semua adalah garam. Setiap kita dipanggil sebagai garam untuk memberi rasa asin pada dunia, tidak terlalu asin sehingga menyebabkan lidah terasa kebas dan tidak mau lagi menerima, bahkan menolak makanan yang masuk, tapi pada kadar yang tepat. Walaupun garam itu kecil, tapi dampaknya besar. Satu panci sayur, mungkin hanya butuh beberapa sendok garam saja sudah cukup untuk memberi rasa di dalamnya.

Setiap garam dapat menjadi hambar. Kita dapat menjadi hambar, jika kita terus memandang setiap kesulitan dan beban persoalan sebagai sesuatu yang menahan kita bahkan merantai kita. Kita dapat menjadi hambar, jika kita hanya hidup sendiri saja, terisolasi dari orang-orang lain.

Akan tetapi Tuhan itu baik, tidak cukup Ia hanya mengosongkan diri-Nya yang sebagai Allah, mengambil rupa seorang manusia dalam diri Yesus Kristus, mengalami penghinaan, penghianatan, dicaci maki, disiksa, sampai mati di kayu salib, lalu bangkit; semua semata untuk menebus dosa umat manusia, dosa Anda dan saya.

Sebelum Ia kembali ke Surga, Ia juga menjanjikan Penolong, yaitu Roh Allah untuk tinggal dalam diri kita. Itulah garam yang akan selalu tinggal dalam diri kita. Itulah sebabnya jika kita berdosa kita akan dikejar rasa untuk kembali bertobat.

Terlalu sedikit garam dalam suatu tempat akibatnya hambar. Terlalu banyak garam dalam suatu tempat akibatnya terlalu asin. Panggilan kita adalah menggarami ketawaran yang ada, bukan menggarami garam-garam lain. Ya, ada juga bagian kita untuk menggarami garam-garam yang tawar, tapi lebih dari itu bagian kita adalah untuk menggarami tempat-tempat yang memang butuh garam.

Asin adalah rasa. Asin adalah pencipta suatu dinamika rasa. Rasa asin ada untuk membuat suatu perbedaan rasa, bukan untuk menciptakan rasa kebas pada lidah. Bukan juga untuk membuat lidah menolak makanan yang akan masuk, karena rasanya sudah terlalu tak enak. Bukan.

Itulah sebabnya sebagai garam dikatakan kita perlu untuk hidup berdamai seorang dengan yang lain. Menggarami tidak berarti kita secara ekstrim membacakan ayat-ayat Alkitab kepada seseorang, kecuali memang bila yang bersangkutan meminta dan memang membutuhkannya.

Menggarami bisa dalam bentuk memberikan kasih yang tulus. Memberikan rasa asin bisa dalam bentuk memperhatikan. Menambahkan rasa garam bisa dalam bentuk mengoreksi jika salah, mendengar jika dibutuhkan. Menggarami bisa dalam bentuk mendoakan, menjenguk, menolong.

Banyak aspek dalam menggarami, yang pasti menggaramilah dengan tulus dan bukan hanya karena ingin mengubah yang digarami jadi asin. Tapi kalau hanya itu motivasinya, saat tidak berubah-ubah menjadi asin, sang garam ini akan kecewa dan meninggalkan. Akhirnya yang digarami akan menjadi semakin tawar. Tugas garam hanyalah untuk memberi rasa, keputusan yang digaramilah untuk menjadi asin atau tetap tawar.

Selamat menikmati dan menjadi rasa asin yang pas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: