All for Glory of Jesus Christ

Pemulihan

Ah, senangnya saya karena setidaknya hari ini sudah tidak menderita seperti kemarin. Bisa dibilang sudah mulai mengalami kesembuhan. Walau masih terasa ini dan itu, saya pikir dibanding dengan keadaan kemarin keadaan saya hari ini jauh lebih baik. Puji Tuhan!

Bicara tentang pemulihan ini merupakan impian setiap orang. Apalagi akhir-akhir ini bencana tampaknya begitu rajin singgah di bumi pertiwi ini. Ada apakah gerangan? Saya sendiri percaya bahwa hal ini berkaitan dengan pemulihan Indonesia.

Dari ribuan tahun lalu telah nyata bahwa setiap kali Tuhan ingin memulihkan sesuatu pasti akan dilakukan pembersihan terlebih dahulu. Mulai dari bumi yang ditelan oleh hujan 40 hari 40 malam untuk dimulainya suatu peradaban yang baru. Hal itu terjadi pada zamannya Nabi Nuh yang diperintahkan oleh Tuhan membuat bahtera.

Lalu berlanjut ke Sodom dan Gomora yang dibersihkan Tuhan dengan cara membakarnya dengan api. Waktu itu Abraham sudah melakukan diplomasi dengan Tuhan untuk tawar-menawar supaya Sodom dan Gomora tidak dibakar. Hanya saja ternyata tidak terdapat jumlah yang diharapkan oleh Allah.

Lalu Niniwe yang akan dimusnahkan juga tapi tidak jadi karena penduduknya mau bertobat. Ya hal itu terjadi karena Yunus yang awalnya melarikan diri dari tugasnya untuk mewartakan kabar tersebut akhirnya kembali juga setelah ditelan dan berada dalam perut ikan besar selama tiga hari. Karena penduduk Niniwe bertobat, pembersihan tidak jadi dilakukan oleh Tuhan.

Dalam hal pemulihan ini, baik itu menyangkut wilayah, menyangkut kelompok, ataupun personal; termasuk di dalamnya aspek-aspek kehidupan: rohani, relasional, bisnis/pekerjaan, dll, selalu melibatkan faktor yang sama dengan pemulihan yang Tuhan adakan baik di zaman Nuh, Abraham & Lot, dan Yunus.

Faktor-faktor apa saja yang ada?
1. Pertobatan.
Pertobatan berarti meninggalkan cara hidup yang salah dan memilih cara hidup yang benar. Dalam tiga kasus pemulihan yang telah saya tuliskan, sangat jelas tertulis di sana bahwa Tuhan memperhitungkan pertobatan.

Dosa tidak bisa dihapus dengan persembahan dan korban. Dosa tidak bisa dihapus dengan perbuatan baik. Langkah pertama bagi pertobatan jelas adalah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Bagaimana bila orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kemudian berbuat dosa? Apakah berarti harus menerima Kristus lagi? Tentu saja tida. Menerima Kristus itu sekali saja seumur hidup, setelahnya maka harus hidup dalam pertobatan.

Pertobatan berarti menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Tuhan setiap harinya. Ini berarti jika kita digoda oleh keinginan kita yang keliru, kita perlu menyangkal diri. Artinya menyangkal diri adalah kita tidak mengikuti keinginan kita yang keliru itu. Tidak semua keinginan keliru, tetapi jika ada keinginan yang keliru maka kita tidak perlu mengikutinya.

Pertobatan berarti memikul salib. Dalam halnya kita menghadapi permasalahan yang bukan disebabkan karena kita berdosa, tapi memang karena permasalahan itu datang, itulah bentuk memikul salib. Setiap orang memiliki salib tersendiri.

Bagaimana untuk tetap bersukacita saat kondisi tidak memungkinkan untuk bersukacita? Bagaimana untuk bisa mengasihi orang yang menyakiti kita? Bagaimana untuk mengampuni orang yang benar-benar telah merugikan kita? Itulah memikul salib.

Pertobatan berarti mengikut Tuhan setiap hari. Di sana terdapat unsur ketaatan dan kesetiaan. Sama seperti seorang prajurit yang akan taat dan tunduk kepada pimpinannya, lebih-lebih lagi kita sebagai anak Tuhan harus lebih taat dan tunduk lagi.

2. Keputusan dalam bentuk tindakan nyata.
Pertobatan semata tanpa keputusan sungguh-sungguh tidak akan membawa pada pemulihan. Pertobatan harus diwujudnyatakan dalam bentuk tindakan. Sama seperti orang di Niniwe yang mengambil tindakan nyata untuk bertobat, sehingga Tuhan akhirnya mencabut keputusan-Nya untuk membersihkan Niniwe.

Tujuan pembersihan/pembakaran/penghancuran yang diizinkan oleh Tuhan adalah untuk pemulihan. Jika orang yang dituju sudah sadar, bertobat, dan mengambil keputusan untuk hidup benar; tentu saja pembersihan/pembakaran/penghancuran itu tidak perlu lagi dilakukan.

Itulah sebabnya ketika menuliskan hal ini semakin jelaslah bagi saya mengenai hal yang dituliskan Rasul Paulus dalam Roma, yaitu kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Akhir-akhir ini sangat ramai terdengar mengenai isu akhir zaman pada tahun 2012. Dikatakan dengan jelas pada Kisah Para Rasul bahwa Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu.

Permasalahannya kapankah waktu Ia akan datang kedua kalinya ke dunia? Tidak ada yang tahu kecuali Bapa. Oleh karena itu tentu saja segala hal yang menuliskan akhir zaman pada tahun sekian-sekian tidak bisa diterima karena memang hanya Allah Bapa yang mengetahui hal itu.

Kuncinya bukanlah untuk tahu waktunya, tetapi untuk senantiasa hidup dan berada dalam kondisi pertobatan yang sejati. Jadi bukan dalam kebingungan dan ketakutan, tetapi untuk terus hidup dalam terang-Nya. Dengan demikian hidup kita menjadi hidup yang pulih dan membawa orang lain untuk masuk situasi pemulihan.

Selamat masuk dalam pemulihan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: