All for Glory of Jesus Christ

Sehat

Ah, periode sakit ini memang menjengkelkan. Ternyata banyak sekali yang sedang terkena sakit. Hmm saya berharap semua yang terjangkit sakit segera sembuh. Saya sendiri hari ini bisa dibilang sudah cukup pulih, walau masih tidak berani makan makanan yang pedas-pedas atau minum minuman yang asam-asam dingin.

Sayang sekali karena itu makanan dan minuman yang saya sukai. Tetapi memang untuk segala sesuatu selalu harus ada harga yang dibayar, itu juga berlaku untuk kesehatan saya. Jadi yah, apa boleh buat, waktunya untuk tetap menjaga makanan dan kesehatan.

Bicara tentang kesehatan saya tadi malam ketika sulit tidur (yah karena memang semenjak sakit, saya tidur seharian jadi malamnya jelas saja jadi sulit tidur), tiba-tiba terpikir mengenai satu topik yang ingin saya angkat untuk bulan depan.

Saya akan beri petunjuk pada artikel hari ini. Silakan Anda menebaknya dan mencocokkan jawaban Anda pada artikel pertama pada hari pertama di Bulan November. Luar biasa hari terasa cepat sekali berlalu ya? Sejak sakit, tiga hari tak terasa sudah berlalu.

Ah, benar-benar sangat disayangkan karena harus beristirahat selama tiga hari. Semoga benar-benar mulai hari ini ke depan saya sudah berada dalam kondisi kesehatan yang seharusnya.

Berkaitan dengan sehat, ada satu hal yang membuat saya prihatin. Saya perhatikan dalam kehidupan saya, teman-teman wanita saya di dunia nyata, juga teman-teman wanita di dunia maya; semua memiliki kesamaan. Hal ini juga terjadi pada kehidupan sejumlah teman-teman pria saya, baik di dunia nyata ataupun maya.

Saya perhatikan begini, ternyata hubungan istimewa dengan seseorang lawan jenis itu berpengaruh sangat signifikan terhadap kesehatan jiwa seseorang. Saya masih ingat dulu beberapa kali pada masa saya sedang patah hati (yah walaupun sudah agak lama, tapi saya masih bisa menggali-gali ingatan saya), ternyata menyebabkan kondisi jiwa saya jadi merosot.

Kesedihan dan kekecewaan itu ternyata efeknya sangat buruk bagi kesehatan jiwa. Saya pribadi biasanya setelah mengalami kesedihan dan kekecewaan tidak berefek pada kondisi kesehatan secara fisik, puji Tuhan. Tapi saya amati banyak juga yang setelah mengalami kesedihan dan kekecewaan berefek pada kondisi fisiknya juga.

Semakin lama seseorang berada dalam kondisi kesedihan dan kekecewaan, biasanya hal itu menggerogoti dirinya perlahan-lahan. Kesadaran bahwa sesuatu yang terjadi itu sebagai sesuatu yang sudah berlalu, bahwa Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi untuk kebaikan, dan bahwa Ia tidak pernah memberikan suatu ujian lebih berat dari pada yang sanggup kita tanggung; itu semua membuat diri kita bisa melepaskan diri dari kondisi yang tidak menyehatkan itu: baik secara jiwani maupun secara fisik.

Bahkan para pria pun tidak terlepas dari kondisi yang sama, saya dulu berpikir bahwa pria sebagai makhluk yang logis seharusnya dapat mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan faktor perasaan dengan lebih mudah.

Ada suatu hipotesis yang diajukan oleh seorang teman baik saya:

“Pria umumnya logis dan wanita umumnya mengikuti perasaan, tapi pada saat menyangkut masalah relationship pria menjadi mengikuti perasaan dan wanita menjadi logis.”

Hmm.. yah ini tidak bisa berlaku secara general, tapi saya pikir-pikir untuk sejumlah orang hal ini benar juga. Hipotesis ini kalau saya pikirkan begini: seorang pria yang terbiasa menggunakan faktor logika saat sudah sungguh-sungguh jatuh cinta kepada seorang wanita maka faktor perasaannya juga akan terlibat dalam.

Dalam kaitan dengan itu, ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan, maka kekecewaan dan kesedihannya akan mendalam. Yah, bayangkan seseorang yang tidak menguasai suatu bidang katakanlah matematika, lalu harus berusaha menguasai bidang itu karena tuntutan pekerjaan.

Ketika akhirnya sudah cukup menguasai, ternyata yang bersangkutan harus melepaskan pekerjaannya. Mungkin terasa kesal, kecewa, karena sudah berusaha keras. Bandingkan bila yang bersangkutan cukup mengerjakan sesuatu yang berada dalam wilayah kemampuannya.

Setidaknya kalaupun yang bersangkutan harus melepaskan pekerjaannya, ia dapat mencari pekerjaan sejenis dengan sangat mudah. Walaupun ini merupakan analogi yang tidak sebanding, setidaknya sedikit banyak mungkin ini bisa menjelaskan hal yang terjadi.

Hanya saja kalau mau dipikirkan secara lebih perlahan, seperti orang yang telah menguasai matematika yang tadinya tidak dikuasainya, sesungguhnya dalam perjalanan dari tidak bisa menjadi bisa di sana terdapat suatu pelajaran yang luar biasa berharga.

Begitu juga pelajaran yang diperoleh dari kekecewaan dan kesedihan yang mengarah pada terganggunya kesehatan; entah itu kesehatan jiwa atau fisik. Saat pertama kali mengalami hal tersebut, saya yakin semua akan merasa begitu sakit.

Hanya setelah itu, saya yakin setiap orang akan menjadi lebih kuat bila mau pulih, bila mau sehat kembali. Saya percaya bahwa untuk menjadi pulih dan sehat itu lebih merupakan pilihan, bukan hanya peran waktu.

Dari yang sudah saya amati, waktu berperan sedikit. Peran yang lebih banyak itu lebih pada kebulatan hati alias kemauan. Kebulatan hati atau kemauan ini dimulai terlebih dahulu dari pilihan yang dibuat. Pilihan dibuat karena memang menyadari bahwa penting untuk menjalani hidup dengan semaksimal mungkin.

Untuk sesuatu yang sudah berlalu dan memang tidak akan kembali, perlu disadari bawa hidup akan terlalu bergulir. Bersama dirinya ataupun tidak, hidup akan terus berjalan. Semakin kesadaran itu cepat diperoleh, semakin cepat seseorang dapat sampai pada menetapkan pilihan yang tepat.

Setelah menetapkan pilihan, jelas kebulatan hati untuk melaksanakan pilihan ini penting. Berapa banyak orang yang terombang-ambing dalam waktu yang lama karena berpikir, “Tapi saya mencintai dirinya, hanya saja dia tak mungkin kembali.”

Jika memang si dia mencintai diri Anda, dia pasti akan mempertahankan diri Anda. Kalau dia memilih orang lain, lupakan sajalah dirinya. Sangat tidak berharga untuk menghabiskan waktu Anda untuk orang yang tidak menghargai diri Anda.

Jika Anda telah bulat hati dan bertekad penuh untuk kembali ke dalam kondisi yang sehat, saya yakin tidak diperlukan waktu terlalu lama untuk kembali sehat. Godaan yang besar adalah mengingat-ingat kembali masa lalu. Saya karena menulis artikel-artikel yang kadang-kadang topiknya bersesuaian, terkadang harus mengingat-ingat kembali masa lalu.

Yah, ada harga untuk segala sesuatu. Untuk saya sendiri, tidak masalah. Toh membagikan sedikit dari hidup saya kalau memang itu bisa Tuhan pakai untuk menyentuh hidup orang lain yang “kebetulan” mengalami hal yang sama bukankah itu suatu anugerah?

Bagaimana mengenai kesehatan dalam bisnis? Bagi Anda yang pernah mengalami sakit dan sehat kembali dalam bisnis saya yakin itu adalah pengalaman yang sangat berharga bagi Anda.

Bisnis memang selain ditentukan oleh kemampuan, pengalaman, kejelian melihat kebutuhan pasar, juga ditentukan juga oleh hal-hal lain yang di luar kemampuan manusia untuk melihatnya (dalam hal ini sangat diperlukan keintiman hubungan dengan Tuhan).

Seperti yang pernah saya bagikan dalam artikel dengan topik bisnis pada beberapa bulan yang telah lalu, Roh Kudus bisa memberikan suatu ilham yang bahkan tidak pernah terduga sedikit pun. Jika memang itu ilham dari Roh Kudus, jelas hasilnya akan luar biasa dan tak akan salah.

Untuk hal ini dibutuhkan kesehatan dalam hal spiritual. Selalu setiap aspek hidup kita tidak akan pernah terlepas satu dengan lainnya dalam aspek spiritual. Tidak bisa kita memilah-milah aspek yang satu dengan yang lainnya sebagai aspek-aspek yang terpisah.

Hal yang menarik mengenai kesehatan spritual adalah dicatat dalam surat Rasul Paulus kepada Timotius, yaitu peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

Ajaran yang sehat yang memang berdasar kepada iman dan kasih di dalam Tuhan Yesus itulah yang akan menjaga diri kita tetap sehat secara spiritual. Kesehatan spritual seperti juga kesehatan fisik terbentuk bukan hanya dalam waktu sehari dua hari, tetapi merupakan proses yang berkelanjutan.

Hal yang menarik dikatakan dalam surat kepada Timotius juga adalah karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.

Untuk menjadi sehat secara spiritual memang pertama-tama tahapannya adalah ajaran yang bersifat ringan dan mudah dilakukan. Setelah itu bersamaan dengan pertumbuhan rohani kita, ajaran selanjutnya adalah ajaran yang bersifat keras dan mungkin menantang diri kita untuk benar-benar menyangkal diri kita.

Bayangkan seorang dewasa yang sudah seharusnya makan makanan berat tetapi tetap makan air susu dan bubur setiap harinya. Hal ini akan membawa orang ini ke dalam kondisi yang tidak baik, karena tubuhnya membutuhkan lebih banyak kalori daripada yang bisa dipasok oleh air susu dan bubur.

Begitu juga dengan kondisi spiritual kita. Ajaran yang sehat bisa saja merupakan ajaran yang sulit dikerjakan. Contoh: ampunilah musuhmu. Ini merupakan ajaran yang sehat. Membenci merupakan suatu hal yang dapat menggerogoti jiwa. Energi yang seharusnya dapat kita gunakan untuk hal yang lain, malah kita gunakan untuk membenci.

Hanya saja, tidak semua orang bisa menerima ajaran sehat ini. Padahal untuk kesehatan spiritual yang prima, kita perlu untuk menerima dan mempraktekkan hal ini dan juga semua ajaran yang Tuhan ajarkan bagi kita yang tertulis di Alkitab.

Ini memang tidak mudah. Tapi seperti sudah saya tuliskan tadi: dari kesadaran, membuat pilihan, diikuti dengan kebulatan hati (kemauan) akhirnya akan dapat menjadi suatu tindakan nyata yang membawa pada kesehatan.

Jadi, selamat mencapai kondisi yang sehat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: