All for Glory of Jesus Christ

Mulut

Hari ini kita sampai pembahasan mengenai mulut. Dari mulut seringkali dapat dilihat seseorang sedang senang atau sedih. Ya, cukup dari bentuk mulutnya. Saat seseorang tersenyum atau cemberut, hal itu memberikan suatu pemandangan sekilas akan kondisi seseorang.

Ada begitu banyak ayat tentang mulut. Salah satunya yang akan saya bahas adalah dari Yudas, yaitu mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.

Dengan mulut yang kita miliki, kita bisa gunakan untuk berkata-kata, juga untuk makan. Nah jika kita gunakan untuk menggerutu dan mengeluh, itu adalah satu pilihan yang tersedia. Jika kita menggunakan mulut kita untuk makan secara berlebihan itu juga pilihan yang tersedia.

Semakin hari memang kita tidak hidup dalam bentuk hukum Taurat. Ini boleh, itu tidak boleh. Karena sebenarnya hukum Taurat membuat kita terbentur pada moralitas budak.

Bayangkan seorang budak, yang melakukan sesuatu karena itu harus dan tidak melakukan sesuatu karena itu dilarang. Itu sebabnya Tuhan Yesus datang untuk menyempurnakan Taurat. Bukan lagi boleh dan tidak boleh, tetapi dengan standar yang lebih tinggi.

Dalam Perjanjian Baru, hukum telah disempurnakan. Bukan lagi boleh atau tidak boleh, tetapi berguna atau tidak dan membangun atau tidak. Ini bicara mengenai masalah motivasi, kegunaan, dan kembali ke masalah hati.

Menggunakan mulut untuk menggerutu atau mengeluh apakah itu boleh? Setiap orang memiliki mulut jelas untuk berkata-kata. Adalah suatu pilihan bagi setiap orang untuk menggunakan mulutnya untuk menggerutu atau mengeluh.

Kalau dulu di Perjanjian Lama, orang Israel banyak yang dibinasakan oleh Allah karena memang mereka senang menggerutu dan bersungut-sungut, setelah di Perjanjian Baru tidak ada lagi hal semacam itu.

Hanya saja justru sekarang diberikan pilihan, kita diminta untuk berpikir apakah menggerutu, mengeluh, bersungut-sungut itu berguna bagi kita? Apakah hal itu akan berguna bagi orang lain? Apakah hal itu membangun bagi kita? Apakah hal itu membangun bagi orang lain?

Sukacita bersifat menular, begitu juga keluh kesah dan mengeluh itu juga bersifat menular. Selain tidak menyelesaikan masalah, mengeluh, menggerutu, bersungut-sunggut membuat suatu persoalan jadi lebih besar dari yang seharusnya, menyerap energi kita lebih banyak, dan pada akhirnya menawan pikiran kita untuk hal yang tidak semestinya.

Dari satu keluh kesah akan bergeser ke keluh kesah yang lain, dari satu orang ke orang lainnya. Akhirnya yang ada hanyalah keluhan dan keluhan. Setiap orang memiliki permasalahan. Setiap orang memiliki beban. Ya, melepaskan beban memang diperlukan. Jika menyimpannya erat-erat tanpa menceritakannya pada seseorang memang seringkali mengundang berbagai penyakit, baik dari segi psikis maupun jiwani.

Hanya saja terdapat perbedaan antara melepaskan beban dan berkeluh kesah karena memang menyukainya. Ada orang yang begitu positif, saat melepaskan bebanpun terlihat bahwa dirinya memang melepaskan bebannya secara positif. Menceritakan permasalahannya kemudian melepaskan beban yang tidak seharusnya, mencari solusi lalu berjalan kembali.

Sebaliknya ada yang memang begitu menikmati dan menyukai berkeluh kesah. Setiap kali bertemu dengan seseorang, maka yang bersangkutan akan mulai menceritakan suatu permasalahan dari A sampai Z, lalu mengulang lagi dari A sampai Z. Tanpa sedikitpun mencari solusi bagi masalah. Intinya hanya berkeluh kesah menceritakan A sampai Z.

Bahkan di Amsal dinyatakan dengan jelas mengenai hal ini: siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran. Mulut kita memang perlu dijaga. Senada dengan itu, di Yakobus juga dikatakan bahwa dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

Perkataan yang keluar dari mulut kita hendaknya mencerminkan diri kita sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Tuhan, jelas kata-kata yang kita ucapkan akan berbeda dengan anak-anak lain. Seorang anak jelas akan membawa citra orang tuanya.

Jika kita berperilaku buruk, sering orang akan bertanya siapakah orangtuanya? Mengapa anaknya berperilaku seperti itu? Begitu juga dengan diri kita sebagai anak-anak Tuhan. Jika kita berkata-kata buruk, orang akan bertanya siapakah Tuhannya?

Berjalan bersama Tuhan, memang tidak selalu hal yang mudah, indah, dan enak yang kita alami. Tetapi jika kita memang sudah siap untuk selalu berjalan bersama Tuhan, kita juga siap untuk mempersiapkan hidup kita; termasuk mulut kita sebagai alat bagi kemuliaan-Nya. Biarlah mulut kita mencerminkan mulut Kristus. Biarlah mulut kita menjadi mulut-Nya.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: