All for Glory of Jesus Christ

Pasangan yang tidak tersedia di sini yang saya maksud adalah:
– Suami/istri orang lain.
– Kekasih orang lain.
– Orang yang tidak siap untuk berkomitmen.

Ketertarikan memang bersifat alamiah. Seperti saya sudah bahas di artikel sebelumnya, sejak mulai pubertas ketertarikan pada lawan jenis itu sangat normal terjadi. Jadi tidak ada yang salah dengan tertarik pada lawan jenis.

Hanya saja jika kemudian ketertarikan itu terjadi pada tiga kriteria yang saya sudah sebutkan tadi, ketertarikan itu akan menimbulkan konflik-konflik yang berkepanjangan.

Ada suatu hal yang menarik yang saya ketemukan berkaitan dengan kategori pertama dan kedua. Dari yang saya baca di forum, di majalah, di surat kabar, di radio, ataupun memang yang pernah bercerita kepada saya; pada umumnya entah suami/istri ataupun kekasih orang lain ini akan bercerita bahwa mereka menghadapi masalah dengan pasangannya.

Kalau tidak demikian, hal yang menarik lainnya adalah yang bersangkutan mengakui bahwa dirinya adalah lajang dan sedang tidak terikat hubungan dengan siapapun. Memang dua hal ini merupakan dua hal yang berbeda kasus sama sekali.

Untuk kasus yang pertama ketertarikan yang terjadi itu pada orang yang mengetahui bahwa orang yang disukai adalah sudah memiliki pasangan. Sementara kasus kedua adalah orang yang menyukai tidak mengetahui atau bahkan dikelabui untuk mempercayai bahwa orang yang disukainya ini masih lajang dan sama sekali tidak memiliki pasangan.

Saya akan membahas kasus pertama dahulu. Bila kita tertarik pada orang yang telah memiliki pasangan, sejauh hanya tertarik saja tidak masalah. Tertarik itu adalah hal yang normal. Hanya saja jika sudah ditindaklanjuti sebagai jatuh cinta, apalagi jika kemudian ditindaklanjuti dengan berpacaran timbullah masalah.

Dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma dikatakan bahwa karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!

Jika kita mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri, tentu saja kita akan memikirkan hal yang akan terjadi kepada mereka. Jika kita mengasihi diri kita, tentu kita tidak ingin hal yang buruk terjadi pada kita bukan? Bayangkan jika kita sudah memiliki suami/istri atau kekasih, lalu ternyata suami/istri atau kekasih kita memiliki kekasih lain. Apa yang akan kita rasakan?

Jadi poin yang sangat penting pada ayat tersebut adalah dapat ikut merasakan kondisi dan perasaan orang lain (berempati). Jika saat kita bayangkan dalam posisi orang lain itu kita merasa tidak enak, sedih, marah, kecewa, dan lain-lain; tentunya kurang lebih itu juga yang akan dirasakan oleh pasangan dari orang yang kepadanya kita tertarik.

Saya sengaja memisahkan antara istilah “tertarik” dengan “cinta”. “Tertarik” dapat terjadi kapan saja, di mana saja, kepada siapa saja. “Cinta” itu merupakan hal yang lain lagi.

Kalau “tertarik” itu sifatnya adalah emosi, perasaan, dan terjadi begitu saja. Istilah “Jatuh cinta pada pandangan pertama” itu perlu direvisi menjadi “Tertarik pada pandangan pertama”. Ketertarikan sifatnya instan, langsung, dan cepat. Sementara cinta itu lain lagi.

Cinta itu bukan serta merta bersifat emosi dan perasaan. Ya, cinta pada umumnya dimulai dari ketertarikan terlebih dahulu, namun berangsur-angsur cinta itu merupakan proses belajar untuk menerima kondisi pasangan apa adanya. Jadi dalam cinta, ada unsur belajar, proses, tidak instan, dan tidak langsung.

Jadi jika Anda jatuh cinta kepada seseorang yang telah memiliki suami/istri atau kekasih, sebenarnya secara sadar Anda telah memilih untuk bersama dengan orang tersebut. Dalam cinta, terkandung unsur tidak mencari keuntungan diri sendiri (tidak egois). Oleh karena itu, jika Anda memilih pasangan dengan kategori satu dan dua, maka sebenarnya Anda bukan mencintai.

Ingat: cinta itu tidak mencari keuntungan diri sendiri. Jika bukan cinta, lalu apakah itu? Jika bukan cinta, maka nafsulah yang ada. Nafsu untuk memiliki, walaupun seharusnya tidak dimiliki. Dalam cinta terkandung rasa murah hati. Jika Anda mencintai seseorang yang sudah memiliki suami/istri atau kekasih, maka Anda pasti akan memilih untuk mundur.

Mengapa? Karena cinta itu murah hati. Anda akan rela untuk membiarkan suami/istri atau kekasih orang lain itu tetap utuh dalam hubungannya dengan pasangannya. Anda akan rela untuk melihat ia bisa menempuh suatu jalur yang memang harus ia tempuh. Bahkan Anda akan mendorong ia untuk bisa kembali pada pasangannya, itulah cinta.

Mungkin akan ada yang bertanya, kategori kedua, yaitu kekasih orang itu bukankah belum terikat suatu komitmen yang sifatnya sungguh-sungguh mengikat? Itu memang benar. Hanya saja, pacaran adalah sarana untuk menuju ke pernikahan. Jika dalam proses itu memang yang bersangkutan menemui hambatan yang tidak dapat dipecahkan dan kemudian memutuskan untuk tidak berpacaran lagi, itu boleh saja.

Jika itu yang terjadi, tidak masalah bagi Anda untuk menjalin hubungan dengan orang tersebut. Dengan catatan: yang bersangkutan sudah tidak memiliki kekasih lagi dan memang sudah tidak memiliki trauma atau luka masa lalu berkaitan dengan hubungannya yang sudah lewat itu.

Kalaupun orang yang Anda tertarik kepadanya itu menceritakan bahwa dia sering bertengkar atau sedang dalam kondisi konflik hebat, tetap Anda perlu berdiri di luar lingkaran. Jangan memutuskan untuk masuk ke dalam lingkaran jika memang kondisi si dia masih memiliki pasangan.

Dalam Matius ditegaskan lagi mengenai: segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Jika Anda ingin orang berbuat baik pada Anda, lakukanlah itu dahulu. Jika Anda tidak ingin disakiti, janganlah menyakiti. Seluarbiasa-luarbiasanya seseorang, jika ia sudah memiliki pasangan, baik itu suami/istri atau kekasih, maka ia tidak lagi tersedia bagi Anda. Cari saja orang lain untuk menjadi kekasih Anda.

Kalau mau dipikir secara jernih, seseorang yang sudah memiliki pasangan tetapi malah mengindikasikan hal lain atau menunjukkan ketertarikan kepada Anda sesungguhnya bukanlah merupakan kandidat kekasih atau pasangan hidup yang tepat.
Mengapa demikian?

Jika saat berelasi dengan pasangannya saja, yang bersangkutan telah menunjukkan karakter tidak setia dan mudah menyerah saat ada persoalan (mencari-cari kemungkinan untuk berpaling pada yang lain saat ada konflik), Anda dapat memperkirakan hal yang sama juga terjadi pada Anda. Tentu saja jika si dia menjadi pasangan Anda.

Pada dasarnya seseorang tidak terlalu banyak berubah, kecuali yang memang sangat berusaha untuk berubah. Perubahan itu biasanya terjadi karena hal yang traumatis atau karena dorongan dan motivasi yang sangat kuat untuk berubah. Jadi di luar hal itu, sulit sekali untuk seseorang mengalami perubahan drastis.

Pola hubungan sebelumnya itu bisa diprediksi akan terjadi pada pola hubungan yang akan datang. Oleh karena itu lebih baik bijaklah dan mundurlah dengan terhormat bila Anda tertarik pada seseorang yang telah memiliki pasangan.

Bagaimana bila yang terjadi adalah kasus terakhir? Jika orang yang kepadanya Anda tertarik mengaku masih lajang, padahal yang bersangkutan sudah memiliki suami/istri atau kekasih. Memang untuk kasus ini diperlukan kebulatan hati untuk sungguh-sungguh melakukan hal yang benar.

Begitu Anda mengetahui hal itu, sebaiknya Anda mundur. Mengapa demikian? Karena dua sifat yang sudah saya kemukakan di atas, yaitu ketidaksetiaan dan mudah menyerah itu diperparah lagi dengan satu sifat lainnya: ketidakjujuran (berbohong). Jika pasangan Anda seseorang yang suka berbohong, bagaimana Anda dapat percaya kepadanya?

Pada saat ketertarikan telah memudar, yang tertinggal adalah karakter dan kemauan untuk berkomitmen serta untuk menerima pasangan apa adanya. Kalaupun Anda mau menerima pasangan dengan karakter yang suka berbohong, saya tidak yakin dalam jangka panjang Anda dapat hidup dengan damai.

Mengapa demikian? Karena Anda akan berpikir apakah pasangan Anda membohongi Anda? Apakah Anda dapat percaya kepada pasangan Anda? Hal itu bukanlah suatu hal yang baik bagi hidup Anda.

Saya sangat yakin bahwa Tuhan lebih tahu yang terbaik bagi diri Anda. Ingat: Anak-Nya saja Ia berikan bagi Anda dan saya, untuk menebus dosa kita, untuk memberi hidup yang baru; masakan Ia tidak akan memberikan hal yang baik dalam hidup kita?

Ia Allah yang sangat mengasihi anak-anak-Nya. Jika sekarang Anda sedang melajang dan membutuhkan pasangan hidup, tetap percaya bahwa Tuhan sanggup memberikan penolong yang sepadan bagi Anda. Bukan saja beriman, tapi juga bertindak. Tingkatkan kapasitas Anda dalam segala aspek kehidupan Anda. Ingat: Adam mendapat pasangan hidup juga saat ia tidur setelah bekerja memberi nama pada hewan-hewan yang ada.

Hal yang pasti penolong yang sepadan itu pastilah bukan suami/istri orang lain dan bukan juga kekasih orang lain. Tetaplah beriman dan melakukan yang terbaik. Segala sesuatu indah pada waktunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: