All for Glory of Jesus Christ

Persetujuan Sebelum Pacaran

Memulai suatu hubungan atau yang lazimnya dikatakan sebagai berpacaran merupakan sesuatu hal yang menyenangkan. Ya, mengapa menyenangkan? Karena pasangan kita boleh dikatakan sebagai sekutu kita.

Dalam Pengkotbah dinyatakan bahwa: berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!

Berpacaran merupakan suatu persekutuan terkecil yang dapat menguatkan satu dengan lainnya. Saling menolong untuk membentuk karakter menjadi semakin indah di hadapan Tuhan, itulah salah satu tujuan persekutuan indah ini.

Bukan hanya dalam hal karakter, tapi juga dalam memikul beban dan persoalan. Dengan adanya pasangan, kita memiliki partner yang tepat untuk berbagi masalah, saling mendoakan, dan saling menguatkan.

Di Matius dikatakan dengan jelas mengenai hal ini: sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka. Bukan hanya untuk saling menolong, tapi ketika berpacaran dengan benar sehingga dapat memuliakan nama Tuhan, di sana Tuhan hadir.

Indah sekali bukan? Permasalahannya adalah untuk memulai suatu hubungan yang indah tersebut, diperlukan suatu persetujuan. Seperti dikatakan dalam Amos: berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?

Persetujuan sebelum dimulainya suatu hubungan pacaran ini sangat penting. Mengapa demikian? Karena persetujuan awal ini akan menentukan arah dari hubungan pacaran yang terjadi.

Tanpa adanya persetujuan ini, maka masing-masing pihak dapat memiliki pemahaman dan pengharapan yang keliru dalam hubungan tersebut. Pihak yang satu ingin mengarah ke utara, yang lain ingin mengarah ke selatan.

Jika hal itu yang terjadi, tentu saja bagaimana mungkin untuk dapat berjalan dalam arah yang sama? Bagaimana mungkin untuk dapat berjalan dalam tujuan yang sama? Bahkan, bagaimana mungkin untuk menjaga dan mempertahankan hubungan itu sendiri?

Berikut ini akan saya berikan beberapa hal yang kiranya perlu disetujui bersama sebelum dimulainya hubungan pacaran:
1. Pemahaman mengenai makna berpacaran itu sendiri.

Tidak semua orang memahami bahwa berpacaran merupakan sarana saja bagi hubungan yang lebih lanjut (pernikahan) dan untuk lebih membantu untuk mencapai visi dan misi yang Tuhan beri. Ada juga yang memahami bahwa pacaran adalah sarana untuk bersenang-senang (have fun), memiliki orang yang dapat menemani aktivitas (activity partner), dan memenuhi kebutuhan (akan rasa memiliki suatu hubungan, untuk tidak merasa sendiri lagi, dll).

Jika dua orang yang terlibat dalam hubungan pacaran ini ternyata yang satu memiliki pemahaman yang pertama, sementara yang satunya lagi tidak, tentu saja akan menimbulkan masalah yang cukup besar di kemudian hari.

Benar bahwa berpacaran dengan orang yang tepat akan membuat timbulnya rasa senang, memiliki activity partner, dan memenuhi kebutuhan juga; tetapi tidak berhenti sampai di sana saja. Kalau hanya berhenti sampai di sana, maka sesungguhnya teman dekat atau keluarga pun dapat memenuhi tujuan itu.

Kalaupun dua orang ini sama-sama memiliki pemahaman bahwa pacaran adalah untuk tujuan yang kedua, sesungguhnya lebih baik bagi keduanya untuk bersahabat saja. Karena tujuan kedua semata, tanpa tujuan pertama; bukanlah merupakan hal yang tepat untuk memulai berpacaran.

2. Pemahaman mengenenai kesamaan level komitmen.

Jika satu pihak berpikiran bahwa berpacaran itu proses mencoba-coba sehingga jika menghadapi masalah langsung mengatakan untuk putus, sementara pihak yang satunya berpikiran bahwa pacaran itu walaupun belum merupakan titik komitmen mutlak, tetapi merupakan suatu proses yang tidak bersifat mencoba-coba; maka hal ini dapat menimbulkan suatu masalah yang berat.

Sulit dua orang dapat berjalan bersama jika tidak berjanji, jika tidak memiliki kesamaan pemahaman mengenai level komitmen. Jika satu pihak berpikir bahwa memiliki pacar lain itu hal yang wajar saja, sementara pihak yang lainnya berpikir bahwa pacaran itu hanya dengan satu orang saja; jelas akan timbul konflik yang besar.

Bagi yang masih berpikiran bahwa dapat memiliki pacaran lebih dari satu orang pada satu waktu, tentu saja sebenarnya bagi yang bersangkutan belum tepat untuk memulai hubungan pacaran. Hal yang lebih tepat bagi yang bersangkutan adalah bersahabat.

Mengapa demikian? Kalau bersahabat, maka tidak ada suatu komitmen untuk terikat dengan satu orang. Sementara kalau berpacaran jelas hanya ada komitmen dengan satu orang, tidak dengan yang lainnya.

Perlu sekali persetujuan dari awal sebelum hubungan terjadi untuk memperoleh pemahaman yang sama mengenai komitmen hubungan ini.

3. Bentuk hubungan dengan lawan jenis.

Berteman dengan lawan jenis yang lain, tentu saja itu hal yang normal. Hanya saja perlu dibuat persetujuan tingkat kedekatan dengan lawan jenis lain yang dapat diterima.

Misalnya adalah apakah kedua pihak tidak bermasalah bila pasangannya pergi berdua dengan lawan jenis yang lain (dalam konteks sebagai teman)? Perlukah suatu bentuk informasi kepada pasangannya berkaitan dengan hal tersebut?

Hal-hal seperti ini kecil, namun jika sudah terjadi kasusnya bisa menjadi suatu konflik yang besar. Persetujuan sebelum pacaran dimulai akan mengurangi banyaknya konflik yang tidak perlu.

4. Frekuensi dan cara berkomunikasi.

Setiap orang merupakan individu yang unik. Karena setiap orang bersifat unik, setiap orang memiliki gaya, pembawaan, karakter, kebutuhan, dan penerimaannya masing-masing. Hal ini juga terkait dalam hal komunikasi.

Frekuensi dan cara berkomunikasi ini perlu untuk didiskusikan dari awal. Tingkat frekuensi dan cara berkomunikasi yang dipilih ini perlu disetujui oleh kedua pihak. Mungkin saja jika kedua pihak yang akan berpacaran ini tidak memiliki style atau gaya berkomunikasi yang berbeda.

Dalam hal itu diperlukan pembicaraan untuk saling memahami kebutuhan pasangan. Selain menyesuaikan (beradaptasi) dengan karakter dan kebutuhan pasangan, juga perlu belajar untuk menyeimbangkan antara membuat pasangan mengerti kebutuhan Anda dan belajar untuk mengerti kebutuhan pasangan Anda dalam hal komunikasi.

5. Mekanisme penyelesaian konflik.

Konflik sesungguhnya juga merupakan hal yang baik dalam hubungan pacaran. Jika suatu hubungan datar terus tanpa adanya konflik, cenderung menimbulkan rasa bosan dalam hubungan. Selain itu, konflik ini merupakan hal yang wajar terjadi.

Saat dua orang dengan perbedaan latar belakang, karakter, kebutuhan, gender memutuskan untuk berpacaran, tentu saja akan banyak perbedaan yang terjadi. Dua orang yang berbeda kemungkinan besar dapat memandang suatu hal secara berbeda.

Hal itu bisa menimbulkan konflik. Mekanisme penyelesaian konflik perlu dibicarakan dari awal hubungan. Contoh: apakah saat ada suatu masalah akan langsung dibahas ataukah akan menenangkan diri dulu untuk menyelesaikan masalah? Jika akan menenangkan diri, maka akan mengambil waktu berapa lama? Misalnya saja demikian.

Persetujuan sebelum mulai berpacaran mungkin tidak perlu dibuat secara formal. Bisa saja dibicarakan secara santai, akan tetapi ketika terjadi permasalahan hal-hal yang telah dibicarakan itu bisa menjadi pijakan untuk bertindak. Dengan demikian dapat mengurangi kepusingan yang tidak perlu.

Berpacaran pasti akan ada saja masalah dan konflik di dalamnya. Hanya saja dengan adanya persetujuan (pembicaraan) dalam awal berpacaran akan mengurangi masalah dan konflik yang tidak perlu.

Iklan

Comments on: "Persetujuan Sebelum Pacaran" (2)

  1. sebenarnya bagaimana memulai hubungan dengan lawan jenis jenis yang baru kita kenal, apalagi kita berharap hubungan yang baru ini bisa serius dan awet………

    kadang setelah putus cinta dari kekasih atau pasangan hidup kita, kita terkadang enggan memulai hubungan baru dengan orang lain, karena perlu ada proses yang harus kita jalani dan ada tahap-tahapannya………

    ya kalau menurut saya lebih baik dengan proses alami apa adanya tidak perlu tergesa-gesa, apalagi kalau orang baru kita kenal itu ingin dijadikan pendamping hidup kita, ya kita perlu memahami orang tiu terlebih dahulu agar lebih kenal satu sama lain dengan jelas sejelas-jelasnya…….salam kenal……..

    Bali Villa Bali Villas Bali Property

    • Salam kenal juga. Anda sudah menjawab pertanyaan Anda sendiri mengenai cara memulai hubungan dengan lawan jenis yang baru dikenal.

      Mengenai putus cinta dari kekasih atau pasangan hidup, tentu saja perlu proses pemulihan terlebih dahulu sebelum memulai lagi hubungan yang baru dengan orang lain. Jika proses ini tidak dilakukan, maka bisa jadi hubungan berikutnya akan menjadi pelampiasan semata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: