All for Glory of Jesus Christ

Berbeda Kepercayaan

Pertanyaan mengenai berbeda kepercayaan untuk pasangan yang saling mencintai ini merupakan pertanyaan klasik yang sudah sangat sering ditanyakan. Hanya saja walaupun klasik, tidak berarti tidak ada yang bertanya lagi. Justru saya perhatikan akhir-akhir ini frekuensinya semakin sering.

Jadi secara langsung maupun tidak langsung, artikel ini saya tujukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ayat di Alkitab yang memang membahas langsung hal ini adalah di Korintus, yaitu: janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Hal yang ditegaskan di sini adalah dalam hal berpacaran haruslah merupakan pasangan yang seimbang. Bukan hanya satu kepercayaan saja sebagai orang percaya, tetapi juga memiliki pemahaman dan mengalami Kristus dalam hidupnya. Jadi tidak cukup jika dikatakan sama kepercayaan dibuktikan dengan terteranya suatu agama tertentu di kartu identitas.

Kepercayaan jauh lebih luas dari agama. Agama merupakan suatu usaha manusia untuk memformalisasikan kepercayaan yang ada. Agama merupakan bentuk klusterisasi atau penggolongan dari sekian banyak unsur kepercayaan yang ada.

Dalam prakteknya tidak cukup untuk hanya sama agama saja untuk menentukan masalah kepercayaan ini. Bagi yang sesama Katolik atau sesama Kristen saja tidak selalu serta-merta kepercayaannya akan sama. Oleh karena ini masalah kepercayaan ini perlu ditinjau dan diberi perhatian yang lebih serius.

Dikatakan dengan jelas bahwa pasangan itu perlu seimbang dan merupakan sesama orang percaya. Jikalau label agama yang dipilih adalah Kristen atau Katolik, tetapi yang bersangkutan tidak mempercayai Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat; sesungguhnya pada dasarnya pasangan ini merupakan pasangan yang tidak seimbang, berbeda kepercayaan.

Bagaimana jika label agama yang dipilih satu adalah Kristen dan satu adalah Katolik? Apakah kedua pasangan ini merupakan pasangan yang seimbang atau tidak? Tentu saja tidak bisa langsung dikatakan seimbang, juga tidak bisa divonis langsung sebagai tidak seimbang.

Memang terdapat perbedaan doktrin di antara keduanya. Hanya saja kalau kita meninjau hidup kita; itu bukan ditentukan oleh agama. Kalau hidup kita ditentukan oleh formalisasi agama, seringkali yang ada adalah sifatnya di permukaan. Hidup kita haruslah merupakan suatu pengaplikasian dari dasar agama itu: kepercayaan yang mendasar.

Secara mendasar Kristen dan Katolik pemeluknya percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Perbedaan doktrin lainnya yang ada dapat dijembatani dengan memperbanyak diskusi antarpasangan ini. Pada akhirnya memang perlu untuk memilih akan berada dalam perahu Kristen atau perahu Katolik, karena hal ini sedikit banyak akan berakibat ke arah ke depannya; terutama setelah menikah.

Dalam masa pacaran yang masih berselimutkan erat dengan kabut ketertarikan yang tebal, mungkin masalah kepercayaan ini tidak akan terlalu dipersoalkan. Hanya saja jika sudah menikah, apalagi jika sudah memiliki anak; hal ini akan menjadi persoalan.

Untuk Kristen dan Katolik sendiri, asalkan keduanya memang sungguh sebagai orang percaya dan hidup atas dasar Firman Tuhan, maka tidak ada masalah untuk melanjutkan ke pernikahan. Hanya saja memang sangat perlu untuk mencari titik temu dan mendiskusikan masalah ini di antara keduanya.

Bagaimana dengan yang berbeda kepercayaan sama sekali? Satu percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, satu lagi tidak. Perbedaan kepercayaan yang mendasar akan sulit menemukan titik temu.

Perbedaan mendasar ini akan semakin sulit lagi jika sudah menginjak pernikahan. Kepercayaan menjadi dasar hidup dan menjadi gaya hidup setiap orang yang memegangnya. Perbedaan dalam kepercayaan yang dipegang, jelas akan berefek besar pada cara pandang dalam kehidupan dan cara untuk mengatasi masalah dalam kehidupan.

Tuhan Yesus mengatakan untuk dalam Matius untuk pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.

Pengaturannya untuk masalah pasangan hidup dengan sesama orang percaya ini merupakan bagian dari kuk ringan yang Ia berikan. Jadi kalau memang Ia menetapkan sesuatu, jelas adalah untuk kebaikan anak-anak-Nya.

Jika memang kita bersikeras untuk memilih pasangan yang berbeda kepercayaan, Tuhan juga tidak akan memaksa. Hanya saja berarti kita memilih kuk yang berat untuk dipikul. Salah satu contoh yang mudah saja: jika ternyata setelah menikah pasangan kita tidak memberikan kita kesempatan untuk beribadah. Mungkin ini contoh yang ekstrim, tetapi tidak menutup kemungkinan ini dapat terjadi.

Saya akan beri contoh yang lebih mungkin terjadi. Misalnya: dari pernikahan telah ada anak-anak. Ketika anak menginjak dewasa dan anak menanyakan masalah kepercayaan ayah dan ibunya, lalu menanyakan alasan ayah dan ibu memiliki kepercayaan yang berbeda. Ini merupakan suatu hal yang sulit untuk diatasi.

Benar bahwa cinta kuat seperti maut. Jika cinta sudah menyapa, memang kita bisa mulai berpikir untuk kompromi sampai level yang mendasar sekalipun. Hanya saja memang dikatakan dalam Amsal untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Jika memang dari awal telah tahu bahwa terdapat perbedaan kepercayaan, akan lebih baik dan lebih mudah bagi setiap orang yang terlibat untuk tidak memupuk ketertarikan lebih pada yang bersangkutan. Tertarik itu manusiawi dan normal, tapi cinta tidak terjadi begitu saja. Dalam prosesnya, bukan hanya rasa yang terlibat tapi rasio juga.

Bagaimana jika sudah terlanjur menikah dengan pasangan yang berbeda kepercayaan? Tentu saja jika Anda sudah menikah, jelas Anda sudah memilih. Tidak ada lagi jalan untuk kembali. Jika itu yang terjadi, maka Anda perlu banyak berdoa bagi pasangan Anda supaya Tuhan menjamah hatinya dan berilah kesaksian baginya lewat perbuatan hidup Anda sehari-hari.

Selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap pilihan kita. Jelas memiliki pasangan hidup dengan kepercayaan yang berbeda membuat kita perlu membayar harga yang lebih tinggi. Hanya saja, jika Anda sudah dalam pernikahan, jangan kecil hati.

Saya sudah mendengar dan membaca cukup banyak cerita mengenai suami atau istri yang akhirnya bisa percaya kepada Kristus karena pasangannya sungguh-sungguh mempraktekkan kasih Kristus dalam rumah tangganya. Itu merupakan suatu hal yang memang tidak mudah, tapi jika memang konsisten dilakukan tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Ketika iman bekerja sama dengan perbuatan, saat itulah kuasa Tuhan yang sempurna terjadi.

Hidup ini adalah pilihan, namun pilihan kita menentukan hidup kita. Jika kita diberi pilihan untuk memikul kuk yang berat atau ringan dari awal, biarlah kita memiliki kebijaksanaan untuk memilih kuk yang ringan. Sebaliknya jika kita sudah memilih kuk yang berat dan tidak ada titik untuk kembali, berdoalah dan berjalanlah bersama Tuhan untuk dimampukan memikul kuk tersebut bersama-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: