All for Glory of Jesus Christ

Kekerasan dalam Pacaran

Dalam hubungan pacaran, tentu saja diharapkan bahwa hubungan berjalan dengan baik, mulus, dan lancar. Siapapun tentu ingin hubungannya menjadi hubungan yang manis dan menyenangkan.

Hanya saja ternyata ada sejumlah hubungan pacaran yang tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal yang menyedihkan ketika hubungan yang seharusnya menjadi hubungan yang saling membangun, ternyata menjadi hubungan yang diwarnai dengan kekerasan.

Kekerasan yang saya maksud di sini bukan hanya berupa kekerasan fisik. Kekerasan fisik tentu saja sudah sangat jelas cakupannya. Misalnya: memukul, menampar, meninju, dan lain-lain yang sifatnya menyakiti secara fisik.

Kekerasan lain yang ada adalah kekerasan emosional. Jadi tidak ada unsur menyakiti secara fisik, tapi justru menyakiti secara emosi. Pada umumnya dilakukan dengan kata-kata atau perilaku tertentu yang dapat menyakiti pasangannya secara emosi. Sering kali kekerasan emosional berakibat lebih luas dibandingkan kekerasan fisik, karena sifatnya yang merusak ke dalam jiwa.

Bentuk-bentuk kekerasan emosional adalah membuat pasangan merasa kurang berharga, merasa tidak aman, bahkan juga ancaman-ancaman untuk memutuskan hubungan jika pasangan tidak melakukan hal yang diinginkan.

Kekerasan fisik juga berefek kepada kesehatan jiwa pasangannya. Hanya saja, jika hanya mengalami kekerasan fisik saja, tanpa mengalami kekerasan emosional, seseorang bisa memutuskan hubungan dengan lebih mudah.

Sangat disayangkan jika dalam suatu hubungan terdapat kekerasan, baik fisik maupun emosional. Dalam 1 Korintus disebutkan bahwa kasih itu adalah:

“Sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Orang yang melakukan kekerasan jelas tidak mengasihi. Bagaimana mungkin Anda mengatakan mengasihi seseorang tapi pada saat yang sama justru melukai dirinya?

Emosi atau perasaan yang kita miliki, sebenarnya wajar dan normal untuk kita rasakan. Hanya saja reaksi kita terhadap emosi tersebutlah yang kemudian perlu kita perhatikan.

Saat emosi menguasai diri kita, bukan sebaliknya; biasanya hal-hal yang kurang baik yang terjadi. Karena marah, memukul pasangan (kekerasan fisik). Karena marah, memaki-maki pasangan (kekerasan emosional).

Bahkan jika ada pasangan yang memaksa melakukan hubungan seksual dan mengancam untuk memutuskan hubungan jika memang tidak dituruti, sebenarnya ini sudah termasuk kekerasan dalam berpacaran.

Jika ada pasangan yang setiap kali terjadi konflik dalam hubungan, lalu selalu mengucapkan kata-kata minta putus, ini juga merupakan kekerasan dalam berpacaran. Hal ini dapat menyebabkan pasangan merasa tidak aman dalam hubungan itu.

Pada dasarnya seseorang bisa melakukan kekerasan, baik secara fisik maupun emosional kepada seseorang, apalagi kepada pasangannya, itu merupakan suatu bentuk dari hal yang ada di dalam hatinya. Jika seseorang sehat kondisi jiwanya, tentu saja tidak akan melakukan kekerasan terhadap orang yang dikasihinya.

Jika ini yang Anda alami, lebih cepat keluar dari hubungan pacaran tersebut akan lebih baik bagi Anda. Semakin lama berada dalam hubungan tersebut, semakin akan menggerogoti diri Anda. Semakin cepat Anda keluar dari hubungan itu, semakin cepat Anda dapat dipulihkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: