All for Glory of Jesus Christ

Kompromi

Dalam berpacaran, jelas akan ada benturan-benturan. Di sanalah dibutuhkan kesepadanan, terutama dalam hal prinsip hidup. Pada saat harus menerima pasangan apa adanya, dalam hal ini diperlukan suatu kompromi.

Sejauh mana kompromi dapat dilakukan? Kapankah kompromi ini baik dan kapankah kompromi ini tidak baik dilakukan? Saya akan mengaitkan hal ini dengan pembahasan kotbah hari kemarin di gereja saya.

Pembahasan pada hari minggu kemarin oleh pendeta saya adalah mengenai berbicara “tidak”. Dalam kaitannya dengan itu, sangat pas dihubungkan dengan masalah kompromi ini.

Kompromi tidak boleh dilakukan jika:
1. Pasangan kita hanya ingin memanfaatkan kita.
2. Jika melakukannya dapat melanggar prioritas hidup kita.
3. Jika melakukannya membuat kita jauh dari Tuhan atau tidak sesuai dengan nilai kebenaran.

Dalam kasih seharusnya tidak mementingkan diri sendiri. Dalam kasih seharusnya tidak mencari keuntungan diri sendiri. Jika pasangan Anda mengharapkan Anda berkompromi demi mencari keuntungan dirinya sendiri (memanfaatkan) Anda, maka Anda sebaiknya tidak berkompromi.

Suatu hubungan perlu ada timbal-balik (take and give). Jika hanya salah satu pihak yang menjadi pemberi saja dan pihak lain menjadi penerima saja, maka hubungan itu menjadi hubungan yang berat sebelah. Hubungan yang berat sebelah jelas merupakan hubungan yang tidak baik untuk dijalani.

Bukan berarti menjadi hitung-hitungan dalam arti kalau Anda memberi satu berarti pasangan Anda perlu memberi satu juga. Bukan demikian tentunya. Hanya saja dalam hubungan memang diperlukan saling mengasihi dan ingin membuat pasangannya lebih baik.

Jika memang Anda dan pasangan Anda sama-sama memiliki prinsip yang sama untuk saling membangun dan bukan memanfaatkan, maka kompromi yang dilakukan adalah dalam kerangka untuk saling membangun dan bukan untuk saling memanfaatkan.

Dalam hidup kita memiliki prioritas yang tidak boleh dilanggar. Urutan prioritas itu adalah Tuhan, keluarga dan teman-teman (termasuk pasangan kita), pekerjaan dan pelayanan, dan lain-lain.

Jika ternyata hubungan pacaran kita menyebabkan kita harus melanggar urutan prioritas yang ada, maka janganlah kita melakukan kompromi. Jika kita melakukan kompromi sehingga prioritas hidup kita menjadi kacau balau, pada akhirnya hal itu juga akan merusak hubungan kita.

Mengenai hubungan kita dengan Tuhan dan seluruh nilai kebenaran-Nya, ini sudah sangat jelas. Jika kita berkompromi dalam hubungan kita sehingga menyebabkan hubungan kita dengan Tuhan jadi menjauh maka kompromi ini tidak boleh dilakukan.

Kalau atas nama cinta maka dapat melakukan banyak hal untuk orang yang Anda kasihi, maka atas nama cinta juga Anda harus tidak melakukan banyak hal yang dapat merusak hubungan Anda.

Dalam surat Rasul Paulus kepada umat di Roma dikatakan: janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kompromi di luar tiga hal yang sudah dibahas tadi tidak selalu buruk. Contoh: berkompromi untuk membentuk karakter diri menjadi lebih baik. Hal ini tidak menyenangkan diri sendiri karena harus berusaha menjadi lebih baik.

Hanya saja jika memang hal itu akan dilakukan, lakukanlah bukan karena ingin menyenangkan pasangan Anda. Lakukanlah karena Anda mengasihi diri Anda sendiri dan Anda melakukannya karena memang Tuhan ingin Anda terus-menerus diperbaharui setiap hari untuk menjadi semakin serupa dengan diri-Nya.

Mengapa saya katakan lebih baik dilakukan bukan untuk diri pasangan? Karena jika Anda lakukan untuk pasangan, pada saat terjadi konflik hal ini akan mudah mencuat ke permukaan dan menjadi sumber konflik yang baru.

Pasangan bisa saja tidak akan bersama Anda sampai akhirnya. Hubungan berpacaran walaupun dilakukan dengan penuh komitmen dan saling menghargai, bisa saja berakhir. Jika Anda mendasari kompromi untuk dasar yang mudah berubah, jelas saat dasar itu berubah Anda akan berhenti melakukannya.

Sementara jika Anda melakukannya untuk diri sendiri supaya lebih baik dan karena Tuhan memang ingin Anda terus diperbaharui senantiasa, kalaupun hubungan dengan pasangan Anda berakhir Anda tetap dapat terus melakukan perbaikan diri tersebut.

Masih banyak lagi kompromi yang dapat dilakukan dan juga sebaliknya: tidak boleh dilakukan. Untuk itu mintalah hikmat dari Tuhan supaya dapat membedakan keduanya dan bertindak sesuai dengan yang seharusnya kita lakukan.

Iklan

Comments on: "Kompromi" (2)

  1. Suatu hubungan perlu ada timbal-balik (take and give).

    Kompromi tidak boleh dilakukan jika:
    1. Pasangan kita hanya ingin memanfaatkan kita.
    2. Jika melakukannya dapat melanggar prioritas hidup kita.
    3. Jika melakukannya membuat kita jauh dari Tuhan atau tidak sesuai dengan nilai kebenaran.

    mkasih yaaa…..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: