All for Glory of Jesus Christ

Curhat oh Curhat

Curhat, siapa sih yang tidak kenal dengan istilah yang satu ini? Singkatannya sih dari curahan hati atau sebenarnya sih ini nama lain dari bercerita, berbagi beban (sharing), melepas emosi, dan istilah lain yang sejenis lah. Biasanya kaum hawa yang hobi dengan makhluk yang satu ini, walaupun kaum adam juga ternyata tidak terlepas lho dengan kegiatan yang satu ini. Siapa bilang hanya kaum hawa yang suka curhat?

Saya sering mendengarkan berbagai macam curhatan dari orang-orang di sekitar saya, termasuk orang yang tidak saya kenal sekalipun. Yah, teknologi sekarang berkembang pesat, jadi lewat dunia maya alias internet pun saya bisa mendapatkan curhat dari bermacam-macam orang di berbagai kota maupun di berbagai negara.

Tipe orang curhat (curhaters) itu macam-macam. Ada yang sedang panik, marah, sedih; jadi butuh teman cerita untuk meredakan emosi. Ada juga yang memang sedang ada masalah dan membutuhkan pendapat orang lain untuk membantu mencari pemecahan atau alternatif pemecahan masalahnya. Ada juga yang sedang senang dan ingin membagi rasa senangnya itu dengan orang lain. Tiga jenis ini merupakan tipikal orang yang umum ditemui.

Tiga jenis kelompok curhaters ini biasanya memang sifatnya insidental alias sementara saja. Lalu biasanya setelah selesai curhat, ya sudah selesailah sesi tersebut. Kalaupun berulang, paling hanya tambahan 1 sesi saja.

Sayangnya ada jenis keempat. Ini dia mimpi buruk bagi semua konseli atau orang-orang yang mendengarkan curhatan para curhaters. Jenis keempat ini biasanya bercerita berulang-ulang tanpa ingin menyelesaikan masalah. Setelah bercerita berulang-ulang yang diharapkan akan membuat dirinya lega, ternyata tidak juga. Jadi yang bersangkutan akan bercerita lagi berulang-ulang-ulang-ulang (dan ini bukan karena typo/salah ketik atau saya copy paste yang kelebihan, Saudara-saudara, tapi karena memang sudah sangat berlebihan sekali frekuensi pengulangannya curhatnya).

Jadi tidak cukup mengulang-ulang dalam 1 sesi curhat/konseling, yang bersangkutan juga akan mengulangnya pada sesi berikutnya dan berikutnya dan berikutnya dan teruuuuuuuuusssss begitu. Biasanya masalahnya seputar itu-itu juga, tidak berubah, tidak bergeser. Kalaupun obyek yang diceritakan berganti, tetap saja inti persoalannya sama. Itu-itu saja. Tidak ada variasi sama sekali. Kalaupun ada variasi, masih sedikit lumayan lah. Ini sama sekali tidak ada. Benar-benar persis plek dengan cerita sebelumnya. Sampai-sampai Anda kalau menjadi konselinya, sebelum si curhaters ini bercerita, Anda sudah tahu hal yang akan diceritakannya.

Masalahnya adalah konseli itu adalah manusia biasa juga. Kalaupun konseli itu dibayar, tetap saja mendengarkan sesuatu yang sama berulang-ulang kali itu sangat membosankan. Yah, kalau dibayar setidaknya masih lumayan lah, hitung-hitung seperti mendengarkan siaran radio ulang atau mendengarkan kaset yang diputar berulang kali. Masalahnya sudah tidak dibayar, eh ini curhaters bukan cuma cerita berulang-ulang, tapi juga tidak mau peduli dengan kondisi konseli.

Cerita berulang-ulang untuk suatu hal yang sama itu menghabiskan waktu yang relatif lebih panjang dibandingkan cerita 1x saja. Bayangkan kalau cerita yang berulang-ulang tidak cukup hanya 1 sesi saja, tapi juga dalam sekian banyak sesi-sesi berikutnya. Sudah menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, kesabaran konseli; plus si curhaters juga tidak menyelesaikan masalahnya sendiri. Konseli pun manusia biasa yang punya masalahnya sendiri. Bayangkan saat si konseli sedang memiliki permasalahannya, curhaters jenis keempat ini terus-menerus bercerita dengan semangat 45, mengulang-ulang cerita yang sudah pernah diceritakan sebelumnya dengan pantang menyerah.

Kalau sesudah membaca artikel ini, tiba-tiba ada dari pembaca yang merasa tersindir, tersentil, tersinggung, atau tercubit; saya akan sangat senang. Berarti memang Anda sadar bahwa Anda termasuk kelompok curhaters yang keempat. Memang untuk berubah itu langkah pertama yang dibutuhkan adalah sadar dulu. Kalau belum sadar, memang tidak akan bisa berubah.

Bagi curhaters kelompok keempat, coba bayangkan bahwa Anda adalah seorang konseli dan ada seorang curhaters yang menceritakan masalah yang sama berulang-ulang kali. Setiap kali ia bercerita, pasti akan menceritakan hal yang sama. Apa yang Anda rasakan? Kesal? Jengkel? Membuang-buang waktu Anda? Nah kalau Anda merasakan begitu, bagaimana dengan konseli Anda, dengan orang yang selama ini mendengarkan terus curhatan Anda yang itu-itu saja?

Apakah sebenarnya yang Anda cari? Pemecahan masalah? Kalau memang pemecahan masalah yang Anda cari, Anda tidak perlu bercerita berulang-ulang. Cukup ceritakan secara sistematis 1x saja kemudian Anda bisa mencari akar masalahnya sambil Anda bercerita, mungkin juga dibantu oleh konseli.

Mungkinkah yang Anda cari itu hanya seorang teman yang selalu mau mendengarkan Anda? Kalau Anda mencari seorang teman, janganlah membebaninya dengan memintanya terus mendengarkan hal yang sama terus-menerus. Alih-alih mendapatkan teman, Anda akan mendapatkan orang yang Anda inginkan sebagai teman itu pergi menjauh.

Mungkinkah Anda ingin membuat perasaan Anda lega dari suatu masalah dengan menceritakannya terus? Kalau memang demikian, saya punya solusi lain untuk Anda. Coba tuliskan saja permasalahan Anda dalam selembar kertas. Setelah selesai, Anda dapat bakar kertas tersebut dan dalam pikiran Anda coba bayangkan (visualisasikan) bahwa permasalahan Anda juga sudah terbakar habis dan Anda bisa melangkah dengan lebih lega.

Semoga para curhaters kelompok keempat membaca artikel ini dan bisa sembuh dari sindrom pengulangannya dan semoga para konseli yang membaca artikel ini bisa terhibur.

Amin.

Iklan

Comments on: "Curhat oh Curhat" (4)

  1. hehehe… Btul2, luchu bgt baca note yg ini, bca smbil ngakak… Hehe

  2. ia.. Agk lucu aja kak. Cz, jd kbyg expresi org yg jd tpt curhat, pdhl curhatnya g prnh ada yg laen, hny itu2 saja. Note ni jg agk mnyentil q,. soalnya dlu saya smpat sprti itu. Curhat prmslhn yg sma brkali-kali… Cz dlu low dah crhat, kt2 org yg jd tpt crhat memang membangun, tp jk down lg, kt btuh kt2 yg mmbangun lg, truz-mnerus, sampai kt bnr2 jd kuat..

    • Hehehee, ya begitu deh suka dukanya jadi pelacur (pelayan curhat) hahaha. Kalau orang hanya sekedar curhat untuk bikin lega, itu Ok. Cuma masalahnya ada orang yang ceritanya dari dulu, sekarang, dan selama2nya ga berubah huahahaa. Bener2 pengikut Kristus sejati, soalnya meneladani: dulu, sekarang, dan selama2nya ga berubah hauhaha, cerita yang itu terus :P. Masalah down itu, memang kita butuh teman2 yang bisa mengangkat kita; tapi juga kita butuh mekanisme pribadi untuk mengatasi itu. Soalnya teman2 sebaik apapun juga, mereka punya masalah dan kehidupan sendiri. Mekanisme pribadi yang paling kuat: lewat doa dengan Tuhan sih. Bisa curhat sepuas2nya, dari pagi sampe pagi lagi hahahaa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: