All for Glory of Jesus Christ

Penggemblengan

Hari ini terjadi satu kejadian yang membuat saya teringat bahwa saya pernah menulis satu artikel berjudul, “People Pleaser vs God Pleaser”. Saya teringat akan kata-kata, “Tidak mungkin menyenangkan semua orang”. Itu memang suatu kebenaran yang sangat mutlak. Hari ini kembali saya mengalaminya.

Latar belakang kejadiannya adalah seperti ini: setelah sekian lama memutuskan berhenti mengirimkan sms harian kepada teman-teman saya, ada dua peristiwa yang menyentakkan saya dan mengingatkan saya untuk mengirimkan sms harian tersebut. Ternyata setelah memutuskan untuk kembali mengirimkan sms, ada fasilitas sms unlimited alias tidak terbatas dari provider kartu prabayar yang saya gunakan (sebut saja kartu A).

Sebelumnya saya mempertimbangkan untuk memakai kartu prabayar lain yang saya gunakan karena dari segi kepraktisannya lebih tinggi (sebut saja kartu B). Mengirimkan sms dalam jumlah banyak (mass-messages) dengan kartu B lebih praktis karena saya memiliki modem yang setelah difungsikan juga dapat berperan sebagai hand-phone. Untuk mengirimkan mass-messages, tinggal klik semua dan send. Praktis sekali.

Masalahnya adalah kartu B mengharuskan biaya pengiriman per pesan. Walaupun biaya per pesannya relatif murah, tapi kalau mengirimkan mass-messages cukup lumayan juga. Setelah saya hitung-hitung, jika dihitung dalam jangka waktu satu tahun itu memungkinkan saya untuk membeli satu hand-phone baru.

Lalu mengapa saya mempertimbangkan menggunakan kartu B? Masalahnya adalah hand-phone yang biasa saya gunakan (sebut saja hand-phone I) tidak memungkinkan untuk mengirimkan mass-messages. Yah maklum, tidak ada fasilitas list message atau distribution list dalam hand-phone saya. Sementara pada hand-phone lain (sebut saja hand-phone II) yang saya miliki ada fungsi itu, tapi sayangnya keypad-nya macet, banyak nomor yang tersimpan di dalamnya sudah tidak up-to-date karena sudah lama tidak saya gunakan, dan juga kondisi baterainya sudah tidak prima lagi.

Saya berpikir-pikir apakah lebih baik untuk membeli hand-phone baru saja? Ketika sedang berpikir-pikir begitu, tiba-tiba timbul ide untuk memperbaiki saja hand-phone II tersebut. Ketika saya datang ke toko reparasi hand-phone, saya juga sekalian menanyakan mengenai baterainya apakah dijual di sana atau tidak? Ternyata dijual, padahal hand-phone II itu sudah model lama.

Satu jam waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki hand-phone II tersebut. Sesudah 1 jam, hand-phone II itu kembali cemerlang: dapat berfungsi dengan baik. Saya sangat senang, karena dapat kembali menggunakan hand-phone II tersebut untuk mengirimkan sms setiap hari.

Tadinya saya sangat mengalami kerepotan: harus menuliskan pesan yang saya ingin kirimkan di hand-phone I, lalu memindahkan simcard-nya ke hand-phone II untuk mengirimkan mass-messages tersebut. Ketika ada yang membalas, saya harus memindahkan lagi simcard tersebut ke hand-phone I. Bayangkan betapa tidak praktis dan memakan waktunya hal tersebut.

Puji Tuhan,sungguh Ia baik karena membantu saya menemukan solusi yang praktis dan murah. Dengan menggunakan hand-phone II memang saya harus meng-update sejumlah data yang sudah lama, tapi setidaknya manfaat menggunakan hand-phone II lebih tinggi dibandingkan waktu yang harus saya gunakan untuk meng-update data tersebut.

Lalu apa kaitannya hal ini dengan “tidak mungkin menyenangkan semua orang” yang saya tulis di awal note? Ketika saya mengirimkan mass-messages tersebut, sebelumnya saya sudah mengirimkan informasi untuk mendata orang-orang yang tidak mau mendapatkannya lagi. Hal ini saya lakukan untuk menghindari konflik yang tidak perlu, yang sebelumnya pernah terjadi.

Ternyata sesudah melakukan konfirmasi, seorang teman yang tidak melakukan konfirmasi tersebut ada yang akhirnya mengajukan keberatan karena waktu pengiriman saya tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Pada saat itu, hati saya terasa sakit. Ternyata niat baik memang tidak selalu diterima dengan baik pula.

Tapi, setelah saya mengobrol dengan seorang teman untuk suatu masalah lain yang membuat saya berpikir mengenai hal ini, teman saya mengemukakan pendapat yang memang benar. Pendapat teman saya kurang lebih adalah demikan: “Setiap orang bebas berpendapat. Pendapat setiap orang itu sifatnya subyektif, karena standar sifatnya adalah berbeda-beda. Tapi kita tinggal melihat, apa hasil standar yang kita pegang?”

Saya pikir memang teman saya ini benar. Kalau seorang teman merasa terganggu karena sms saya, itu adalah haknya. Tapi di lain pihak, dengan adanya satu orang yang merasa terganggu, bukan berarti saya harus merasa patah semangat. Dibandingkan satu orang yang merasa terganggu, saya mendapat sejumlah pesan yang menyemangati dan mendukung saya juga. Kalau dilihat persentasenya satu orang dari sekian orang itu jumlah yang sangat kecil.

Apalagi kemudian ada seorang teman yang tiba-tiba memiliki satu ide yang tidak pernah saya pikirkan. Ia mengatakan akan mengatur untuk membuat facebook dan twitter yang berisikan sms yang saya kirimkan setiap hari supaya orang yang membacanya dapat memperoleh manfaatnya. Saya berpikir bahwa itu ide yang brilian!

Ketika saya renungkan semua kejadian yang saya alami, saya berpikir bahwa Tuhan sedang membentuk dan menggembleng saya untuk bermental baja dan tidak terlalu pusing dengan tanggapan orang, selama memang yang saya kerjakan adalah hal yang benar. Sebaik apapun niat saya atau sekeras apapun saya berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetap saja pasti akan ada orang yang tidak sependapat atau bahkan menentang.

Memang pendapat orang yang tidak sependapat atau menentang itu tidak selamanya salah. Saya juga perlu memikirkan alasannya ketika ada orang yang tidak sependapat dan menentang. Jika pendapatnya benar, memang hal itu perlu diperhatikan.

Akan tetapi jika melakukan sesuatu yang benar dan kemudian ada satu orang yang tidak setuju, yah biarlah. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk segala sesuatu: tidak mungkin menyenangkan semua orang. Kalau berusaha untuk menyenangkan semua orang, yang ada adalah kekacauan.

Doaku hari ini: Tuhan bantulah aku untuk menyenangkan Engkau saja. Aku tau Kau sedang membentuk dan menggemblengku dengan keras, tapi aku juga tau Kau sangat sayang padaku. Engkau ingin aku punya mental baja, so help me, God. Bantu aku untuk tetap berdiri teguh dan untuk tetap melakukan yang benar. Kalaupun ada orang yang tidak setuju saat aku melakukan yang benar, bantu aku untuk terus berjalan dengan setia di jalan-Mu. Tapi jika aku salah, tolong tegur aku, Tuhan. Amin.

(- For K-RayCahyadi, thanks for your opinion. Sometimes you sound harsh. However, when I think about it again, I find truth in your opinion. Thank you to be bold enough to correct me.

– For Chandra,thanks for your brilliant idea. Congrats! You are truly a good marketing for God’s Kingdom.)

Comments on: "Penggemblengan" (8)

  1. FB Comment from DS: cia you !!!

  2. FB Comment from GS: Some people never realize how blessed they are before they walk through their boundaries. Just let it be, as long as you have done what is the right thing according to God’s words

  3. FB Comment from EHC: tetep jadi berkat san🙂

  4. FB Comment from HK: Saya setuju San….bila ada yang tidak setuju dengan apa yang kita pandang ‘baik’…walaupun itu sangat memberkati..itu adalah hak mereka…..dan ketika kamu bertemu teman yang bisa mengkritik sangat pedas dan menyakitkan tapi membangun…….itulah teman sejati….

    Ga banyak orang berani ambil resiko untuk menegur kita karena ‘ja – im
    atau ga mau kehilangan respect kita ataupun rasa persahabatan kita….but when they still do that….itu adalah blessing buat kita….karena kita bisa review aspek2 yang mereka kritik dan menjadi lebih baik di dalamnya….thank you untuk semua sms2-nya yang membangun….keep up the good work sis…GBU

    • Thanks, Ko. Iya, Ko, saya masih belajar buat bisa menerima hal itu. Saya kalau emang salah dan ditegur sih masih lebih bisa nerima walau agak susah. Kalau orang tegur yang emang sesuai karena saya salah sih, biasanya saat itu saya kes…el juga. Cuma terus kalau saya pikirin lagi dan emang saya salah, saya jadi bisa introspeksi dan saya jadi lebih ngehargain orang yang negur (seperti yang Koko bilang itu).

      Cuma kadang-kadang ada hal yang saya ga maksudnya gitu tapi orang salah paham dan negur, padahal saya sih ga maksudnya seperti yang ditegur itu. Ada juga yang negur tapi ga sesuai dengan konteks pembicaraan. Jadi dalam dua kasus itu, saya ngerasa kaya dihakimin padahal saya ga mikir atau ga maksud ke sana. Kalau udah dihakimin, saya udah males ngomong biasanya sih, Ko. Jadi kalau orang udah ngehakimin saya duluan, ya saya sih terserah aja orang itu mau mikir apa aja tentang saya. Heheh jadi curcol (curhat colongan :P).

      Sama2 Ko, I’m trying to do my best in everything I can. Gbu too.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: