All for Glory of Jesus Christ

Ketika Tuhan Berbicara (2)

Sebenarnya saya tidak merencanakan untuk menulis note ini maupun note sebelumnya, tapi renungan harian yang saya baca sore ini mendorong saya untuk menuliskan semuanya. Memang Tuhan itu sangat luar biasa. Ia adalah Allah yang Maha Tahu, Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Baik.

Pada note sebelumnya, saya sudah bercerita dan membahas bahwa cara Tuhan berbicara kepada kita adalah melalui firman-Nya, melalui renungan-renungan yang ada, atau melalui ‘perasaan’ yang timbul setelah membaca firman-Nya/renungan yang ada. Pada note ini saya akan bercerita mengenai cara lain Tuhan berbicara kepada kita.

Untuk menceritakan ini, saya harus kembali ke peristiwa 10 tahun lalu yang sudah saya ceritakan. Ketika Tuhan berbicara kepada saya mengenai nubuatan yang Ia berikan kepada saya. Kali ini, saya akan bercerita mengenai sejumlah kejadian lain mengenai cara Tuhan berbicara.

Peristiwa pertama terjadi sekitar 7 tahun lalu. Saat itu saya melamar suatu pekerjaan dan dipanggil untuk menjalani sejumlah tes yang ada. Ketika diwawancara, saya diberitahu bahwa hasil-hasil tes yang saya lalui adalah sebagai berikut:
– IQ = 150.
– Toefl = 672.
– TPA = 700.

Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang begitu saya inginkan dan begitu saya harapkan. Ketika saya mempersiapkan untuk Toefl, saya meminjam buku persiapan Toefl kepada salah satu dosen saya ketika itu. Luar biasanya, ternyata soal yang diujikan sama persis dengan soal yang ada di buku persiapan tersebut, maka tidak heran saya bisa mencapai score Toefl tersebut.

Ketika itu pewawancara saya mengatakan bahwa hasil yang saya peroleh cukup impressive (mengesankan) dan saya ditantang untuk mencari beasiswa ke luar negeri. Saat itu saya mengatakan bahwa saya belum mempunyai rencana untuk mencari beasiswa ke luar negeri. Saya katakan lebih lanjut bahwa kalau memang saya sudah bekerja kurang lebih 5 tahun dan sudah siap, barulah saya mau mencari beasiswa tersebut. Lalu ada pembicaraan mengenai disarankan mengenai studi lanjut ke S2 dan seterusnya.

Sekian lama berlalu, peristiwa yang saya tidak mungkin lupakan. 31 Desember 2003 adalah hari yang bisa dikatakan salah satu hari paling kelabu dalam hidup saya. Saya menerima surat pemberitahuan bahwa saya tidak lolos dalam proses perekrutan tersebut. Ketika saya membaca hal tersebut, saya membacanya berulang kali.

Rasa shock, terpukul, dan hancur; semuanya bercampur saat itu juga. Saya merasa saat itu juga tujuan saya untuk hidup sudah tidak ada lagi. Dalam hidup, tidak banyak hal yang saya inginkan dan saat itu saya begitu ingin mendapatkan pekerjaan itu. Setelah berusaha begitu keras, mendapatkan informasi bahwa hasil tes yang saya lewati cukup mengesankan; untuk akhirnya mendapatkan kenyataan bahwa saya tidak berhasil dalam proses tersebut.

Spontan saya langsung mengunci diri di dalam kamar saya dan menangis selama mungkin kurang lebih 1 jam. Dalam keadaan hati yang sangat hancur, saya menangis dan bertanya kepada Tuhan, “Mengapa Tuhan? Saya begitu menginginkan hal ini. Saya tidak menginginkan hal yang lain. Saya tidak memiliki banyak keinginan, tapi ketika saya menginginkan satu ini dan saya sudah berusaha dengan begitu keras, mengapa saya gagal?” Menangis, menangis, dan menangis; itulah yang saya lakukan saat itu. Sekitar mungkin kurang lebih satu jam, lalu saya mendengar Tuhan berkata, “Ini belum berakhir”. Hanya 3 kata itu yang Tuhan katakan, tapi begitu saya mendengar hal itu saya merasakan suatu penghiburan besar.

Keesokan harinya adalah ibadah awal tahun. Saya masih ingat dengan sangat jelas dalam ingatan saya. Waktu itu dinyanyikan pujian yang mengatakan bahwa betapa Tuhan itu begitu baik. Saya ingat persis saat itu saya sama sekali tidak bisa menyanyikan hal tersebut dan saya berdiam diri dengan air mata yang mengalir. Saat itu saya hanya bisa berpikir, “Kalau Tuhan memang baik, mengapa hanya satu keinginan yang saya minta tidak diberikan padahal saya sudah berusaha dengan sangat keras”.

Beberapa hari kemudian, ketika saya makan ke restoran dengan kedua orang tua saya pun, saya teringat akan kegagalan saya itu dan air mata mulai mengalir lagi saat itu. Ah, mengingat kejadian 7 tahun silam ini benar-benar suatu hal yang berat. Hanya karena memang Tuhan bekerja luar biasa sajalah, maka peristiwa 7 tahun lalu ini layak saya ingat kembali.

Beberapa hari setelah itu, ayah saya memanggil saya, menanyakan rencana saya ke depan. Saat itu saya hanya menjawab, “Saya akan mencari pekerjaan lain”. Ayah saya melihat pada saya dan bertanya, “Apa hasil wawancaranya?” Saya menjawab, “Saya disarankan untuk melanjutkan S2”. Ayah saya lalu berkata, “Kalau ini memang yang kamu mau, coba kamu cari info tentang S2 dan biayanya. Kalau memang dibayar per semester mungkin masih bisa”.

Padahal sebenarnya, orang tua saya, terutama ayah saya adalah orang yang paling tidak setuju ketika saya ingin mengambil suatu profesi. Saat itu saya sangat tertegun dan saya tahu saat itu bahwa inilah yang Tuhan katakan, “Ini belum selesai”. Seketika itu juga harapan hidup saya bangkit dan saya mencari informasi, kemudian saya berhasil melanjutkan studi saya. Puji Tuhan.

Peristiwa lain terjadi mungkin sekitar 5 tahun lalu. Saat itu saya menjadi dosen honorer di suatu fakultas. Ketika saya memeriksa tugas para mahasiswa, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Ketika saya membaca tulisan mahasiswa tersebut, saya merasa itu bukan tulisan mahasiswa yang bersangkutan (sebut saja mahasiswa I). Saya tidak termasuk orang yang menghafal tulisan mahasiswa, tapi entah saat itu saya merasa itu bukan tulisan mahasiswa tersebut.

Jadi saya mencari berkas UTS mahasiswa tersebut dan mencocokkan tulisannya. Ternyata memang berbeda jauh. Lalu saya ketika memeriksa lagi, saya menemukan tulisan dari mahasiswa lain (mahasiswa II) yang mirip sekali dengan mahasiswa I tadi. Saya berpikir, “Kemungkinan besar mahasiswa II yang membuatkan tugas mahasiswa I”.

Hari berlalu dan pada pagi hari saya sarapan seperti biasa dan sudah melupakan hal yang terjadi pada hari sebelumnya. Ketika saya sarapan, tiba-tiba saya mendengar Tuhan berbicara kepada saya. Tuhan menyebutkan mengenai nama salah seorang mahasiswa (sebut saja mahasiswa III).

Saat mendengar hal tersebut, saya tertegun. Saya tahu dengan pasti, itu bukan pemikiran saya karena saya tidak sedang memikirkan apapun dan sedang menikmati sarapan saya. Lalu saya berpikir, “Kenapa nama mahasiswa ini yang disebutkan?” Setelah saya pikir-pikir, lalu saya menganalisis bahwa bisa jadi ada sesuatu dengan tugas mahasiswa III ini.

Lalu saya cari kertas tugas mahasiswa III ini. Alangkah kagetnya saya, ketika saya lihat dan saya cocokkan dengan tugas mahasiswa I dan II, ternyata tulisannya begitu mirip.

Akhirnya saya memanggil ketiga mahasiswa tersebut, sebelumnya saya juga melaporkan hal ini kepada koordinator mata kuliah yang bersangkutan. Ternyata setelah saya tanyakan, tugas mahasiswa I dibuatkan oleh kekasihnya. Jadi berbeda dengan dugaan saya semula yang mengira mahasiswa II yang membuatkan tugas mahasiswa I. Kemudian ternyata, mahasiswa III-lah yang justru membuatkan tugas untuk mahasiswa II. Kejadian 5 tahun lalu ini masih begitu segar di ingatan saya, karena benar-benar unik dan luar biasa mengenai cara Tuhan berbicara.

Cerita terakhir adalah satu kejadian yang terjadi satu tahun lalu. Sebenarnya ada dua kejadian spesifik saat Tuhan berbicara langsung kepada saya, tapi saya pikir saya hanya akan menceritakan satu saja dulu.

Kejadiannya saat UAS dan saya datang untuk mengambil berkas jawaban UAS tersebut karena memang berkas tersebut harus diperiksa secepatnya untuk diserahkan nilainya. Ketika saya akan menandatangani formulir telah mengambil berkas, tiba-tiba saya mendengar Tuhan berbicara kepada saya, “Periksa dulu berkasnya”.

Saya terkejut karena saya pikir di sampul berkas jawaban UAS tersebut sudah tertera nomor soal yang saya buat dan yang harus saya periksa. Ketika saya lihat, nomornya sudah benar. Saya berpikir, “Untuk apa saya periksa dulu berkasnya?”

Ketika saya berpikir untuk membuka amplop berkas tersebut, saya didatangi oleh dua orang mahasiswa yang menanyakan sesuatu berkaitan dengan soal UAS tersebut dan saya jadi lupa untuk memeriksa amplop berkas tersebut. Setelah itu, sesudah saya berjalan beberapa langkah saya teringat mengenai kata-kata Tuhan itu. Tetapi saya berpikir, “Ah, biasa juga tidak pernah salah. Di amplopnya juga tertera nomor soalnya sudah benar, kog”.

Setelah itu saya pulang ke rumah. Ketika sampai di rumah, saya membuka amplop berkas tersebut dan ternyata… memang isi berkasnya tertukar. Saya sangat kaget saat itu dan saya langsung tahu bahwa Tuhan sudah mengingatkan saya sebelumnya.

Ada 3 cerita yang berbeda, pada 3 kondisi berbeda, pada 3 waktu yang berbeda; tapi Tuhan tetap berbicara. Cara Tuhan berbicara memang tidak bisa dibatasi oleh akal kita. Ketika Ia ingin berbicara, Ia akan berbicara dengan cara yang Ia inginkan, pada waktu yang Ia inginkan, dan pada kondisi yang Ia tentukan.

Apakah Anda saat ini sedang menunggu Tuhan berbicara? Tuhan senantiasa berbicara kepada Anda, dengan cara apapun yang Ia mau. Jadi jangan pernah meragukan bahwa Tuhan bisa berbicara kepada Anda. Hanya saja memang semuanya tergantung cara, waktu, dan kondisi yang Ia tentukan. Bersiap sajalah untuk mendengar suara-Nya, lewat cara, waktu, dan kondisi apapun; sesuai dengan kehendak-Nya.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: