All for Glory of Jesus Christ

Dil3ma

Mia Arsjad benar-benar sangat piawai dalam menuliskan rangkaian cerita yang dapat mengaduk-aduk emosi saya. Saya siang ini baru saja membeli novel yang ditulisnya. Judul novelnya adalah judul note ini. Sejak membacanya, saya tidak bisa melepaskan novel ini.

Hebat sekali runtutan cerita yang ia tuliskan mempermainkan emosi saya ketika membacanya. Brilian sekali! Saya sangat kesal melihat perilaku laki-laki matre, pengecut, dan posesif seperti yang ditokohkan oleh karakter tokoh Reva. Benar-benar gemas membaca ada laki-laki semacam itu. Rasa posesif berlebihan yang dimiliki Reva merupakan cerminan dari rasa tidak amannya. Biasanya rasa tidak aman ini muncul karena memang yang bersangkutan merupakan seseorang dengan self-image yang tidak utuh. Jadi, bila memiliki pasangan haruslah yang di bawahnya. Jika ia memiliki pasangan yang di atasnya, dengan berbagai cara ia akan berusaha menyabotase dan membuat pasangannya merasa bahwa beruntung sekali bisa memiliki kekasih seperti itu. Hah! Benar-benar membuat muak saat membacanya.

Lebih gemas lagi melihat perilaku Nania, seorang perempuan dewasa yang pintar, sukses, namun rendah diri, merasa tidak bisa mendapatkan kekasih bila ia putus dari Reva. Astagaaaaa! Ia tidak bisa mengucapkan kata “putus”, bahkan ketika Reva berkali-kali menyakitinya, merendahkannya, menghinanya, atau memanfaatkannya.

Benar-benar ingin berteriak rasanya ketika membaca saat Reva berkali-kali memanfaatkan Nania, tetapi Nania terus saja menerimanya, ‘menyayanginya’, dan memaafkannya. Oh, bodoh sekali! Saya cukup yakin itu bukan cinta, tapi lebih sebagai bentuk kompensasi terhadap rasa rendah diri berlebihan yang dimiliki oleh Nania.

Ternyata cerita kebodohan perempuan yang diwakili oleh Nania, juga masih diwakili oleh seorang tokoh lainnya, yaitu Mala. Mala dibohongi oleh bosnya yang telah beristri. Bosnya selalu mengiming-imingi Mala bahwa Mala akan dinikahi dan bosnya akan menceraikan istrinya.

Trik basi yang begitu senang diungkapkan oleh pria beristri yang nakal dan senang mencari selingan di luar rumah. Ini sangat tipikal kisah para pria beristri nakal yang ingin menjerat wanita lain dengan iming-iming menjadi istri. Sangat brilian Mia Arsjad menangkap hal tersebut dan menuangkannya dalam novel ini.

Mala karena termakan oleh ‘cinta’, selalu berpikir bosnya benar mencintai dia dan akan menceraikan istrinya. Pada akhirnya, ia menyadari bahwa bosnya hanya memanfaatkan dirinya saja dan tidak pernah berniat untuk menceraikan istrinya.
Cinta tidak pernah ingin melukai orang lain. Cinta tidak pernah mementingkan diri sendiri.

Tokoh istri bos Mala, yaitu Bu Virnie, adalah tokoh istri yang begitu sabar menghadapi kelakuan sang suami yang ternyata hobi selingkuh. Ternyata sang suami sudah hobi selingkuh sejak masih pacaran. Coba pikir, kalau dari sejak pacaran sudah tahu bahwa sang kekasih hobi selingkuh, lalu untuk apa dilanjutkan ke pernikahan?

Orang jarang yang berubah. Kalaupun yang berubah drastis, itu memang karena yang bersangkutan berniat kuat untuk berubah atau memang mendapat jamahan dari Tuhan sehingga mau berubah. Jadi, bagi yang sedang pacaran hati-hati saja kalau punya pacar yang hobi selingkuh. Ini adalah lampu kuning mengarah ke merah. Waspadalah!

Lalu ada Lura yang mengabsorpsi luka sang ibu yang ditinggalkan oleh kekasihnya setelah menghamilinya. Karena Lura menyerap luka sang ibu, ia mencoba membalaskan dendam itu dengan cara menjebak para laki-laki yang playboy alias sudah punya kekasih tapi masih suka menjalin hubungan dengan perempuan lain.

Memang benar bahwa hal yang dialami oleh orang tua itu membekas kuat dalam benak sang anak. Itu sebabnya penting sekali untuk memberikan suasana yang kondusif bagi perkembangan jiwa seorang anak. Karena anak sebenarnya mengidolakan orang tuanya, ia meniru dan juga menyerap dengan cepat hal-hal yang dialami atau dilakukan orang tuanya. Menarik sekali membaca hal ini dalam buku “Dil3ma” ini.

Terakhir ada tokoh Robi dan Elwan. Tokoh Robi adalah kekasih Lura. Robi mencintai Lura dengan tulus sekali. Ia melamar Lura tiga kali dan semuanya ditolak Lura, karena Lura memiliki trauma terhadap laki-laki yang meninggalkan ibunya. Robi mengetahui Lura mengkhianatinya dengan laki-laki lain, lalu meminta penjelasan dari Lura, bahkan melamarnya sekali lagi dan ditolak. Akhirnya Robi meminta “break” untuk memikirkan hubungan mereka.

Menarik ketika saya membaca pendapat dari Elwan yang merupakan rekan kerja dari Nania mengenai masalah “break” ini. Menurut Elwan, break itu adalah sesuatu yang bodoh karena membuat hubungan menjadi tidak jelas. Saya sangat setuju akan hal itu.

Ketika akhirnya Lura diperkosa oleh seorang laki-laki yang dijebaknya, Robi tidak meninggalkannya. Bahkan lebih mengagumkan lagi, Robi mengatakan kalaupun Lura akhirnya hamil karena diperkosa, Robi siap untuk menikahi Lura.

Tokoh Elwan juga merupakan tokoh yang luar biasa. Walaupun ia menyayangi Nania, ia tetap tidak mendesak Nania memutuskan Reva. Elwan tetap mendampingi Nania dengan tulus, memberikan Nania ruang untuk berpikir, dan benar-benar tipe pria yang luar biasa.

Membaca buku ini benar-benar menggambarkan berbagai tipe manusia yang ada di dunia ini. Cinta memang sesuatu yang sering disalahpahami oleh manusia. Sering manusia berpikir ia mencintai, padahal sesungguhnya ia ‘mencintai’ alias bukan mencintai secara sesungguhnya. Hal ini ditangkap dengan cerdas oleh Mia Arsjad. Saya benar-benar menikmati setiap halaman bukunya ini.

Sebagai penutup saya akan menuliskan mengenai definisi cinta yang ditulis di Alkitab:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Ah, betapa indahnya cinta yang sesungguhnya itu. Semoga kita semua bisa menemukan cinta yang seindah itu dan semoga juga kita semua bisa memberikan cinta yang seindah itu kepada setiap orang yang kita jumpai, karena cinta memang sifatnya adalah universal. Tokoh Bu Virnie, Robi, dan Elwan telah menjadi tokoh yang menggambarkan cinta sejati.

Iklan

Comments on: "Dil3ma" (2)

  1. FB Comment from FW: good story.
    and the way u tell us ’bout this novel is great, like the real writer. 🙂

    • Thank you for the compliment and thank you for reading the note. How are you, Fer? It’s been a long time we didn’t chat. I hope things are great for you, Andri, and Feli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: