All for Glory of Jesus Christ

Pembunuhan Setiap Hari

Tiga minggu yang lalu saya menonton film Solomon Kane. Dua minggu lalu saya menonton film Ghostwriter. Minggu lalu saya menonton film The Expendable. Minggu ini juga saya menonton film The Book of Eli. Tujuan saya menuliskan empat judul film ini bukan karena saya mau pamer bahwa saya menonton film tiap minggu hahahaha.

Jadi begini. Dari empat film yang saya tonton, unsur kekerasannya mulai dari cukup sampai sangat tinggi. Tingkat kekerasan yang cukup tinggi adalah film Ghostwriter, sementara tingkat kekerasan yang sangat tinggi (bahkan menurut saya ekstrim) adalah tiga film sisanya. Tiga film ini membuat saya bahkan nyaris menutup mata di banyak adegan. Seingat saya untuk film Solomon Kane mungkin sekitar sepanjang ½ film saya menutup mata. Sementara untuk The Expendable bahkan lebih mengerikan lagi. Mungkin 2/3 film saya menutup mata. The Book of Eli tidak separah itu, tapi mungkin 1/3 film saya menutup mata.

Saya sempat berpikir begini:

“Kenapa bisa-bisanya 4 kali menonton film semuanya berturut-turut kog kekerasan semua unsur yang dominannya?”

Saya sempat bingung dan frustasi menonton film-film tersebut. Yah, walau jelas saya menemukan pesan-pesan moral di sana sini, baik dalam kadar relatif sedikit maupun banyak. Setiap akan menonton film, saya pasti menyempatkan diri membaca resensinya terlebih dahulu. Jadi biasanya, saya menonton film yang relatif dapat diterima oleh selera saya.

Saya sempat heran juga. Saya sempat berpikir jangan-jangan kemampuan saya memprediksikan suatu film menarik atau tidak sudah menurun drastis. Namun ketika kemarin menonton The Book of Eli, saya tiba-tiba mendapat suatu pemikiran lain. Kekerasan dan pembunuhan yang ditampilkan di film-film mungkin merupakan suatu adegan semata. Bagaimana dengan di dunia nyata?

Saya tidak ingin membahas mengenai pembunuhan secara fisik, walau jelas hal itupun terjadi di dunia nyata. Saya sedang memikirkan pembunuhan secara mental. Berapa banyak orang yang terbunuh mentalnya setiap hari?

Ada pepatah atau komentar populer demikian,

“Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.”

Kalau mau dipikir-pikir pembunuhan secara mental memang lebih kejam dibandingkan pembunuhan secara fisik. Pembunuh secara fisik hukuman penjaranya sangat berat, sementara pembunuh secara mental kelihatannya tidak mendapatkan hukuman penjara apapun.

Hari ini saya melihat di twitter saya ada yang mengirimkan ulang (re-tweet) kutipan yang saya re-tweet dari Ziglar Quote. Bunyi kutipannya adalah sebagai berikut:

“Far too many people have no idea of what they can do because all they have been told is what they can’t”.

Kutipan tersebut terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Begitu banyak orang tidak memiliki gagasan mengenai hal yang mereka dapat lakukan karena mereka selalu diberitahu mengenai hal yang tidak dapat mereka lakukan”.

Inilah bentuk pembunuhan yang paling popular abad ini: pembunuhan mental, membuat orang menjadi kerdil secara jiwa. Sayangnya pembunuhan jenis ini tidak disadari oleh pelakunya, namun berakibat sangat dahsyat bagi korbannya.

Begitu banyak anak tertolak karena pembunuhan mental yang dilakukan oleh orang tuanya. Begitu banyak pekerja yang tidak bisa berkembang karena pembunuhan mental yang dilakukan oleh sejawat dan atasannya. Begitu banyak pemimpin yang stagnan bahkan mengalami kemunduran karena mengalami pembunuhan mental oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Pembunuhan setiap hari. Hal tersebut mungkin luput dari pandangan kita, namun hal itu terjadi setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Pembunuh-pembunuh berkeliaran dengan bebas, bahkan mungkin pembunuh itu saya atau Anda. Lewat perbuatan atau perkataan yang tidak kita maksudkan untuk melukai, tetapi ternyata merusak dan menghancurkan orang lain. Lebih-lebih lagi kalau memang kita bermaksud secara sengaja untuk hal tersebut.

Pembunuhan setiap hari. Pembunuh secara mental merupakan hasil dari yang ada di dalam jiwanya. Seseorang yang mengalami luka akan melukai orang lain. Itu sudah merupakan suatu sebab akibat yang nyata. Pembunuh secara mental adalah orang-orang yang luka, orang-orang yang tanpa sadar menyimpan sakit dalam diri sehingga pada akhirnya melampiaskannya pada orang lain, baik sadar maupun tidak sadar.

Hanya kesadaran dalam diri orang tersebutlah bahwa ia mengalami luka dan perlu disembuhkanlah yang dapat membuat orang tersebut berhenti menjadi pembunuh. Kesembuhan sejati hanya dapat diperoleh lewat terang Tuhan, walaupun caranya bisa melalui manusia. Pada akhirnya, kasihlah yang akan dapat menyembuhkan para pembunuh mental ini: kasih dari sesama manusia dan terutama kasih Tuhan.

Semoga kita semua bukanlah menjadi sang pembunuh itu. Kalaupun kita merupakan pembunuh-pembunuh itu, biarlah kasih dari sesama kita dan terutama dari Sang Kasih itu sendiri yang akan menyapa dan menyembuhkan kita.

Amin.

Iklan

Comments on: "Pembunuhan Setiap Hari" (2)

  1. FB Comment from DT:
    Film yang OK banget ya The Book of ELI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: