All for Glory of Jesus Christ

Beyond the Legalism

Judul artikel hari ini saya ambil dari kotbah pendeta saya, yaitu Pak Bambang Widjaja pada hari ini. Jika diartikan, “Beyond the Legalism” ini artinya “Melampaui Legalisme”. Legalisme itu adalah aturan atau hukum yang memang sudah ditetapkan.

Saya akan mulai dari cerita yang pendeta saya ceritakan di tengah kotbahnya. Ada seorang istri bernama Tini yang memiliki seorang suami Tono. Sang suami ini begitu penuntutnya kepada istrinya, sampai-sampai setiap hari suaminya ini menuliskan rincian hal yang harus dikerjakan istrinya. Rincian itu begitu lengkap, mulai memuat mengenai waktu, jumlah, dan hal-hal yang harus dilakuan.

Rincian tersebut bukanlah sesuatu yang buruk, akan tetapi karena begitu diaturnya sang istri membuat Tini ini menjadi takut, frustasi dan stres. Setelah 3 tahun berlalu, sang suami meninggal. Tini bertemu lagi dengan seorang pria yang bisa menerimanya apa adanya, namanya Billy. Singkat cerita mereka menikah dan Tini melayani Billy setiap hari sesuai dengan hal yang dia lakukan dulu terhadap Tono, almarhum suaminya yang pertama itu.

Hanya saja, walaupun hal yang dilakukan Tini kepada Billy itu sama persis seperti hal yang dilakukannya kepada Tono, Tini bisa merasa sukacita. Mengapa? Karena Tini melakukannya dengan cinta, bukan karena terpaksa ataupun karena rasa takut.

Ilustrasi tersebut digunakan pendeta saya untuk menggambarkan mengenai peranan hukum Taurat dalam kehidupan kita. Seperti yang dijelaskan oleh seorang psikologi perkembangan manusia, Lawrence Kohlberg, bahwa ada tiga tahapan perkembangan manusia, yaitu tahap pre-conventional, conventional, dan post-conventional.

Tahap pre-conventional adalah tahap kanak-kanak, yaitu saat seseorang tidak tahu hal yang diperbuatnya betul atau salah. Oleh karen ia tidak tahu, maka biasanya orang tuanya akan mengajarnya untuk tahu hal yang betul atau salah dengan cara pemberian upah dan hukuman (reward and punishment). Jadi, pada tingkatan moralitas kanak-kanak ini seseorang melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan upah dan menghindarkan diri dari mendapat hukuman.

Jika seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai surga dan menghindari neraka, berarti orang ini masih masuk dalam tahap kanak-kanak ini. Hukum Taurat juga masuk ke dalam kategori ini karena membuat orang mengerti mengenai upah dan hukuman.

Tahap conventional adalah tahap remaja, yaitu saat seseorang melakukan sesuatu karena mengikuti hal yang dilakukan oleh lingkungan atau teman sebayanya. Jadi pada tahap ini, biasanya peer pressure (tekanan dari teman sebaya) itu kuat sekali. Biasanya pada tahap remaja ini, orang melakukan sesuatu supaya bisa diterima oleh orang lain.

Seorang teman saya pernah membagikan hal yang dibacanya dalam sebuah buku. Ia mendapati suatu fakta bahwa pada saat remaja, perkembangan otak seorang anak itu belum mencapai tahap yang optimal. Itu sebabnya anak remaja itu mungkin tahu hal yang harus dilakukannya, tetapi tidak mampu untuk melakukannya; karena masih terbentur oleh tingkat emosi dan perkembangan yang belum optimal.

Jika seseorang melakukan sesuatu sesuai dengan yang dilakukan oleh orang pada umumnya, walaupun itu salah, demi mendapatkan penerimaan orang lain; berarti orang ini masih masuk dalam tahap remaja. Tidak heran kalau kita melihat anak remaja, cukup sulit untuk memberi tahu mereka sesuatu hal karena seorang remaja akan cenderung ikut hal yang dikatakan dan dilakukan temannya.

Tahap perkembangan yang paling puncak adalah tahap conventional, yaitu tahap dewasa. Pada tahapan ini moralitas dewasa adalah orang melakukan sesuatu karena memang ia berpegang pada prinsip yang dimilikinya.

Jadi pada tahap conventional, orang melakukan sesuatu bukan karena demi mendapatkan upah dan menghindarkan diri dari hukuman. Bukan juga ia lakukan karena mengikuti hal yang dilakukan oleh orang lain dalam lingkungan sekitarnya. Hal yang ia lakukan adalah karena ia tahu dengan persis prinsip hidupnya dan ia melakukan prinsip hidupnya dengan konsisten, walaupun apapun resikonya.

Hukum Taurat merupakan bentuk legalisme keagamaan. Di dalamnya terdapat aturan-aturan dengan segala upah dan hukuman yang menyertainya. Tuhan Yesus tidak membenci hukum Taurat, bahkan Ia datang untuk menggenapinya. Ikut Tuhan Yesus bukan berarti membuang Taurat, tapi justru hidup melebihi tuntutan Taurat.

Ada 4 hal yang dibahas oleh pendeta saya dalam kotbahnya hari ini, berkaitan dengan legalisme Hukum Taurat versus dengan ajaran Tuhan Yesus:
1. Dalam Hukum Taurat dikatakan untuk jangan membunuh. Sementara yang Tuhan Yesus katakan sudah bukan lagi jangan membunuh tapi bahkan di atas itu. Membunuh itu hal yang salah, tapi Tuhan Yesus memberikan ajaran yang bahkan lebih tinggi lagi dari jangan membunuh (secara fisik), yaitu untuk memperlakukan sesama dengan baik dan tidak membunuh secara mental.

Jadi memang Tuhan Yesus mengajarkan dengan sangat luar biasa berkaitan dengan Hukum Taurat yang ada. Perkataan “menggenapi Hukum Taurat”, berarti melakukan Hukum Taurat tapi bukan karena demi upah atau karena takut hukuman; tapi lebih dari itu. Menggenapi Hukum Taurat berarti melakukan Taurat dengan pemahaman yang baru, yang melebihi tuntutan dari Taurat itu sendiri, yaitu kasih.

2. Dalam Hukum Taurat dikatakan untuk jangan berzinah. Sementara yang Tuhan Yesus katakan sudah bukan lagi jangan berzinah tapi bahkan lebih dari itu. Melakukan zinah itu salah, tapi Tuhan Yesus mengajarkan hal yang lebih tinggi daripada tidak melakukan zinah, yaitu untuk mengendalikan hawa nafsu dan hidup dalam kemurnian (kekudusan).

3. Dalam Hukum Taurat dikatakan untuk jangan bercerai. Tuhan Yesus mengajarkan lebih tinggi dari jangan bercerai. Hal yang Ia ajarkan adalah untuk hidup setia dalam pernikahan dan memperlakukan pasangan (suami/istri) dengan sebaik-baiknya.

Jadi bukan sekedar tidak bercerai saja, tapi hidup dalam rumah tangga yang porak-poranda. Nilai hidup yang Tuhan Yesus ajarkan adalah nilai hidup di atas rata-rata Hukum Taurat, yaitu melakukan yang terbaik kepada suami/istri kita.

4. Dalam Hukum Taurat dikatakan jika bersumpah maka peganglah sumpahlah dengan sungguh-sungguh. Tuhan Yesus mengajarkan untuk jangan bersumpah, yang artinya adalah tidak perlu kita bersumpah pun orang sudah dapat mempercayai kita karena hal yang kita katakan adalah kebenaran semata. Jadi tidak diperlukan lagi sumpah kalau memang hal yang kita katakan sudah merupakan kebenaran sepenuhnya.

Hal yang saya tangkap dari pembahasan oleh pendeta saya bahwa Hukum Taurat dan aturan bukanlah sesuatu yang tidak diperlukan. Peranan Hukum Taurat dan aturan adalah penting untuk menetapkan dasar-dasar bagi ketertiban hidup. Hanya saja hidup kita hendaklah bukan hanya berpatok pada tuntutan Hukum Taurat, tapi justru harus lebih lagi dari itu: hidup kita haruslah sesuai dengan hal yang Tuhan Yesus ajarkan (sesuai dengan tata nilai yang jauh melebihi rata-rata).

Berkaitan dengan legalisme ini, saya teringat dalam minggu ini saya membaca satu thread dalam satu forum yang saya ikuti. Di sana ada pertanyaan mengenai merokok itu dosa atau tidak. Saya pikir hal ini sesuai dengan topik kotbah hari ini.

Dalam kekristenan seharusnya sudah mengikuti tata nilai yang Tuhan Yesus ajarkan. Jadi segala sesuatu bukan lagi dipikirkan dosa atau tidak dosa, boleh atau tidak boleh, tertulis atau tidak tertulis; tapi haruslah sudah memikirkan mengenai membangun atau tidak membangun, bahkan memuliakan Tuhan atau tidak.

Jadi bukan lagi aspek legalismenya yang dipikirkan, tapi jauh lebih dalam daripada itu. Kekristenan intinya adalah hubungan dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri yang dalam pelaksanannya semuanya kembali ke tujuan dasar penciptaan manusia: untuk memuliakan Sang Penciptanya. Jadi segala hal yang kita lakukan hendaklah bersumber pada tujuan untuk memuliakan Allah dan kita lakukan dengan alasan karena kita mengasihi Dia. Itulah hakikat kekristenan yang sesungguhnya: kasih.

Jika selama ini kita masih berada dalam moralitas kanak-kanak atau remaja, mari kita belajar untuk bertumbuh ke moralitas dewasa. Hanya jika kita memiliki moralitas dewasalah, baru kita bisa hidup memberi dampak bagi lingkungan kita. Memberi dampak bagi sesama kita adalah panggilan hidup kita dan itu hanya dapat kita capai jika kita memiliki moralitas dewasa yang didasarkan pada tata nilai yang Tuhan Yesus ajarkan, yaitu tata nilai yang melebihi rata-rata dan bukan legalisme semata.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: