All for Glory of Jesus Christ

Percampuran dan Pemisahan

Hari ini adalah kali kedua saya mengunjungi gereja seorang teman (sebut saja A) dalam acara menemani teman saya (sebut saja B). Setelah saya pikirkan dan doakan, saya putuskan bahwa ini kali terakhir saya menemani B.

Keputusan ini saya ambil karena saya pikir kalau saya terus menemani B, maka B akan sulit untuk membaur dengan yang lainnya. Selain itu, dalam prinsip induk rajawali membesarkan anaknya adalah dengan cara mengguncang-guncangkan sarangnya supaya anaknya jatuh. Dengan demikian, anaknya akan mengepak-ngepakan sayapnya dan belajar terbang.

Tentu saja induk rajawali tidak pernah melepaskan anaknya begitu saja. Induk rajawali akan tetap mengawasi anaknya. Jika anaknya tidak bisa terbang, induk rajawali akan menangkap anaknya dan membawanya kembali ke sarang. Prinsip inilah yang akan saya gunakan.

Hari ini yang membawakan kotbah di gereja A adalah salah seorang gembala dari gereja tersebut, yaitu Bapak Ev. Stephanus Herry. Kotbahnya adalah mengenai pencampuran dan pemisahan yang diambil dari perumpamaan mengenai gandum dan lalang di Alkitab.

Mengenai pencampuran dibahas bahwa di Gereja yang seharusnya adalah rumah Tuhan, ternyata terjadi juga percampuran. Percampuran ini terjadi dalam hal pengajaran, nilai ibadah, dan penyembahan. Berikut ini pembahasan ketiganya:
1. Maksudnya percampuran dalam pengajaran adalah cukup banyak Gereja yang hari-hari ini seringkali lebih suka menampilkan pengajaran yang sifatnya lunak dan enak didengar. Contohnya: mengenai berkat. Padahal seharusnya, Gereja menampilkan pengajaran yang keras mengenai kebenaran yang tidak berkompromi dengan keadaan.

Saya juga menyadari hal ini. Karena saya mengikuti berbagai forum dari setidaknya 5 tahun yang lalu, saya memperhatikan cukup banyak kasus yang terjadi akibat Gereja terlalu banyak menampilkan pengajaran yang sifatnya lunak dan enak didengar itu tadi.

Akibatnya memang ketika kenyataan tidak seindah yang diajarkan, banyak sekali orang yang mulai kecewa, meninggalkan Gereja, dan meninggalkan Tuhan. Sayang sekali!

2. Maksudnya percampuran dalam nilai ibadah adalah cukup banyak Gereja yang lebih sibuk memikirkan mengenai format ibadah daripada nilai esensi ibadah itu sendiri. Akibatnya adalah dihasilkannya jemaat yang pola pikirnya adalah:

“Apa yang dapat saya peroleh dari Tuhan?”

bukannya:

“Apa yang dapat saya persembahkan kepada Tuhan?”

3. Maksudnya percampuran dalam penyembahan adalah penyembahan lebih dititikberatkan pada keahlian bermusik, suara yang bagus, dan segala pernak-perniknya. Menurut saya pribadi, hal-hal itu perlu juga dalam suatu penyembahan. Karena kalau penyembahan itu tanpa kemampuan bermusik yang cukup, suara yang fals alias sumbang, dan segala macam unsur yang mengikutinya, itu juga mengurangi kenikmatan penyembahan.

Hanya memang itu saja tidak cukup. Hal yang terutama adalah penyembahan dalam Roh dan kebenaran yang berupa persembahan yang kudus, hidup, dan berkenan kepada Tuhan, yaitu: persembahan hidup kita. Itulah hakikat penyembahan yang sejati.

Berkaitan dengan pemisahan, dijelaskan bahwa selain perumpamaan mengenai gandum dan lalang (di Matius 13:24-30), juga dijelaskan 4 perumpamaan lain. Kelima perumpamaan ini berbicara mengenai situasi akhir zaman. Keempat perumpamaan lainnya adalah mengenai:
1. Perumpamaan hamba yang baik dan jahat (di Matius 24:45-51).
2. Perumpamaan tentang 5 gadis bijak dan 5 gadis bodoh (di Matius 25:1-13).
3. Perumpamaan talenta yang di dalamnya dibahas orang dengan 5 dan 2 talenta yang melipatgandakan talentanya, sementara orang dengan 1 talenta yang menguburkan talentanya (di Matius 25:14-30).
4. Perumpamaan domba dan kambing (di Matius 25:31-46).

Kelima perumpamaan ini bukan berbicara mengenai orang percaya dan bukan orang percaya. Kelima perumpamaan ini berbicara mengenai orang-orang di Gereja. Ketika menuliskan hal ini, saya teringat satu ayat:

Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? (1 Petrus 4:17)

Gereja Tuhan haruslah menjadi kelompok orang yang benar-benar tampil beda: tidak lagi tercampur dengan nilai-nilai dunia, tapi sungguh-sungguh hidup secara akurat dan murni. Barulah saat kita bisa hidup tanpa kompromi dengan prinsip-prinsip dunia, itulah saatnya kita baru bisa bersinar terang (menjadi terang) dan memberi rasa (menjadi garam) di dalam dunia ini.

Itulah panggilan kita hidup di dunia ini: memberi dampak dan memberi pengaruh bagi dunia, sehingga dengan demikian nama Tuhan akan dipermuliakan. Itulah alasan kita hidup. Itulah alasan dan tujuan Tuhan menciptakan kita.

Saya sangat menyukai kotbah hari ini. Saya pikir pengkotbah seperti Bapak Herry ini sangat dibutuhkan oleh Gereja. Ia memiliki karunia nabi yang mampu berbicara dengan lugas dan tegas dalam menyampaikan kebenaran firman Tuhan.

Justru saya pikir kalau Gereja mau menjadi garam dan terang bagi dunia, sudah seharusnya jemaat itu bukan hanya dijejali dan dininabobokan oleh ajaran-ajaran yang mudah, enak, dan menyenangkan. Ini saatnya Gereja mau mengambil resiko dengan menampilkan ajaran-ajaran yang sulit, tidak enak, keras, bahkan radikal.

Bukankah Sang Raja, Tuhan Yesus sendiri, ketika mengajar para murid dan orang-orang yang mengikuti-Nya juga selalu dengan ajaran yang radikal? Jika Gereja adalah orang-orang Kristen yang artinya adalah menyerupai, mirip, dan mengikuti Kristus; sudah layak dan sepantasnya Gereja juga mengikuti ajaran Kristus.

Wow! Benar-benar saya sangat senang hari ini mendengar kotbah hari ini. Saya berdoa semoga gereja A ini bisa terus berkembang dan memberkati jiwa-jiwa yang bernaung di dalamnya.

Saya pribadi berpikir bahwa memang setiap orang perlu berjemaat di gereja lokal masing-masing. Hanya saja saya pribadi berpikir bahwa berjemaat di gereja lokal bukan berarti bahwa orang hanya berpikir dalam skala sempit untuk kemajuan gerejanya saja.

Bukankah seluruh gereja adalah bagian dari tubuh Kristus? Sebagai bagian dari tubuh Kristus, harusnya tidak berpikir bahwa karena ini gereja saya, saya harus mengembangkan gereja saya sementara gereja yang lainnya ya urusan gereja lainnya. Tidak begitu bukan?

Ini saatnya Gereja Tuhan untuk bersatu. Tidak lagi memikirkan masalah ini gereja saya, itu gereja dia. Ini kelompok saya, itu kelompok dia. Kita semua adalah satu: TUBUH KRISTUS.

Doaku hari ini: Tuhan, bersyukur untuk ide dan kesempatan yang Tuhan beri bagi saya untuk bisa beribadah di gereja A ini, Tuhan. Kiranya Tuhan berkati gereja ini lebih lagi, sehingga sungguh mereka bisa semakin memuliakan nama Tuhan.

Tuhan, aku serahkan temanku B ke dalam tangan Tuhan. Biar Tuhan yang pimpin dia supaya ia sungguh bisa bertumbuh dan berkembang kapasitasnya. Tuhan, pimpin dia untuk menjadi pemimpin masa depan, baik dalam pekerjaan, di pelayanan, maupun di manapun dia berada.

Tuhan, aku juga berdoa untuk penyatuan hati seluruh gereja. Biar kerinduan hati Tuhan ini akan terwujud pada hari-hari ini Tuhan. Jangan ada lagi orang-orang yang berpikir bahwa ini gerejaku dan ini urusanku. Ini gerejanya dan itu urusannya. Tapi biarlah kami semua bergandengan tangan, menjadi satu. Karena itulah kerinduan-Mu, melihat Tubuh-Mu: Gereja-Mu, bersatu.

Terima kasih, Tuhan, untuk hari yang luar biasa ini. Aku percaya bahwa Tuhan akan menuntunku dalam keajaiban demi keajaiban setiap harinya. Dengan demikian, nama-Mu akan lebih lagi dipermuliakan. Haleluya.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: