All for Glory of Jesus Christ

Generousity

Kemurahan hati adalah tema kotbah di gereja saya pada hari ini. Kotbah hari ini dibawakan oleh seorang pendeta tamu dari suatu gereja di Filadefia, Amerika. Sayang sekali saya lupa namanya.

Dikatakan bahwa kemurahan hati ini merupakan sesuatu yang sudah jarang saat ini karena orang cenderung untuk berfokus pada diri sendiri. Orang lebih peduli memikirkan:

”Apa yang dapat saya peroleh, berkat apa yang bisa saya dapatkan?”

dan bukannya berpikir:

“Apa yang dapat saya berikan?”

Kalau saya pikirkan, dari yang saya tangkap pada kotbah hari ini sub temanya adalah shifting from self-center to other-center. Jadi bergeser dari yang tadinya fokus pada diri sendiri menjadi fokus kepada orang lain.

Untuk bisa berfokus pada orang lain, yaitu: pada kebutuhan orang lain, itu dibutuhkan kasih karunia dari Tuhan, karena kedagingan manusia itu pada dasarnya memang fokusnya pada diri sendiri. Pembicara hari ini mengambil contoh jemaat di Makedonia sebagai teladan orang-orang yang memberi dengan penuh kemurahan hati.

Jemaat di Makedonia bukanlah orang-orang yang kaya. Mereka adalah orang-orang miskin. Namun bukan masalah banyaknya harta yang penting dalam memberi, tetapi hati yang memang mau memberi. Di tengah kekurangannya, jemaat di Makedonia malah bersikeras untuk memberkati Paulus saat melayani di sana.

Sungguh suatu teladan yang luar biasa! Saya jadi teringat kata-kata:

“Memberi di tengah kekurangan.”

Ketika menuliskan hal ini, saya jadi teringat mengenai kisah janda miskin yang memberikan uang 2 peser sebagai persembahan ke Bait Allah. Sementara orang-orang kaya memberikan begitu banyak uang sebagai persembahan ke Bait Allah. Ketika Tuhan Yesus melihat, Tuhan Yesus memuji janda miskin itu karena janda miskin itu memberi dari kekurangannya.

Saya sungguh tersentuh ketika Pak Pendeta tamu hari ini menceritakan pengalaman beliau di gerejanya. Beliau sudah 9 tahun melayani di sana, di daerah yang merupakan tempat yang rawan kejahatan dan kekerasan. Diceritakan bahwa kalau di film Amerika banyak tembak-tembakan dan kekerasan, sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari itulah yang terjadi di tempat beliau melayani.

Beliau bercerita bahwa suatu kali ada seseorang (sebut saja X) yang datang ke gerejanya. X itu bau karena sudah bertahun-tahun tidak mandi. Pakaiannya yang putih sudah menjadi hitam legam. Begitu X itu masuk ruangan gereja, baunya langsung menyebar ke seluruh ruangan. Bukan hanya itu, bau itu tidak hilang selama 2 hari.

Singkat cerita, X kembali lagi ke gereja itu. Pak Pendeta ini memberikan pakaian baru kepada X dengan harapan ia akan mengganti pakaiannya yang kotor dan bau itu. Ternyata, tidak demikian yang terjadi. X tetap memakai pakaiannya yang lama dan menjual pakaiannya yang baru.

Saat saya mendengar hal itu, saya merenung. X yang tetap memakai pakaiannya yang lama dan bau, walaupun diberikan pakaian yang baru dan bersih melambangkan orang yang sudah berkubang begitu lama dalam dosa. Orang yang sudah berkubang dalam dosa, mungkin sudah begitu terbiasa dengan keadaannya. Walaupun keadaannya bisa jadi begitu menyedihkan, orang yang sudah begitu terbiasa dengan dosa akan merasa itu hal yang wajar dan biasa.

Saya berpikir, seperti X yang diberi pakaian baru dan menjualnya; apakah kita sebagai orang berdosa (saya dan Anda) yang mendapatkan kesempatan bertemu Kristus juga akan melakukan hal yang sama? Saya berdoa bahwa kita tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Saya berdoa bahwa kita tidak akan pernah menjual Kristus untuk harga dan alasan apapun juga.

Lalu X kembali lagi dan lagi ke gereja itu. Sampai suatu ketika, Pak Pendeta ini menanyakan kepada X mengenai sudah atau belum ia mengenal dan menerima Kristus. Ternyata lalu X menerima Kristus dan mau dibabtis.

Pendeta dan orang-orangnya lalu sibuk mencari tempat untuk membabtis orang ini. Mencari tempat membabtis di Filadefia bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi saat itu adalah pukul 10 malam waktu setempat. Lalu ternyata akhirnya didapatkan satu orang Indonesia (sebut saja Y) yang bersedia menyediakan kolam renang di tempat tinggalnya sebagai tempat membabtis orang itu. Y ini juga bahkan bersedia untuk membuka rumahnya sampai tengah malam sekalipun demi bisa membabtis X.

Ketika mendengar hal itu, hati saya tersentuh. Orang yang memiliki kolam renang di tempat tinggalnya pasti bukanlah orang miskin. Orang itu pastilah orang kaya. Hanya saja dalam kekayaannya, Y memiliki kemurahan hati untuk mau membagikan fasilitas yang dipunyainya demi bisa membabtis X ini. Segala sesuatu berawal dari hati, bukan masalah banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki.

Kemudian X dibabtis. Pak pendeta kemudian bercerita bahwa X setelah masuk air tidak mau keluar lagi dari air. Hal itu terjadi karena sudah bertahun-tahun X tidak pernah mandi. Akhirnya baru pukul 3 dini hari acara itu selesai.

Saya jadi merenung. Seperti X yang telah begitu lama tidak mandi dan tidak kena air, begitu masuk air tidak mau lagi keluar dari air; saya berdoa supaya kita semua orang-orang berdosa (saya dan Anda) setelah berjumpa dengan Sang Air Hidup dan masuk ke dalamnya, supaya tidak mau keluar lagi dari Air Hidup itu.

Memang kalau kita tidak keluar dari air, pasti akibatnya kematian. Tapi pada dasarnya hidup kekristenan adalah kematian. Tentu saja mati di sini dalam arti bukan mati tidak bernyawa, tapi mati dalam pengertian yang lain. Ya, mati dalam arti: mati dari kedagingan kita dan dari rasa mementingkan diri sendiri. Kita mati untuk bisa hidup yang baru. Kita mati untuk bisa menghidupkan orang lain. Kita mati untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain.

Saya senang sekali dengan kotbah hari ini. Kotbahnya singkat tapi sangat dalam maknanya. Saya yakin kotbah itu menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya.

Ketika perjamuan kudus dimulai dan ketika menerima roti dan anggur perjamuan, saya berpikir. Roti dan anggur sebagai lambang dari tubuh dan darah Kristus merupakan bukti yang paling nyata dan teladan yang paling sempurna mengenai kemurahan hati.

Tuhan Yesus dengan murah hati menanggalkan kedudukan-Nya yang agung di Surga. Ia mengambil rupa seorang manusia dalam ke-Allah-an-Nya itu. Ia rela dikhianati, dijual, disiksa, bahkan sampai mati di kayu salib. Padahal Ia adalah Tuhan, Ia adalah Allah. Saya menangis mengingat kemurahan hati-Nya bagi saya dan Anda, bagi kita orang-orang berdosa yang sebenarnya tidak layak menerima kasih karunia-Nya yang begitu besar itu.

Karena kemurahan hati-Nya, saya dan Anda bisa mengalami hidup yang baru. Karena kasih-Nya yang begitu besar dan tidak mementingkan diri sendiri; kita bisa mengalami kemenangan dan berkat. Karena kebangkitan dan kemenangan-Nya atas maut, kita juga bisa mengalahkan segala masalah dan pada akhirnya nanti akan dapat hidup kekal bersama-Nya.

Pertanyaan bagi kita semua hari ini adalah:

“Apakah kita MAU bermurah hati?”

Tidak pernah ada yang tidak BISA, kalau memang kita MAU.

Doaku hari ini: Terima kasih, Tuhan, untuk kotbah yang luar biasa pada hari ini. Aku berdoa Tuhan memberkati Pak Pendeta tamu yang hari ini berkotbah di gerejaku. Tuhan berkati dia dan keluarganya lebih lagi. Tuhan juga berkati jemaatnya dan pelayanannya lebih lagi. Ia memiliki hati-Mu, Bapa, maka aku percaya Tuhan akan memperluas pekerjaan-Mu yang akan ia kerjakan.

Bapa, berikan kami hati yang sama seperti yang Kau miliki, supaya kami bisa melihat kebutuhan orang-orang di sekitar kami dan bertindak dengan murah hati memenuhi hal itu. Apapun yang dapat kami lakukan: uang, tenaga, waktu, pikiran, doa, perhatian, biarlah itu kami berikan ya, Tuhan. Dengan demikian, kami dapat menjadi saksi-Mu yang efektif. Dengan demikian, kami bisa bersinar dan memberi rasa bagi dunia yang sudah tawar ini, karena itulah panggilan kami, karena itulah alasan kami diciptakan, karena itulah alasan kami hidup.

Terima kasih terutama karena Engkau sendiri rela bermurah hati memberikan diri-Mu untuk menjadi penebus bagi kami. Kami yang seharusnya mati, Kau gantikan. Kami yang seharunya Kau siksa, Kau gantikan. Terima kasih, Tuhan. Tidak pernah bisa kami membalas kasih-Mu yang terlalu besar itu, karena memang tidak pernah ada sesuatupun yang cukup berharga untuk membalasnya. Hanya hati dan hidup kami yang sudah menjadi milik-Mu inilah yang biar Kau gunakan sebebas-bebasnya untuk menyentuh hidup setiap orang yang kami temui. Terima kasih, Tuhan, buat segalanya.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: