All for Glory of Jesus Christ

Artikel ini terinspirasi ketika saya sedang berenang dengan salah seorang sahabat saya. Seperti saya ceritakan sebelumnya, saya berenang di salah satu kolam renang yang memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Di area kolam renang tersebut terdapat 3 buah kolam (2 buah kolam yang cukup besar dan 1 buah kolam kecil untuk anak-anak), sebuah jakuzi (kolam air panas dengan air panas yang menyembur-nyemnbur), dan tempat seluncuran untuk bermain anak-anak.

Pertama-tama saya berenang di kolam air dingin. Kolamnya sangat luas. Karena sedikit orang yang berenang pagi itu, membuat saya dan sahabat saya leluasa untuk berenang di sana.

Hanya saja karena masih cukup pagi, begitu menyentuh air langsung terasa dinginnya air yang menggigit! Wuah, dingin sekali! Untung saja sesudah beberapa kali berenang, rasa dingin itu hilang dan berganti dengan rasa hangat.

Kolam air dingin itu memiliki kedalaman yang cukup lumayan. Itu sebabnya berenang di sana cukup ringan karena tidak perlu mengerahkan tenaga terlalu banyak untuk bisa melaju di dalamnya.

Kemudian sahabat saya berkata untuk mencoba kolam yang satu lagi yang terletak di sebelahnya. Ketika memasuki kolam kedua, ternyata kolam tersebut adalah kolam air hangat.

Terasa sekali nyaman berada di sana. Hanya saja karena kolam air hangat itu lebih dangkal dibandingkan dengan kolam air dingin, dibutuhkan lebih banyak tenaga untuk mengayuhnya. Tetapi pada pagi hari, tentu saja kolam air hangat lebih menyenangkan.

Kemudian saya mengatakan bahwa saya ingin kembali ke kolam air dingin karena di kolam air hangat perlu mengeluarkan tenaga lebih besar dibandingkan di kolam air dingin. Begitu menyentuh air di kolam air dingin, aduhh! Dingin sekali airnya!

Ya, karena baru saja berenang di kolam air hangat, pindah ke kolam air dingin saya sampai menggigil. Benar-benar dingin sekali rasanya! Hanya saja kembali setelah mengayuh beberapa kali, rasa dingin itu hilang berganti rasa hangat.

Ketika berenang, saya melihat kolam renang itu memiliki lebar dan panjang kolam tertentu. Saya mengayuh di arah lebar karena sudah sekian tahun saya tidak berolahraga. Saya tidak yakin kalau saya sanggup untuk berenang melintasi panjang kolam hahahha. Saya sanggup berenang dengan santai beberapa kali.

Saya sempat mencoba berenang ke arah panjang dua kali. Benar-benar butuh perjuangan berat! Hahaha, yah itulah akibatnya kalau sudah lama tidak pernah olahraga. Lalu saya kembali berenang ke arah lebar kolam.

Ketika saya mengayuh, saya tiba-tiba mendapatkan pemikiran sebagai berikut: kolam air panas dan kolam air dingin, begitu juga dengan panjang dan lebar kolam adalah mewakili keadaan manusia. Kolam air panas dan lebar kolam mewakili keadaan yang nyaman dan menyenangkan. Sementara kolam air dingin dan panjang kolam mewakili keadaan yang kurang nyaman dan tidak menyenangkan.

Di dalam keadaan yang nyaman dan menyenangkan (anggaplah status quo), seperti halnya saya ketika berenang di kolam air hangat dan ke arah lebar kolam. Itu adalah kondisi yang nyaman, santai, dan menyenangkan. Saya tidak perlu bersusah payah untuk melawan rasa dingin ataupun bersusah payah untuk mengatur nafas dan mengeluarkan tenaga dalam menempuh jarak yang ada.

Status quo berdasarkan wikipediaberasal dari kata Latin “statu quo” yang artinya adalah kondisi saat ini. Untuk mempertahankan status quo artinya adalah menjaga segala sesuatunya tetap seperti sedia kala.

Dalam situasi yang nyaman dan menyenangkan, kita tidak perlu bersusah payah melawan kekecewaan, sakit hati, kepedihan. Kita juga tidak perlu bersusah payah mengatasi konflik yang ada.

Sebaliknya keadaan yang kurang nyaman dan tidak menyenangkan, seperti halnya ketika saya berenang di kolam air dingin dan ke arah panjang kolah. Itu adalah kondisi yang penuh perjuangan, memacu diri, dan berat. Saya sungguh-sungguh harus berusaha untuk menyelesaikan 2 kali arah panjang yang saya targetkan. Belum lagi harus mengatur nafas untuk mengarunginya. Benar-benar tidak mudah!

Dalam situasi yang kurang nyaman dan tidak menyenangkan, kita harus sungguh-sungguh berusaha berjuang untuk memacu diri dan mengatasi setiap masalah yang ada. Mungkin akan ada kekecewaan, sakit hati, dan kepedihan. Mungkin juga ada rasa tertolak. Mungkin juga ada rasa tidak dihargai.

Seperti kolam air hangat yang membuat saya harus mengeluarkan tenaga lebih besar karena kedalamannya relatif lebih dalam dibandingkan dengan kolam air hangat, begitu juga pengaruh kondisi status quo yang nyaman dan menyenangkan dibandingkan kondisi perubahan yang mungkin kurang nyaman dan tidak menyenangkan. Orang pada kondisi status quo walaupun nyaman tetapi harus mengeluarkan energi lebih besar untuk maju. Berbeda dibandingkan dengan orang yang berada pada kondisi berubah, walaupun tidak nyaman tetapi tidak mengeluarkan energi lebih besar untuk maju.

Orang yang sudah siap dengan perubahan tidak akan segan-segan untuk bergerak dan memberikan energinya untuk perubahan itu terjadi. Itu sebabnya energi yang dikeluarkannya tidak akan terasa terlalu besar dibandingkan dengan orang yang menikmati status quo.

Bagaimana sikap kita sekarang? Apakah kita lebih suka berada dan menjaga status quo atau berubah? Berdasarkan kata pepatah:

“Sesungguhnya yang tidak pasti itu adalah ketidakpastian”.

Itu sebabnya memang kita harus mau berubah untuk menghadapi ketidakpastian itu. Jika kita tidak mau berubah (tetap berada dalam status quo) ketika kita menghadapi ketidakpastian, maka itulah saat-saat kemunduran, kemandegan (stagnasi), dan kematian menanti kita.

Sesungguhnya kedua kondisi itu diperlukan. Setelah mengalami perubahan, perlu ada titik saat ini (status quo). Dari kondisi status quo tersebut, kita bisa mulai memikirkan perubahan-perubahan yang memang perlu dilakukan demi kemajuan hidup kita. Diperlukan hikmat untuk mengetahui saat yang tepat untuk menjaga (maintaining) status quo dan saat yang tepat untuk berubah (changing)

Doaku hari ini: terima kasih, Tuhan, untuk inspirasi yang Tuhan berikan ketika aku berenang. Sungguh Engkau adalah Sang Inspirator sejati. Segala hal yang Kau izinkan aku alami dapat menjadi suatu inspirasi yang dapat aku pelajari.

Tuhan, bantu aku untuk menjadi orang yang berhikmat untuk mengetahui saat yang tepat untuk berada dalam status quo dan untuk berubah. Terlebih lagi, berikan aku keberanian dan kekuatan untuk menghadapi perubahan. Apapun perubahan yang Tuhan inginkan terjadi dalam hidupku, aku mau, Tuhan.

Bukan karena aku sanggup, Tuhan. Bukan karena aku berani, Tuhan. Sesungguhnya aku tidak sanggup dan aku takut, Tuhan, tetapi janji-Mu yang meneguhkan aku untuk terus berjalan dan berubah menjadi lebih baik setiap harinya. Berubah untuk terus menjadi lebih baik demi menggenapi rencana-Mu.

Tuhan, berdoa untuk setiap orang yang membaca artikel ini. Berikan mereka hikmat-Mu untuk juga mengetahui saat yang tepat untuk tetap berada dalam status quo atau untuk berubah. Sesungguhnya perubahan itu memang tidak mudah, tetapi di dalam Engkau, kami akan cakap menanggung segala perkara.

Terima kasih, Tuhan, buat kasih dan kesetiaan-Mu yang luar biasa di dalam hidup kami, sebab sesungguhnya Engkaulah Allah yang tidak pernah berubah, dari dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. Itu sebabnya di tengah ketidakpastian dunia ini, di tengah kondisi yang selalu berubah ini, kami dapat aman bersandar pada Engkau yang tidak berubah.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: