All for Glory of Jesus Christ

Seni Memuji

Artikel ini terinspirasi oleh kejadian 2 hari lalu. Ada dua kejadian yang berbeda yang terjadi pada Hari Kamis lalu.

Kejadian pertama adalah sebagai berikut: dua n. Itu sebabnya semua tas saya minta untuk disimpan di depan kelas.

Dua hari lalu saya mengawas ujian di salah satu ruangan untuk satu mata kuliah yang memang saya menjadi salah satu dosen pengajarnya. Sifat ujian itu adalah buku tertutup. Jadi artinya tidak boleh ada buku atau apapun yang dibuka oleh mahasiswa selama ujiaAKetika sejumlah mahasiswa sudah selesai ujian dan menyerahkan lembar jawaban mereka kepada saya, seorang mahasiswi bermaksud mengambil tasnya yang ada di depan kelas. Ketika mengambil tasnya dan setelah menanyakan mengenai bisa tidaknya ia mengerjakan ujian tersebut, lalu tiba-tiba mahasiswi itu berkata kurang lebih demikian kepada saya:

“Bu, sering-sering menulis, ya? Tulisannya membangun”.

Saya terkejut mendengarnya. Lalu saya berterima kasih untuk pujiannya. Saya tidak mengira bahwa mahasiswi saya ini akan mengungkapkan pujian tersebut.

Kejadian kedua adalah sebagai berikut: seorang kenalan yang saya kenal dari sebuah forum sekian tahun yang lalu, pada dua hari di malam hari tiba-tiba menyapa saya di salah satu media komunikasi di internet. Ia menyapa saya setelah sekian lama kami tidak pernah berkomunikasi. Saya terkejut juga ia menyapa saya. Untuk kerahasiaan identitas yang bersangkutan di media tersebut, saya ganti identitasnya sebagai abc. Berikut ini hal yang ia katakan:

abc (14/10/2010 20:00:00): nm kk ini xxxxx xxxxxxx yach
archaengela (14/10/2010 20:00:13): xxxxx xxxxxxx
archaengela (14/10/2010 20:00:19): kenapa?
abc (14/10/2010 20:00:26): bner kan
archaengela (14/10/2010 20:00:38): iya
abc (14/10/2010 20:00:44): punya blog wordpress bukan
archaengela (14/10/2010 20:00:46): punya
archaengela (14/10/2010 20:02:17): kenapa?
abc (14/10/2010 20:02:20): statusnya FB nya ” Apakah Anda seorang pria sejati?
archaengela (14/10/2010 20:02:23):
archaengela (14/10/2010 20:02:24): iyaaaa
abc (14/10/2010 20:02:30): hauhuahuah
abc (14/10/2010 20:02:33): akhirnya ini orangnya
abc (14/10/2010 20:02:36): ketemu jugaaaa
abc (14/10/2010 20:02:40): thanks god
archaengela (14/10/2010 20:02:43): kenapa?
abc (14/10/2010 20:02:45): gk sangka
abc (14/10/2010 20:02:57): aku di berkatiiiii bangettt sm blog kk
archaengela (14/10/2010 20:03:01): kog bisa?
abc (14/10/2010 20:03:09): archaengela.wordpress.com
archaengela (14/10/2010 20:03:14): rasanya kk ga kasih tau kamu alamat blog kk
abc (14/10/2010 20:03:27): mknya itu
abc (14/10/2010 20:03:40): aq jg gk tau klo si penulis itu ada di list YM aqu
abc (14/10/2010 20:06:36): oke dech ah ketemu ini yg penting penulisnya
abc (14/10/2010 20:07:11): kk kok bs cehh menulis sperti itu
abc (14/10/2010 20:07:27): semuanya itu gk jauh, juga dari kehidupan anak muda
archaengela (14/10/2010 20:07:47): anugerah Tuhan
abc (14/10/2010 20:07:48): p lg tentang patha hati, sakit hati, mengampuni, banyak dechh

Sangat mengherankan sekali! Kejadian dua hari yang lalu, pada dua kejadian berbeda, dari dua orang yang berbeda, dengan waktu yang berbeda, pada media yang berbeda, pada tempat yang berbeda; tapi keduanya sama-sama mengungkapkan pujian.

Saya merasa begitu diberkati oleh pujian mereka. Sangat menyenangkan kalau ada orang yang menghargai hal yang kita lakukan, walaupun saat kita melakukan hal itu bukan untuk dipuji.

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. “ (Amsal 18:21)

Seni memuji orang lain adalah sesuatu yang sangat penting. Pujian dapat membangun dan memberkati orang lain dengan sangat besar dampaknya. Pujian dapat membuat seseorang mau melakukan lebih banyak dan lebih baik lagi hal-hal yang telah ia kerjakan, bahkan yang belum ia kerjakan.

Saya pernah mendengar komentar beberapa orang yang mengatakan demikian:

“Jangan terlalu sering memuji orang lain, nanti orangnya jadi besar kepala!”

Saya tidak setuju dengan hal itu. Benar bahwa kalau kita memuji itu haruslah tepat. Dalam arti, kalau kita terlalu sering memuji untuk sesuatu hal secara berlebihan, tentu saja pujian kita tidak memiliki dampak yang signifikan lagi.

Kalau kita ingin membangun dan memberkati seseorang, kita juga harus berhikmat dalam melakukannya. Itu sebabnya dalam memuji juga perlu kepekaan untuk melakukannya. Hal yang terutama, dalam memuji haruslah tulus. Jika kita memuji karena kita ingin memperoleh keuntungan, maka pujian kita akan kehilangan maknanya.

Saya yakin setiap orang dapat dengan jelas membedakan pujian yang tulus dengan yang tulus. Saya juga sangat yakin setiap orang lebih suka diperlakukan dengan tulus. Oleh karena itu kembangkanlah seni memuji dengan penuh ketulusan. Dalam hal ini, dua orang yang saya ceritakan telah melakukan hal tersebut dengan sangat tulus. Saya bersyukur kepada Tuhan oleh karenanya.

Doaku hari ini: Tuhan, terima kasih untuk dua orang yang Tuhan utus untuk memberkati dan membangun aku lebih lagi. Terima kasih, Tuhan, pujian itu memacuku untuk bekerja lebih giat lagi demi memuliakan Engkau.

Bantulah aku, Tuhan, supaya aku bisa belajar seni memuji dengan lebih lagi. Memuji karena memang seseorang pantas dipuji. Memuji karena memang aku menghargainya. Memuji karena memang pujian itu datang dari dalam hatiku.

Untuk setiap orang yang membaca artikel ini, Tuhan, bantulah mereka untuk juga belajar mengembangkan seni memuji lebih lagi. Memuji karena memang itulah ekspresi dari dalam hati mereka yang penuh ketulusan.

Segala pujian, hormat, dan kemuliaan hanya bagi-Mu, Yesus. Karena memang hanya Engkaulah yang sempurna, yang pantas untuk kami puji untuk selama-lamanya.

Amin.

(PS:
Thanks to Stefanie Julianto & Lando Sihombing for your compliment. It is such a great blessing for me. Thank you. God bless you.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: