All for Glory of Jesus Christ

Pindah Gereja

Hari ini tepat 4 minggu sejak saya pertama kali mengunjungi gereja seorang teman (sebut saja A). Seperti yang saya sudah ceritakan sebelumnya, saya mengunjungi gereja A benar-benar spontanitas karena hendak menemani seorang teman (katakan saja B).

Saya sudah merencanakan dengan sangat matang bahwa saya hanya akan menemani B beberapa kali saja. Setelah ia memiliki teman, saya akan meninggalkannya dan kembali ke gereja saya. Itulah rencana saya ketika itu.

Hanya saja ternyata, sesuatu di luar rencana saya terjadi. Saya ke gereja A dan pulang tanpa berpikir apapun. Saya sudah siap dengan menjalankan rencana saya untuk menemani teman saya dan setelah itu meninggalkannya. Tidak mungkin bagi saya untuk terus menemaninya. Ia harus beradapatasi dan bertumbuh di sana. Kalau saya terus menemaninya, saya cukup kuatir dia sulit beradaptasi dengan yang lain.

Berbekal pemikiran itu, saya sangat yakin untuk menjalankan aksi saya untuk meninggalkannya dan tidak kembali lagi ke gereja A itu. Hanya saja, saya merasa bahwa pada hari itu ada orang yang mendoakan saya untuk kembali ke sana. Saya tidak bisa memberikan bukti apapun, tapi saya merasakan hal ini dengan sangat kuat.

Mengapa saya bisa mengatakan hal itu? Karena keesokan harinya (seperti yang saya tuliskan di satu blog saya yang lain), ketika saya tidak sedang memikirkan gereja A ini, tiba-tiba saja saya berpikir mengenai kebutuhan gereja A akan orang-orang baru untuk melayani di sana, kebutuhan gereja A akan pemimpin-pemimpin baru. Saya pun tersentak.

Saya termenung dan berpikir. Di gereja saya, sudah ada begitu banyak orang yang melayani. Di gereja A masih sangat dibutuhkan orang-orang untuk melayani. Hanya saja, ada satu hal yang sangat menghalangi saya untuk ke gereja A. Hal tersebut benar-benar sulit bagi saya untuk mengabaikannya begitu saja. Karena alasan itulah, saya menguatkan hati saya untuk tidak pindah ke gereja itu.

Saya sungguh tidak merencanakan untuk pindah gereja. Saya sangat menyukai gereja saya. 7 tahun lalu saya berpindah ke gereja ini dari satu gereja lain setelah melalui proses pergumulan yang panjang. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh meminta konfirmasi Tuhan untuk berpindah ke gereja lain saat itu dan berkata kepada Tuhan kalau memang tidak ada perubahan yang terjadi di gereja itu, maka saya akan pindah ke gereja lain.

Permasalahan doktrin yang mendasar menimbulkan pertentangan batin hebat bagi saya saat itu. Saya sama sekali tidak pernah menduga bahwa saya saat itu akhirnya akan mengambil keputusan untuk berpindah gereja; mengingat ayah saya saat itu yang baru saja mengambil keputusan untuk mengikuti Tuhan Yesus, ikut masuk ke gereja yang saya akan tinggalkan tersebut. Saya sempat kuatir juga jika saya pindah gereja, ayah saya sebagai seorang petobat baru akan goyah.

Tapi puji Tuhan, ternyata ayah saya tetap bertahan. Sampai hari ini sudah 7 tahun berlalu dan ayah saya masih tetap bertahan di sana. Saya bersyukur karena keputusan saya bukanlah keputusan yang salah ketika itu.

7 tahun lalu akhirnya saya menginjakkan kaki ke gereja saya sekarang ini dan saya sungguh-sungguh jatuh cinta pada pandangan pertama ke gereja ini. Sampai saat ini saya masih jatuh cinta dengan gereja saya. Kalau sudah jatuh cinta, berarti harus menerima apa adanya kondisi yang ada.

Itu juga yang saya lakukan dengan gereja saya. Gereja saya tidak sempurna tapi saya jatuh cinta kepadanya. Sehingga walaupun tidak sempurna, saya bertahan dan saya mengalami banyak sekali berkat pengajaran yang membentuk saya seperti sekarang ini. Pengajaran-pengajaran yang saya terima juga sangat membekali saya dalam berbagai pelayanan dan kehidupan saya.

Saya mendapatkan pelajaran pemuridan di sana, yaitu mengenai “Dasar Kekristenan” dan “Hidup Berjemaat” di sana. Ketika selesai memperoleh pelajaran pemuridan, setiap orang diberikan tawaran untuk menjadi covenant membership di sana. Covenant membership artinya adalah keanggotaan berdasarkan ikat janji. Artinya menjadi jemaat di sana dengan dasar ikat janji.

Ikat janji itu adalah suatu hal yang sangat sakral. Hubungan Allah dengan manusia itu juga ditandai dengan ikat janji. Mulai dari ikat janji Allah dengan Abraham, sampai dengan ikat janji Allah dengan manusia yang digenapi dalam diri Tuhan Yesus. Bahkan pernikahan juga merupakan suatu bentuk ikat janji: sampai maut memisahkan selamanya akan bersama pasangan, dalam senang dan susah, dalam sehat dan sakit, dan dalam untung dan malang.

Saya memandang covenant sebagai suatu hal yang sangat serius. Empat tahun lalu ketika selesai mengikuti pelajaran pemuridan di sana dan ada tawaran untuk menjadi convenant membership, pembimbing rohani saya waktu itu mengatakan untuk mendoakan dengan sungguh-sungguh untuk mengetahui kehendak Tuhan betul harus berjemaat di gereja itu atau tidak. Jadi dikatakan tidak wajib untuk berjemaat di sana.

Ketika saya mempersiapkan diri untuk proses itu, ayah dan ibu saya mendapat kesempatan untuk pergi ke luar negeri. Saya sebenarnya ditawarkan juga kesempatan itu. Hanya saja, sayang sekali saya saat itu sedang dalam studi S2 dan juga saya memiliki kewajiban mengajar. Walau berat hati, saya tidak bisa meninggalkan kewajiban saya.

Itu sebabnya saya tidak ikut dalam proses persiapan untuk menjadi covenant membership di gereja saya karena saya harus tetap tinggal di rumah. Walau begitu, dalam proses selanjutnya saya mengikuti ibadah di sana dan juga sempat menjadi salah seorang pemimpin di kelompok sel di gereja.

Saya berpikir bahwa kalau saat itu saya menjadi covenant membership dari gereja saya, saya sudah pasti tidak akan pernah berpikir untuk pindah ke gereja lain. Karena ikat janji sungguh-sungguh merupakan masalah yang sangat serius bagi saya, tidak mungkin bagi saya untuk pindah ke gereja lain jika saya sudah mengucapkan ikat janji tersebut.

Saya sungguh-sungguh menikmati berada dalam gereja saya. Tidak ada hal yang menurut saya merupakan hal yang fatal sehingga membuat saya jadi harus berpindah gereja.

Tetapi, seperti ketika 7 tahun lalu saat pertentangan batin hebat terjadi dalam diri saya, hal yang sama terjadi juga saat ini dalam diri saya. Minggu lalu, pendeta saya berkotbah. Salah satu hal yang ia katakan menyentakkan saya. Kata-kata itu adalah:

“Ketika seseorang mau menyerahkan hati dan hidupnya kepada Tuhan, Tuhan akan memberikan kuasa dan bekerja melalui orang itu dengan luar biasa.”

Hal itu menyentakkan saya karena sekitar tahun lalu, ada tantangan di gereja saya untuk menyerahkan hidup bagi Kristus dan bagi orang yang mau meresponi tantangan itu diminta berdiri. Saat itu saya merasa terpanggil dan saya berdiri.

Minggu berikutnya tantangan yang sama diberikan padahal oleh pembicara tamu yang berbeda dengan pembicara sebelumnya. Kembali saya berdiri dan saya mengucapkan janji saya kepada Tuhan,

“Apapun yang Tuhan mau saya lakukan, saya akan lakukan. Apapun harga yang Tuhan mau saya bayar, akan saya bayar.”

Janji bagi saya adalah sesuatu yang saya pegang teguh. Janji bagi saya adalah tanda kehormatan saya. Saya mengucapkan janji itu, bukan emosional tapi saya memang mau menyerahkan hidup saya bagi Tuhan.

Ketika mendengar kata-kata yang pendeta saya katakan, saya teringat janji yang saya katakan tahun lalu. Saya tahu persis bahwa Tuhan ingin saya untuk melayani di gereja A. Lebih lagi, saya tersentak untuk kedua kalinya ketika pendeta saya mengatakan kata-kata berikut:

“Dimensi kedua dari murah hati adalah tidak mementingkan diri sendiri.”

Saya sangat menyukai gereja saya. Saya bertumbuh di dalamnya. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap gereja saya. Saya merupakan orang yang perfeksionis. Saya melihat struktur dan sistem dalam gereja saya sudah tertata dengan begitu rapi. Itu membuat saya sangat suka dengan gereja saya.

Saya sangat menikmati kotbah-kotbah yang dibagikan setiap minggunya. Saya juga menikmati pujian dan penyembahan yang ada. Terlebih lagi karena saya menyukai rutinintas, saya menyukai rasa terbiasa beribadah di sana. Saya menyukai rasa nyaman yang saya rasakan untuk beribadah di sana.

Apalagi letak gereja saya ini cukup dekat dengan rumah saya, ditambah dengan ibu saya yang memutuskan untuk beribadah di gereja saya ini setelah ia menerima Kristus sekian dua tahun lalu. Saya dan ibu saya dibabtis selam di gereja ini juga. Begitu banyak kenangan manis, terutama dulu saat bersama dengan kelompok sel yang saya menjadi salah seorang pemimpin di dalamnya.

Saya juga kuatir kalau saya meninggalkan ibu saya di sana, ibu saya akan mundur kerohaniannya. Saya tidak mengajak ibu saya untuk ikut pindah ke gereja A, karena saya tahu dengan persis bahwa ibu saya lebih cocok berada di gereja saya dibandingkan dengan gereja A.

Betapa hal ini sangat berat. Tetapi ketika kotbah disampaikan, saya tahu persis bahwa saya tidak boleh mementingkan diri sendiri. Saya harus belajar untuk beradaptasi dengan situasi gereja A. Saya harus belajar untuk meninggalkan kenyamanan dan rasa terbiasa yang saya dapatkan di gereja saya. Ini benar-benar tidak mudah.

Tetapi saya tahu, saya harus mengambil keputusan yang benar. Saya harus mengikuti hal yang Tuhan katakan dalam hati saya. Sejak pertama ketika saya secara spontan mengajak teman saya ke gereja A, saya tidak tahu akan terjadi sesuatu yang tidak saya duga. Ternyata memang Tuhan punya rencananya sendiri!

Saya sudah menyampaikan keputusan saya untuk pindah gereja kepada orang tua saya. Di luar perkiraan saya, mereka menerima hal ini dengan sangat tenang. Persetujuan orang tua merupakan hal yang penting bagi saya, karena orang tua adalah otoritas di atas saya, selain tentu saja Tuhan sebagai otoritas tertinggi saya.

Saya bersyukur karena orang tua saya menyetujui kepindahan saya ke gereja A. Karena kalau mereka keberatan, saya juga akan sulit untuk pindah ke gereja A ini mengingat gereja A terletak cukup jauh dari rumah saya dan kalau orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk pergi, saya juga tidak bisa pergi. Mulai hari ini saya akan ke gereja yang baru ini.

Doaku hari ini: Tuhan, aku hanya belajar taat terhadap hal yang Engkau mau. Ketika aku mengucapkan janji-Ku, aku bersungguh-sungguh ingin menepatinya. Ini bukan keputusan yang mudah dan Kau tahu benar hatiku.

Tuhan, kalau Tuhan ingin aku membayar harga dengan memberikan rasa nyaman dan terbiasa yang aku rasakan di gerejaku yang lama, aku berserah, Tuhan. Begitupun dengan keenggananku untuk pindah ke gereja baru itu, Tuhan tahu persis yang aku maksud. Tetapi apapun yang Tuhan mau, aku akan ikut kehendak-Mu, Tuhan, walaupun itu jelas bukan hal yang aku mau.

Kalau ada orang yang membaca artikel ini dan juga bergumul untuk hal yang sama, biar hikmat-Mu yang menerangi orang itu. Dengan demikian, ia akan dapat mengambil keputusan yang tepat. Karena sesungguhnya kehendak-Mu itulah yang terpenting, lebih dari organisasi dan bentuk-bentuk formalisasi kelembagaan.

Apapun yang terjadi, aku mau turut kehendak-Mu, Tuhan. Aku sudah membayar harga yang Engkau mau. Pakailah aku seturut kehendak-Mu untuk mengembangkan gereja baruku ini.

Amin.

(PS:
Pak Bambang Widjaja, maybe you do not read my blog. Maybe you do not know my blog at all. We have never known each other personally. We have never spoken personally as well. However, if you read this blog, I want you to know that I think of you as one of my spiritual mentors.

Although I move to other church, it does not mean I stop being your student. Sometimes I listen to your sermon too in the radio. However, I am Jesus’ disciple, more than I am as your student. He wants me to move to other church and all I can do is to obey Him.

Thank you for my 7 lovely years in your church. You’ve run a great chuch. I still love the church very much, but God has told me to move. Give my best regard to Pak Petrus Nawawi, Pak Gunawan Tijono, and Pak Tatang Budihardjo. Four of you have successfully manage the lovely church I have attended for 7 years. Keep it up, Sirs!

I will deeply and surely miss the church. My prayer is with all of you. May God bless you, your family, and the church more in the coming years. Thank you.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: