All for Glory of Jesus Christ

Pengajaran dalam Gereja

Sebenarnya ini adalah topik pembahasan yang diketengahkan di gereja baru saya minggu lalu. Hanya saja karena kesibukan yang luar biasa, saya baru sempat menuliskannya hari ini.

Pembicara minggu lalu adalah Pastor Stephen Victoria. Ia adalah seorang pembicara tamu dari gereja lain. Pembahasan dimulai beliau dari 5 jawatan di gereja. Hal ini terdapat dalam Efesus 4:11-15. Sesuai dengan Efesus 4:11-15 5 jawatan di gereja adalah:
1. Rasul-rasul.
2. Nabi-nabi.
3. Pemberita-pemberita Injil.
4. Gembala-gembala.
5. Pengajar-pengajar.
Dijelaskan bahwa gereja yang bertumbuh dengan sehat haruslah memiliki 5 fungsi jawatan itu. Perhatikan yang saya cetak tebal: fungsi! Jadi bukan masalah posisi atau jabatan, tetapi masalah fungsi.

Mengenai hal fungsi ini memang sangat penting karena seorang pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menjalankan fungsinya. Posisi dan jabatan itu hanya merupakan akibat samping dari fungsi yang disandangnya. Kalau seorang pemimpin memiliki posisi atau jabatan tapi tidak menjalankan fungsinya, di sanalah terjadi kekacauan.

Saya jadi teringat bahwa saya pernah membaca mengenai hal ini dalam buku “Starting Your Leadership Journey” yang ditulis oleh Paulus Winarto dengan gambar dibuat oleh Mike Kusika. Secara singkat saya pernah mengupas mengenai isi buku tersebut di sini. Di buku tersebut dibahas bahwa walaupun fungsi itu yang terpenting, bukan berarti posisi atau jabatan tidak penting.

Posisi atau jawaban itu akan memberikan wewenang yang penuh agar fungsi itu dapat dijalankan dengan maksimal. Yah, karena kita masih hidup di dunia, saya melihat cukup banyak orang yang masih memandang masalah posisi dan jabatan daripada fungsi yang disandangnya. Jadi kalau seorang direktur dan seorang supervisor yang memiliki fungsi kepemimpinan dalam suatu perusahaan memberikan suatu instruksi, jelas orang-orang akan lebih mengikuti instruksi sang direktur.

Nah, minggu lalu itu dibahas mengenai jawatan pengajar. Dalam kaitan dengan pengajar dibahas mengenai pengajaran dalam gereja. Dijelaskan bahwa belajar artinya adalah meninggalkan ketidaktahuan kita.

Jadi jika Anda adalah pelajar atau mahasiswa yang sedang belajar, sangat mudah untuk melihat Anda sudah belajar atau belum. Jika Anda telah belajar tapi masih tidak meninggalkan ketidaktahuan Anda, itu berarti Anda belumlah belajar hahahaha.

Berkaitan dengan pengajaran di gereja, dijelaskan bahwa pengajaran adalah bertujuan untuk membuat pewahyuan yang diterima dari Tuhan menjadi relevan dan dapat diaplikasikan dalam hidup sehari-hari secara sederhana. Jadi sebenarnya, kalau dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa 5 jawatan dalam gereja sesungguhnya tidak berdiri sendiri-sendiri. Kelima jawatan tersebut sesungguhnya adalah saling berhubungan dan berkaitan antara satu dengan lainnya.

Dijelaskan lebih lanjut terdapat 4 indikator pengajaran yang benar dalam gereja adalah:
1. Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.
Jadi jika gereja telah menjalankan fungsi ajaran yang benar, seharusnya dalam setiap anggota dalam gereja akan mengalami perubahan. Kalau dalam gereja ada pengajaran, tetapi setiap anggotanya tetap begitu-begitu saja dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya; jelas ini ada sesuatu yang salah!

Memang arti kekristenan itu adalah meniru Kristus, menyerupai Kristus, seperti Kristus, dan Kristus-kristus kecil. Tapi bukan berarti karena meniru Kristus yang tidak berubah dari dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya, anggota dalam gereja juga ikut-ikutan tidak berubah. Benar-benar pengikut Kristus sejati (baca dalam nada ironis hahahha).

Kalau Kristus, Ia adalah Allah yang sempurna. Kalau Allah yang sempurna itu berubah, jelas Ia bukan Allah lagi. Tapi kita manusia adalah makhluk yang jauh dari sempurna, itu sebabnya kita perlu terus berubah ke arah yang positif.

Menanggalkan manusia lama artinya adalah kita mengalahkan keinginan daging kita. Keinginan daging adalah keinginan manusiawi kita akan hal-hal yang sifatnya berdosa. Jangan salah menangkap ya, tidak semua keinginan daging itu dosa. Lapar itu keinginan daging, tapi itu tidak dosa lho hahahaha.

Mengenakan manusia baru artinya kita mengisi hidup kita dengan sesuatu yang baru, yaitu sesuatu yang kudus, berkenan, dan mulia di mata Tuhan. Di sini kita perlu merenung. Jika kita sudah bertahun-tahun menjadi seorang pengikut Kristus tetapi hidup kita tidak pernah berubah dan hidup kita tidak mengenakan manusia baru, kita perlu berani mengambil keputusan untuk datang kepada Tuhan dan membuat komitmen yang baru untuk menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)

2. Naik pada posisi (level) yang baru.
Posisi atau level bicara mengenai kapasitas kita. Pengajaran yang benar dalam gereja akan membuat setiap anggota gereja naik level dalam hal kapasitas kita.

Kapasitas bicara mengenai tingkat keluasan dan keleluasaan Tuhan memakai kita untuk menjadi berkat bagi orang lain. Kapasitas berkaitan sangat erat dengan kondisi hati kita. Tingkat keluasan dan keterbukaan hati kita untuk mengikuti dan melakukan yang Tuhan mau, itu akan menentukan kapasitas kita.

Jadi kapasitas bukan ditentukan oleh masalah pendidikan, kemampuan, pengalaman, atau lain-lain. Kapasitas ditentukan oleh hati kita, karena Tuhan itu memandang hati kita.

“Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Matius 9:17)

Dibahas bahwa anggur yang baru membutuhkan kirbat yang baru. Kirbat itu maksudnya adalah tempat (kantong kulit) tempat menampung anggur. Anggur bicara masalah urapan, sementara kirbat bicara mengenai kapasitas. Urapan merupakan tanda perkenanan Tuhan atas diri kita untuk bisa melakukan hal-hal yang besar.

Dalam Perjanjian Lama, biasanya para raja yang akan diangkat menerima urapan dari Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mendapatkan urapan dalam bentuk burung merpati (simbol roh kudus) setelah dibabtis di Sungai Yordan oleh Yohanes Pembabtis.

Tuhan senantiasa rindu untuk memberikan anggur yang baru bagi kita. Hanya saja anggur baru tidak bisa ditampung dalam kirbat yang lama. Kirbat yang lama bicara mengenai masalah mentalitas dan pola pikir kita yang lama. Kalau orang dengan mentalitas dan pola pikir yang belum diubahkan diberikan urapan yang besar, bisa-bisa terjadi kekacauan.

Mengapa demikian? Karena yang bersangkutan tidak siap menerimanya. Kirbat yang lama akan koyak jika menampung anggur yang baru. Akibatnya urapan yang diberikan akan sia-sia saja seperti anggur yang terbuang itu.

Kirbat yang baru bicara mengenai saat kita MAU untuk melakukan firman Tuhan: menanggalkan manusia lama kita dan menerima manusia yang baru. Saat itulah pengetahuan, kemampuan, pengalaman, dan hal-hal yang kita butuhkan untuk melakukan hal yang Tuhan mau itu akan diberikan kepada kita. Ada begitu banyak orang yang memiliki pengetahuan, kemampuan, pengalaman, dan lain-lainnya yang luar biasa; tapi sayang yang bersangkutan tidak mau membuka hatinya seluas-luasnya untuk melakukan hal yang Tuhan mau. Karena Tuhan adalah kasih, Ia tidak akan pernah memaksa seseorang untuk melakukan hal yang dirinya tidak mau.

Sebaliknya jika kita memiliki sedikit pengetahuan, kemampuan, pengalaman, dan hal-hal lainnya yang kita butuhkan, tetapi kita memiliki hati yang sungguh terbuka lebar untuk menerima dan melakukan firman-Nya dan panggilan-Nya, saat itulah Tuhan akan pakai kita dengan luar biasa. Bukankah Ia adalah Allah yang Maha Kuasa? Semuanya itu mudah sekali bagi-Nya untuk memberikannya kepada kita. Tetapi permasalahan utamanya adalah: apakah kita MAU membuka hati kita bagi-Nya, untuk menerima dan melakukan firman-Nya?

3. Membuat menjadi tajam dalam memenuhi panggilan kita.
Pengajaran yang benar membuat kita akan menjadi tajam dalam memenuhi panggilan kita. Kalau kita tahu hal yang harus kita lakukan, hal yang kita perlukan untuk melakukannya; tentu saja itu akan membuat kita semakin mudah dalam memenuhi panggilan kita.

Tetapi kalau memang kita tidak tahu hal yang harus kita lakukan, bagaimana kita dapat melakukan panggilan kita? Jadi kalau dalam suatu gereja, para anggota gereja tersebut tidak mengetahui panggilannya dan sulit untuk memenuhi panggilannya, jelas ini ada yang salah dalam gereja itu.

Tentu saja tujuan saya menuliskan ulang kotbah yang saya terima minggu lalu dan menambahkan hal-hal yang terbersit dalam pikiran saya ketika menuliskan hal tersebut adalah bukan untuk menuding gereja yang ini atau gereja yang itu salah. Jelas bukan itu! Tetapi tujuan saya adalah supaya lewat tulisan sederhana ini, kita semua bisa berkaca, berintrospeksi, dan memperbaiki diri jika memang kita salah.

4. Membuat bertumbuh.
Pada saat kita pertama kali menerima Kristus di dalam hidup kita, mengundang Ia masuk ke dalam hati dan hidup kita, dan mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita (hal yang biasanya dikenal dengan istilah “lahir baru”); kita sesungguhnya berada dalam level bayi rohani.

Kalau level bayi rohani, biasanya memang diperoleh sejumlah kemudahan-kemudahan. Seperti misalnya kita berdoa minta sesuatu hal, tidak lama kemudian diperoleh hal yang diminta.

Memang kalau kita melihat bayi pada umumnya, biasanya memang kalau bayi menangis karena lapar, orang tuanya akan segera akan memberikannya air susu yang dibutuhkan oleh bayi tersebut. Kalau sang bayi dibiarkan menangis terus, hal ini bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan sang bayi.

Begitu juga apabila kita masih dalam posisi (level) bayi rohani. Jika kita meminta sesuatu dan Tuhan tidak memberikannya langsung, sangat rentan bagi kita untuk mundur dalam kerohanian. Itu sebabnya banyak sekali saya perhatikan bahwa orang-orang yang baru saja lahir baru akan banyak mendapat mujizat dan jawaban doa yang sangat cepat.

Hanya saja seperti bayi juga akan bertumbuh menjadi anak-anak dan orang dewasa, begitu juga dengan kerohanian kita. Kita juga akan bertumbuh menjadi anak-anak dan orang dewasa rohani.

Kalau saat kita bertumbuh tetapi kita masih mengenakan mentalitas bayi rohani, jelas akan terjadi kekacauan di sana. Bayangkan seorang dewasa yang berguling-guling di lantai karena tidak memperoleh keinginannya! Sangat menggelikan dan memalukan bukan?

Ya, itulah juga yang terjadi kalau kita sudah seharusnya berada dalam level dewasa rohani tapi masih memiliki mentalitas bayi rohani. Pengajaran yang benar dalam gereja akan membuat setiap anggota gereja bertumbuh dari bayi rohani menjadi dewasa rohani.

Orang dewasa rohani akan belajar hal-hal yang sifatnya berbeda dibandingkan bayi rohani. Orang dewasa rohani akan melakukan firman Tuhan tanpa pandang bulu. Jadi bukan hanya ayat-ayat yang enak dan ringan saja yang dilakukan, tetapi juga ayat-ayat yang tidak enak dan relatif berat untuk dilakukan. Walaupun sesungguhnya, jika kita mengandalkan Tuhan, tidak pernah ada yang tidak enak dan berat untuk melakukan firman-Nya.

Dibahas oleh Pak Stephen bahwa untuk seseorang bertumbuh, orang tersebut haruslah memiliki kebenaran dari Tuhan. Jadi bukan kebenaran yang dimiliki oleh orang itu sendiri.

Kadang-kadang kita sering kali memilih ayat untuk membenarkan diri sendiri. Pada saat ditegur oleh orang lain, kita sering kali berkilah dengan kata-kata:

“Memang ada tertulis di firman Tuhan, ya? Coba tunjukkan kalau ada.”

Pernyataan itu memang kadang-kadang perlu jika kita berhadapan dengan pengajaran yang keliru. Hanya saja jika pernyataan tersebut diberikan untuk menyanggah atau membenarkan diri sendiri yang jelas-jelas salah, itulah kebenaran yang kita miliki sendiri.

Memang kita perlu berhati-hati sekali dalam hal ini. Ayat firman Tuhan saat digunakan untuk tujuan yang salah bisa menjadi salah pula. Bahkan banyak sekali sudah terjadi penyesatan dengan penggunaan ayat firman Tuhan. Hendaklah kita semua tetap berpegang teguh pada pengajaran yang benar yang diajarkan oleh Tuhan. Dengan demikian kita tidak akan tergoncangkan oleh pengajaran-pengajaran yang keliru.

Terakhir dibahas oleh Pak Stephen mengenai hal yang dapat dilakukan untuk melakukan impartasi pengajaran. Impartasi dari sini dijelaskan berasal dari kata Yunani, yaitu “metadidomi”. Metadidomi sendiri berasal dari dua kata Yunani, yaitu “meta” (seperti berjalan bersama orang lain) dan “didomi” (lebih dari sekedar memberi dan memberi sepenuhnya secara melimpah kepada orang lain dengan penuh rasa percaya).

Dijelaskan bahwa impartasi pengajaran hanya dapat terjadi melalui hubungan bapa-anak. Hal yang diajarkan seorang bapak, itu jugalah yang akan diikuti oleh sang anak. Sejumlah ayat diberikan mengenai hal ini, yaitu dalam 2 Timotius 1:13, 2 Timotius 3:10, dan 1 Korintus 4:14-17 dengan penekanan pada:

“Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.” (1 Korintus 4:17)

Dibahas bahwa Timotius merupakan anak rohani dari Paulus. Paulus merupakan anak rohani dari Tuhan Yesus. Jadi hal yang Tuhan Yesus ajarkan, itu yang Paulus ikuti. Hal yang Paulus ajarkan, itu yang Timotius ikuti. Itulah impartasi pengajaran.

Saya mempunyai sejumlah keponakan dan dari sejumlah keponakan yang masih relatif kecil, saya perhatikan bahwa mereka semua mengikuti perilaku sang ayah. Menarik sekali fenomena ini. Anak melihat ayah sebagai idolanya. Itu sebabnya dalam melakukan impartasi pengajaran, sangat mudah bagi seorang ayah mempengaruhi anaknya.

Ini juga yang perlu diterapkan dalam gereja. Saat terjadi hubungan bapa-anak (bapa di sini tidak berarti harus memulu seorang pria lho, seorang wanita juga bisa berperan sebagai bapa yang mengayomi untuk wanita lainnya), saat itulah impartasi pengajaran akan dapat dilakukan.

Semoga kita semua dapat mencari, mendapatkan, dan melakukan pengajaran yang benar di gereja. Dengan demikian, kita akan dapat menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru, naik pada level yang baru, tajam dalam memenuhi panggilan kita, dan bertumbuh terus ke arah yang Tuhan mau sehingga nama Tuhan dipermuliakan lebih lagi melalui hidup kita.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: