All for Glory of Jesus Christ

Judul artikel hari ini adalah judul informasi yang disampaikan oleh penatua di gereja baru saya, yaitu Pastor Yohanes Sudarmadji (dengan panggilan Ps. Yosi). Dijelaskan bahwa terdapat 42 juta anak Indonesia yang lahir setelah tahun 2000. Ada cukup banyak informasi lain yang disampaikan berkaitan dengan data statistik anak Indonesia. Salah satunya lagi adalah proyeksi jumlah anak Indonesia pada tahun 2020 sejumlah 175 juta anak. Jumlah ini adalah jumlah yang sangat besar dan potensial untuk diperhatikan dengan seksama.

Dikatakan bahwa mendidik anak dengan baik merupakan suatu investasi untuk masa depan bangsa. Gereja memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak. Saya setuju dalam hal ini, walaupun jelas tanggung jawab itu pertama memang berada di pundak kedua orang tua sang anak.

Itu sebabnya pada ibadah Hari Minggu kemarin itu dilakukan pelepasan urapan profetik untuk anak-anak yang ada di sekolah minggu gereja agar mereka suatu hari nanti bisa menjadi anak-anak yang dipakai Tuhan luar biasa dalam berbagai bidang. Diberikan juga urapan bagi para guru sekolah minggu yang ada agar Tuhan pakai mereka dengan luar biasa pula untuk mendidik anak-anak tersebut.

Ketika saya menuliskan hal ini, saya teringat pada pembicaraan saya dengan seorang anak yang merupakan cucu dari seorang pemimpin saya di salah satu organisasi pelayanan dunia. Anak ini (sebut saja sebagai X) pada suatu hari meng-add saya (mengirimkan permintaan untuk mengobrol dengan saya) lewat salah satu sarana komunikasi di internet.

Ia juga memberitahukan namanya dan usianya yang 9 tahun menuju ke 10 tahun. Saya merasa anak ini sangat luar biasa. Saya berpikir bahwa bisa jadi neneknya yang memberitahukan mengenai saya. Saya juga belum menanyakan dengan jelas perihal hal ini kepada neneknya.

Karena memang wilayah waktu di Indonesia dengan wilayah waktu di negara X itu berbeda jauh, kami sering sekali berselisih sapaan. Jadi, pada saat dia menyapa, saya tidak ada di tempat. Begitu juga sebaliknya pada saat saya menyapa, X juga tidak ada di tempat.

Sampai ketika 4 hari lalu, kami bisa berkesempatan untuk mengobrol untuk pertama kalinya. Pembicaraan saya dengannya sangat berkesan itulah sebabnya saya jadi teringat kepadanya dan ingin menuliskan berkaitan dengannya.

Saya bercerita kepada X bahwa saya memiliki seorang keponakan yang seusia dengannya dan tinggal di suatu negara (sebut saja negara A). Ketika saya menyebutkan mengenai negara A, X tampak antusias. Ia berkata bahwa ia menyukai negara itu dan ingin mengunjunginya.

Saya katakan tentu saja ia bisa mengunjungi negara itu. Respon X dengan sekejap berubah drastis. Ia katakan bahwa tidak mungkin karena ibunya pasti tidak mengizinkan hal itu.

Saya katakan kepadanya tidak masalah kalau ia memiliki impian untuk pergi ke negara A. Saya katakan pula kepadanya siapa tahu suatu hari setelah ia dewasa, ia bisa mewujudkan impiannya untuk mengunjungi negara itu.

X lalu berkata sesuatu yang membuat saya kagum. Ia katakan bahwa ia ingin tumbuh besar di negara A dan menyanyi di sana karena ia suka menyanyi. Saya sungguh kagum karena anak usia 9 tahun sudah memiliki mimpi sedari kecil.

Itu sebabnya saya bertanya kepadanya mengenai sudah atau belumnya ia menyanyi di gerejanya. Ia katakan belum karena ia takut. Tetapi ia katakan lebih lanjut, ia akan merasa sangat senang kalau ia bisa melakukannya. Saya katakan lagi bahwa kalau ia memiliki suatu impian, ia harus berjuang untuk meraihnya karena segala sesuatu itu mulai dari hal yang kecil.

Saya juga katakan bahwa menyanyi di gerejanya merupakan suatu awal yang baik baginya untuk dimulai. Saya juga mendorongnya untuk tampil menyanyi dalam acara di sekolah atau dalam acara lain di tempat umum. Ia bercerita kepada saya bahwa ia akan menyanyi dalam acara di sekolahnya jika ia terpilih.

Saya sungguh menyukai anak ini. X masih kecil tapi ia tahu yang ia mau dan ia mudah diarahkan untuk mengejar impiannya. Ketika saya katakan kepadanya bahwa saya ingin sekali mendengarkan suaranya dan meminta ia mengirimkan rekaman suaranya ke email saya, ia berkata bahwa ia akan mengirimkannya dan ia berkata bahwa saya pasti akan menyukainya.

Ah, optimisme yang luar biasa dari seorang anak! Seandainya saja setiap kita orang dewasa memiliki optimisme yang sama.

Saya jadi teringat kaitan hal ini dengan tema kotbah minggu lalu, yaitu pengajaran yang benar. Seorang anak kecil memiliki sifat yang mudah dibentuk, mudah diajari, dan mudah melakukan firman dan pengajaran yang diberikan.

Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata:

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Lukas 18:17)

Jika kita tidak menjadi seperti seorang anak kecil yang polos dan dengan segera menerima dan melakukan kebenaran firman Tuhan yang diberikan, kita tidak akan masuk ke dalamnya. Berapa banyak dari kita yang ketika mendapatkan suatu firman, lalu kita memikirkannya dan menolak firman tersebut karena berbagai pertimbangan rasio kita?

Inilah yang harus kita ubah! Tuhan ingin kita menjadi orang-orang yang sungguh terbuka hatinya seperti seorang anak kecil. Ia ingin kita menaruh rasa percaya kita 100% kepada-Nya, tepat seperti seorang anak kecil yang percaya kepada orang tuanya 100%.

Lebih lanjut lagi, Tuhan Yesus berkata:

Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. (Lukas 18:16)

Jika Anda adalah seorang orangtua, jangan pernah menghalangi anak Anda untuk beribadah kepada Tuhan. Bahkan sebagai orangtua, adalah tugas dan tanggung jawab Anda untuk mendidik anak Anda sebaik-baiknya untuk bisa mengenal dan mencintai Tuhan, untuk bisa mengenal, menerima, dan melakukan firman-Nya dari sejak kecil.

Doaku hari ini: Terima kasih, Tuhan, untuk setiap anak yang Tuhan izinkan lahir ke dunia. Mereka adalah bagaikan kertas putih yang siap dihiasi dengan berbagai warna yang indah. Biarlah Engkau sendiri yang menghiasi hidup mereka dengan indah sehingga setiap anak sungguh bisa menjadi alat-Mu yang luar biasa untuk memuliakan nama-Mu.

Tuhan, berdoa untuk X, seorang anak kecil dengan impian yang besar. Aku berdoa untuk impiannya. Kalau memang Engkau yang menaruh impian itu di dalam hatinya, aku berdoa supaya impian itu akan menjadi kenyataan. Dengan demikian, ia akan memuliakan Engkau dengan suaranya dan menjadi berkat bagi banyak orang yang mendengarnya.

Tuhan, aku juga berdoa untuk semua keponakanku. Mereka adalah anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kakak-kakakku. Jagailah dan bentuklah mereka seturut kehendak-Mu, sehingga apapun yang mereka perbuat sungguh menyenangkan hati-Mu.

Berilah kakak-kakakku hikmat untuk mendidik dan membesarkan mereka. Karena aku tahu, semua keponakanku meneladani orang tuanya. Itu sebabnya aku berdoa, berikan kepada para kakakku hikmat untuk menjadi teladan yang benar bagi anak-anaknya.

Aku juga berdoa untuk semua anak, semua orang tua, dan semua pembimbing anak di gerejaku. Biarlah Tuhan yang berkati setiap anak untuk bisa memiliki impian dari sejak kecil seperti X. Berikan kepada setiap orang tua dan pembimbing di sana hati yang peka untuk bisa mengenali impian-impian besar tersebut dari setiap anak dan membantu setiap anak untuk berkembang secara indah menggapai impian-impian tersebut.

Aku berdoa bagi setiap orang tua dan calon orang tua yang membaca artikel ini. Biarlah hikmat dan pengajaran-Mu meliputi hati mereka, sehingga mereka bisa menjadi orang tua yang baik.

Bagi para calon orang tua, mungkin ada yang sudah bertahun-tahun meminta untuk diberikan anak. Tuhan, Kau yang mengenal setiap hati mereka, berikanlah berkat dalam bentuk anak-anak, Tuhan, bagi orang-orang yang merindukan untuk memiliki anak-anak. Kami percaya, saat Engkau memberikan kerinduan hati mereka, mereka akan lebih lagi mencintai Engkau. Kami percaya mereka melakukan hal itu bukan karena mereka lebih mencari berkat-Mu daripada mencari Engkau, tetapi justru karena mereka sudah mengetahui dan menjadi saksi kebenaran firman-Mu.

Tuhan, Engkau yang memberikan nubuatan kepadaku bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi seorang istri dan ibu yang hebat. Berikan kepadaku waktu untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya, ya Tuhan. Berikan juga kepada calon suamiku waktu untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya, ya Tuhan. Biarlah pada waktunya nanti ketika aku bertemu dengan suamiku, aku sungguh bisa menjadi istri yang memberkatinya dengan luar biasa. Biarlah suamiku kelak menjadi semakin mencintai Engkau.

Aku juga berdoa, Tuhan, persiapkan aku dan calon suamiku untuk belajar cara mendidik anak-anak sesuai kebenaran firman-Mu. Sehingga pada saatnya nanti Engkau mempertemukan aku dengan suamiku dan memberkati kami dengan anak-anak, kami sungguh bisa mendidik anak-anak kami dengan baik. Biarlah lewat kehidupan kami dan anak-anak kami kelak akan membawa banyak orang untuk mengenal, menerima, dan mencintai Engkau, ya Yesus.

Terima kasih, ya Yesus, buat kasih-Mu yang sangat besar.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: