All for Glory of Jesus Christ

Minggu-minggu ini benar-benar minggu yang sangat melelahkan secara fisik bagi saya. Selain secara fisik, secara pikiran juga cukup melelahkan. Melelahkan karena saya harus membagi konsentrasi untuk mengerjakan semuanya.

Kesulitan sebagai seorang yang perfeksionis adalah saya ingin semuanya selesai dengan sebaik-baiknya. Saya tidak keberatan dengan kerja keras, kurang tidur, lelah setengah mati sekalipun. Asalkan saja hasilnya memang memuaskan sesuai dengan yang saya harapkan. Akibatnya ya seperti yang saya tuliskan pada awal artikel ini: saya mengalami kelelahan luar biasa.

Tapi saya bersyukur, sukacita dan kekuatan dari Tuhan benar-benar saya alami dalam minggu-minggu ini. Salah satu cara saya untuk mengatasi kelelahan ini adalah dengan cara menulis hahaha. Ya, menulis adalah salah satu cara relaksasi saya yang sangat menyenangkan.

Kali ini saya akan membahas mengenai tarian balet. Saya besar pada era ketika komik Jepang mulai berkembang pesat. Pada saat saya menginjak SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMU (Sekolah Menengah Umum), saya sangat menyukai komik Jepang yang menggambarkan mengenai penari balet.

Saya membaca berbagai seri mengenai hal tersebut dan bahkan sempat terpikir:

“Seandainya saya bisa menjadi seorang penari balet”.

Penari balet dalam buku tersebut digambarkan cantik, anggun, dan dapat menarikan tarian yang sulit luar biasa. Hal itu ditempuh sang penari dengan cara berlatih keras. Awalnya penari tersebut gagal, namun ketika ia terus berlatih dan tidak putus asa akhirnya ia dapat berhasil.

Satu hal yang berkesan bagi saya adalah satu jenis tarian yang digambarkan di sana. Tarian itu terdapat dalam karya balet klasik “Swan Lake” karya Tschaikovsky. “Swan Lake” menggambarkan seorang putri yang cantik yang disukai seorang pangeran. Hanya saja sang putri dikutuk menjadi seekor angsa (dikenal sebagai angsa putih) oleh seorang penyihir karena penyihir itu ingin putrinya (dikenal sebagai gagak hitam) yang menjadi istri sang pangeran.

Di dalam “Swan Lake” terdapat satu elemen gerakan yang disebut sebagai 32 Fouettés en Tournant atau di buku komik itu kalau tidak salah disebut sebagai Grand Forte en Tourant yang ditarikan oleh sang gagak hitam. Tarian tersebut ditarikan sebagai upaya untuk mengelabui sang pangeran, yaitu untuk membuat sang pangeran mengira bahwa sang gagak hitam adalah sang angsa putih. Ternyata berhasil!

Gerakan tersebut merupakan gerakan yang sangat sulit karena merupakan suatu gerakan berputar sebanyak 32 kali tanpa terputus dengan bertumpu pada satu ujung jari sementara badan berputar dengan kaki lain sebagai pemutarnya.

Saya bayangkan gerakan ini memang gerakan yang sangat sulit karena diperlukan kekuatan dan keseimbangan yang luar biasa. Setiap kali saya membaca buku komik itu sekian belas tahun lalu, saya merasa tergetar. Gerakan yang indah ini adalah gerakan yang lahir dari kerja keras dan dedikasi luar biasa.

Saya hanya berpikir bahwa saya memang tidak bisa menari balet, tetapi setidaknya Tuhan memberikan saya bakat untuk menarikan jemari saya di atas notebook saya untuk menuliskan suatu artikel. Dalam menulis, ini juga merupakan proses yang tidak mudah. Ketika awal saya menulis tahun lalu, saya membutuhkan waktu setidaknya 3 jam untuk menyelesaikan tulisan saya.

Semakin sering saya menulis, semakin cepat waktu yang saya butuhkan untuk menulis. Dalam salah satu mata kuliah yang saya ajarkan, yaitu Analisis Pengukuran Kerja dibahas mengenai konsep Learning Curve (Kurva Belajar).

Dalam Learning Curve itu dijelaskan bahwa memang seseorang pada saat awal belajar akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hanya saja setelah melewati sejumlah waktu yang disebut sebagai Training Time (waktu pelatihan), maka waktu yang diperlukan akan mencapai waktu yang disebut sebagai waktu standar.

Waktu standar merupakan patokan waktu yang diperlukan oleh seorang pekerja yang sudah terlatih dengan baik untuk melakukan pekerjaannya dengan irama kerja yang wajar dalam sistem kerja yang sudah tertata dengan baik. Jadi kalau sudah mencapai waktu pelatihannya, maka sudah akan dicapai suatu standar tertentu dalam melakukan suatu pekerjaan.

Saat ini waktu standar saya mungkin sekitar 30 menit umumnya untuk tulisan yang panjangnya sedang. Walau untuk tulisan yang pendek bisa 15 menit dan untuk tulisan yang relatif panjang bisa mencapai 1 jam. Ini memang tanpa mengedit. Jadi murni hanya menuliskan draft (konsep) saja. Jika ditambah mengedit perlu ditambahkan sejumlah waktu lagi.

Saat berlatih, ada sejumlah teman dan keluarga yang memberikan masukan-masukan berkaitan dengan tulisan saya. Hal itu membantu saya untuk menulis dengan lebih baik lagi. Tentu saja saya harus terus belajar untuk menulis secara lebih baik lagi dari hari ke hari.

Hal yang saya ingat, ketika seorang penari berhasil menarikan Grand Forte en Tourant dengan gemulai, di komik tersebut penonton pada akhir acara bertepuk tangan dengan gemuruh dan memberikan sang penari gagak hitam bunga sebagai tanda penghargaan yang besar. Saya hanya berharap, ketika saya selesai menarikan jemari saya, Tuhan akan bertepuk tangan bagi saya dan mengatakan kepada saya:

“Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan.”

Tapi lebih dari itu, saya juga berharap saya mendapatkan karangan bunga yang berupa jiwa-jiwa yang hidupnya dimenangkan dan diubahkan menjadi hidup yang sungguh sesuai dengan yang Tuhan inginkan. Itulah tujuan saya menulis.

Doaku hari ini: Terima kasih, Tuhan, untuk semua penghiburan dan kekuatan yang Tuhan berikan kepadaku dalam masa-masa penuh tantangan ini. Terima kasih, terutama karena Tuhan memberikanku karunia (bakat) untuk menarikan jemariku di atas notebook-ku sebagai bentuk relaksasiku yang terbesar.

Tuhan, seperti sang penari menarikan Grand Forte en Tourant dengan gemulai dan penuh kebanggaan, aku ingin menarikan jemariku selamanya dengan gemulai dan penuh kebanggaan demi kemuliaan nama-Mu. Menulis bagiku adalah kebahagiaan. Aku berharap kalau memang ini yang Tuhan kehendaki bagiku, selamanya aku ingin menulis untuk memuliakan nama-Mu, untuk membawa orang kepada-Mu, dan untuk mengajar orang supaya hidup sesuai kebenaran firman-Mu.

Tuhan, aku ingin seperti sang penari balet pada akhir tariannya menerima tepuk tangan gemuruh dan karangan bunga, aku ingin pada akhir hayatku Engkau yang bertepuk tangan bagiku dan memberiku mahkota kehidupan sebagai tanda bahwa Engkau berkenan padaku.

Perkenanan-Mu, itulah satu-satunya yang aku inginkan, Tuhan. Bukan emas, bukan permata, bukan apapun juga, tapi perkenanan-Mu itu yang aku mau. Bantu aku, Tuhan, untuk menggenapi nubuatan-Mu, sehingga sungguh akan ada jutaan orang dimenangkan bagi Engkau.

Tuhan, aku berdoa bagi setiap orang yang membaca artikel ini. Jika mereka telah menemukan panggilan mereka, biarlah mereka terus menarikan panggilan mereka dengan taat sampai akhir. Dengan demikian nama-Mu akan dimuliakan lewat konsistensi mereka untuk menarikan panggilan mereka sampai akhir.

Bagi orang-orang yagn belum menemukan panggilan mereka, aku berdoa supaya hikmat-Mu itu meliputi mereka. Dengan demikian mereka bisa menemukan dan mulai menarikan panggilan mereka demi kemuliaan nama-Mu.

Terima kasih, Tuhan, untuk bakat yang Tuhan berikan kepada kami. Kami siap menarikannya sampai akhir.

Amin.

(Catatan: berhubung artikel ini adalah mengenai tarian dan saya memiliki blog dengan judul “Dancing of Million Pens“, bagi Anda yang menyukai membaca novel silakan mengunjungi blog saya tersebut :). Terima kasih.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: