All for Glory of Jesus Christ

Setelah itu, sekitar mungkin seminggu sesudahnya saya baru menyadari ada sesuatu yang baru di rumah saya. Tutup dispenser di rumah saya berubah. Sebelumnya itu motifnya polos berwarna merah dan biru, tiba-tiba saya menyadari tutup dispenser tersebut saat itu berwarna lain.

Rupanya orang tua saya baru saja memasang tutup dispenser baru. Ketika sarapan saya baru sempat memperhatikannya. Ternyata gambar peta Australia, lengkap dengan kangguru-kanggurunya.

Saya sungguh tercekat. Saya bergumul lama sekali untuk hal ini, karena saya merasa sangat tidak siap. Bahasa Inggris saya tidak terlalu baik. Memang untuk menulis saya relatif cukup mampu, tapi untuk berbicara rasanya saya tidak terlalu lancar. Itu membuat saya kuatir.

Tapi ketika saya kuatir, Tuhan mengingatkan saya akan tokoh Musa yang pernah saya tuliskan dalam salah satu artikel saya yang berjudul, “Minder, Sombong, dan Percaya Diri (Trilogi-1)”.

Di sana dijelaskan bahwa Musa diutus Tuhan untuk memimpin bangsanya keluar dari Mesir, tetapi Musa karena minder akhirnya mengungkapkan banyak alasan. Salah satunya adalah tidak pandai bicara.

Ketika diingatkan akan hal itu saya jadi terdiam. Betapa persisnya yang Tuhan ingatkan dengan hal yang saya alami. Saya diingatkan oleh tulisan yang pernah saya tuliskan. Kalau Anda baca lebih lanjut artikel tersebut, Anda akan dapati bahwa karena berkali-kali Musa terus beralasan, Tuhan akhirnya murka.

Saya tidak ingin Tuhan murka. Itu sebabnya begitu Tuhan mengingatkan saya tentang Musa, saya menganggap itu sebagai konfirmasi dan peringatan dari Tuhan. Waktu pun terus berjalan.

28 Juli 2009

Saya mengalami sesuatu yang membuat saya sungguh tersentak. Hari itu saya diajak ibu saya untuk memotong rambut di salon dekat rumah. Tapi bersamaan dengan itu, tiba-tiba saya punya rencana spontan untuk pergi menonton film juga.

Karena ibu saya sudah menelpon salon tersebut, saya pikir saya akan pergi menonton film setelah saya selesai potong rambut. Berangkatlah saya dan ibu saya ke salon tersebut. Ternyata, ketika kami sampai di sana, ada sesuatu yang aneh yang terjadi.

Pemilik salon tersebut ketika kami sampai di sana ternyata baru saja dijemput oleh seseorang ke kota lain. Kami benar-benar heran karena baru setengah jam lalu ibu saya menelpon dan mengatakan bahwa kami akan ke sana.

Saya akhirnya mengatakan ke ibu saya bahwa saya akan pergi menonton saja. Jadi ibu saya pulang ke rumah dan saya pergi menonton film. Saya berpikir:

”Kalau saja saya dan Mami datang lebih cepat, pasti ketemu dengan yang punyanya. Tapi sudah telpon, kog bisa pergi?”

Saya berpikir ini sangat aneh. Setelah itu saya berpikir lagi. Kalau saya jadi potong rambut, saya pasti tidak akan pergi menonton film karena pasti saya akan pulang ke rumah dulu untuk mandi. Biasanya saya kalau sudah pulang ke rumah, saya relatif agak malas untuk pergi lagi.

Lalu saya pergi menonton film. Filmnya menarik sekali. Setelah selesai, saya pun pulang. Jika Anda mengenal saya dengan cukup baik, Anda akan menemukan bahwa saya orangnya sangat menyukai (terbiasa) dengan rutinitas.

Saking rutinnya saya, saya biasanya cenderung melakukan sesuatu dengan cara yang sama. Jadi kalau saya biasa pulang dengan menggunakan angkutan kota (angkot), saya memiliki kecenderungan untuk turun di ruas jalan yang sama, di tempat yang sama, walaupun ruas jalan itu cukup panjang.

Hari itu sesuatu terjadi. Aneh sekali. Tiba-tiba saya ingin memakai satu jalur angkot lain yang tidak biasanya saya pakai! Saya sampai sekarang tidak habis pikir. Dulu sekali sekian tahun lalu saya pernah sekali saja naik angkot itu, tapi karena angkot itu cukup jauh tempat berhentinya dari tempat tinggal saya, saya tidak pernah lagi naik angkot itu.

Jadi kalau saya naik satu jenis jalur angkot yang biasa saya naiki, saya butuh naik 2 kali jalur angkot yang berbeda untuk sampai di rumah. Tetapi setelah turun kedua kalinya, saya hanya butuh berjalan tidak terlalu jauh untuk sampai ke rumah. Hari itu saya naik satu jalur angkot yang sama sekali tidak biasa saya naiki. Itu sama sekali bertentangan dengan kebiasaan saya.

Sampai saat ini saya masih berpikir dan heran mengenai hal itu. Jalur angkot yang tidak biasa saya naiki itu saya cukup naik satu kali saja dan tidak berganti dengan jalur angkot lain. Tapi saya perlu berjalan kaki relatif jauh sekali dibandingkan dengan kalau saya naik jalur angkot biasa yang saya naiki.

Seperti biasa saya merenung di angkot dan angkot pun berjalan. Saya tidak memperhatikan jalan dan saya hanya seorang diri di angkot. Tiba-tiba sang supir angkot menyapa saya:

“Turun di mana, Neng?”

Saya menjawab:

“Di Cxxxxxx, Pak.”

Pak supir lalu mengatakan:

“Wah, gak lewat sana, Neng, ini sih lewat Sxxxxxx.”

Saya pun kaget. Setelah saya pikir-pikir ternyata memang untuk jalur angkot yang sama tersebut, ada 2 arah yang berbeda. Akhirnya saya katakan ke sang supir:

“Ya udah, Pak, saya turun di Sxxxxxx aja.”

Ternyata sang supir mengambil jalan yang tidak biasa dan menurunkan saya di belakang tempat yang saya minta. Pak supir dan kernet (pembantu supir)-nya mengatakan bahwa tinggal jalan sedikit saja untuk sampai ke depan.

Saya pun turun dengan was-was. Kalau Anda sudah mengikuti blog saya dari awal sekali, Anda akan tahu saya sangat parah dalam hal orientasi arah dan mengenal tempat serta jalan-jalan. Jadi saya biasanya hanya tau tempat-tempat dan jalan-jalan yang biasa saya lewati saja. Selebihnya blank hahahaha.

Jadi saya dengan bengong turun dan mulai melihat-lihat sekeliling. Akhirnya saya berhasil sampai ke Sxxxxxx. Lalu saya teringat sesuatu.

Saya dulu suka pergi perawatan wajah (facial) ke dokter. Satu orang Mbak yang biasa menangani saya itu suatu hari berkata:

“Mbak, beli acne lotion deh di Apotik Mxxxxxx.”

Lalu ia memberitahu jalannya di satu gang di kota Bandung. Saya karena tidak tahu hanya mengingatnya saja. Ketika saya turun di Sxxxxxx, saya ingat bahwa lokasi Apotik Mxxxxxx itu letaknya tidak jauh dari sana.

Akhirnya saya putuskan untuk mencari apotik tersebut. Setelah saya masuki gang tersebut, saya tidak temukan. Hari itu sudah sore, sekitar pukul 15.00 kalau saya tidak salah ingat. Walaupun sudah sore, matahari masih bersinar cerah.

Keringat saya bercucuran karena saya berjalan dari awal sampai akhir gang, lalu kembali ke awal lagi dengan menggunakan ruas jalan yang lain. Setelah saya pikir-pikir, saya akhirnya putuskan untuk mencarinya sekali lagi.

”Ah, tanggung, sekali lagi deh carinya.”

Itu yang saya pikirkan. Jadi, saya berjalan sekali lagi. Kali itu saya temukan. Apotik tersebut ada di sebelah kiri gang dari arah saya masuk. Apotiknya cukup besar dan sangat ramai. Aneh sekali saya tidak melihatnya pertama kali saya melewati gang tersebut.

(Bersambung ke Bagian-3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: