All for Glory of Jesus Christ

Belajar dari Titanic

Selama ini penyebab tenggelamnya kapal Titanic itu dianggap sebagai tabrakan dengan gunung es. Dari sini, diketahui ternyata dari hasil penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa bukan itu penyebab utamanya. Penyebab utamanya adalah karena kesalahan manusia (human error). Titanis seharusnya masih bisa diselamatkan jika saja kapten kapal tidak memutuskan untuk terus berlayar.

Kesalahan yang terjadi karena adanya perintah dari pemilik kapal yang memaksa kapten kapal untuk terus berlayar seusai menabrak gunung es. Karena panik, pemegang kemudi berbelok ke arah yang salah. Seandainya saja perintah itu tidak diberikan, maka 1500 jiwa akan selamat.

Kesalahan membelok arah ini terjadi karena kapal tradisional itu memutar roda ke satu arah, sementara kapal uap itu memutar roda ke arah yang berlawanan. Titanic adalah kapal uap dan bukan kapal tradisional. Karena memang ini adalah kapal yang baru, dalam situasi panic pemegang kemudi lebih terbiasa dengan sistem di kapal tradisional.

Kalau kita mau menelaah pihak yang paling bersalah, kita bisa memikirkan ada 3 opsi:

  1. Pemilik kapal yang memaksa kapten kapal untuk terus berlayar.
  2. Kapten kapal yang mengikuti perintah pemilik kapal.
  3. Pemegang kemudi yang mengikuti perintah kapten kapal.

Belajar dari peristiwa tenggelamnya kapal Titanic, permasalahan utamanya itu bukanlah mencari pihak yang paling bersalah, justru permasalahan utamanya adalah:

  1. Cara kita belajar dari kesalahan yang terjadi.
  2. Cara kita menghindarkan untuk melakukan kesalahan yang serupa.
  3. Mencari hikmah di balik kesalahan yang terjadi. Contoh paling mudah: adanya film Titanic yang tidak mungkin muncul kalau tidak adanya peristiwa tenggelamnya kapal Titanic tersebut.

Mencari kesalahan dan orang yang paling bersalah sangat mudah, tapi tidak menyelesaikan masalah yang ada. Ketika kita mencari kesalahan dan pihak yang paling bersalah, saat itu kita menjadi bagian dari permasalahan. Justru hal yang paling penting adalah kita menjadi pihak yang dapat menawarkan pemecahan masalah. Dengan demikian kita menjadi bagian dari solusi permasalahan.

Tuhan Yesus sebagai teladan kita memberikan contoh yang luar biasa. Ketika seorang perempuan yang kedapatan berzinah dan akan dihukum rajam oleh masyarakat Yahudi saat itu, Tuhan Yesus malahan berkata:

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yohanes 8:7)

Jika Sang Guru Agung pun berkata demikian, siapalah kita yang mau coba-coba untuk menjadi sang eksekutor dan berkata:

“Kamu salah!”

Sangat mudah untuk mengatakan:

“Kamu salah!”

Tapi lebih sulit untuk mengatakan:

”Memang kamu salah, tapi mari kita bersama-sama mencari solusi untuk masalah ini.”

Jadi kalau Anda diberi kesempatan, apakah yang akan Anda pilih? Menjadi bagian dari permasalahan atau menjadi bagian dari solusi permasalahan? Solusi di tangan Anda.

Doaku hari ini: Terima kasih, Tuhan, untuk kasih-Mu yang luar biasa bagi kami. Bantulah kami semua, ya Tuhan untuk belajar senantiasa meneladani-Mu yang MAU menjadi bagian dari SOLUSI permasalahan dan bukan menjadi bagian dari MASALAH itu sendiri.

Terima kasih karena Engkau, ya Yesus, adalah Tuhan yang mengasihi dan menerima kami apa adanya. Walaupun kami banyak salah dan dosa, Kau sungguh-sungguh adalah SOLUSI bagi kami. Terima kasih, Yesus.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: