All for Glory of Jesus Christ

Saat Pertama

Pagi ini karena sesuatu hal, saya melakukan sesuatu di luar kebiasaan saya. Jadi saya pagi ini pukul 06.30 mengunjungi salah satu tempat makan favorit saya. Tempat makan ini sederhana, dari segi tempat biasa saja. Mungkin itu sebabnya saya jadi suka ke sana, karena saya juga orangnya sederhana hahahaha.

Walaupun dari segi tempatnya sangat sederhana, dari segi makanannya sungguh luar biasa! Jenis makanan yang dijual di sana adalah baso. Saya pertama kali ke sana diajak oleh salah seorang sahabat saya. Sejak itu saya jadi ketagihan! Sahabat saya itu memang harus bertanggung jawab karena membuat saya ketagihan hahahaha. Baso yang disajikannya itu istimewa rasanya, enak sekali!

Setidaknya cukup banyak orang yang berpendapat sama dengan saya. Buktinya setiap kali saya ke sana, entah siang hari, entah sore hari, tempat itu selalu penuh dengan pengunjung.

Tapi pagi ini memang berbeda, saya satu-satunya pengunjung yang ada. Ternyata memang saat itu kondisinya belum siap, tapi saya sungguh maklum karena saya ke sana bukan pada waktu yang umum.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya tersaji juga makanan andalan tempat makan tersebut. Ketika saya cicipi, ternyata ada yang kurang. Yah, faktor meresapnya dari daging ke kuah itu kurang terasa dalam sajian pagi ini, karena memang bisa jadi sajian yang saya nikmati ketika siang atau sore hari saya sebelumnya ke sana itu sudah mengandung begitu banyak sari daging di dalamnya.

Tetapi ketika saya cicipi basonya, ternyata tidak ada masalah. Nikmat-nikmat saja. Jadi memang hanya faktor kuahnya yang kurang nikmat dibandingkan biasa. Teh dingin yang biasanya saya dapatkan pada siang dan sore hari di sana, pagi ini saya dapatkan dengan kondisi sangat panas. Nikmat sekali!

Ketika saya renungkan, sebenarnya kondisi saya memakan sajian baso pada kali pertama dimasak pagi ini, seperti halnya kondisi setiap orang yang pertama kali memulai sesuatu. Saat seseorang pertama kali memulai sesuatu, seperti misalnya bersekolah, berkuliah, bekerja, berwirausaha, menjalin hubungan: persahabatan, hubungan dengan lawan jenis: pacaran dan menikah, hubungan antara anak dan orang tua, dst, tentu saja tidak akan langsung menguasai hal tersebut.

Seperti kuah yang terasa kurang gregetnya, wajar jika pada saat pertama Anda merasakan tidak terlalu menguasai ini dan itu. Bagi para mahasiswa tahun pertama, wajar sekali jika Anda tidak menguasai mata kuliah ini dan itu di perkuliahan. Bagi para perkerja tahun pertama, wajar sekali jika Anda tidak menguasai bidang pekerjaan ini dan itu. Bagi para wirausahawan, wajar sekali jika Anda tidak menguasai aspek usaha ini dan itu.

Bagi orang yang baru pertama kali menjalin hubungan persahabatan dan pacaran, menjadi orang tua dan anak, wajar sekali untuk tidak mengerti aspek-aspek dalam hubungan tersebut. Bagi orang yang baru menikah, wajar sekali untuk menjadi bingung dengan berbagai penyesuaian yang ada.

Hanya saja, seperti rasa baso yang kenikmatannya tetap terasa dan teh yang begitu panas dan nikmat, itu juga yang perlu Anda pertahankan bahkan kembangkan. Dalam diri Anda terdapat begitu banyak potensi. Para mahasiswa, Anda memiliki potensi yang besar. Para pekerja, Anda memiliki potensi yang besar. Para usahawan, Anda memiliki potensi yang besaer. Setiap Anda memiliki potensi yang besar.

Jika potensi yang Anda miliki tersebut dapat Anda pertahankan dan kembangkan, Anda akan dapat menjadi orang yang sungguh bisa memberikan pengaruh ke sekitar Anda secara luar biasa. Seperti kuah baso yang setelah menjelang siang dan sore, rasanya menjadi sangat gurih karena banyaknya kandungan sari daging di dalamnya, begitu juga seharusnya Anda.

Permasalahan yang ada di sekitar Anda itu memiliki potensi untuk mendinginkan bahkan memadamkan api semangat di dalam diri Anda. Seperti teh dingin yang saya minum saat saya berkunjung ke sana pada siang atau sore hari, begitu pulalah api semangat yang padam oleh waktu, terkikis oleh angin permasalahan.

Itu sebabnya, sangat penting bagi Anda untuk menjaga terus api semangat Anda tetap menyala, bahkan berkobar semakin besar! Bagaimana caranya?
1. Mencari rekan-rekan atau orang-orang dengan api semangat yang terus menyala. Semangat itu sifatnya menular. Itu sebabnya penting sekali untuk bergaul dengan orang-orang yang tepat.

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33)

Hati-hati dengan pergaulan Anda! Jika Anda salah bergaul, maka bisa jadi Anda bukannya menjadi bertambah semangat tetapi malah menjadi semakin tidak bersemangat.

Bukan hanya menjadi penyemangat, teman-teman Anda juga bisa menjadi penjaga Anda. Jadi saat Anda tidak semangat, ada orang-orang di sekitar Anda yang bisa mendorong Anda untuk kembali bersemangat.

Bila Anda memiliki teman-teman atau orang-orang yang seperti ini di sekitar Anda, bersyukurlah kepada Tuhan! Tapi jika Anda belum memiliki orang-orang seperti ini di sekitar Anda, mulailah mencari dan jadilah orang yang bersemangat itu!

Karena pada dasarnya orang yang sejenis akan bergaul dengan orang yang sejenis pula, itu sebabnya jika Anda bersemangat, mudah bagi Anda untuk mendapatkan teman-teman yang sama bersemangatnnya dengan Anda. Tetapi jika Anda tidak bersemangat, mudah juga bagi Anda untuk mendapatkan teman-teman yang sama tidak bersemangatnya dengan Anda.

Seperti kata Pak Bambang Widjaja:

“Perlihatkan pada saya teman-teman Anda, akan saya perlihatkan kepada Anda siapa Anda.”

Sungguh itu adalah suatu perkataan yang tepat. Karena memang teman-teman ini akan mempengaruhi diri Anda dengan sangat besar, hati-hatilah dengan mengizinkan orang-orang yang akan memasuki hidup Anda.

2. Mengisi pikiran Anda dengan hal-hal yang dapat menyemangati diri Anda. Jadi jangan terlalu tergantung pada orang lain. Memang kita makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, tapi kalaupun tidak ada orang lain yang dapat menyemangati Anda, bukan berarti Anda tidak dapat semangat!

Kunci perubahan hidup itu ada 2, yaitu:
1. Ketika Tuhan menyentuh hidup kita.
2. Ketika pikiran kita diubahkan.

Tuhan setiap saat senantiasa ingin menyentuh hidup kita, ingin mengubah hidup kita. Hanya saja, sering kali yang terjadi adalah ada orang yang sudah disentuh hidupnya oleh Tuhan, tetapi hidupnya tidak pernah berubah.

Begitu setianya ia akan menjadi pengikut Yesus, sehingga dari dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya, ia menyanyi:

“Aku masih seperti yang dulu.” (nyanyikan dengan nada ironis)

dengan kata lain hidupnya begitu meneladani Kristus yang tidak berubah dari dulu sekarang, dan selama-lamanya (baca dengan nada ironis).

Jika Anda adalah orang seperti ini, bertobatlah sekarang juga. Jangan lagi beralasan ini dan itu! Hidup Anda hanya sekali di dunia ini. Seperti kata Pak Bambang Widjaja:

“Jadikan hidup yang sekali ini menjadi hidup yang sungguh-sungguh bermakna.”

Yah, kalau Anda ingin menyia-nyiakan hidup Anda yang hanya satu kali ini di dunia ini dengan hidup dengan penuh kesia-siaan, saya tidak dapat berbuat apa-apa. Toh, itu hidup Anda, Anda yang menjalani, selamat menikmati hidup yang penuh sia-sia itu! Itu pilihan Anda.

Tapi kalau Anda ingin mengubah hidup yang hanya satu kali ini menjadi hidup yang sungguh-sungguh bermakna, maka saat Anda mengubah pikiran Anda, Anda telah berinvestasi untuk mengubah hidup Anda.

Seperti kata Pak Yohanes Sudarmadji:

”To be enthusiastic, act enthusiastic.”

Jika diterjemahkan:

“Untuk menjadi orang yang antusias, berlakulah antusias.”

Jika Anda ingin menjadi orang yang bersemangat, mula-mula ubahlah pikiran Anda untuk menjadi bersemangat, lalu berlakulah antusias. Untuk mengubah pikiran, diperlukan usaha yang terus-menerus, yaitu dengan cara memikirkan:

“semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Filipi 4:8)

Hal yang memang memenuhi Filipi 4:8 yang paling mudah untuk dipikirkan terus- menerus adalah firman Tuhan. Rutinitas untuk terus membaca, merenungkan, menerima, dan melakukan firman Tuhan itu adalah kunci yang sangat mendasar.

Seperti yang saya tuliskan dalam artikel sebelumnya:

”There is nothing such as a free lunch.”

Jika diterjemahkan, artinya adalah:

“Tidak ada yang gratis di dunia, seperti misalnya: makan siang yang gratis.”

Begitu pula jika Anda ingin berubah, itu tidak gratis, tidak cuma-cuma, tidak terjadi begitu saja. Diperlukan suatu usaha dan determinasi (ketetapan hati) yang terus-menerus untuk bisa berubah.

Jadi, jika ada yang ingin bersemangat, lalu hanya melakukan program membaca, merenungkan, menerima, dan melakukan firman Tuhan dalam waktu 1 minggu saja lalu berhenti, itu sungguh tidak akan bertahan lama. Juga jika Anda melakukannya tidak dengan kesungguhan dan keberlanjutan (kontinuitas) setiap harinya, itu juga tidak akan memberikan hasil yang bertahan lama.

Saya bersyukur pagi ini saat pertama kali saya menikmati baso dengan kuah yang kurang gurih dan teh yang sangat panas itu ternyata sungguh sangat bermakna bagi saya. Semoga kenikmatan baso dan teh panas yang saya nikmati pagi tadi, itu juga yang bisa Anda nikmati ketika Anda membaca dan melakukan hal yang Anda baca dalam artikel ini.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: