All for Glory of Jesus Christ

Shock Therapy

Hari ini saya melakukan shock therapy kepada para mahasiswa yang saya ajar di satu kelas. Sebenarnya hal ini sama sekali tidak saya duga. Jadi hal yang terjadi adalah saya baru saja datang dan sedang bersiap-siap dengan segala persiapan untuk mulai mengajar. Ternyata para mahasiswa tersebut ribut sekali.

Saya menunggu mereka agar tenang. Itu tidak terjadi. Saya memandang beberapa orang di antara mereka. Ternyata tidak ada yang sadar akan situasi yang terjadi. Jadi saya kembali merapikan meja saya sambil menunggu mereka tenang. Masih tidak terjadi juga. Saya kembali memandang beberapa orang di antara mereka. Berharap ada sejumlah mahasiswa yang cukup peka. Ah, saya berharap terlalu tinggi rupanya.

Akhirnya, saya membereskan semua barang saya dan saya mengumumkan bahwa kelas sudah selesai dan saya akan bertemu lagi dengan mereka minggu depan. Sekejap kelas langsung hening.

Bisa dikatakan saya dalam sejumlah hal adalah orang yang saklek. Saklek itu adalah orang yang kalau sudah memutuskan sesuatu, maka tidak bisa diubah lagi. Jadi, kalau saya sudah mengatakan sesuatu, itu yang akan saya lakukan.

Dari awal perkuliahan dulu, di setiap kelas yang saya ajar, saya selalu mengetengahkan aturan di kelas saya. Selain itu, saya juga sudah mengetengahkan mengenai konsekuensi jika melanggar peraturan.

Ternyata hari itu ternyata saya mendapat kesempatan untuk menerapkan konsekuensi tersebut. Sebenarnya saya tidak suka untuk melakukan hal itu, tapi terkadang shock therapy itu memang dibutuhkan untuk menyadarkan dan menegaskan bahwa saya tidak bermain-main dengan kata-kata dan peraturan yang saya telah tetapkan.

Bisa jadi saya merupakan orang yang idealis. Sudah idealis, saya juga orang yang perfeksionis. Jadi yah, bisa jadi bagi orang yang tidak mengerti, mereka akan menganggap saya orang yang sulit. Tapi sejauh yang saya pikirkan, saya hanya menerapkan hal-hal yang memang saya pikirkan untuk kepentingan dan kebaikan para mahasiswa yang saya ajar. Jadi saya tidak terlalu ambil pusing dengan pendapat siapapun berkaitan dengan hal ini.

Saya ingin menerapkan budaya yang baik bagi para mahasiswa yang saya ajar. Salah satunya sudah cukup berhasil, yaitu budaya datang tepat waktu. Walaupun masih ada satu atau dua mahasiswa yang masih mencoba-coba untuk datang tidak tepat waktu, setidaknya mayoritas sudah mulai berdisiplin.

Tidak mudah untuk menerapkan budaya yang baru. Saya ingin sekali para mahasiswa saya ini menjadi orang-orang yang nantinya bukan hanya pintar dan lulus dengan nilai yang baik dalam mata kuliah yang saya ajar, tapi lebih dari itu saya berharap mereka bisa menjadi manusia yang berkarakter dan bermoral baik.

Jumlah orang pintar sudah sangat banyak, tapi jumlah orang yang berkarakter dan bermoral baik itu relatif lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang pintar. Jumlah orang pintar yang berkarakter dan bermoral baik bahkan relatif jauh lebih sedikit lagi. Itu sebabnya, impian saya adalah mendidik dan menghasilkan generasi-generasi penerus bangsa yang sungguh bermutu.

Untuk masalah tepat waktu, saya mengacu pada prinsip psikologi perkembangan. Seperti yang saya sudah tuliskan di “Beyond the Legalism” dari kotbah Pak Bambang Widjaja, tahap pertama psikologi perkembangan adalah tahap anak-anak. Dalam tahap ini, yang berlaku adalah Imbalan dan Hukuman (Reward and Punishment).

Jadi kalau seseorang memenuhi hal yang diinginkan darinya, maka ia akan diberi penghargaan. Sebaliknya, jika ia tidak memenuhi hal tersebut, maka ia akan diberi hukuman.

Oleh karena itu, saya selalu membawa payung ajaib saya. Yah, sebenarnya tidak ajaib. Payung itu sama saja dengan payung lainnya. Hanya saja ini adalah payung yang sangat kuat. Mengapa demikian? Karena payung ini sanggup untuk menahan para mahasiswa yang terlambat masuk ke kelas untuk tidak memasuki kelas.

Heran? Jangan heran! Jadi, begini. Payung ini adalah payung lipat, sama sekali tidak istimewa. Tetapi, payung ini memiliki fungsi ganda. Selain berfungsi sebagai payung, karena panjangnya cukup memadai, saya gunakan juga untuk mengganjal pintu (sebagai selot pintu). Jadi begitu saya sudah menyelot pintu dengan payung saya, tidak ada mahasiswa yang terlambat dapat masuk ke kelas hahahaha.

Lambat laun, para mahasiswa mulai terbiasa dan mereka sudah berkumpul dengan manis di depan kelas bahkan di dalam kelas. Saya senang sekali kalau sudah begitu. Saya selalu percaya bahwa asalkan seseorang memang MAU untuk berubah, ia pasti BISA berubah. Buktinya adalah para mahasiswa saya🙂.

Kembali ke masalah shock therapy di awal cerita saya. Shock therapy ini memang tidak saya rencanakan, apalagi saya harapkan. Jadi ya terjadi begitu saja. Setelah saya pikirkan, ada baiknya juga shock theraphy ini.

Setidaknya shock therapy ini mengajarkan bahwa setiap tindakan itu pasti ada konsekuensinya. Setiap pilihan selalu ada konsekuensinya. Saya berharap dengan shock therapy ini akan mengajarkan para mahasiswa saya untuk dewasa.

Dewasa bukan berarti bertambahnya usia. Ada orang yang dari segi usia sudah seharusnya disebut dewasa, tapi perilakunya masih seperti seorang anak kecil. Dewasa berarti kesediaan untuk memikul tanggung jawab untuk menerima konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukannya.

Doaku hari ini: Tuhan, terima kasih untuk setiap pembelajaran yang Tuhan berikan. Walaupun aku tidak suka melakukannya, kalau Tuhan yang mendorongku, aku percaya segala sesuatu itu mendatangkan kebaikan bagiku maupun bagi setiap orang di sekelilingku.

Didiklah aku supaya bisa sungguh-sungguh menjadi seorang pengajar yang bijak, Tuhan. Kalaupun aku tidak suka melakukan sesuatu, tapi kalau itu demi kebaikan anak-anak didikku, doronglah aku untuk melakukannya, Tuhan.

Didiklah juga anak-anak didikku, para mahasiswaku, untuk bisa menjadi dewasa. Bantulah mereka bukan hanya untuk menjadi pintar, tapi terlebih dari itu untuk menjadi orang-orang yang sungguh bermutu: pintar, disiplin, pekerja keras, berintegritas, dan bertanggung jawab dalam setiap apapun yang mereka kerjakan.

Aku percaya kalau itu yang mereka dapat lakukan, nama-Mu pasti akan dimuliakan, di manapun mereka berada. Aku bisa menjadi pengajar mereka, aku percaya itu bukanlah suatu kebetulan. Pimpinlah aku, Tuhan, untuk semakin bersungguh-sungguh untuk mengasah mereka, berlian-berlian kasar yang siap untuk menjadi berlian-berlian indah yang berkilau.

Terima kasih, Sang Guru Agung. Segala hormat, pujian, sembah, dan kemuliaan hanya bagi-Mu, Yesus.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: