All for Glory of Jesus Christ

Saya pun memasuki apotik tersebut. Apotik tersebut sangat ramai. Saya menduga karena harganya yang relatif bersaing (murah) dibandingkan apotik lainnya. Karena begitu banyak orang yang mengantri, saya akhirnya menuliskan dulu barang yang akan saya beli.

Setelah itu saya mengantri di salah satu tempat yang ada. Akhirnya, setelah menunggu lama, tibalah giliran saya untuk dilayani. Saya mengatakan kepada yang melayani saya bahwa saya mencari acne lotion. Lalu saya diminta menunggu.

Sambil menunggu, saya melamun. Lama juga saya menunggu. Tiba-tiba saya melihat ke atas. Di Dinding ada semacam digital screen (tampilan digital) yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu lebar. Hanya sekitar satu baris saja dan mungkin hanya dapat memuat 20 huruf saja.

Saat itu digital screen-nya tidak menyala. Tetapi ketika saya mengangkat kepala dan memperhatikan digital screen tersebut, tiba-tiba digital screen-nya menyala dan tulisan yang muncul membuat saya terperangah:

“AUSTRALIA”

Saya sangat kaget! Benar-benar kaget! Saya berpikir:

“Kenapa ada tulisan AUSTRALIA di digital screen itu?”

Saya kemudian berpikir:

“Oh mungkin mau mengiklankan produk obat dari Australia?”

Jadi saya perhatikan terus dan tak lama huruf-huruf yang membentuk kata “AUSTRALIA” tersebut satu per satu menghilang. Lalu ada tulisan “SEKILAS INFO”. Saya terus menunggu tulisan berikutnya muncul.

Tulisan berikutnya adalah iklan obat tertentu dengan kandungan obatnya. Saya benar-benar bingung. Karena saya tahu dengan persis, obat tertentu itu yang tulisannya muncul setelah kata “AUSTRALIA” itu adalah produk obat lokal dan sama sekali tidak diproduksi di Australia.

Jantung saya berdetak dengan sangat kencang. Tak lama yang melayani saya datang, mengatakan bahwa acne lotion itu tidak dijual di sana. Mbak tersebut malah bertanya kepada saya karena ia mengira saya salah menyebutkan nama produk.

Saya akhirnya keluar dari apotik itu setelah membeli satu jenis produk vitamin tertentu. Sambil berjalan, jantung saya masih berdetak kencang. Saya berpikir:

“Apakah memang sudah tidak ada jalan lain, Tuhan? Apakah benar aku harus ke Australia?”

Saya berpikir itulah konfirmasi yang luar biasa jelas dari Tuhan bagi saya. Saya pulang sambil berpikir bahwa seluruh kejadian hari itu sangatlah aneh.

Semenjak awal, sudah sangat aneh. Karena tukang potong rambut pergi hanya sesaat sebelum saya dan ibu saya datang ke tempatnya, padahal ibu saya sudah menelpon memberitahukan setengah jam sebelumnya kalau kami akan datang.

Kalau kami jadi memotong rambut, saya pasti tidak akan pergi menonton film. Karena saya pasti akan pulang dan mandi dulu, agar sisa-sisa potongan rambut itu tidak membuat badan saya gatal. Kalau saya sudah pulang dan mandi, besar kemungkinan saya tidak akan pergi menonton film di bioskop. Karena saya kalau sudah pulang, relatif lebih malas untuk pergi lagi.

Kalau saya mengambil angkot dengan rute yang biasa saya gunakan, saya sudah pasti tidak akan ke apotik yang ditunjukkan oleh Mbak yang biasa melayani saya untuk facial. Kalau saya memutuskan untuk berhenti mencari setelah saya tidak menemukan apotik tersebut ketika pertama kali saya mencarinya, saya pasti tidak akan menemukan tanda “AUSTRALIA” tersebut.

Lebih aneh lagi, Mbak yang melayani saya facial itu bisa-bisanya menyarankan untuk membeli acne lotion di apotik tersebut yang ternyata apotik tersebut tidak ada produk tersebut. Sungguh seluruh hal ini sangatlah aneh.

Seluruh rangkaian kejadian pada hari itu sangat aneh, saling sambung-menyambung, dan kalau yang satu tidak dilakukan, kemungkinan besar tidak terjadi. Mari kita lihat sebagai berikut (anggaplah persentase yang saya berikan merupakan persentase yang paling realistis untuk terjadi melihat kondisi dan kebiasaan saya setiap harinya):

  1. Pergi ke tempat potong rambut. Pergi ke tempat potong rambut peluangnya 90%, tidak pergi peluangnya 10%. Jika saya pergi, peluang 70 % untuk potong, 30% tidak potong kalau ternyata salonnya ramai dan saya malas mengantri.
  2. Pergi menonton film di bioskop. Peluang 80% untuk pergi menonton jika saya tidak potong rambut, 20% pergi menonton jika saya potong rambut.
  3. Mengambil rute angkot. Peluang 99% ambil rute angkot biasa, 1% tidak ambil rute angkot biasa.
  4. Tidak menemukan apotik yang dituju. Peluang menemukan 50%, tidak menemukan 50%. Jika tidak menemukan, peluang 80% berhenti mencari, 20% terus mencari.

Dilihat dari persentasenya saja tanpa dibuat decision tree (pohon keputusan)-nya, peluang terjadinya keputusan untuk tidak ke apotik itu terlalu besar. Sebenarnya lebih mudah jika melihat decision tree-nya, tapi saya agak sulit menyajikan decision tree di blog ini. Jadi baiklah, saya hitung saja langsung.

Berarti peluang untuk terjadinya keputusan ke apotik tersebut, pergi nonton, naik angkot yang beda rute, dan akhirnya menemukan apotik yang dituju adalah

Peluang = {90%. [(70%.20%.1%.50%.20%)+(30%.80%.1%.50%.20%)]}+ (10%.80%.1%.50%.20%)
Peluang = {90%.[0,00014+0,00024]}+0,00008
Peluang = {90%.0.00038} + 0,00008
Peluang = 0,000342 + 0,00008 = 0,000422

Peluang di atas itu saya hitung masih belum mengikutsertakan faktor Mbak yang melayani saya facial, karena ada peluang memberitahukan dan tidak memberitahukan saya mengenai acne lotion dan apotik tempat membeli acne lotion tersebut. Jadi setelah dihitung memang peluangnya yang hanya 0,000422 itu kecil sekali untuk terjadi.

Sampai sekarang ketika saya menuliskan semua hal yang telah terjadi, saya masih tidak habis pikir. Keseluruhan ini terlalu aneh dan bagi saya sangat luar biasa untuk dapat terjadi.

(Bersambung ke Bagian-4)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: