All for Glory of Jesus Christ

Bolpoin dan Keselamatan

Hari Sabtu, 13 November 2010 lalu saya berangkat ke Jakarta untuk membeli logistik untuk keperluan sumbangan kepada korban Merapi yang diberi nama “Dari Hati untuk Merapi”. Cerita lengkapnya bisa Anda baca di sini.

Sesudah saya sampai di dalam kereta, saya mengatur ulang letak barang-barang yang saya bawa di dalam tas kecil saya agar lebih mudah dan nyaman untuk dibawa. Ketika saya ingin mengambil sesuatu di dalamnya, tiba-tiba bolpoin hitam yang ada di dalamnya jatuh!

Saya mencoba mencarinya di lantai kereta di sekitar tempat yang saya duduki. Ternyata saya tidak menemukannya. Lalu saya berusaha mencari di dalam tas saya. Tidak ada tentu saja, karena memang sebelumnya jatuh.

Saya hanya membawa 2 bolpoin saja, yaitu 1 bolpoin hitam (yang jatuh itu) dan 1 bolpoin merah. Karena memang saya ingin menuliskan seluruh proses pembelian logistik yang terjadi, saya berpikir bahwa saya harus mencari bolpoin hitam tersebut.

Lalu akhirnya saya menemukan bahwa bolpoin hitam tersebut masuk ke sela pinggiran kursi. Ketika jari-jari tangan saya berusaha mencapaina, ternyata bolpoin itu semakin dalam terjepit di pinggiran kursi. Saya berusaha meraihnya dengan lebih sungguh-sungguh. Gagal!

Ketika saya mengangkat tangan saya, saya mendapati bahwa tangan saya menjadi kotor. Lalu akhirnya dengan kecewa saya hanya dapat bergantung pada 1 bolpoin merah yang masih terseisa untuk menuliskan seluruh rangkaian proses pembelian yang saya dan teman-teman saya lakukan sepanjang hari itu.

Untungnya saya membawa semprotan air yang biasanya saya tinggalkan di meja kantor saya. Hari itu saya membawanya dan saya menyemprotkannya ke jari-jari dan tangan saya. Sekejap tangan saya menjadi bersih kembali. Ah, leganya!

Ketika saya sedang berusaha keras mencari-cari dan menggapai-gapai bolpoin hitam yang terjepit di pinggiran kursi yang sempit, sekejap ada kata-kata yang terlintas di pikiran saya:

“Jika 1 domba tersesat, maka gembalanya akan mencari 1 domba yang tersesat itu dan meninggalkan 99 domba lainnya yang tidak tersesat.”

Ketika itu saya jadi mengerti alasan jatuhnya bolpoin hitam tersbut. Tuhan ingin memberitahukan kepada saya mengenai analogi keselamatan dengan bolpoin hitam.

Setiap kita adalah bolpoin hitam. Kita tersesat, dan hilang. Kita jatuh di tempat yang kotor. Kita penuh dengan dosa. Ketika kita berusaha mendapatkan diri kita kembali dengan usaha dan kekuatan kita sendiri, tentu saja itu sia-sia belaka. Seperti bolpoin hitam yang terjepit semakin dalam dan tidak bisa dijangkau, itulah kondisi kita yang berusaha mencapai keselamatan dengan usaha dan kekuatan kita sendiri.

Sebenarnya jika saja saya memiliki 1 tongkat pengungkit/kayu tipis untuk mengungkit bolpoin hitam yang terjepit tersebut, saya akan dapat memperolehnya kembali. Dalam hal ini, tuas pengungkit yang kita semua butuhkan adalah Tuhan Yesus.

Jika Tuhan Yesus ada di hidup kita, Ia sanggup mengungkit kita, membuat kita menemukan diri kita yang terhilang. Begitu juga dengan semprotan air yang saya bawa hari itu di tas saya, itulah juga peran Tuhan Yesus dalam hidup kita. Kita yang berdosa dan menyadarinya dapat datang kepada-Nya.

Seperti semprotan air yang membersihkan jari-jari dan tangan saya yang kotor dengan segera, Tuhan Yesus dengan kasih-Nya yang besar sanggup memulihkan dan membersihkan kita dari segala dosa kita. Puji Tuhan!

Permasalahannya adalah apakah Anda rela untuk menyerahkan diri Anda kepada-Nya dan tidak berkeras untuk mengungkit diri Anda sendiri untuk mencapai keselamatan? Jawabannya ada di dalam hati Anda sendiri.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: