All for Glory of Jesus Christ

Versi Indonesia:
Berawal dari 6 November 2010 pukul 06:52:59. Sebuah pesan dari suatu instant messenger saya berbunyi demikian:

“Teman-temanku yg terkasih, bagi yang mau menyalurkan bantuan ke korban merapi mariii silahkan! Gw tergerak karena sepupu gw disana yang ada ϑi posko pengungsian bilang disana sangat membutuhkan masker,selimut, pembalut, pampers, dll. Sampai saat ini msh sgt minim bantuannya. Minggu depan gw akan kirim bantuan tahap 1 kesana. Yang mau berpartisipasi silahkan transfer ke Bca cab kcp wisma indocement a/n tutut nurmayanti 4591216907. Jangan lupa kalo uda transfer bbm/sms.biar gw data. Terimakasih. Ťuhαn memberkati!”

Itu adalah pesan yang saya terima dari Norma. Ya, sebenarnya teman saya bernama Norma, tetapi saya sengaja mempublikasikannya dengan nama Nurma karena di akte lahirnya tertulis Nurma. Jadi supaya menghindari pertanyaan yang tidak substansial, saya menggunakan nama “Nurma” hahaha. Mulai sekarang saya akan mempublikasikan namanya dengan namanya yang sesungguhnya: Norma.

Norma tergerak hatinya untuk menolong para korban bencana alam gunung meletus, yaitu Gunung Merapi. Ia merasa tergerak setelah sepupunya, Rio, yang berada di lokasi kejadian sebagai relawan untuk posko pengungsian menceritakan kondisi mengenaskan di sana.

Ketika saya membaca pesan itu, hati saya tergerak untuk ikut mempromosikan hal tersebut. Jadi semua berawal dari satu pesan singkat dari hati Norma yang tergerak membantu.

Dari satu pesan singkat itu, kami kemudian menindaklanjutinya dengan diskusi panjang di instant messenger itu setiap hari. Dalam diskusi kami, akhirnya terbentuk job description kami masing-masing.

Saya bertugas mempromosikan, menulis jalan kejadian, laporan keuangan, dan foto-foto, serta mengaudit rekening Norma. Sementara Norma dibantu dengan kakak-kakaknya melakukan promosi, melaporkan jumlah donasi, mengaudit rekening bersama dengan saya, memberitahukan segala informasi perkembangan yang masuk kepadanya dan terutama operasional: mulai dari menghubungi sepupunya Rio untuk mengetahui kondisi terakhir di sana, kebutuhan-kebutuhan logistik yang perlu dibeli, menghubungi berbagai macam pihak: mulai dari donatur, supplier, pihak relawan di berbagai posko pengungsian, membeli logistik yang dibutuhkan, mempersiapkan logistik yang akan dikirim, mengirim, sampai mendistribusikan logistik tersebut.

Bisa dikatakan bahwa Tuhan sungguh bekerja dengan luar biasa menyatukan kami dalam satu kegerakan ini. Saya mengenal Norma mungkin sudah 1,5 tahun lalu lewat salah satu forum Kristiani di dunia maya. Saya belum pernah bertemu dengannya tapi dulu Norma pernah berbagi mengenai suatu hal kepada saya dan itulah pertama kali yang membuat kami terhubung.

Terakhir Norma berbagi mengenai hal yang lain lagi. Saya juga suka berbagi kepadanya. Karena memang pelayanan saya itu banyak di dunia maya, saya terbiasa menganalisis seseorang dari tulisannya. Dari gaya tulisannya saya bisa menebak mengenai kebiasaan yang bersangkutan. Dari isi tulisannya saya bisa menebak karakter orang tersebut.

Intuisi saya mengatakan bahwa Norma orang yang dapat saya percaya dan ia sangat tulus. Ternyata puji Tuhan, intuisi saya tidak salah. Saya sungguh menikmati sekali bekerja sama dengannya dalam pengumpulan dana untuk korban Merapi kali ini.

Ia terbukti orang yang sangat cekatan, jujur, teliti, dan dapat diandalkan. Ia juga sangat sabar. Menghadapi saya yang cenderung untuk langsung terjun untuk mengatur segala sesuatu, ia dapat memahami saya dengan sangat baik. Saya sempat kuatir ia akan tersinggung karena cara saya mengatur memang tidak mengenal basa-basi dan langsung ke sasarannya. Puji Tuhan, Norma bisa mengerti hal itu dengan baik.

Lalu saya mendapatkan ide untuk menyebut diri kami sebagai Merapi Puff Girls and All Friend (MPG&AF). Ide ini datang tiba-tiba karena saya berpikir saat nanti akan menuliskan semua ini, akan terlalu panjang kalau saya harus menuliskan nama kami semua satu per satu. Tiba-tiba saja saya teringat akan tokoh kartun “Power Puff Girls” yang dulu pernah saya tonton di televisi.

Power Puff Girls adalah anak-anak perempuan biasa. Akan tetapi ketika mereka mendapatkan kekuatan, mereka berubah menjadi pahlawan-pahlawan super yang menjaga dunia dari para penjahat. Entah mengapa tiba-tiba saya bisa teringat akan tokoh kartun tersebut, setelah saya renungkan memang kami hanyalah perempuan-perempuan biasa. Tetapi saat Tuhan menggerakkan kami, kami seperti mendapatkan kekuatan untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah kami lakukan sebelumnya.

Ya, pengumpulan dana ini adalah pertama kali yang kami lakukan bersama. Dari tanggal 6 November 2010 ini kami sepakat untuk mempromosikan mengenai pengumpulan sumbangan ini secara besar-besaran. Saya melakukan promosi tersebut di facebook, blog, twitter, instant messenger, sms, di gereja, dan di tempat kerja. Norma melakukan hal yang sama, kecuali di blog.

MPG terdiri dari Norma, saya, lalu 3 orang kakak Norma, yaitu Widy, Lily, dan Mbak Tutut. Sementara All Friends yang membantu kami itu adalah Yeri (suami Lily), Rio Ronny (sahabat saya), Ci July (kakak saya), Andi, dan semua orang donatur. Widy menemani Norma untuk mengirimkan logistik dan mengunjungi posko-posko pengungsian. Mereka bahkan sampai meminta cuti untuk melakukannya! Anda dapat bayangkan betapa besar pengorbanan mereka untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang berada di posko pengungsian itu.

Lily dan Yeri sebenarnya juga ingin ikut, tetapi mereka tidak mendapatkan cuti dari perusahaan mereka. Keluarga Tutut (keluarganya Norma) ini bahu-membahu dalam segala tahap operasional. Mbak Tutut menjadi fotografer dan juga mengendarai kendaraan untuk mengantar kami. Sungguh keluarga yang luar biasa!

Rio adalah relawan di salah satu posko pengungsian. Dialah yang menghubungkan dan menjadi penyebab awal program ini terbentuk. Rio berperan untuk menerima logistik yang kami kirimkan dan mengatur transportasi selama Norma dan Lily di sana. Rio juga yang menghubungkan dengan posko-posko pengungsian lainnya dan membuat akhirnya terhubung dengan relawan lain: Andi. Andi membantu dalam distribusi logistik yang kami berikan karena memang tidak sempat lagi untuk membagikan secara langsung karena keterbatasan waktu yang ada.

Ronny membantu saya dengan ide-ide untuk membuat ringkasan rencana kegiatan yang akan kami lakukan. Ia juga membantu saya ketika blog yang saya gunakan itu pada tanggal 10 November ternyata tidak bisa saya buka lewat laptop. Sementara Ci July menyediakan PayPal-nya untuk menampung dana dari luar negeri.

Belum lagi sekian banyak pihak yang bersedia menjadi donatur. Hal yang membuat saya terkesan adalah pihak Samudera (Insan Muda Bersaudara) yang bersedia bekerja sama dengan kami. Padahal mereka tidak mengenal kami sama sekali! Sesuatu yang sangat luar biasa!

Hal yang membuat menarik adalah kejadian pada hari Jumat, 12 November 2010. Ketika itu, Ronny mengatakan kepada saya bahwa ada baiknya saya ikut dalam proses pembelian di Jakarta. Saya sempat mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa pergi.

Setelah saya pikir-pikir lagi, saya beranikan diri untuk pergi. Karena memang untuk menuliskan sesuatu, paling mudah dan terasa ‘rohnya’ itu kalau memang mengalami sendiri. Jadi saya putuskan untuk pergi. Saya langsung pergi ke Stasiun Bandung untuk membeli tiket pulang pergi.

Alasan saya tidak bisa pergi karena saya sebenarnya menguatirkan kedua orang tua saya. Saya ini adalah anak bungsu. Kedua orang tua saya sangat sayang pada saya. Begitu sayangnya mereka pada saya, mereka terutama ibu saya itu setengah ‘memingit saya’.

Jadi kalau Anda mengenal saya, Anda akan tahu bahwa saya tidak boleh keluar rumah malam-malam kalau tidak ada yang mengantar dan menjemput. Saya tidak boleh sering-sering pergi ke luar rumah. Kalau pukul 5 sore saya belum pulang, ibu saya akan menelpon saya. Pergi ke luar kota untuk membeli logistik sumbangan korban Merapi, sudah pasti akan menimbulkan masalah besar. Itu sebabnya saya nekad saja untuk langsung membeli tiket tersebut.

Ternyata setelah saya beritahukan kepada ayah saya, tidak ada masalah. Ibu saya juga ternyata tidak ada masalah dengan hal itu. Padahal sekian tahun lalu saya sampai keluar dari pelayanan saya di gereja sebagai salah satu pemimpin kelompok sel karena orang tua saya keberatan saya melayani di gereja.

Sungguh perubahan yang drastis sekali! Benar-benar jika memang Tuhan yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu, kita bisa mengharapkan hal-hal yang di luar dugaan itu terjadi! Puji Tuhan.

Saya dan Norma banyak sekali berdiskusi mengenai mekanisme pengiriman bantuan, pemilihan supplier, kerja sama dan koordinasi dengan Rio di posko pengungsian. Setiap malam Norma menelpon Rio untuk mengetahui perkembangan di sana. Setiap malam juga saya dan Norma menghabiskan waktu untuk berdiskusi mengenai donasi yang masuk dan proses yang akan kami jalani.

Lalu saya mendapat ide untuk menamakan program ini sebagai “Dari Hati untuk Merapi” (“From the Heart to Merapi”) karena lebih mudah untuk mempromosikan sesuatu jika kami mempunyai nama untuk program itu. Nama itu saya pilih karena memang program ini tidak mengatasnamakan agama atau lembaga tertentu.

Alasan kami sebenarnya sederhana karena kami ingin menolong meringankan beban para pengungsi di posko pengungsian. Saya juga berpikir bahwa penggunaan atas nama agama atau lembaga tertentu akan membuat konflik kepentingan yang tidak sepatutnya terjadi. Kalau ingin menolong, ya menolong saja. Tidak perlu pakai embel-embel lainnya.

“Dari Hati untuk Merapi” (“From the Heart to Merapi” merupakan nama yang memiliki tiga arti. Pertama nama ini adalah bukti kepedulian yang lahir dari hati kami. Kedua nama ini merupakan symbol karena begitu banyak hati orang yang tergerak untuk bergabung dalam program ini. Bukan hanya donatur, tapi juga orang-orang yang mendukung kami lewat dukungan moral dan doa. Mereka semua ini saya kategorikan sebagai “All Friends’-nya “Merapi Puff Girl”.

All friends dari “From the Heart to Merapi” berasal dari berbagai tempat di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri (Australia, Singapura, dan Hongkong). Inilah symbol bahwa kami menggabungkan hati kami dari berbagai tempat untuk satu tempat: Merapi, Indonesia.

Arti ketiga dari nama ini adalah bahwa inilah simbol “Bhinneka Tunggal Ika” atau “Berbeda-beda tapi satu”. Ya, kami dengan latar belakang yang berbeda-beda, melalui program ini kami semua bersatu dengan satu sebab dan satu tujuan: meringankan beban para korban bencana alam Merapi.

Kesatuan ini sungguh indah karena bahkan orang-orang yang belum mengenal, belum pernah bertemu, dan bahkan seharusnya bisa dipisahkan oleh perbedaan-perbedaan yang ada, dapat saling bergandengan tangan untuk mencapai tujuan yang sama. “From the Heart to Merapi” sungguh merupakan perwujudan dari sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali!

Berikut ini saya akan menuliskan pengalaman saya bersama MPG ketika membeli sejumlah logistik di Jakarta:

Sabtu 13 November 2010.
Pukul 4 subuh, hujan deras turun. Saya berdoa supaya hujan berhenti. Ketika pukul 5 saya bersiap-siap untuk pergi dan berangkat pada pukul 5.30, saya akhirnya sampai di Stasiun Bandung pukul 05.45. Puji Tuhan, hujan sudah reda saat itu, hanya tinggal gerimis kecil saja. Saya diantar oleh kedua orang tua saya.

Saya berada di dalam kereta pukul 05.50 dan berangkat pukul 06.30. Pukul 10.20 saya sampai di Stasiun Gambir, Jakarta. Norma dan Widy (kakak Norma) sudah siap di sana untuk menjemput saya. Karena saya tidak turun di gerbang utama, akhirnya Norma meminta saya menunggu di tempat saya saat itu berada.

Pertemuan pertama saya dengan Norma dan Widy saat itu terasa langsung akrab. Dengan Norma memang tidak heran, karena saya mengenal dia sekitar 1,5 tahun sebelumnya. Dengan Widy saya baru kali itu bertemu, tapi kami terasa langsung akrab.

Dari sana kami menggunakan bajaj untuk pergi ke Pasar Grosir Jatinegara (PGJ). Saya belum pernah naik bajaj, jadi itulah pertama kali saya naik bajaj! Hahaha, ndeso ya? Saya juga belum pernah ke Pasar Grosir Jatinegara. “From the Heart to Merapi” ini sungguh-sungguh memberikan petualangan baru bagi saya.

Pukul 10.45 kami tiba di Pasar Grosir Jatinegara dan membeli pakaian dalam untuk pria dan wanita. Ternyata Widy sangat mahir melakukan tawar-menawar harga! Saya sempat terpesona dan akhirnya mulai ikut-ikutan menawar juga hahahaha.

Lalu Lily (kakak Norma) dan Yeri (suami Lily) datang. Lily juga ternyata mahir menawar. Wah wah wah, benar-benar kami tim yang sangat lengkap! Kami menitipkan barang yang kami beli tersebut di toko tersebut karena terlalu berat untuk kami bawa-bawa.

Pukul 11.45 kami makan siang. Baso yang kami jadikan makan siang saat itu sungguh terasa nikmat sekali!

Pukul 12.45 kami berangkat ke Pasar Gembrong untuk membeli mainan anak. Sepuluh menit kemudian kami sampai dan tawar-menawar kembali dimulai. Ada beberapa kesempatan yang membuat saya sangat geli karena penjual mainan juga sampai akhirnya menawar-nawar supaya mainan jualannya tidak ditawar terlalu rendah.

Pukul 14.00 kami pun setelah selesai berbelanja mainan anak, kami kembali ke PGJ untuk mengambil pakaian yang dalam yang sudah kami beli. Saat itu hujan turun dengan lebat, tapi justru hujan itu membuat udara jadi tidak panas.

Pukul 14.35 kami setelah sampai dan selesai mengambil barang, kami menunggu kedatangan Mbak Tutut untuk mengangkut barang-barang yang kami beli dan juga mengantarkan saya kembali ke Stasiun Gambir.

Pukul 15.00 kami sampai di Stasiun Gambir dan karena keberangkatan saya pukul 16.15, kami berfoto-foto dulu sampai pukul 15.30. Setelah mengucapkan salam perpisahan, MPG pun berpisah dan saya pukul 15.45 masuk ke dalam kereta dan kereta berangkat ke Bandung pukul 16.15.

Saya sampai di Stasiun Bandung pukul 19.50. Badan terasa lelah bukan main. Mata terasa mengantuk sekali. Hanya saja hati saya terasa senang sekali karena menghabiskan waktu bersama teman-teman yang luar biasa untuk suatu tujuan bersama.

Cerita Norma dan Widy ketika mengunjungi posko-posko pengungsian dapat dibaca dalam artikel sebelumnya, yaitu di sini.

Dalam kesempatan ini saya mewakili semua MPG mengucapkan terima kasih banyak untuk bantuan dari “All Friends” yang sudah mendukung kami dalam doa, daya, dan dana. Dalam waktu singkat , kita berhasil mengumpulkan Rp 10.137.100,00 (atau Rp 8.937.000,00 + Aud 100.00 + Sgd 50.00 + barang-barang lainnya).

Mengingat sisa saldo yang ada adalah sebesar Rp 337.102,00, saya dan Norma sudah berunding dan kami sepakat bahwa tahap II “From the Heart to Merapi” akan segera dibuka. Selain itu juga, Norma mendapatkan informasi mengenai banyaknya posko-posko yang masih terisolasi dan belum mendapatkan bantuan.

Informasi tentang tahap II ini dapat dibaca di sini.

“Satu orang yang bergerak secara efektif bisa membuat perbedaan besar, tetapi bersama-sama kita bisa mengubah dunia”.

Tuhan memberkati.

English Version:
It was all started from November 6, 2010 at 06:52:59 am. A message from my instant messenger was as following:

“My beloved friends, for all of you who want to distribute your donation to the victims of Merapi, I am moved to gather the donation. Since my cousin in the refugee camp told me that they need masks, blankets, tampons, pampers, etc. Until now there are only limited amount of help. Next week I will send the first phase donation there. For all of you who want to participate, please transfer to Bca cab kcp wisma indocement a/n tutut nurmayanti 4591216907. Don’t forget to send BBM (Black Berry Message)/sms (text message) after that so that I can make the list. Thanks. God bless!”

It was the message I receive from Norma. Yes, my friend’s name is actually Norma, but I purposefully publicized her name as “Nurma” since was her name in her birth certificate. I used “Nurma” instead of “Norma” to avoid unsubstantial question hahaha. From now on, I will publicized her name as her real name: Norma.

Norma’s heart was moved to help the victims of the Merapi’s eruption. She was moved after her cousin, Rio, which was in the refugee camp as volunteer, told her the pitiful condition there.

When I read the message, my heart was moved too to promote this thing. So, everything started from a short message that came from Norma’s heart.

From a short message, we later followed it up with long discussion in instant messenger every day. In our countless hours of discussion, finally we could form the job description for each of us.

My job descriptions are to promote, to write the whole story, the financial report, and the photos, and also audit Norma’s account. While Norma accompany with her sisters promote, report the amount of donation, audit her account with me, tell me all of information regarding the condition in refugee camp, and especially the operational things: from contacting her cousin (Rio) to know the last condition there, the logistics needs, contacting various organizations: from donators, suppliers, volunteers in some refugee camps, buying the needed logistics, sending and distributing the logistics.

We can say that God worked amazingly to make us together in this movement. I know Norma maybe approximately 1.5 years ago through a Christian forum in internet. I have never met her before but Norma once shared a thing to me and that was the first time connecting us.

The last time, Norma shared about another thing to me. I also liked sharing with her. Since my ministries use internet a lot, I am get use to analyze someone from his/her writing. From his/her writing style, I can guess his/her habit. From the contents of his/her writing, I can guess the character of the person.

My intuition told me that I could trust Norma and that she was so sincere. Praise God! My intuition is correct! I really enjoy cooperate with her in the donation gathering for the victims of Merapi this time!
She is proved to be a very swift, honest, and detail person. She is also dependable and very patient. She can understand me very well. I was once worried that she would get offended since I was get used to lead everything directly without sweet words at all. Praise God, she can understand it very well.

Later I got an idea to call us as “Merapi Puff Girls and All Friend (MPG&AF)”. This idea suddenly came since I thought that I would write all of these and it would be too long to write all of our names. Suddenly I remembered of super heroes character “Power Puff Girls” which I once watched in TV.

Power Puff Girls are only ordinary girls. However, when they received power, they are changed into super heroes who guard the world from evil ones. I don’t understand why suddenly I could remember of those characters. When I contemplated, we are only ordinary females. However, when God moved us, as if power are given to us to do something we have never done before!

Yes, the donation gathering was the first time we did together. From November 6, 2010, we agreed to promote about this donation gathering vastly. I did the promotion on my facebook, blog, twitter, instant messenger, through text messages, in my church, and in my workplace. Norma did the same thing, except in the blog.

MPG consists of Norma, I, and three of Norma’s sister: Widy, Lily, and Mbak Tutut. While All Friends who helped us are Yeri (Lily’s husband), Rio (Norma’s cousin), Ronny (my friend in Australia), Ci July (my sister), Andi (a volunteer in refugee camps), dan all donators. Widy accompanied Norma to send the logistics and visited the refugee camps. They even asked day-off permission from work to do it! You can imagine how great their sacrificing to relieve the burdens of our people in the refugee camps.

Lily and Yeri actually wanted to come too, but they didn’t get the day-off permission from their company. Tutut’s family (Norma’s family) hand in hand cooperated in every operational aspects! Mbak Tutut became the photographer and drove the vehicle to transport us! What an awesome family!

Rio (Norma’s cousin) is volunteer in a refugee camps. He was the one who connected and became the first reason this program formed. His job description was to receive the logistics we sent and to manage the transportation while Norma and Lily were there. Rio also connected us with other refugee camps and finally made us connecting with other volunteer: Andi. Andi helped us in distributing the logistics since there was only a very limited time left to distribute those directly.

Ronny (my friend) helped me with ideas to make the summary of the plan of activities we would carry on. He also helped me when my blog was down at November 10, 2010. While Ci July (my sister) gave permission to use her PayPal to be used for receiving the abroad donation.

There were also so many people who gave themselves as donators. What made me impress most is an organization named Samudera (Insan Muda Bersaudara) who was willing to cooperate with us. They didn’t know us at all! What a great trust and cooperation!

I still remember an interesting thing happened on Friday, at November 12, 2010. At that time, Ronny told me that if I went to Jakarta in buying logistics it would be great. I told him that I couldn’t go.

After I re-thought about it, I pushed myself to go. Since when writing something, it would be easier when I experienced it by myself. So I decided to go. I directly went to Bandung Station to buy two-ways tickets.

The reason why I couldn’t go at first was my parents. I am the youngest in my family. My parents love me dearly. They, especially my mother, love me so much, so they did a very tight restriction to me.

If you know me, you will find out that I am not allowed to go outside at night if none drives me home. I am not allowed to go outside frequently. If I haven’t returned home at 5 pm, my mom will call me. Going to other city to buy logistic for the donation of the victims of Merapi, surely would be a very huge problem! That is why I pushed myself to directly buy the tickets.

After I told it to my father, there was no problem! My mother also had no problem with that. While few years ago, I was out from my ministry in my old church as one of leaders of cell-group since my parents were not happy by my ministry in church.

What a drastic changing! It is true that if it is God who moved us to do something, we can expect something happened beyond our imagination! Praise God!

Norma and I had plenty of discussions about the logistics sending mechanism, the choosing of suppliers, the cooperation and coordination with Rio in refugee camps. Every night Norma called Rio to know the last progress there. Every night Norma and I spent hours to discuss about the donation we received and the process we would do.

Then I had an idea to name this program as “Dari Hati untuk Merapi” (in Indonesian) or “From the Heart to Merapi” (in English) since there would be easier to promote something if we had a name for the program. The name I picked since this program was not under a religion or an organization.

Our reason was simple since we only want to relieve the burdens of people in the refugee camps. I also thought that the name of a religion or an organization would make a conflict of interest. If you want to help others, just do it. It is not necessarily using others symbols.

“From the Heart to Merapi” is a name that has three meaning. Firstly, it is as a proof of our concern born from our heart. Secondly, it is as symbol since there were so many hearts moved to join in this program. Not only donators, but there were so many people who supported us morally and prayerfully. All of they I categorized as “All Friends’ (AF) of “Merapi Puff Girl” (MPG).

AF of “From the Heart to Merapi” came from all over places in Indonesia, even abroad (Australia, Singapore, and Hongkong). This is the symbol that we united our heart from all over places to a place: Merapi, Indonesia.

Thirdly, it is the symbol of “Bhinneka Tunggal Ika” (motto of Indonesia) or “Unity in diversity”. Yes, we came from different background, but through this program all of us united. We did it for a reason and a purpose only: to relieve the burdens of the victims of Merapi.

This unity was so lovely since even people who even haven’t met yet, haven’t known yet, even they actually could be separated by differences, could be together, hand in hand to fulfill the same purpose. “From the Heart to Merapi” was a fulfillment of what I didn’t imagine at all!

Below I would write my experience with MPG while buying the logistics in Jakarta, Indonesia:

Saturday, November 13, 2010.
It was at 4 am. It was heavy rain. I prayed that it would stop. At 5 am, I prepared myself to go and leave at 5.30 am. I arrived at Bandung Station at 5.45 am. Praise God, the heavy rain stopped, only a very tiny rain was left. My parents drove me to the station.

I was on the train at 05.50 am. Later the train left at 06.30 am. At 10.20 am I arrived at Gambir Station, Jakarta. Norma and Widy (Norma’s sister) were already there to pick me up. Since I didn’t go in the main gate, finally Norma asked me to wait where I was.

My first meeting with Norma and Widy at that time, I felt a closeness directly. With Norma I don’t wonder since I have known her for 1.5 years although I haven’t met her yet. With Widy, I have just known and met her, but I felt so close to her directly.

From Gambir Station, we used bajaj to go to Jatinegara Wholesaler Market (PGJ). I have never been in bajaj before, so it was the first time for me to be in bajaj LOL!!!! I have never visited PGJ either. “From the Heart to Merapi” truly gave me a new adventure!

At 10.45 am we arrived at PGJ and bought men’s and women’s underwears. Widy was so great in bargaining! I was so amazed and finally I followed her too to bargain the underwears, LOL!!!!

Later Lily (another Norma’s sister) and Yeri (Lily’s husband) came. Lily was also great in bargaining! What a complete team! We put our buying in the store since it would be too heavy to be carried everywhere.

At 11.45 am we had lunch. The meat ball we ate was so delicious!

At 12.45 pm we went to Gembrong Market to buy children’s toys. 10 minutes later we arrived and the bargaining process started again LOL!!! There were several chances which made me really want to laugh since the seller of the toys bargained too for the goods were not bargained too low! LOL!!!

At 1.00 pm we finished buying the children’s toys and we returned to PGJ to pick up the underwears we had bought. At that time, it was heavy rain, but it made the weather cooler.

At 2.35 pm after finished picking up the goods, we were waiting for Mbak Tutut to pick up our buying and to transport me back to Gambir Station.

At 3.00 pm we arrived at Gambir Station. Since my arrival was at 4.15 pm, we took pictures first until 3.30 pm. After saying good bye, I entered the train at 3.45 pm. The train departed to Bandung at 4.15 pm.

I arrived at Bandung Station at 7.50 pm. I felt so tired and sleepy! However, I felt so happy since I could spend time with extraordinary friends for our purpose.

Norma and Widy’s story when they visited the refugee camps can be read here.

In this opportunity, I represented all of MPG want to say many thanks to AF for supported us in prayer, thoughts, and donation. In a very short time, we successfully managed to gather IDR 10,137,100.00 + miscellaneous good (or IDR 8,937,000.00 + Aud 100.00 + Sgd 50.00 + miscellaneous goods).

Considering the balance of IDR 337,102.00 left, Norma and I had discussed and we agreed to open the second phase (the final phase) of “From the Heart to Merapi”. Besides, Norma had information about the isolated refugee camps that hadn’t received any help at all!

Information about the second (final) phase can be read here.

“A man who moves effectively can make a huge difference, but together we can change the world!”

God bless.

Comments on: "Adventure of “From the Heart to Merapi”" (2)

  1. Very nice information,I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work Look forward to reading more from you in the future.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: