All for Glory of Jesus Christ

Religiusitas vs Spritualitas

Sebenarnya sudah dari berminggu-minggu yang lalu saya ingin menuliskan hal ini, tetapi apa daya saya tidak mempunyai cukup waktu untuk menuliskannya. Sebenarnya saya sekarang ini juga mempunyai hal lain untuk saya kerjakan, tetapi saya merasa harus menuliskannya sekarang dan tidak menunda-nundanya lagi saat saya mempunyai cukup waktu.

Dalam satu dekade terakhir saya banyak sekali menjumpai pria religius dalam kehidupan saya. Saya tidak mengerti alasannya tetapi sejumlah (kalau tidak mau disebutkan banyak sekali) pria yang saya rasa menyukai saya menunjukkan tanda-tanda religiusitas yang tinggi.

Religiusitas itu ditandai dengan mengucapkan ayat-ayat dari Alkitab dengan sangat fasih termasuk dengan memberitahu dari kitab dan dari nomor bab, pasal, dan ayatnya. Belum lagi ditandai dengan sapaan-sapaan yang sifatnya religius. Lebih lagi diselipkan dengan jargon-jargon rohani di banyak sekali percakapan.

Luar biasa bukan? Ya, sangat religius. Hanya saja hal itu bukannya membuat saya terkesan, malah membuat saya merinding. Ya, saya jadi sangat ngeri menghadapi pria-pria semacam itu.

Saya bukannya anti pada pria yang hafal dan fasih dengan pendalaman Alkitabnya. Saya juga tidak menentang penggunaan sapaan-sapaan atau jargon-jargon yang sifatnya rohani. Sama sekali tidak, jadi jangan salah paham.

Hanya saja, saya dapat merasakan dan membedakan hal yang sifatnya murni dan palsu. Religiusitas itu sama sekali tidak menarik bagi saya karena biasanya merupakan sepuhan alias palsu.

Seseorang yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan tidak perlu menunjukkan atribut keagamaan atau religiusitasnya di depan orang-orang untuk menunjukkan dia adalah pengikut Kristus. Ia juga tidak akan menggunakan hal itu untuk membuat orang lain terkesan. Karena sesungguhnya religiusitas itu hanyalah kosong belaka, itu sebabnya Tuhan Yesus bahkan mengecam dengan keras para ahli Taurat dan orang Farisi yang menunjukkan religiusitasnya di depan orang-orang demi membuat orang lain terkesan:

“(Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)” (Matius 23:14)

Sesungguhnya saat seseorang menunjukkan religiusitasnya sedemikian rupa di hadapan orang lain, ia sedang berupaya menipu, baik orang lain maupun diri sendiri. Cukup banyak (kalau tidak mau disebutkan sangat banyak) orang yang terlihat religius di permukaan tetapi ternyata menjadi batu sandungan di mana-mana.

Ada sejumlah orang yang menyebut nama Tuhan di dalam setiap percakapannya tapi hidupnya sungguh-sungguh menjadi cibiran bagi orang lain. Ada sejumlah orang yang menyebut diri sebagai predikat hamba Tuhan ini dan itu, tapi menipu di mana-mana. Ada sejumlah orang yang bahkan bersin pun begitu kudus karena menyebutkan jargon-jargon yang religius tapi ternyata hidup sehari-harinya begitu tidak kudus karena tidak bisa (tidak mau) membedakan yang benar dengan yang salah.

Saya tidak memiliki kepahitan dengan hamba Tuhan manapun. Juga saya tidak mengalami pengalaman pahit berkaitan dengan orang dengan tingkat religiusitas tertentu. Hanya saja saya merasa terdorong untuk menuliskan hal ini.

Itu sebabnya dalam Alkitab tidak heran timbul perkataan seperti ini:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 7:21)

dan bahkan lebih keras lagi, Tuhan berkata demikian pada orang dengan religiusitas semu:

“Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23)

Karena sesungguhnya Tuhan melihat sampai ke kedalaman hati, Ia tahu benar isi hati seseorang. Penampakan dan hal-hal yang ada di permukaan akan dengan mudah gugur di hadapan-Nya. Hal yang tersisa hanyalah hal-hal yang ada di dalam.

Spiritualitas adalah hal yang berkenan di mata Tuhan, bukan religiusitas. Spiritualitas itu berada dalam hati dan terpancar ke luar. Orang yang spiritualitasnya itu baik akan terlihat dan terasa dengan sangat jelas. Ia tidak perlu mengucapkan jargon-jargon keagamaan apapun, tidak perlu mengutip ayat-ayat apapun, bahkan tidak perlu mengucapkan apapun sudah terasa bahwa ia adalah orang benar.

Orang yang spiritualitasnya tinggi bahkan mungkin sama sekali tidak terkesan religius. Ia mungkin bahkan terkesan sangat “duniawi” dalam arti ia tidak membatasi diri untuk ekslusif dalam tembok-tembok gereja. Dalam berbicara bahkan mungkin juga tidak pernah menyelipkan kitab, pasal, dan ayat atau jargon-jargon kerohanian apapun. Hanya saja setiap hal yang dikatakannya memang sungguh bersumber dari Firman Tuhan dan lebih penting lagi semua yang dikatakannya itu sungguh dilakukannya.

Ada begitu banyak orang yang kecewa bahkan sangat pahit dengan kekristenan karena melihat hidup orang Kristen yang sama sekali tidak Kristen. Kristen artinya adalah menyerupai Kristus, seperti Kristus, Kristus-kristus kecil. Ketika kita memposisikan dan menyebut diri sebagai orang Kristen, adalah panggilan kita untuk hidup sejalan dengan status yang kita sandang itu.

Bahkan seorang tokoh besar Mahatma Gandhi pun pernah sangat berminat dengan kekristenan karena melihat ajaran dan figur Tuhan Yesus yang sangat luar biasa spiritualitasnya. Hanya saja sayangnya Mahatma Gandhi urung menjadi pengikut Kristus karena ia melihat ada begitu banyak orang yang mengaku sebagai Kristen tapi hidupnya sama sekali tidak seperti Kristus. Ini adalah tamparan yang sangat keras bagi kita untuk berintrospeksi.

Besar sekali tanggung jawab kita saat kita berani menyebut diri sebagai orang Kristen. Karena pada dasarnya, menjadi orang Kristen itu bukanlah hanya dalam status religiusitas semata, tapi haruslah merupakan gaya hidup spiritualitas dari saat bangun sampai saat tidur! Saat kita berkata-kata, saat kita bertindak, saat kita berpikir, saat kita ingin melakukan sesuatu, itu semua haruslah mencerminkan Kristus!

Berat? Ya, kalau kita menggunakan kekuatan sendiri. Hanya saja Kristus telah menjanjikan Roh Kudus untuk tinggal dalam setiap kita yang mau menerima diri-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita. Dengan adanya Roh Kudus di dalam kita, kita akan sanggup untuk menanggung segala perkara, sekaligus untuk tetap mempertahankan integritas kita sebagai orang-orang yang menyerupai Kristus, dalam spirtualitas yang benar.

Doaku hari ini: Tuhan, terima kasih untuk doronganmu bagiku untuk menuliskan hal ini. Sungguh menjadi suatu beban bagiku ketika belum menuliskan hal ini karena begitu sedikitnya waktu yang ada. Setelah aku menuliskannya aku merasa sangat lega. Karena aku tahu, inilah kerinduan-Mu supaya kami semua anak-anak-Mu hidup benar di hadapan-Mu.

Bukan religiusitas semu yang Engkau ingin temukan dalam hati dan hidup kami, tapi spiritualitas yang mencerminkan Engkau bagi setiap orang yang kami jumpai setiap hari. Tuhan, hal yang menjadi kerinduan-Mu, itu juga kerinduan kami. Biarlah kami mengambil keputusan setiap hari untuk menjadi seperti Engkau, Tuhan. Menjadi orang-orang yang hidup dalam spiritualitas, bukan dalam religiusitas karena Engkau sangat membenci kemunafikan, apalagi yang berkedokkan agamawi.

Tuhan, pimpin kami setiap hari dan setiap saat untuk sungguh-sungguh hidup serius dalam kebenaran-Mu. Jangan sampai kami kompromi dengan keadaan atau masalah sehingga membuat kami harus menyeleweng dari panggilan kami yang semula untuk menjadi garam dan terang, untuk memuliakan Engkau.

Kalau selama ini hidup kami tidak sesuai dengan kehendak-Mu, ampuni kami Tuhan. Biarlah kami mulai saat ini mengambil keputusan dengan sungguh-sungguh untuk hidup seturut dengan kehendak-Mu, dalam kebenaran-Mu.

Bantulah kami untuk tidak mencari perkenanan dari manusia, tetapi biarlah kami hanya mencari perkenanan-Mu semata. Karena kami tahu saat kami berkenan di hadapan Engkau, saat kami hidup benar di hadapan Engkau, saat kami hidup dalam spiritualitas; kami juga akan berkenan di mata manusia.

Kalaupun ada orang yang akan mencobai, mengejek, mencemooh kami karena kami ingin melakukan yang benar, biarlah itu menjadi salib kami, Tuhan. Karena saat kami dicobai, diejek, dan dicemooh karena Engkau, itulah kebanggaan bagi kami. Itu berarti Engkau mengizinkan kami untuk masuk ke dalam dimensi yang lebih tinggi, untuk menderita dalam nama-Mu.

Sesungguhnya segala sesuatu yang Kau izinkan dalam hidup kami itulah kebaikan semata bagi kami. Kami bersyukur untuk setiap rencana-Mu yang indah dalam hidup kami. Kami tidak mau kompromi untuk setiap nilai-nilai kebenaran-Mu, Tuhan. Biarlah hidup kami ini sungguh menjadi hidup yang menyukakan hati-Mu, karena itulah alasan kami hidup.

Lebih dari apapun, lebih dari tembok-tembok keagamaan, lebih dari lembaga-lembaga gerejawi, kami hanya ingin mengikut Engkau sepenuhnya, Tuhan. Lembaga dan agama hanyalah bentuk formalisasi dari kepercayaan dan iman kami kepada-Mu, tapi lebih dari itu biarlah hidup dan hati kami sungguh-sungguh terarah kepada-Mu, karena Engkaulah Guru, Raja, Tuhan, Sahabat, dan Juru Selamat kami sampai selama-lamanya.

Terima kasih, Tuhan, buat setiap hal yang Tuhan tanamkan dalam hati kami. Bantu kami untuk senantiasa bertumbuh menjadi semakin indah dan semakin menyerupai Engkau dari hari ke hari. Pangkas setiap hama dan benalu yang menempel di dalam hidup kami. Buat kami menjadi orang-orang yang rendah hati dan mau diajar dalam kebenaran-Mu. Terima kasih, Yesus.

Amin.

Iklan

Comments on: "Religiusitas vs Spritualitas" (2)

  1. bagus sekali pak..
    spiritualitas yang benar buat saya pribadi adalah pencarian dan penghayatan dari religiusitas itu sendiri,..saya pribadi tidak bisa menemukan spiritualitas tanpa agama karena buat saya itu tidak lebih dari pencarian terhadap jati diri..pencarian semu..sekalipun tanpa agama saya menemukan Tuhan,tidak lebih daripada Tuhan hasil imajinasi saya..sebagai kristen harusnya kita menemukan spiritualitas kristen didalam kerangka iman kristen yang absolut dan bukan relatif dan absurd..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: