All for Glory of Jesus Christ

Beginilah jadinya jika ada begitu banyak ide untuk ditulis tetapi begitu sedikit waktu untuk melakukannya. Ada banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan, tapi setiap kali ingin menuliskannya, hal itu bersaing dengan kepentingan lain yang lebih mendesak saat itu. Ah, saya merasa agak frustasi karenanya.

Kelihatannya kalau saya bisa memiliki waktu yang cukup untuk menulis setiap kali saya ingin menulis, itu adalah hal yang sangat indah. Hanya saja, memang saya kelihatannya harus mencari sela-sela waktu untuk tetap dapat menulis di tengah segala kesibukan yang Anda.

Sudah beberapa hari ini saya ingin menuliskan topik ini, tetapi selalu tertunda terus. Kemarin siang terjadi sesuatu yang membuat saya terdorong sekali untuk menuliskan hal ini.

Jadi topik utama hari ini adalah mengenai mengasihi orang yang tidak “layak” untuk dikasihi. Sementara sub topiknya adalah mengenai rasisme dan nasionalisme.

Kemarin siang saya pulang dari tempat kerja saya. Saya seperti biasa menaiki kendaraan umum (angkot) untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan saya melamun dan ternyata satu per satu penumpang sudah mulai turun.

Kemudian saya dapati bahwa sang supir bertanya kepada saya:

“Masih kuliah atau kerja, Neng?”

Saya terbengong-bengong lalu menjawab:

“Sudah kerja, Pak.”

Dalam hati saya tersenyum. Ah, saya sudah berpakaian begitu formalnya masih juga ditanya sudah kuliah atau kerja. Apa pula itu? Hahahahha. Beginilah jadinya jika umur saya tidak terlalu terlihat pada wajah saya hahahaha (narsis mode on).

Saya sendiri tidak mengerti tapi setiap orang yang baru bertemu saya, pasti mengira saya masih begitu muda. Padahal umur saya sudah memasuki kepala 3. Kadang-kadang saya ingin juga diperlakukan sesuai umur saya. Di satu sisi saya berpikir mungkin saya terlihat awet muda (puji Tuhan deh, kalau memang begitu hahahaha), tapi di sisi lain kadang-kadang saya agak risih diperlakukan sebagai orang yang umurnya di bawah umur yang sebenarnya.

Pembicaraan tidak berhenti sampai di situ. Kelihatannya saya satu-satunya penumpang yang masih tertinggal. Bapak itu bertanya lagi:

“Kerja di mana, Neng?”

Saya menjawab:

“Di xxxxx, Pak. Kuliah juga di sana dulu.”

Bapak itu menjawab lagi:

“Bagus kalau begitu, jadi ga jauh-jauh dari kuliah ke kerja di tempat yang sama.”

Tidak lama kemudian saya akan turun dan memberikan uang bayaran angkot tersebut. Ternyata Bapak itu meminta lebih. Saya lalu bersikeras. Saya katakan:

“Biasa juga Rp 2.000,00 kog, Pak.”

Lalu Bapak itu berkata:

“Oh ya sudah kalau biasa segitu.”

Anda tahu, saya sedih dan kecewa sekali saat itu. Ternyata pertanyaan yang diajukan itu hanya basa-basi untuk meluangkan waktu dan perlakuan terhadap saya ternyata masih tetap saja menuntut hal yang bukan haknya. Bukan masalah uang yang tidak seberapa, tapi masalah diperlakukan tidak adil itu yang sangat menyakitkan.

Saya pulang setiap hari menggunakan angkot dengan rute yang sama. Jadi saya tahu dengan sangat jelas ongkosnya. Saya sudah sangat sering diperlakukan tidak adil ketika supir-supir angkot memberikan kembalian yang jauh dari tarif semestinya.

Beberapa hari lalu, ada satu kejadian yang membuat saya sangat marah. Tarif angkot itu ketika saya turun di satu ruas jalan tertentu seharusnya paling mahal adalah Rp 2.500,00. Karena saya tidak memiliki uang pas, saya memberikan Rp 5.000,00.

Ternyata sang supir dengan terencana memberikan saya Rp 2.200,00 sebagai kembalian dan dengan cepat melaju tanpa saya sempat protes. Saya tahu dengan persis bahwa sang supir dengan sengaja melakukan hal itu.

Hanya karena kulit saya lebih terang dan mata saya lebih sipit dari rata-rata orang Indonesia, bukan berarti saya layak untuk diperlakukan seperti itu. Perlakuan itu bahkan sudah beberapa kali saya terima.

Bahkan suatu kali seorang pengamen melontarkan kata-kata sebutan dan ucapan yang bersifat merendahkan kepada saya karena saya tidak memberikan uang kepadanya. Beberapa orang yang iseng di jalan juga melakukan hal itu kepada saya. Padahal saya tidak melakukan apapun, hanya lewat di jalan itu.

Kalau saya melakukan suatu hal yang salah dan orang merendahkan saya, itu wajar. Karena setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya, setiap perbuatan itu ada ganjarannya, baik cepat atau lambat. Di dunia ini ada hukum tabur tuai. Orang yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan, sementara orang yang menabur kejahatan akan menuai juga kejahatan tersebut.

Kembali ke cerita saya sebelumnya, memangnya kenapa kalau kulit saya lebih terang? Memangnya kenapa kalau mata saya lebih sipit? Saya lahir, tumbuh, dan besar di Indonesia. Itu saja seharusnya membuat saya menjadi Bangsa Indonesia, menjadi warga negara Indonesia. Mengapa harus ada perlakuan yang berbeda?

Hanya karena kulit saya lebih terang dan mata saya lebih sipit, bukan berarti darah saya tidak semerah darah orang Indonesia kebanyakan. Hanya karena kulit saya lebih terang dan mata saya lebih sipit, bukan juga berarti tulang saya tidak seputih tulang orang Indonesia kebanyakan.

Apakah nasionalisme itu hanya diukur dari warna kulit dan bentuk mata? Kalau mau dibandingkan bisa jadi saya malah lebih nasionalis daripada orang Indonesia kebanyakan.

Apa ukuran nasionalisme itu? Apakah dari hadir ikut upacara setiap Senin? Apakah setiap 17 Agustus mengibarkan bendera merah putih? Apakah mengucapkan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober? Apakah hafal semua lagu nasional? Apakah hafal bunyi Pancasila?

Kalau itu saja ukuran nasionalisme, betapa sempitnya nasionalisme itu. Saya cinta negara saya. Saya lahir, tumbuh, dan besar di negara ini. Ini negara saya. Saya juga mengajarkan kesadaran akan rasa memiliki negara ini di salah satu kesempatan di kelas saya. Saat ini saya sedang mendidik para generasi penerus bangsa ini. Merekalah yang nantinya akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan untuk mengubah bangsa ini. Bahkan selama 7 tahun saya habiskan dalam kekurangan karena saya cinta untuk mengajar. Bagi saya itulah nasionalisme.

Kontribusi untuk membangun bangsa, itulah bagi saya nasionalisme. Bukan hanya kata-kata jargon kosong yang begitu indah dan enak dikatakan saja, bahkan begitu muluk-muluknya sampai tidak mungkin dilakukan. Tapi bentuk tindakan nyata untuk membangun negeri ini, itulah nasionalisme bagi saya.

Menghadapi begitu banyak orang yang menyakiti saya karena warna kulit dan bentuk mata saya yang berbeda dari rata-rata orang Indonesia umumnya, itu menyakitkan. Hanya saja saat menghadapi orang-orang yang tidak “layak” untuk dikasihi, apa yang dapat saya lakukan?

Bukan hanya masalah rasialisme, tapi ada begitu banyak hal lain yang bisa membuat kita merasa begitu sulitnya untuk mengasihi orang-orang yang tidak “layak” untuk dikasihi. Mengasihi orang-orang yang menipu kita, mengasihi orang-orang yang menusuk kita dari belakang setelah kita mendukung dan membantu mereka, mengasihi orang-orang yang membuat kita sangat menderita, itu sama sekali tidak mudah.

Mengasihi orang-orang yang tidak pernah berterima kasih dan hanya tahu menuntut, mengasihi orang-orang yang mencibir dan menilai kita salah, bahkan ketika kita melakukan hal yang benar, mengasihi orang-orang yang merendahkan dan menghina kita; itu tidak mudah. Mengasihi orang-orang yang mengkhianati kita, mengasihi orang-orang yang hanya ingin diperhatikan dan tidak mau memperhatikan, mengasihi orang-orang yang hanya ingin melimpahkan kesalahan dan tidak pernah mau bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri; itu tidak mudah.

Orang-orang terdekat kita memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi orang-orang yang tidak “layak” untuk dikasihi, karena merekalah yang memiliki pengaruh terbesar untuk menyakiti kita. Tetapi hari ini, sekali lagi kita diingatkan bahwa menjadi seorang Kristen bukanlah hanya dalam bentuk label agama. Menjadi seorang Kristen berarti menghidupi panggilan untuk menjadi total menyerupai Kristus, seperti Kristus, sama dengan Kristus.

Kalau kita mau melihat figur Yesus, Ia juga banyak sekali menemui orang-orang yang tidak “layak” untuk dikasihi. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang iri akan popularitas Yesus, memusuhi, memfitnah, dan bahkan berencana membunuh-Nya sudah jelas masuk kategori itu. Orang-orang di Yerusalem yang sebelumnya menyambut dan mengelu-elukan Dia sebagai Raja tapi belakangan malah berteriak meminta Tuhan Yesus untuk disalibkan, jelas masuk kategori itu.

Lebih dari itu, para murid-Nya – orang-orang yang selama 3 tahun hidup, tinggal, makan, diajar dan dibimbing oleh Yesus: Petrus yang sebelumnya mengatakan dan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Mesias (Sang Juru Selamat) ternyata pada saat Tuhan Yesus ditangkap dan akan disalibkan, ia malah menyangkal mengenal Yesus sebanyak 3x. Yudas malah lebih ekstrim lagi, menjual Yesus yang adalah Tuhan dan Gurunya untuk 30 keping uang perak. Yohanes, murid yang paling dikasihi Yesus, malah berdiri jauh-jauh ketika melihat Yesus disalib.

Kalau mau dipikir-pikir lebih jauh lagi, siapakah sebenarnya orang yang layak untuk dikasihi? Apakah kita layak untuk dikasihi? Apakah ukuran yang membuat seseorang layak untuk dikasihi?

Sebenarnya tidak ada satu orang pun yang layak untuk dikasihi. Mengapa demikian? Karena tidak pernah ada orang yang sempurna, kecuali Tuhan Yesus yang 100% manusia tapi 100% juga Allah. Well, berarti itu membuat diri-Nya di luar konteks pembicaraan.

Setiap orang berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, hanya karena anugerah dan karunia-Nya semata sajalah, maka kita, setiap orang yang tidak layak ini dilayakkan. Sesungguhnya tidak pernah ada orang yang layak dikasihi.

Kalau kita mengaku sebagai orang Kristen, sebagai pengikut Kristus, sebagai orang-orang yang menyerupai Kristus, jelas kita harus belajar dari yang Tuhan Yesus lakukan. Apa yang Dia lakukan kepada orang-orang yang tidak layak dikasihi itu?

Ia memberikan nyawa-Nya untuk setiap kita, orang-orang yang tidak layak itu. Kita yang berdosa, jahat, kotor, dan penuh dosa; itulah orang-orang yang Dia berikan nyawa-Nya. Tubuhnya dipaku karena kesalahan dan pelanggaran kita. Darah-Nya tercurah karena dosa-dosa dan pengkhianatan kita. Bagi setiap kita, orang-orang yang tidak layak ini, Ia rela menderita sengsara bahkan sampai mati supaya kita bisa hidup.

Bahkan bagi para prajurit yang mengolok-olok Dia dan yang bersuka cita di atas penderitaan-Nya, Ia tidak benci, Ia tidak dendam, bahkan Ia mengatakan:

“Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34a)

Bukan balas dendam, kebencian, dan kemarahan yang ada di dalam diri Yesus, melainkan belas kasihan. Kasih-Nya begitu besar, sehingga bukannya benci dan ingin membalas hal yang sudah Ia terima, tetapi Ia malah mengampuni orang-orang yang iri, memfitnah, mengolok-olok, bersukacita atas penderitaannya, membenci, mengkhianati, menusuk dari belakang, menjual, menyangkal, dan mengabaikan Dia.

”Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”. (1Yohanes 4:8)

Allah menyatakan diri-Nya sebagai kasih, terutama dalam diri Kristus yang rela mati untuk menebus dosa-dosa kita. Kasih-Nya tetap sama, baik dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Ketika kita berdosa, Ia mengasihi kita. Ketika kita menjadi anak-Nya yang baik, Ia mengasihi kita.

Tuhan mengatakan bahwa orang yang mengasihi Dia adalah orang-orang yang melakukan kehendak-Nya. Jika kita tidak mengasihi, berarti kita sedang menyangkal Kristus. Siapkah kita untuk mengasihi, bahkan orang-orang yang tidak “layak” untuk dikasihi sekalipun?

Doaku hari ini: Tuhan, terima kasih untuk setiap hal yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku. Segala hal itu adalah membawa kebaikan bagiku. Setiap masalah, penderitaan, perlakuan yang tidak adil, fitnah, pengkhianatan, penghinaan, dan perendahan diri yang Kau izinkan terjadi terhadap hidupku, itu semua menjaga aku untuk tetap rendah hati dan terus melihat kepada salib-Mu. Terima kasih untuk mempercayakan kepadaku salib untuk aku tanggung. Terima kasih untuk kehormatan untuk bisa menderita dalam nama-Mu.

Tuhan, bantu setiap kami untuk hidup meneladani Engkau dengan setia. Bantulah kami untuk menjadi orang-orang yang penuh kasih. Setiap orang yang kami jumpai, terutama orang-orang yang tidak “layak” kami kasihi, justru merupakan orang-orang yang sangat membutuhkan kasih. Biarlah kasih-Mu tercurah atas mereka lewat hidup kami.

Setiap hal dan orang yang menyakiti kami, kami serahkan kepada-Mu dan kami mau mengampuni, ya Tuhan. Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu hal yang mereka lakukan. Setiap orang yang menyakiti kami, mereka juga telah mengalami perlakuan yang menyakitkan juga sehingga mereka menjadi orang-orang yang luka. Biarlah kasih-Mu membalut luka mereka. Biarlah kasih-Mu membuat mereka menjadi sembuh.

Kasih-Mu adalah jawaban bagi setiap permasalahan kami. Apapun yang terjadi dalam hidup kami, biarlah kami hidup hanya karena kasih-Mu dan untuk membagikan kasih-Mu, terutama bagi mereka yang tidak “layak” untuk dikasihi, bagi mereka yang terluka. Biarlah lewat hidup kami, mereka dipulihkan. Biarlah lewat hidup kami, mereka mendapatkan jawaban.

Terima kasih, Tuhan Yesus, terutama karena kasih-Mu yang begitu besar bagi orang-orang yang tidak layak ini. Kami mau hidup meneladani Engkau dan menjadi seperti Engkau.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: