All for Glory of Jesus Christ

“Are You My Soul Mate?”

Bagi Anda yang masih lajang, pertanyaan ini mungkin adalah pertanyaan yang sering Anda pikirkan, tanyakan, dan doakan. Yah, itu juga pertanyaan yang saya suka tanyakan pada Tuhan.

Pertanyaan itu sudah saya tanyakan pada Tuhan sejak 10 tahun lalu. Masalah pasangan hidup ini memang masalah yang pelik bagi saya. Sering sekali yang terjadi adalah saat saya menyukai seseorang, eh orangnya tidak menyukai saya. Sebaliknya juga sering sekali terjadi, seseorang menyukai saya, eh saya tidak menyukai orang tersebut. Hahahaha, repot ya?

Masalah cinta memang rumit ahahhaha. Hal yang masih dapat membuat saya terheran-heran sendiri. Urusan cinta ini memang urusan yang paling banyak membuat salah paham.

Saya perhatikan laki-laki dalam urusan cinta ini lebih sensitif dibandingkan perempuan. Laki-laki secara umum itu lebih banyak yang memakai logika dibandingkan perasaan, sementara perempuan secara umum itu lebih banyak memakai perasaan dibandingkan logika.

Hanya saja untuk urusan cinta, hal yang terjadi itu terbalik. Tidak percaya? Saya sudah memperhatikan selama bertahun-tahun. Ada banyak laki-laki yang kalau sudah menyukai seseorang itu akal sehatnya jadi tidak bekerja dengan baik. Sementara banyak wanita herannya malah logikanya sangat berjalan dengan baik untuk urusan cinta ini. Saya juga heran sekali.

Jadi bersamaan dengan artikel ini saya ingin memberikan himbauan pada para pria supaya tetap memakai logika Anda baik-baik. Jangan hanya menggunakan perasaan dan melihat perempuan hanya dari paras dan fisiknya saja!

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.” (Amsal 31:30)

Apa gunanya istri molek dan cantik tapi tidak takut akan Tuhan? Nantinya Anda hanya akan menggunakan istri Anda sebagai pajangan saja.

Sebaliknya para wanita, saya juga ingin memberikan himbauan untuk tetap memakai perasaan Anda juga dan bukan hanya logika Anda. Jangan melihat pria hanya dari materinya saja!

“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1)

Apa gunanya suami yang kaya raya tapi tidak cinta Tuhan? Lebih baik mencari suami yang cinta Tuhan dan mengasihi Anda walaupun mungkin dia tidak kaya.

Memang idealnya adalah mencari istri itu yang molek, cantik, dan cinta Tuhan pula. Idealnya mencari suami itu yang mengasihi, kaya, dan cinta Tuhan. Saya sudah menuliskan hal ini dalam artikel “Mitos Cinta: Kecantikan dan Kemapanan”. Silakan mengacu ke sana untuk pembahasan lebih lengkapnya.

Para pria, harap jangan terlalu banyak memakai perasaan. Anda terbiasa memakai logika, jadi harap pakailah logika Anda lebih banyak dalam urusan cinta. Jangan kebanyakan geer alias gede rasa kalau seorang wanita itu bersikap ramah atau baik pada Anda!

Cek dulu betulkah dia memang bersikap ramah dan baik hanya pada diri Anda? Jangan-jangan dia bersikap ramah dan baik pada semua orang. Kalaupun ia hanya bersikap ramah dan baik pada diri Anda, tetap jangan mudah menyimpulkan bahwa dia menyukai Anda. Perhatikan dengan baik-baik responnya.

Para wanita, harap jangan terlalu banyak memakai logika. Anda terbiasa memakai perasaan, jadi harap pakailah perasaan Anda lebih banyak dalam urusan cinta. Jangan kebanyakan menebak-nebak alias menduga-duga kalau seorang pria itu bersikap ramah atau baik pada Anda!

Kalau Anda sudah terlalu banyak menebak-nebak, 50% kemungkinan Anda akan lebih mudah untuk jatuh cinta kepada pria tersebut. Karena wanita sebagai pihak yang menunggu, lebih masuk akal kalau Anda menunggu saja sang pria yang jatuh cinta dulu pada diri Anda.

Peran pria adalah sebagai pemimpin. Peran wanita adalah sebagai penolong. Itu sebabnya dalam hubungan antara lawan jenis juga berlaku demikian. Bukan berarti pria tidak boleh menjadi penolong dan wanita tidak boleh menjadi pemimpin. Bukan, sama sekali bukan begitu maksud saya.

Hanya saja dalam hubungan antara lawan jenis, kalau Anda sebagai wanita jangan coba-coba untuk membantu mendahului Tuhan mempercepat proses hubungan itu agar dapat terbentuk. Dalam arti jangan Anda yang menyatakan perasaan terlebih dahulu.

Sebaliknya kalau Anda sebagai pria, jangan coba-coba juga mengarahkan sang wanita untuk menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Peran Anda sebagai pemimpin yang harusnya mengutarakan perasaan terlebih dahulu dan bukannya menunggu sang wanita mengutarakan perasaannya.

Saat ini saya pun sedang berdoa dan menunggu pasangan hidup saya. Dalam proses sekian lama ini, saya mendapati bahwa menunggu pasangan hidup dibutuhkan kesabaran. Dulu saya kurang sabar dan akhirnya mendapati kegagalan demi kegagalan. Sekarang saya tidak mau gagal lagi.

Itu sebabnya saya lebih baik sabar menunggu, walaupun sabar menunggu itu relatif cukup menyiksa dalam prakteknya hahahaa. Beberapa minggu terakhir ini saya sedang banyak merenung mengenai masalah pasangan hidup. Saya sedang sungguh-sungguh berdoa untuk masalah yang satu ini.

Ini adalah masalah yang sangat penting karena menyangkut kehidupan saya seumur hidup saya di dunia. Saya berharap pasangan hidup saya adalah orang yang memiliki nilai-nilai yang sama. Jadi bukan sekedar seiman dan sepadan saja dalam hal kerohanian (itu sudah syarat yang sangat standar), tapi lebih jauh dari itu memiliki nilai-nilai yang sama juga, pemahaman yang sama, dan semangat yang sama.

Saya berharap pasangan hidup saya adalah orang yang dapat “berlari” bersama saya. Maksudnya adalah ia adalah orang yang akan menemani saya mencapai tujuan bersama. Saya juga terutama berharap pasangan hidup saya adalah orang yang berkarakter.

Karakter adalah harta yang paling berharga. Kerja keras, kejujuran, kesetiaan, kedewasaan, tanggung jawab, dan disiplin, adalah hal yang paling saya harapkan dalam diri pasangan hidup saya. Mengapa demikian? Karena sekarang ini saya tidak mencari kekasih lagi.

Saya tidak membutuhkan kekasih tapi calon suami. Itu sebabnya standar saya juga sudah bukan lagi standar romantis karena cinta. Kalau Anda mengikuti membaca blog saya dari awal sampai akhir, tentu Anda tahu bahwa saya sedang menyukai seseorang.

Permasalahannya adalah saya tidak mencari kekasih. Kalau saya mencari kekasih, cinta saja itu sudah cukup. Tapi sekarang saya mencari calon suami, itu sebabnya saya mencari seseorang yang sungguh-sungguh sesuai untuk bisa membantu saya memenuhi panggilan hidup yang Tuhan berikan pada saya dan juga orang yang saya dapat bantu untuk dapat memenuhi panggilan hidupnya.

Tahun lalu ketika saya berdoa untuk masalah berangkat ke Australia, saya merasa salah satu alasannya adalah mengenai pasangan hidup. Saya lalu meminta kepada Tuhan, kalau memang benar pasangan hidup saya ada di Australia supaya Tuhan tunjukkan kepada saya orangnya.

Malam itu juga ternyata saya bermimpi. Padahal saya sangat jarang bermimpi. Benar-benar saya jarang sekali bermimpi. Mimpi itu sangat jelas dan saya bertemu dengan beberapa orang di mimpi itu dan salah satunya dengan seseorang di Australia.

Melihat kenyataan sekarang ketika aplikasi beasiswa saya untuk kuliah ke Australia itu ditolak, saya sedikit banyak cukup kecil hati. Secara manusiawi, saya berpikir bagaimana caranya saya bisa mengenal pasangan hidup saya, kalau memang benar dia orangnya sementara aplikasi beasiswa saya ditolak?

Saya juga masih bergumul sungguh-sungguh untuk masalah yang satu ini, karena saya belum cukup yakin memang benar dia orangnya atau bukan. Ayah saya tanpa saya ceritakan, ternyata mendapat mimpi bahwa saya menikah dengan seseorang di Australia. Saya juga tidak tahu mimpi ayah saya itu adalah penglihatan dari Tuhan atau bukan.

Permasalahan pasangan hidup ini terlalu serius untuk diputuskan secara tergesa-gesa. Tetapi yang menguatkan saya adalah ketika saya bercerita masalah ini kepada sejumlah teman, saya mendapatkan jawaban yang sangat membantu saya. Ada 2 kelompok jawaban yang saya dapatkan:

  1. Untuk bersabar menunggu jawaban dan waktu Tuhan.
  2. Untuk mengambil keputusan yang tepat dan dengan kerangka waktu yang tertentu.

Saya pikir kedua jawaban ini sangat baik. Saya memang harus bersabar menunggu jawaban dan waktu Tuhan, tapi di lain pihak juga saya harus mengambil keputusan dengan kerangka waktu tertentu. Toh saya juga tidak bisa menunggu selamanya.

Saya sudah mendoakan masalah ini. Ternyata di sejumlah renungan yang berbeda, saya mendapatkan jawaban yang sama sehingga membuat saya tertegun. Ya, tinggal lihat saja hal yang akan Tuhan kerjakan berkaitan hal ini.

Tentu saya juga tidak duduk diam saja dan menunggu. Kalau Tuhan suruh saya melakukan sesuatu, jelas saya akan lakukan. Tapi di lain pihak, saya juga tidak akan membantu mendahului Tuhan dalam mengerjakan tugasnya. Karena saya tahu, Tuhan lebih tahu segala sesuatunya daripada saya.

Saya tidak tahu hasil akhirnya dan pasangan hidup saya nantinya. Hanya saja saya percaya, siapapun orangnya nanti, dialah orang terbaik bagi saya. Seperti sejumlah nubuatan dan doa yang diberikan oleh sejumlah orang:

”Orang yang sangat dikasihi dan mengasihi Tuhan. Orang yang nanti bersamanya saya akan menurunkan keturunan Ilahi. Orang yang terbaik.”

Kalau Anda saat ini sedang bergumul untuk masalah pasangan hidup, tetap percaya dan tetap bersabar dalam menantikan jawaban Tuhan. Bisa jadi jawaban Tuhan sudah di depan mata, tapi Anda belum sadar. Mintalah kepekaan dari-Nya untuk tahu orang yang terbaik untuk Anda.

Pasangan hidup ini memang berdasarkan keputusan Anda, tetapi Tuhan tahu yang terbaik. Jangan sampai Anda melewatkan hal yang terbaik karena Anda tidak sabar menunggu atau karena Anda terlalu berfokus pada pemikiran Anda sendiri.

Libatkan Tuhan dalam permasalahan ini karena Ia sungguh ingin dilibatkan dalam seluruh aspek kehidupan Anda, apalagi dalam masalah pencarian pasangan hidup. Ingat bahwa hal yang terbaiklah yang Tuhan rencanakan bagi hidup Anda.

Doaku hari ini: Terima kasih, Tuhan untuk rasa cinta yang ada dalam hatiku, tapi juga kesadaran bahwa pasangan hidup terlalu serius untuk ditentukan hanya dengan cinta. Tuhan, tahun lalu aku sudah menyerahkan kunci hatiku kepada-Mu. Terserah pada-Mu, Tuhan, kepada siapapun Engkau mau menyerahkannya, aku akan taat.

Aku percaya bahwa Engkau tahu yang terbaik, bahwa orang yang kepadanya Kau akan serahkan kunci hatiku adalah orang yang sungguh-sungguh akan “berlari” bersamaku. Aku percaya bahwa dia adalah orang yang sungguh-sungguh memiliki nilai-nilai yang sama dan juga memiliki karakter yang kuat di dalam Engkau.

Tuhan, aku sudah menetapkan kerangka waktunya, kalau memang Tuhan berkehendak bahwa memang Engkau sudah pilihkan yang terbaik bagiku, maka aku akan bersabar menunggu. Tapi kalau ternyata bukan dia, berikan aku hikmat-Mu untuk bisa mengetahui hal itu.

Apapun yang terjadi, dalam proses penantian ini bantulah aku untuk tetap sabar menunggu dan tidak tergesa-gesa untuk mengambil keputusan. Bantulah aku untuk tetap berada dalam rencana-Mu yang sempurna, apapun harganya dan resikonya. Karena aku percaya, rencana-Mu sungguh adalah kebaikan semata. Biarlah pada akhirnya aku mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak-Mu, Tuhan.

Bagi setiap orang yang membaca artikel ini dan juga sedang berdoa dan bertanya untuk permasalahan yang sama, biarlah Engkau sendiri yang beracara dengan mereka masing-masing, ya, Tuhan. Bantu mereka untuk masuk dalam rencana-Mu yang sempurna dalam hidup mereka, termasuk dalam masalah pasangan hidup mereka ya, Tuhan.

Biarlah pada saat kami menemukan pasangan hidup kami, itu bukan demi kepentingan kami sendiri, tapi demi memuliakan nama-Mu dan membantu kami untuk mengerjakan panggilan hidup kami sampai tuntas pada akhirnya. Terima kasih, Tuhan, buat kasih-Mu yang terindah dalam hidup kami.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: