All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya berangkat ke Jakarta karena berbulan-bulan sebelumnya saya sudah berjanji dengan seorang teman saya, Novi, untuk berwisata kuliner mie di Jakarta. Lalu saya dapat ide untuk mengadakan gathering (bertemu dengan teman-teman).

Setelah saya bertanya pada Novi tentang lokasi yang paling dekat dengan Gambir, akhirnya dipilih Pasar Baru. Alasannya ada sejumlah mie yang terkenal enak di sana.

Memang yang terjadi itu awalnya saya salah membeli tiket. Jadi rencana awal itu seharusnya saya sampai di Jakarta pukul 10, ternyata saya malah membeli tiket yang berangkat pukul 10 hahhahah. Lebih ceroboh lagi saya membeli tiket pulang dengan kelas eksekutif. Jadi harganya lebih mahal 35 ribu dibandingkan kelas bisnis.

Tapi kemarin saya meminta mengganti jam keberangkatan saya menjadi lebih pagi, untungnya masih ada tempat duduk kosong. Itu sebabnya saya bisa tiba di Jakarta pukul 10 seperti rencana semula.

Jadi mulailah saya mempromosikan acara ini lewat facebook, sms, dan yahoo messenger. Ternyata pada hari ini saya bisa bertemu dengan 4 orang teman saya.

Pertama dengan Novi tentu saja yang memang menjadi alasan awal saya ke Jakarta. Novi bertempat tinggal di Tangerang. Hal yang luar biasanya karena orangtua Novi juga ingin berbelanja di Pasar Baru, saya juga bisa berjumpa dengan kedua orangtua Novi.

Mereka bahkan menjemput dan mengantarkan saya ke Pasar Baru. Setelah itu karena mereka harus menjemput anak mereka yang lain, mereka juga menawarkan mengantarkan saya ke Stasiun Gambir lagi. Luar biasa, saya sangat bersyukur karena bertemu orangtua Novi yang sangat ramah dan baik hati.

Setelah itu saya dan Novi memulai petualangan kuliner kami yang pertama. Karena Adjie sebelumnya memberitahu saya bahwa ia akan makan dulu di satu tempat tertentu, sebut saja A, saya dan Novi pun ke sana.

Ternyata Adjie sudah ada di sana. Adjie itu berdomisili di Bekasi. Kemudian sambil makan, kami mengobrol.

Lalu setelah dari tempat A, kami beralih ke tempat lain, sebut saja B. Di sana kami memulai petualangan kuliner babak dua. Di sana kami bertemu dengan Denny.

Denny bertempat tinggal di daerah Jakarta sebelah Timur. Kami mengobrol dan berkenalan satu dengan yang lainnya.

Dari sana kemudian kami pindah ke tempat berikutnya, sebut saja C. Di sana Novi harus segera pergi menjemput kakaknya bersama kedua orangtuanya. Tak lama pun Adjie juga harus pergi.

Lalu saya dan Denny melanjutkan petualangan kuliner di tempat C yang bagi saya adalah babak ketiga. Baru kemudian Yuli datang menyusul. Yuli berdomisili di Jakarta Utara.

Hal yang luar biasa adalah saya belum pernah bertemu dengan keempat teman saya ini. Begitu juga mereka semua. Saya mengenal mereka juga lewat cara yang berbeda-beda.

Dengan Novi saya berkenalan lewat teman kami berdua. Dengan Adjie saya berkenalan lewat satu forum Kristiani di internet. Dengan Denny saya berkenalan lewat artikel saya di satu website Kristiani di internet. Dengan Yuli saya berkenalan juga lewat internet.

Kami selama ini berkomunikasi lewat salah satu instant messenger di internet. Jadi ini sungguhlah pertemuan dengan kawan-kawan dari dunia maya.

Lalu ketika saya menilik lokasi kami masing-masing: saya dari Bandung, Novi dari Tangerang, Adjie dari Bekasi, Deni dari Jakarta sebelah Timur, dan Yuli dari Jakarta Utara, saya menemukan hal yang menarik. Kalau digambarkan, bisa didapat anak panah dan arah mata angin.

Saya dari Bandung ke Jakarta dapat dianggap sebagai anak panah. Lalu Yuli mewakili arah Utara, Adjie mewakili arah Selatan, Denny walau dari Jakarta Timur jika melihat dari relativitasnya (terhadap Novi yang di Tangerang) dapat dianggap mewakili arah Barat, dan Novi mewakili arah Timur.

Wow! Saya terpesona sekali melihat kenyataan ini. Saya sungguh sangat bahagia karena bisa bertemu teman-teman yang selama ini hanya saya kenal di dunia maya.

Saya terutama bersyukur karena teman-teman saya ini rela menempuh jarak yang begitu jauh hanya demi bertemu saya. Siapalah saya ini? Walaupun seorang teman saya yang lain dengan bercanda mengatakan:

“Wah mau ada acara jumpa fans dengan Ci Santi?”

Ketika maya menjadi nyata dengan panah dan arah mata angin berkumpul, itulah tanda kebesaran Tuhan. Sungguh saya bersyukur bisa mengalami hal yang luar biasa ini.

Doaku hari ini: terima kasih, Tuhan, buat kesempatan yang indah bersama teman-teman yang tadinya saya kenal di dunia maya. Terima kasih untuk persahabatan dan pertemuan ini. Terima kasih juga, Tuhan, untuk sharing yang kami lakukan. Semua ini sungguh sangat berharga bagiku.

Tuhan, berkatilah teman-temanku dengan lebih lagi. Pakai mereka dengan lebih lagi. Perbaharui mereka untuk bisa berkarya dengan lebih lagi untuk kemuliaan nama-Mu.

Sungguh di dalam Engkau tidak ada perkara yang mustahil. Ketika maya menjadi nyata dengan anak panah dan arah mata angin menjadi salah satu buktinya. Kami sungguh percaya di dalam Engkau kami bisa mengharapkan perkara-perkara besar, perkara-perkara ajaib, dan perkara-perkara yang mustahil itu akan terjadi!

Sungguh di dalam Engkau, kami menemukan hal-hal yang bahkan lebih besar dan lebih tinggi daripada yang dapat kami pikirkan sekalipun. Terima kasih, Yesus.

Amin.

Comments on: "Ketika Maya Menjadi Nyata: Panah dan Arah Mata Angin" (2)

  1. Denny Thomas said:

    Hai San, Denny dadi Jkt Timur, Yuli dari Jakarta Utara (Pluit)
    saya cuma ralat sedikit. Sy yakin kt (Novi,Adjie,Yuli,& sy) bersukacita semua krn Tuhan mempertemukan kt. It’s AMAZING for all of us, soal kuliner faktor pendukungnya, hi hi hi hi.
    Friends will be friends!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: