All for Glory of Jesus Christ

Membuka 2011

Membuka tahun 2011, saya ingin membukanya dengan melihat kembali (flash back) ke tahun-tahun yang ada di belakang. Kemarin atau dua hari lalu, seorang teman baik saya bertanya mengenai pernah atau belumnya saya menulis tentang tahun baru. Karena saya tidak ingat, hari ini tiba-tiba saya ingin menuliskan sesuatu tentang tahun baru.

Membuka 2011 saya akan mengingat kebaikan Tuhan mulai dari tahun 2009. Di tahun 2009, itu adalah tahun pertama saya merasa terdorong untuk menulis di blog. Awalnya dari note di facebook, lalu dalam perkembangan selanjutnya saya pindahkan ke blog.

Tahun 2009 adalah tahun yang luar biasa bagi saya. Pada tahun itu saya diajar Tuhan mengenai kedisiplinan. Tahun 2009 saya merasa bahwa saya harus menulis setiap harinya. Itu sebabnya terkadang sangat berat untuk bisa menulis setiap harinya, terutama saat kelelahan atau ketidakadaan inspirasi melanda. Tetapi saya di sana belajar banyak tentang kedisiplinan, artinya saya harus terus melakukan yang harus saya kerjakan walau kondisi diri terasa tidak memungkinkan.

Di tahun 2009 juga saya mendapat berkat Tuhan lewat kakak dan kakak ipar saya untuk bisa mengunjungi sejumlah negara di Eropa. Pengalaman itu sangat berkesan dan membuka wawasan saya akan dunia luar. Sungguh-sungguh itu adalah hal yang tak terlupakan. Bisa melihat tempat-tempat yang selama ini hanya saya lihat di surat kabar, majalah, televisi, atau internet.

Sungguh sesuatu hal yang tidak pernah saya bayangkan dan impikan kalau saya bisa mengunjungi sejumlah negara di Eropa. Saya sungguh bersyukur untuk kesempatan itu.

Tahun 2010 adalah tahun pemulihan ekonomi bagi saya. Setelah sekian tahun menunggu, akhirnya tahun 2010 saya bisa menjadi pengajar tetap di salah satu universitas swasta. Pada saat saya sudah menyerah dan tidak berharap lagi, ternyata Tuhan membukakan jalan yang tidak pernah saya duga.

Kalau tahun 2009 adalah tahun pengajaran mengenai kedisiplinan, tahun 2010 adalah tahun pengajaran mengenai iman, keberanian, kesabaran, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Di tahun 2010, saya sungguh-sungguh diajar untuk sepenuhnya beriman dan melangkah mengikuti kehendak Tuhan.

Di tahun 2009 Tuhan berkata kepada saya untuk mencari beasiswa ke Australia. Saya belum sempat menuliskan sampai selesai kisah saya berkaitan dengan hal itu. Pergumulan batin yang hebat terjadi sepanjang perjalanan itu, karena saya merasa Tuhan meminta saya menyerahkan impian saya menjadi seorang pengajar. Pada tahun yang sama juga, Ia memberitahukan kepada saya bahwa di masa depan saya tidak akan menjadi seorang pengajar.

Kalau Anda memiliki suatu impian lalu ternyata Anda harus melepaskan impian tersebut, apa yang Anda rasakan? Berat, takut, bimbang, itulah yang saya rasakan. Sekian bulan dari saya mendengar Tuhan meminta saya mencari beasiswa ke Australia, saya mendapat kabar bahwa proses seleksi saya untuk menjadi pengajar tetap di suatu universitas akan dimulai.

Seiring dengan itu, saya terus mendapatkan peneguhan dan penguatan untuk mencari beasiswa tersebut. Secara lengkap akan saya tuliskan di rangkaian artikel khusus mengenai hal tersebut yang baru saja saya tuliskan sampai nomor 3.

Pada saat saya mendapatkan hasil pengumumannya bahwa saya tidak mendapatkan beasiswa tersebut, perasaan saya campur aduk. Ada shock, ada bertanya-tanya, tapi juga lega. Shock karena saya yakin ini adalah kehendak Tuhan bagi saya untuk mencari beasiswa, tetapi ternyata saya tidak mendapatkannya. Bertanya-tanya alasan saya tidak mendapatkannya, setidaknya ada beberapa alasan yang saya temukan.

Entah karena saya menunda-nunda atau karena memang inilah proses pengujian dan pengajaran yang saya harus lalui. Setelah saya renungkan keseluruhan prosesnya, saya mendapat kesimpulan bahwa alasan kedua yang benar.

Setelah mengalami seluruh proses memasukkan aplikasi beasiswa tersebut, saya mengerti benar perasaan Abraham ketika harus mengorbankan anaknya yang tunggal. Saya mengerti benar perasaannya ketika harus memberikan kembali anak yang baru saja diperoleh karena Tuhan memintanya.

Perasaan sedih, bingung, dan bertanya-tanya, saya cukup yakin itulah yang juga dialami oleh Abraham. Tapi saya juga mengerti perasaan Abraham ketika ternyata Tuhan mengatakan tidak jadi meminta Ishak untuk dikorbankan, karena itulah juga yang terjadi pada saya.

Tuhan mengembalikan impian saya untuk menjadi pengajar. Ada rasa sedih karena tidak mendapatkan beasiswa tersebut, tapi juga lega karena bisa melanjutkan impian saya.

Selain itu juga saya jadi mengerti benar perasaan Bangsa Israel ketika diminta untuk meninggalkan Mesir untuk menuju Kanaan (Tanah Terjanji) dengan melewati padang gurun. Saya merasakan banyak sekali kesamaan proses yang saya alami dengan yang Bangsa Israel alami.

Saya mengalami rasa bimbang, rasa takut, dan rasa kuatir akan masa depan seperti yang dialami oleh Bangsa Israel. Saya diajar banyak mengenai kesabaran di dalam proses ini. Benar-benar pengalaman yang berat, namun sangat memperkaya saya.

2010 juga adalah tahun ketika Tuhan menuntun saya untuk pindah gereja. Gereja yang saya cintai harus saya tinggalkan karena Ia meminta saya. Berat sekali untuk meninggalkan gereja yang memang saya sangat cocok di dalamnya.

Saya masih terus berdoa betulkah saya harus tetap tinggal atau hanya untuk sementara, karena memang yang terpenting adalah kehendak Tuhan, bukan kehendak saya. Kalau memang Tuhan ingin saya seterusnya di sana, saya akan tetap tinggal. Tetapi kalau Tuhan menyuruh saya hanya untuk sementara, saya akan ikut.

Sungguh tidak mudah untuk sepenuhnya mengikuti kehendak Tuhan tetapi karena itu adalah janji saya, saya harus patuh pada kehendak-Nya. Saya masih terus berdoa untuk bertanya kehendak-Nya.

Tahun 2010 adalah tahun keberanian untuk melangkah bagi saya. Ketika Ia menggerakkan saya untuk ikut dalam kegiatan penggalangan dana bagi korban Merapi, ketika Ia menggerakan saya untuk mengunjungi kota lain, sungguh suatu pengalaman yang luar biasa bagi saya.

Tidak mudah untuk berjalan mengikuti tuntunan-Nya, tapi saat saya taat saya melihat ada begitu banyak hal yang indah yang Ia berikan. Penyertaan-Nya sungguh sangat sempurna.

Berkaitan dengan pekerjaan, berkat jasmani dan rohani telah saya bahas. Bagi Anda yang penasaran berkaitan dengan satu hal lagi, akan saya tulis juga hahaha. Ya, bagi Anda yang mengikuti blog saya dari awal sekali pasti tahu bahwa saya memulai menulis blog ini dengan niat hanya menulis seputar masalah hubungan dan asmara.

Kalau melihat hasil, tidak banyak berubah. Tahun 2009 saya jatuh cinta pada seseorang yang istimewa dan ternyata tidak mendapatkan dirinya. Tahun 2010 saya juga jatuh cinta pada seseorang lain yang juga istimewa dan tidak mendapatkannya juga hahahaa.

Cinta adalah salah satu aspek kehidupan yang sungguh sulit diprediksi. Kekecewaan jelas saya alami. Saya tidak masalah tidak mendapatkan orang yang saya sukai, tapi kalau saya diberi harapan itu membuat saya kecewa.

Setidaknya saya belajar dan sempat menikmati rasa senang karena mengalami lagi yang namanya jatuh cinta hahaha. Memang tidak dapat disangkal, rasa menyukai seseorang itu sangat menyenangkan. Hanya saja saya tidak yakin ingin mengalami lagi rasa itu dalam waktu dekat, setidaknya sebelum saya siap untuk menerima segala resikonya. Saya saat ini lebih menikmati rasa tenang dan damai karena tidak sedang menyukai siapapun.

Mengenai kekecewaan, di tahun 2010 saya banyak mendapatkannya dalam berbagai aspek. Banyak orang yang menilai saya begini dan begitu padahal tidak benar-benar mengerti alasan dan tindakan saya. Hal ini sangat mengecewakan. Seperti kata pendeta saya:

“Jika memang kata-kata itu tidak perlu diucapkan, lebih baik tidak diucapkan.”

Itu sungguh benar karena banyak sekali saya mendengar ucapan yang terlontar yang bukan berniat membangun tapi malah merusak. Kata-kata yang terlontar begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu dampaknya. Sungguh sangat disayangkan.

Sayang sekali banyak orang tidak menyadari dampak dari kata-kata yang diucapkannya. Banyak sekali orang yang tidak menyadari bahwa ada kuasa dalam perkataan, entah untuk membangun atau untuk menghancurkan.

Walaupun berbagai kekecewaan dan penghakiman sering mampir ke saya, saya berpikir bahwa memang hidup ini tidak ideal. Bahkan dari sekian banyak peristiwa tersebut, saya malah mendapatkan satu teori yang lebih kuat lagi bahwa orang yang memang terluka akan melukai orang lain.

Itu sebabnya walaupun sakit, saya percaya bahwa rantai luka-melukai ini harus diputuskan. Tahun 2010 yang lalu itu benar-benar tahun saat Tuhan sungguh banyak mengajar saya.

Di tahun 2010 juga saya oleh berkat Tuhan bisa bergabung dalam satu lembaga pelayanan Worldprayr. Di sana saya bertemu dengan teman-teman dari 5 benua di dunia. Saya menemukan keluarga kedua saya. Inilah salah satu berkat terbesar saya di tahun 2010 lalu.

Bukan sekedar pelayanan, tapi saya menemukan kasih, perhatian, dukungan, didikan, dan masukan dari begitu banyak orang di sana. Para pemimpin saya merupakan orang-orang yang sungguh membuat saya belajar sangat banyak.

Mereka rendah hati, penuh kasih, dan sungguh mau diajar. Mereka dengan senang hati menerima masukan, bahkan hal itu bukannya membuat mereka kesal justru hal itu mereka gunakan dengan baik untuk membangun organisasi dan diri mereka. Struktur organisasi yang ada bukanlah bersifat atas ke bawah karena bukan jabatan dan posisi yang terpenting, tetapi peran yang ada. Saya belajar banyak mengenai gaya kepemimpinan di sana, selain juga saya pelajari dari sejumlah buku yang saya baca.

2010 juga merupakan tahun yang luar biasa karena orang tua saya mulai bisa mengerti bahwa saya sudah saatnya untuk berkembang. Ayah saya terutama memberikan saya ruang untuk melakukan pelayanan dan untuk bepergian ke tempat lain. Saya sangat bersyukur karena Tuhan memberkati keluarga saya dengan berbagai hal.

Saya cukup yakin 2011 ini akan menjadi tahun penuh pengajaran juga bagi saya. Setidaknya saya sudah memperkirakan ada beberapa hal yang akan menjadi pokok ajaran Tuhan bagi saya. Pengajaran-Nya tidak selalu mudah dan menyenangkan, tapi pada akhirnya pengajaran-Nya itu sangat berguna bagi saya.

Saya yakin setiap Anda yang membaca artikel ini juga mengalami pengajaran dan didikan dari Tuhan. Teruslah belajar dan bertumbuh dalam Tuhan. Walaupun pengajaran dan didikan dari Tuhan itu tidak selalu mudah, teruslah belajar dan terimalah didikan-Nya. Pada akhirnya itulah yang akan membuat kita terus berjalan dengan kokoh dan tidak menjadi goyah menghadapi badai masalah apapun.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: