All for Glory of Jesus Christ

Kasih Agape

Hari ini di persekutuan pendeta saya menjelaskan berbagai hal dan salah satunya mengenai kasih Agape. Kasih Agape adalah kasih Tuhan, kasih yang tidak bersyarat. Saya saat ini sedang berdoa supaya saya bisa memiliki kasih Agape.

Kasih yang tulus, tanpa syarat, tidak menuntut, dan hanya ingin memberi. Hmmm… saya berdoa supaya saya bisa memiliki kasih semacam itu. Kasih Eros (kasih terhadap lawan jenis) hanya membuat pusing kepala karena penuh dengan tekanan kehendak. Kasih fileo (kasih persahabatan, atas dasar kecocokan) itu juga indah, tapi masih bersyarat. Kasih storge (kasih kekeluargaan) di atas fileo, walau relatif lebih baik tapi juga masih saja bersyarat. Kasih agape, benar-benar kasih yang sempurna.

Saat ini saya sungguh-sungguh berdoa supaya bisa berdoa untuk kebahagiaan seseorang yang saya kasihi. Ia baru saja memiliki kekasih. Saya berharap saya bisa mendoakannya secara tulus. Sangat tidak mudah untuk bisa melakukan hal itu, tapi saya sungguh berharap bisa melakukannya.

Mencintai berarti membuka diri untuk terluka. Mencintai berarti harus siap dengan resiko ditolak. Mencintai berarti menempatkan kepentingan orang yang dicintai di atas kepentingan diri sendiri. Mencintai berarti tanpa syarat.

Kalau harus melihat jauh ke dalam hati, saya jadi bertanya-tanya sungguhkah saya mencintai orang tersebut? Karena ketika mengetahui dirinya sudah memiliki kekasih, hati saya terasa sedih dan sakit. Seharusnya saya ikut senang karena ia menemukan orang yang dikasihinya.

Melupakan jelas tidak mungkin, saya tidak amnesia. Menghindari bertemu juga jelas tidak mungkin. Hal yang terbaik adalah meminta kasih Agape itu sungguh ada dalam diri saya. Jadi saya sungguh bisa menerima kebahagiaannya dengan senang hati. Tidak mudah, tapi saya percaya Tuhan itu adalah maestro untuk hal-hal yang tidak mudah.

Untuk terakhir kali saya ingin mengenang saat-saat memandangnya, saat-saat berdebar-debar mendengar suaranya, saat-saat berdebar-debar ketika akan melakukan sesuatu untuknya. Walaupun perasaan itu membuat saya bingung, saya bisa mengingat dengan jelas saya menikmati perasaan itu.

Saya masih ingat perasaan senang karena merasa cantik, walau sekarangpun saya tetap merasa cantik hahahaa. Cinta membuat saya bersinar.

Perasaan cinta memang tidak bisa dipaksakan. Sepuluh tahun lalu adalah saat perasaan itu pertama kali hadir. Ternyata setelah sepuluh tahun berlalu, dia memang tetap bukan untuk saya.

Kalau mau menyesal, ada beberapa hal yang saya sesalkan. Hanya saja penyesalan tidak mengubah fakta apapun. Jadi saya hanya akan berjalan maju dan meninggalkan kenangan itu di belakang.

Saya tidak mau mengganggu kebahagiaannya. Saya berharap dia bahagia, karena bagaimanapun memang ia orang yang istimewa, terlepas dari berbagai kelemahannya. Setidaknya, ia membuat saya mengingat dan merasakan kembali rasa jatuh cinta itu.

Saya menutup semua kenangan yang saya miliki tentang dirinya. Saya yakin akan bisa berjalan kembali dengan tegak dan tanpa penyesalan esok hari, karena saya tahu saya akan ikut berbahagia untuknya.

Jika Anda sedang mengalami hal yang sama dengan yang saya alami, saya berdoa Anda juga bisa memiliki kasih Agape, kasih tak bersyarat itu. Kasih yang ikut berbahagia untuk kebahagiaan orang lain. Kasih yang tulus.

Kasih Agape adalah seperti kasih Kristus yang mau memberikan nyawa-Nya bagi manusia yang berdosa yang dikasihi-Nya. Apakah itu mustahil untuk memiliki kasih Agape? Tidak! Sungguh tidak ada yang mustahil di dalam Tuhan.

Jika kita meminta sesuatu yang seturut dengan kehendak-Nya, semua hal itu sungguh mungkin adanya! Jika Anda meminta kasih Agape, saya yakin itu seturut kehendak-Nya dan pasti akan diberikan-Nya.

Biarlah kasih Agape itu menjadi kasih kita semua. Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Kasih tak bersyarat. Kasih Agape sebagai bentuk kasih Allah.

Untuk menutup artikel hari ini, saya mau mengutip firman Tuhan berkaitan dengan kasih Agape ini dari 1 Korintus 13:4-7:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”

“Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”

“Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.”

“Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”.

Semoga inilah kasih yang kita semua miliki, entah kepada lawan jenis, kepada sahabat, kepada keluarga, kepada orang lain, dan kepada Tuhan. Inilah kasih Agape, kasih yang sempurna itu.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: