All for Glory of Jesus Christ

Berenang bagi saya memang olahraga yang sangat mengasyikan. Selain bersifat menenangkan, berenang juga menggerakkan semua otot-otot yang ada di dalam tubuh. Sebenarnya alasan utama saya membuat salah satu pokok Resolusi 2011 saya berolahraga adalah berkaitan dengan penglihatan yang saya dapatkan di tahun 2009 lalu.

Penglihatan itu berkaitan dengan pelayanan saya di masa yang akan datang. Jadi di tahun 2009 itu saya sungguh menyangka tiba-tiba mendapat penglihatan berkaitan dengan salah satu pelayanan yang sesungguhnya bukan pelayanan yang saya harapkan. Hanya saja kalau memang itu yang Tuhan mau, saya harus mempersiapkannya dari sekarang.

Kembali ke berenang, saat berenang biasanya ada arus air yang timbul. Entah karena gerakan saya atau karena angin yang bertiup, hal yang pasti tidak ada karena gerakan orang lain hahaha. Ya, karena saya berenang pada saat belum ada orang lain yang berenang. Praktis kolam renang itu milik saya sendiri haahhaha, senangnya! Arus yang saya timbulkan sendiri itu biasanya membantu saya melaju lebih cepat. Kalau arus karena angin yang bertiup itu tergantung arah anginnya, pada saat searah itu membantu, tapi saat tidak searah akan menghambat.

Biasanya setelah berenang sekian lama, arus airnya mulai terasa. Setelah sekian lama berenang bolak-balik, saya akan mulai terasa lelah dan biasanya dengan adanya arus air yang ada, saya akan terbawa ke arah arus bergerak. Untuk itu, biasanya saya beristirahat dulu sekejap, mengambil nafas, baru kemudian mengayuh berenang lagi.

Arus air melambangkan arus kehidupan. Dalam kita mengayuh langkah kita di hidup ini, kita menimbulkan arus kehidupan. Arus itu dapat mempengaruhi, baik diri kita maupun orang lain di sekitar kita.

Arus yang tepat akan membantu kita cepat melaju mencapai tujuan kita dan juga membantu orang lain mencapai tujuan hidupnya. Itu sebabnya kita harus memastikan arus yang kita hasilkan itu adalah arus yang tepat.

Kemarin saya baru membaca satu buku yang ditulis oleh John Maxwell yang berjudul “Kepemimpinan 101”. Saya belum sempat membaca banyak buku tersebut, tapi di sana dituliskan bahwa kita semua mempunyai pengaruh kepada orang di sekeliling kita.

Jadi pertanyaannya bukan kita mempunyai pengaruh atau tidak, tapi seberapa besar lingkaran pengaruh kita dan apa pengaruh yang kita timbulkan? Menarik sekali buku tersebut, walau baru beberapa halaman yang saya baca tapi saya sudah bisa mengira-ngira hal yang akan saya pelajari di dalamnya.

Arus apa yang kita timbulkan? Arus positif atau arus negatif? Seorang pemimpin adalah orang yang memberikan pengaruh yang besar, orang yang diikuti oleh orang lain, entah untuk hal yang baik ataupun yang buruk. Jadi kepemimpinan bukan bicara masalah status, jawaban, dan wewenang, walaupun ketiga hal itu melengkapi seorang pemimpin.

Seorang pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab untuk perkembangan orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang benar adalah orang yang memberikan arus yang benar.

Seorang pemimpin yang hanya memikirkan diri sendiri tidak layak untuk disebut sebagai seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus menyebarkan arus kepemimpinannya untuk membangun orang-orang yang dipimpinnya.

Seperti Tuhan Yesus, figure seorang pemimpin yang sangat luar biasa. Ia memberikan dirinya untuk orang-orang yang dipimpinnya. Ia mengajarkan mereka dengan cara-cara yang luar biasa. Ia menyentuh dan mengubah hidup orang-orang yang tidak pernah diperhitungkan oleh masyarakat menjadi orang-orang yang mengubah dunia!

Inilah contoh sempurna seorang pemimpin dengan arus kepemimpinan yang dahsyat. Jika kita melihat contoh-contoh para pemimpin di seluruh dunia, kita bisa melihat berbagai contoh yang dapat kita pelajari. Seperti misalnya tahun lalu ketika ada bencana longsor di Brazil. Akibatnya sejumlah pekerja di pertambangan terjebak di dalamnya.

Presiden Brazil membatalkan rencangan kunjungannya ke luar negeri dan menunggu untuk melihat setiap pekerja pertambangan itu dapat dikeluarkan. Saya saat itu kebetulan melihat sendiri tayangannya ketika pekerja itu dapat dikeluarkan dari dalam tambang tersebut. Di tengah tepuk tangan banyak orang, para pekerja tambang yang berhasil dikeluarkan langsung menghampiri dan memeluk presiden ini erat-erat.

Sungguh gambaran seorang pemimpin yang luar biasa! Tindakan seorang pemimpin ‘berbicara’ luar biasa keras dibandingkan dengan kata-katanya. Itulah sebabnya kita semua sebagai seorang pemimpin harus memastikan tindakan kita selaras dengan kata-kata kita. Dengan demikian, arus kepemimpinan kita akan berpengaruh dengan lebih luas lagi.

Di samping arus yang kita timbulkan, ada arus yang lain. Ini adalah arus yang ditimbulkan oleh hal-hal yang di luar diri kita. Keberhasilan, dukungan, masukan, ajaran, dan didikan yang benar, semuanya itu dapat memberikan arus yang positif bagi kita. Semuanya itu akan dapat membantu kita melaju di dalam kehidupan ini dengan lebih cepat.

Hanya saja di samping arus positif, ada juga arus negatif. Kegagalan, kritik yang menjatuhkan, ajaran, dan didikan yang salah, semuanya jika disikapi dengan keliru dapat memberikan arus yang negatif bagi kita. Walaupun sebenarnya tidak selalu demikian, arus negatif juga bisa menjadi positif tergantung cara kita menghadapinya.

Biasanya saat kondisi hati kita baik-baik saja, arus yang negatif akan dapat kita hadapi dengan positif. Seperti saat saya sedang berenang, pada saat arus yang disebabkan oleh angin yang berlawanan dengan arah saya berenang itu terjadi saat saya baru saja akan berenang, hal itu tidak banyak mengganggu saya.

Permasalahannya, saat kondisi hati kita tidak dalam kondisi prima, arus yang negatif itu akan sangat merusak. Seperti saat saya sudah lelah berenang, ternyata arah arusnya melawan arah berenang saya. Saya dengan mudah bergerak ke arah arus tersebut.

Ya, itu yang umumnya terjadi dalam kehidupan. Kepahitan, kekecewaan, luka, sakit hati, semuanya bisa menjadi arus negatif dalam hidup. Dalam hidup ini, tidak ada seorangpun yang menjalaninya mulus tanpa pernah menjadi kecewa, luka, dan sakit. Hanya di surga nanti kita akan mengalami kehidupan yang sempurna.

Saya selalu teringat kata-kata kakak perempuan saya:

“Menjadi seorang dewasa berarti melakukan sesuatu yang kadang tidak sesuai dengan keinginan pribadi.”

Ya, menghadapi kecewa, luka, dan sakit, reaksi manusiawi kita adalah melukai lagi orang yang melukai kita atau melukai lagi orang lain yang tidak ada hubungannya dengan hal tersebut. Ini saatnya kita memutuskan arus luka-melukai ini.

Hanya Yesus, Sang Penyembuh Sejati yang dapat menyembuhkan semua sakit hati, luka, kekecewaan, dan kepahitan. Datang pada-Nya dan minta kesembuhan itu. Ia sungguh rindu untuk menyembuhkan kita semua.

Hati yang hancur dapat diubah-Nya menjadi baru. Semangat yang patah dapat dipulihkan-Nya menjadi baru. Karena kasih-Nya yang tak terkira, bahkan karena Ia adalah kasih itu sendiri, Ia sanggup untuk memberikan setiap kita kasih yang baru. Kasih yang akan membuat kita sanggup untuk terus mengayuh jalan hidup kita menghadapi setiap arus kehidupan yang ada.

Pertanyaannya adalah: maukah kita datang pada-Nya?

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: