All for Glory of Jesus Christ

Kematian atau Kehidupan

Beberapa waktu terakhir ini saya banyak mendapatkan berita berkabung. Salah seorang staf di tempat saya bekerja meninggal dunia. Juga saya mendengar kabar meninggalnya ayah seorang staf di tempat kerja saya. Belum lagi ketika saya mendengar kabar meninggalnya paman seorang mahasiswa. Hal ini juga ditambah dengan kabar meninggalnya seorang mahasiswi. Lebih lagi saya juga mendengar kabar meninggalnya calon anak (bayi) seorang teman saya saat masih di dalam kandungan.

Kematian, tampaknya beberapa waktu ini kematian begitu lekat pada orang-orang di sekitar saya. Kematian, tampaknya kematian begitu tidak pandang bulu. Mulai dari calon bayi sampai ke remaja, juga sampai ke orang tua. Kematian, dengan senang hati menjemput siapapun pada waktunya.

Seperti komentar seorang sahabat saya:

“Tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali mati.”

Kematian sungguh merupakan hal yang pasti. Tetapi saat melihat dari sudut pandang yang lain, kematian sesungguhnya bukanlah akhir. Kematian sesungguhnya merupakan awal.

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan link (tautan) gambar yang dilukis oleh pelukis Korea yang mengalami diangkat Tuhan ke Neraka. Gambaran itu cukup mengerikan. Sesungguhnya kematian yang sesungguhnya bukanlah di dunia. Kematian yang sesungguhnya adalah setelah kematian di dunia.

Kematian di dunia hanyalah proses transisi dari kehidupan fana ini menuju kehidupan kekal. Justru setelah kematian di dunia inilah proses transisi itu dimulai. Selain Alkitab, saya juga telah membaca sejumlah buku lain yang menggambarkan mengenai kematian. Dari sana kesimpulan yang diberikan adalah sama: ada kehidupan setelah kematian.

Jadi kematian di dunia bukan berarti akhir dari segalanya, tapi justru awal dari segalanya. Entah menuju kehidupan baru yang kekal atau justru ‘kematian’ kekal. ‘Kematian’ kekal karena memang tidak ada kehidupan di dalamnya. Mati bukan dalam arti tidak ada lagi kehidupan jasmani, tetapi mati dalam arti tersiksa.

Kematian bukan hanya terjadi pada saat nyawa sudah putus yang ditandai berhentinya detak jantung. Kematian bukan hanya terjadi setelah kematian pertama terjadi (ketika nyawa sudah putus). Kematian juga seringkali terjadi sebelum itu.

Betapa terdapatnya sejumlah (kalau tidak mau disebut banyak) orang yang berjalan dengan mata terbuka, jantung berdetak, tetapi tanpa tujuan, tanpa arah, tanpa pengharapan, tanpa masa depan, tanpa arti. Hidup secara jasmani tapi mati secara jiwani. Mati, hidup yang tidak bermakna. Mati.

Sebaliknya juga terdapat cukup banyak orang yang menjelang ajal, berada dalam kondisi yang mengenaskan karena terkena penyakit yang ganas, tetapi masih tetap hidup. Hidup karena penuh harapan, penuh semangat, penuh arti, penuh keyakinan akan adanya kehidupan baru setelah hidup di dunia. Hidup secara jasmani, walau pada akhirnya mati secara jasmani. Hidup, mati terhadap kefanaan. Hidup.

“Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yohanes 11:25-26)

Kehidupan hanya ada pada saat kita percaya kepada Yesus. Kehidupan di sini adalah dalam arti di dunia dan setelah di dunia. Ayat di Yohanes 11:25-26 menyatakan dengan sangat jelas hal itu.

Tidak pernah ada tokoh besar dalam sejarah yang berani menyatakan bahwa dirinya adalah “kebangkitan dan hidup”, hanya Yesus satu-satunya yang berani membuat klaim semacam itu. Mengapa demikian? Karena Ia adalah Allah sendiri, jelas wajar kalau Ia berani membuat klaim semacam itu.

Saat kita yang memegang hidup kita dalam kendali kita, berarti kita yang bertanggung jawab atas kehidupan kita. Tetapi saat kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan, sesungguhnya Tuhan yang akan bertanggung jawab untuk mengatur hidup kita supaya menjadi sungguh-sungguh hidup. Kehidupan yang sungguh-sungguh hidup adalah kehidupan dengan makna, tujuan, dan pengharapan yang jelas.

Kehidupan yang diserahkan ke dalam tangan Tuhan adalah kehidupan yang penuh gairah dan semangat. Menyerahkan hidup ke dalam tangan Tuhan bukan berarti pasif dan tanpa upaya, tanpa pemikiran, atau seperti seorang boneka. Bukan! Menyerahkan hidup ke dalam tangan Tuhan berarti membiarkan Tuhan yang menjadi perencana agung dalam hidup kita.

Kehidupan yang diserahkan ke dalam tangan Tuhan adalah kehidupan yang bersifat aktif, penuh daya upaya, penuh pemikiran dan perencanaan, tetapi menyerahkan Tuhan yang menjadi penentu dan pemberi arah dari hidup kita. Karena Ia yang Maha Tahu, bukankah itulah kehidupan yang aman?

Kehidupan yang diserahkan ke dalam tangan Tuhan bukan berarti kehidupan yang bebas dari persoalan. Bisa jadi bahkan kehidupan yang diserahkan ke dalam tangan Tuhan tersebut menjadi kehidupan yang penuh dengan persoalan. Tetapi kita bisa berpegang pada janji-Nya dan penyertaan-Nya yang sempurna saat kita total menyerahkan hidup kita kepada-Nya, Ia siap dan selalu ingin menolong, mengarahkan, mengajar, dan membawa kita masuk dari satu kemuliaan ke kemuliaan!

Tuhan Yesus sudah pernah masuk ke dalam kematian dan mengalahkan kematian tersebut, bangkit lagi untuk memerintah sampai selama-lamanya. Bukankah sangat aman kalau kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan yang Maha Kuasa itu?

Kehidupan dan kematian, bukan hanya bicara kurun waktu 50, 60, 70, 80, atau 100 tahun di dunia, tapi bicara kurun waktu tak terhingga. Pada akhirnya kita akan diperhadapkan pada dua pilihan: kematian atau kehidupan. Biarlah kita memilih dengan bijaksana. Pilihan kita menentukan mati atau hidup kita.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: