All for Glory of Jesus Christ

Perkembangan teknologi komunikasi sudah semakin pesat sekarang ini. Dahulu orang berkomunikasi jarak jauh hanya bisa menggunakan telegram dan surat. Berikutnya bisa lewat telepon. Sekarang sudah bisa lewat pesan singkat (SMS, MMS), surat elektronik (e-mail), bahkan berbagai pesan lewat sarana telekomunikasi lainnya. Dunia sudah semakin kecil saja.

Ada suatu jargon yang menarik:

“Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.”

Telekomunikasi ini memang membuat orang-orang dari seluruh dunia dapat bekomunikasi pada saat itu juga. Pesan yang disampaikan pada detik ini dapat sampai di belahan bumi lain pada detik yang sama. Mendekatkan yang jauh.

Sebaliknya saya pernah membaca suatu artikel bahwa suami istri sekarang jarang berkomunikasi secara langsung. Komunikasi lebih banyak melalui sarana telekomunikasi. Sedikit banyak hal itu berpengaruh kepada hubungan mereka. Menjauhkan yang dekat.

Menarik sekali penggunaan teknologi ini. Sebenarnya teknologi tidak pernah salah. Teknologi hanya alat bantu. Selanjutnya akan dimanfaatkan manusia untuk suatu kepentingan tertentu, itu tergantung dari manusianya. Jika akan digunakan untuk hal yang baik, menjadi baiklah teknologi itu. Jika akan digunakan untuk hal yang buruk, menjadi buruklah teknologi itu.

Kali ini saya ingin membahas mengenai penggunaan teknologi berkaitan dengan religiusitas, yaitu pesan berantai. Dari sekian tahun yang lalu, saat penggunaan telepon genggam belum populer, saya sudah menerima surat berantai.

Surat itu hasil fotocopy dan isinya berlembar-lembar. Apakah Anda ingin tahu isinya? Yah, isinya kutuk dan berkat. Kutuk kalau tidak mau menyebarkan surat itu, berkat kalau menyebarkan surat itu. Dikatakan harus mengirimkan ke sekian puluh orang.

Di sana juga untuk lebih menyakinkan, dituliskan begitu banyak orang yang katanya tidak mengirimkan surat tersebut dan mati mengenaskan. Sebaliknya juga dituliskan begitu banyak orang yang mendapat berkat karena mengirimkan surat itu.

Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun berselang sejak saya membaca surat itu. Buktiya saya masih hidup dan sehat-sehat saja. Puji Tuhan! Bukankah Tuhan jauh lebih berkuasa daripada surat, e-mail, SMS, MMS, dan pesan-pesan berantai lainnya?

Mempercayai bahwa menyebarkan pesan ini dan itu sebagai pemberi berkat dan kalau tidak menyebarkan pesan itu akan mendapatkan kutuk sebenarnya sudah menjadikan pesan tersebut sebagai berhala. Tuhan itu tidak sebegitu kecilnya sampai-sampai untuk memberikan berkat-Nya harus lewat penyebaran pesan-pesan religius ke sekian puluh orang. Tidak!

Zaman dahulu saat teknologi komunikasi belum semutakhir sekarang, apakah Tuhan tidak bisa memberkati umat-Nya? Buktinya Tuhan terus memberkati umat-Nya dari dahulu sampai sekarang!

Tuhan adalah Allah yang Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Kasih. Percaya dalam penyertaan tangan Tuhan dalam hidup kita, selalu melakukan yang terbaik, melakukan firman-Nya dengan setia, dan terus mengandalkan Tuhan dalam hidup kita, itulah yang akan mendatangkan berkat bagi kita.

”Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.” (Hosea 4:6)

Bukan karena mengirimkan pesan-pesan berantai berkat Tuhan turun, melainkan karena kita sungguh mengenal Dia, mencintai Dia, dan melakukan perintah-Nya dalam hidup kita dengan sungguh-sungguh, itulah kunci berkat. Bukan karena tidak mengirimkan pesan-pesan berantai kutuk itu ada dalam hidup kita, melainkan saat kita membuka celah kepada dosa.

Bahkan lebih dari berkat-Nya, sesungguhnya kita perlu mencari Tuhan lebih lagi daripada mencari berkat-Nya.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Saya sangat terkesan dengan salah satu ayat berikut ini:

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:7-8)

Biarlah ini menjadi perkataan dan doa kita juga, sehingga fokus kita bukan lagi pada berkat dan kutuk, tetapi pada Pribadi Kristus itu sendiri. Biarlah Roh Kudus yang selalu menjadi penuntun kita sehingga kita bisa terus berjalan dengan yakin dan tidak menjadi goyah.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: