All for Glory of Jesus Christ

Setelah selesai berenang, kegiatan berikutnya adalah mandi dan mencuci rambut. Nah inilah salah satu kegiatan menyenangkan lainnya bagi saya. Alasannya karena di tempat saya berenang itu tersedia shower (pancuran) air panas!

Jadi saya bisa menikmati mandi dan mencuci rambut berlama-lama di tengah siraman air panas. Nikmat sekali! Apalagi kalau saya berenang sore hari setelah lelah bekerja seharian, wah rasanya guyuran air panas tersebut seperti pijatan terhadap otot-otot yang kaku dan pegal.

Suatu hari seperti biasa setelah berenang saya mandi dan mencuci rambut seperti biasa. Ketika sedang menyabuni diri, tangan saya secara tidak sengaja menyenggol keran pengatur temperatur shower. Alhasil suhu airnya jadi sangat panas! Begitu panasnya sampai saya segera mengatur kembali keran tersebut sampai airnya tidak terlalu panas lagi.

Sekejap saya berpikir, kalau panasnya air shower saja sudah membuat saya tersentak dan segera mengatur kembali keran pengatur panas tersebut, bagaimana dengan panasnya api neraka?

Dalam kehidupan ini, hal yang pasti adalah ketidakpastian dunia. Berikutnya yang tidak pasti adalah kematian ragawi. Itu adalah sesuatu yang cepat atau lambat pasti akan dialami oleh setiap manusia.

Setelah kematian ragawi, kita akan menghadapi 2 jalan: kehidupan kekal atau kematian abadi. Kehidupan kekal adalah kehidupan di Surga, sementara kematian abadi adalah penderitaan abadi di neraka.

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan suatu link (tautan) dari seorang teman mengenai seorang pelukis dari Korea yang mengalami diangkat secara roh oleh Tuhan untuk melihat neraka. Di sana ia melihat penderitaan begitu banyak orang di neraka.

Saya juga telah menerjemahkan suatu buku yang ditulis oleh seorang misionaris (H.A. Baker) di Cina berkaitan dengan pengalaman anak-anak jalanan Cina yang mengalami penglihatan tentang surga dan neraka. Sayangnya saya belum memiliki cukup waktu untuk merapikan lagi naskah buku ini karena harus dibuat dalam format buku yang kecil.

Di Alkitab tertulis jelas mengenai penderitaan seorang kaya yang selama hidupnya itu sudah bersenang-senang dan ternyata karena ia tidak mengenal Tuhan, ia akhirnya berakhir di neraka dan menderita sengsara di sana (Lukas 16:23). Lebih lanjut lagi dituliskan bahwa orang kaya tersebut mengeluh karena “sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Lukas 16:24).

Jelas ada kehidupan setelah kematian. Bahkan secara lebih gamblang lagi, deskripsi Tuhan Yesus mengenai neraka dituliskan dalam Markus 9:43-44:

“ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)”

Untuk menegaskan, Tuhan Yesus bahkan mengucapkannya sampai 3 kali, yaitu selain di ayat 43-44 tersebut, juga diulang di ayat 45-46, dan 47-48. Mengerikan sekali deskripsi tentang neraka!

Saya membayangkan sedetik saja saya terkena panas air shower yang saya yakin tidak mencapai 100 derajat Celcius saja saya sudah tak tahan, apalagi membayangkan api di neraka yang tak pernah padam. Kekekalan artinya sampai tak hingga, tak terbilang, begitu lamanya sampai tidak ada bilangan yang cukup untuk mendeskripsikannya.

Apakah hidup kita akan kekal di surga ataukah kekal menderita di neraka? Itu ditentukan bukan oleh banyaknya perbuatan baik kita di dunia. Kalau itu ukurannya, Allah tidak perlu mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus datang ke dunia untuk menjadi sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa, menderita sengsara di atas kayu salib, wafat, dan akhirnya bangkit kembali mengalahkan kuasa maut!

Kekekalan kita ditentukan oleh sudahkah kita sungguh-sungguh sudah menerima Kristus dalam hidup kita? Sudahkah kita mengenal diri-Nya sungguh-sungguh?

Kalau benar kita sudah menerima Dia dengan sungguh, maka sudahkah perkataan, pikiran, kehendak, dan tindakan kita selaras dengan diri-Nya? Kita melakukan perbuatan baik bukan untuk diselamatkan. Kita melakukan perbuatan baik, karena itu sebagai bentuk representasi rasa terima kasih kita atas kebaikan dan pengorbanan Kristus bagi kita.

Tidak pernah akan cukup rasa syukur kita untuk membalas hal yang sudah dilakukan Tuhan bagi kita, tapi setidaknya sebagai orang yang tahu diri dan tahu membalas budi, sudah sangat layak dan sepantasnya bagi kita untuk terus hidup mengikuti kehendak dan perintah-Nya.

Jadi, jika hari ini Anda membaca artikel ini dan Anda tahu hidup Anda akan ada titik tidak bisa kembali lagi: antara surga dan neraka, apakah yang Anda pilih? Pilihan Anda hari ini menentukan kehidupan Anda di kekekalan nanti. Pilihlah dengan bijaksana.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: