All for Glory of Jesus Christ

Kisah Seorang Anak Kecil

Kemarin saya berjalan-jalan di suatu pusat perbelanjaan. Seperti biasa, saya berjalan-jalan sendirian. Bukannya saya tidak punya teman untuk menemani saya, tapi memang saya sangat menyukai melakukan aktivitas berjalan-jalan sendirian.

Alasannya ada dua. Pertama karena memang saya bersifat introvert yang memang membutuhkan cukup banyak waktu sendirian untuk mengisi ‘baterai’ energi saya. Beramai-ramai dengan banyak orang malah menghabiskan ‘baterai’ saya dengan cepat.

Kedua karena memang dengan berjalan-jalan sendirian, biasanya itu memberikan saya inspirasi-inspirasi baru untuk menulis. Sering kali saat berjalan-jalan, ada sesuatu yang saya lihat atau tiba-tiba muncul dalam pikiran saya yang kemudian menjadi bahan tulisan saya.

Kemarin juga begitu. Setelah saya selesai berjalan-jalan dan ingin pulang, di eskalator (tangga berjalan) saya melihat ada seorang bapak yang menuntun anaknya atau bisa jadi juga cucunya. Anggap saja anaknya. Bapak ini kelihatannya memiliki 2 orang anak. Anak pertama sudah lebih besar, yaitu mungkin sekitar 5 tahun, sementara anak kedua lebih kecil, yah saya kira baru 2-3 tahun.

Ketika di eskalator turun, anak yang besar turun dulu, diikuti dengan si bapak yang mengangkat si kecil lalu menaruh si kecil di eskalator. Bapak itu mendampingi si kecil dan ingin menggandeng tangan si kecil.

Hal yang menarik adalah ternyata si kecil tidak mau digandeng. Si kecil menolak digandeng. Sang bapak akhirnya membiarkan si kecil berdiri dengan memegang pegangan eskalator tetapi tetap mendampingi si kecil di sampingnya.

Ketika eskalator sudah mencapai dasar. Si bapak dengan sigap menggandeng si kecil dan si kecil pun tidak menolak untuk digandeng ayahnya.

Saya melihat kejadian itu dari atas mereka dengan seksama sambil tersenyum-senyum. Ketika eskalator sudah sampai di bawah, tiba-tiba dalam pikiran saya timbul pikiran begini:

“Tidakkah dalam hubungan kita dengan Bapa Surgawi, kita juga seringkali bertindak seperti si kecil kepada ayahnya?”

Bapak itu tidak menggandeng anak yang besar karena tahu bahwa si anak sudah mampu menjaga dirinya sendiri. Sementara anak yang kecil terus didampingi karena bapak itu tahu bahwa anak kecil itu masih membutuhkan penjagaannya.

Si anak kecil berpikir bahwa ia sanggup untuk berdiri sendiri di eskalator tanpa memegang sang ayah. Tidakkah kita juga terkadang demikian? Kita terkadang berpikir kita sanggup untuk berjalan sendiri dalam kehidupan ini tanpa berpegang pada Bapa Surgawi? Seperti si anak kecil yang memilih berpegang pada pegangan eskalator, terkadang kita juga lebih memilih untuk berpegang pada pengalaman, kemampuan, kekuatan, kecerdasan, dan fasilitas yang kita punyai untuk bisa tetap berdiri dalam kehidupan ini.

Sang ayah ingin menjaga anaknya, memastikan anaknya tidak terjatuh di eskalator. Sang ayah begitu mencintai anaknya sehingga walaupun anaknya menolak uluran tangannya yang ingin melindungi sang anak, sang ayah tetap berdiri di samping sang anak. Menunggu saat sang anak membutuhkan bantuan dan dengan sigap sang ayah membantu sang anak.

Begitu juga dengan Bapa Surgawi. Lebih dari ayah duniawi, Bapa Surgawi senantiasa menjaga kita. Ia begitu mencintai kita anak-anaknya, sampai-sampai Ia mengirimkan anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus, demi menebus dosa-dosa kita. Walaupun ada saat kita menolak uluran tangan-Nya yang ingin melindungi kita, Ia teetap berdiri di samping kita. Menunggu kita membutuhkan bantuan dan saat kita membutuhkan bantuan dan memintanya, Ia dengan sigap membantu kita.

Begitu besar kasih-Nya bagi kita, sebagai orang-orang yang tidak layak, kita dilayakkan. Begitu besar kasih-Nya bagi kita, sebagai orang-orang yang seharusnya binasa, kita malah beroleh hidup yang baru, pengharapan yang baru, tujuan hidup yang baru.

Apakah kita mau hidup mengikuti kehendak dan jalan kita sendiri? Apakah kita justru mau hidup mengikuti kehendak dan jalan Tuhan? Ia tidak akan pernah memaksa kita. Karena Tuhan berikan kita pilihan, biarlah kita memilih yang terbaik: hidup sendiri dengan kekuatan sendiri dan berjalan sendiri atau hidup bersama-Nya, memegang tangan-Nya yang kuat dan berjalan bersama-Nya.

Selamat memilih yang terbaik!

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: