All for Glory of Jesus Christ

Hancur untuk Utuh

Dalam perjalanan hidup saya, ada titik-titik waktu tertentu yang membuat saya benar-benar berpikir mengenai alasan saya harus mengalami suatu hal yang buruk. Dalam perjalanan hidup selanjutnya, saya juga banyak mengalami hal tersebut. Bisa dibilang kisah cinta saya memang tidak semulus jalan tol. Patah hati itu bukan barang baru bagi saya. Kecewa dan sakit hati juga bukan hal yang aneh bagi saya. Sedih apalagi, sudah hal yang saya kenal dengan baik.

Kadang saya berpikir:

“Kalau memang orang ini tidak untuk saya, mengapa saya harus bertemu dengannya? Mengapa hati saya harus hancur dulu?”

Kadang saya berharap tidak memiliki perasaan, sehingga tidak bisa merasa sakit, sedih, dan kecewa. Sayangnya Tuhan memberikan saya perasaan. Tiba-tiba saya teringat suatu waktu saya pernah berdoa seperti ini:

“Supaya segala hal yang terjadi dalam hidupku bisa memuliakan nama-Mu.”

Bersamaan dengan itu saya teringat 2 tahun lalu waktu saya mengatakan “Ya” untuk menyerahkan hidup bagi kehendak Tuhan. Ah, hidup saya ini bukan lagi milik saya. Saya sesungguhnya tidak boleh mengeluh kalau mengalami yang buruk.

Ketika saya menggali lebih dalam lagi mengenai alasan mengapa saya diizinkan Tuhan untuk memiliki perasaan cinta kepada seseorang, saya menemukan salah satunya adalah karena cinta adalah perasaan yang kuat.

“cinta kuat seperti maut.” (Kidung Agung 8:6b)

Demikianlah kata Salomo, seorang raja yang sangat berhikmat. Sebegitu berhikmatnya pun Raja Salomo, tetap saja tidak dapat mengalahkan cinta. Ah, cinta. Begitu kuatnya cinta itu, sampai-sampai orang tua rela untuk mengorbankan dirinya agar anak-anaknya dapat bersekola.

Begitu kuatnya cinta itu, sampai-sampai suami/istri rela untuk bekerja keras supaya keluarganya dapat hidup. Begitu kuatnya cinta, sampai begitu banyak karya seni dilahirkan dengan tema cinta. Begitu kuatnya cinta, sampai Allah sendiri menyatakan dirinya sebagai cinta (1 Yohanes 4:8).

Ya, karena cinta itu begitu kuat, begitu cinta ada dalam hati saya untuk seseorang, maka tidak heran kalau saya berharap orang itu disentuh hidupnya: menjadi lebih baik. Cinta ada sebagai representasi kasih Allah.

Sedikit banyak ketika saya merenung, saya jadi mengerti alasan saya jatuh cinta kepada seseorang. Cinta itu hadir sebagai bagian dari keputusan untuk mencintai. Ketertarikan memang sifatnya refleks, tapi mencintai adalah bagian dari keputusan juga.

Apakah Tuhan tidak bisa menghalangi keputusan saya untuk tidak jatuh cinta? Bisa! Ia Maha Kuasa dan sanggup melakukan apapun. Namun mengapa Ia tidak melakukannya? Karena ada satu hal yang baik di baliknya. Tidak mudah untuk mengerti hal itu, tapi memang saya yakin ada hal yang baik di baliknya.

Mengingat orang ini yang saya kenal pertama kali beberapa tahun lalu, saya jadi mengerti alasan Tuhan membuat saya mengenalnya. Tanpa mencintainya, saya yakin saya masih bisa tetap menyentuh hidupnya. Tapi dengan mencintainya, saya pikir saya telah menyentuh hidupnya dengan lebih berarti.

Walaupun dari pertama kali ia mengenal saya sampai sekarang ia tetap menganggap saya sebagai sahabat, setidaknya saya boleh cukup berbesar hati bahwa ia menganggap saya sebagai sahabatnya. Setidaknya saya tahu bahwa ia ada untuk mendukung dan menghibur saya di kala saya membutuhkannya.

Tidak bisa dipungkiri hati saya tetap sakit, terkadang marah juga kalau memikirkan:

”Mengapa Tuhan harus membiarkan saya mengalami hal ini?”

Ya, itu keputusan saya untuk mencintai. Tetapi, mengapa Tuhan tidak menghentikan hal itu? Ada hal yang baik di baliknya. Tuhan Yesus mengalami bahwa hati-Nya harus hancur: melihat pengkhianatan, kejahatan, kebencian yang terjadi. Segala dosa dunia ditimpakan kepada-Nya, hati-Nya harus hancur ketika Allah berpaling dari-Nya karena begitu banyaknya dosa yang ditimpakan kepada-Nya. Apakah mudah bagi-Nya? Tidak! Bahkan ia berkata “jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku“ (Lukas 22:42). Tetapi Ia rela hati-Nya dihancurkan, itu adalah suatu pertukaran agar hidup banyak orang diubahkan menjadi baru

Saya hanya berpikir, jika hati saya harus mengalami hancur demi bisa menyentuh hidup orang lain, apakah itu harga yang sepadan? Jika hati saya harus hancur supaya membuat hidup orang lain menjadi utuh, apakah itu harga yang sepadan?

Tidak mudah untuk menjawab hal itu. Tetapi ketika teringat bahwa saya telah mengucapkan janji saya untuk mengatakan “ya” dan membayar semua harga yang Ia minta, saya tidak bisa berkata lain. Saya hanya bisa berdoa supaya Ia memulihkan hati saya dan membuatnya menjadi baru kembali.

Seorang hamba tidak pernah bisa memilih hal yang harus ia terima. Seorang hamba hanya dapat melakukan hal yang tuannya inginkan. Saya hanya berdoa supaya saya bisa terus menjadi hamba yang baik untuk Tuhan.

Harga 1 jiwa begitu mahal. Begitu mahalnya sampai-sampai dalam perumpamaan domba yang hilang, sang gembala meninggalkan 99 domba dan mencari 1 domba yang hilang ini. Gembala sebagai gambaran dari Bapa dan 1 domba yang hilang sebagai gambaran dari jiwa yang terhilang.

Jika dibandingkan dengan yang Tuhan Yesus lakukan, harga hati saya sungguh sangat tidak berarti. Kalau Tuhan Yesus bahkan sampai mengorbankan nyawa-Nya, apalah arti hati saya. Terbukti dengan saya mengalami peristiwa yang buruk, saya bisa membagikannya pada Anda semua. Mudah-mudahan bagi Anda yang juga mengalaminya dapat mengalami penghiburan. Dengan demikian, hal yang saya alami sungguh mendatangkan kebaikan.

Jika ada dari Anda yang membaca artikel ini sedang mengalami hancur hati, datang pada Tuhan. Ia adalah Dokter di atas segala dokter. Ia mampu membuat hati Anda kembali baru. Panggil nama-Nya: Yesus. Ia ada di sini sekarang. Siap untuk menyembuhkan dan mengubahkan hati Anda menjadi baru.

Mencintai adalah bagian dari kehidupan. Bersyukurlah bisa mencintai karena itulah salah satu anugerah terbesar dalam hidup.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: