All for Glory of Jesus Christ

Setelah syarat tes kemampuan Bahasa Inggris terpenuhi, berikutnya syarat mencari surat rekomendasi. Ini juga membutuhkan banyak sekali kesabaran dalam mencarinya. Dalam prosesnya saya cukup frustasi untuk menunggu.

Selama menunggu, saya banyak mengalami kekuatiran dan kebingungan. Kebingungan itu terutama karena tak lama setelah saya mendengar suara bahwa saya harus mencari beasiswa sekarang, saya juga mendengar suara bahwa di masa depan saya tidak akan menjadi pengajar lagi, tetapi menjalani profesi yang lain. Sementara saya tidak usah sebutkan dulu.

Saya berpikir-pikir, kalau memang benar saya di masa depan tidak akan menjadi pengajar lagi, lantas untuk apa saya mencari beasiswa tersebut? Lebih dari itu, lalu untuk apa saya ditunjukkan dengan sangat jelas bahwa beasiswa yang harus saya cari itu adalah ke Australia, spesifiknya di Sydney?

Ada benerapa hal yang saya dapatkan pada beberapa waktu yang terpisah. Pada satu kesempatan tertentu, ketika saya sedang tidak berpikir sama sekali saya melihat diri saya di suatu gereja. Gereja itu adalah salah satu gereja di Sydney.

Di sana saya melihat bahwa saya sedang menyanyi dan memimpin pujian di gereja itu. Ketika saya menyadari bahwa itu adalah satu penglihatan karena saya memang tidak sedang memikirkan atau membayangkan apapun, saya berpikir benarkah penglihatan itu dari Tuhan?

Saya cukup yakin itu bukan pemikiran dan bayangan saya, karena memang saya tidak pernah menginginkan menjadi pemimpin pujian. Ya, dulu saya waktu di kelompok sel di gereja lama saya, saya sering menjadi pemimpin pujian. Hanya saja memang berbeda kalau menjadi pemimpin pujian di kelompok sel dengan di gereja.

Lebih-lebih lagi, saya lebih suka pelayanan yang memang tidak di mimbar. Itu sebabnya, saya cukup tercengang ketika menyadari bahwa saya mendapatkan penglihatan seperti itu.

Hal lain yang saya dapatkan adalah kalau saya mendapatkan beasiswa ini, saya mendapatkan kesan bahwa saya harus melepaskan pekerjaan yang saya sukai ini. Pergolakan batin yang besar saya alami ketika itu.

Mengapa demikian? Karena tanpa disangka-sangka, saat saya sudah tidak berharap lagi untuk bisa melanjutkan pekerjaan saya ini, saya malah mendapatkan panggilan untuk tes.

Saya jadi sangat mengerti perasaan Abraham ketika harus menyerahkan anaknya Ishak untuk dikorbankan karena Allah memintanya. Bayangkan sesuatu yang sudah begitu lama diinginkan dan akhirnya diperoleh, ternyata harus dikembalikan.

Itu pula yang saya alami. Tetapi saya teringat janji saya bahwa kalau memang Tuhan meminta saya melakukan sesuatu, saya akan menjawab “Ya” dan apapun harga yang Ia minta, saya berjanji akan membayarnya. Itu sebabnya saya tidak dapat berkata lain lagi.

Dalam proses berikutnya, banyak sekali saya mengalami kebingungan dan kebimbangan. Tetapi setiap kali saya bingung dan bimbang, saya selalu mendapat penguatan dari Tuhan.

Ketika saya bimbang lagi pada kesempatan lain, Tuhan mengingatkan saya mengenai:

“Kuatkan dan teguhkan hatimu.” (Yosua 1:6, 7, 9)

Beberapa kali saya mendapatkan hal yang sama, baik itu lewat kotbah di gereja, renungan yang saya baca, atau dari kotbah di radio. Berulang-ulang saya mendapatkan hal yang sama ketika saya sedang bimbang.

Itu sebabnya saya juga jadi mengerti perasaan Yosua ketika harus memimpin Bangsa Israel untuk dapat memasuki Kanaan. Perasaan takut dan bimbang yang dialaminya, saya dapat mengerti dengan sangat jelas.

Saya juga seringkali merasakan hal yang dialami oleh Musa yang rendah diri karena ketidakmampuannya dalam berbicara. Saya juga ketika mendengar pertama kali bahwa saya harus mencari beasiswa, reaksi saya yang pertama adalah kaget. Setelah itu, saya berpikir bagaimana dengan kemampuan berbicara dalam Bahasa Inggris saya?

Namun Tuhan ingatkan saya dengan tulisan saya sendiri mengenai Musa, sungguh benar-benar tidak pernah ada kebetulan di dalam Tuhan. Ketika saya berpikir tentang ketidakmampuan saya, Tuhan ingatkan tentang kemampuannya. Ketika saya berpikir tentang keterbatasan saya, Tuhan ingatkan tentang penyertaan dan kuasa-Nya yang tidak terbatas. Puji Tuhan!

Pengalaman ini sungguh pengalaman yang berharga karena membuat saya dapat mengerti dengan jelas bukan hanya sebatas wawasan Alkitabiah mengenai hal yang terjadi pada Abraham, Yosua, dan Musa, tetapi juga terhadap pergumulan batin dan perasaan mereka dalam menghadapi persoalan mereka saat itu.

(Bersambung ke Bagian-6)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: