All for Glory of Jesus Christ

Kekuatan Sugesti

Ada 2 peristiwa yang melatarbelakangi saya menulis artikel ini. Peristiwa pertama terjadi beberapa minggu lalu. Saat itu saya mendapati adanya sekumpulan semut yang dengan gembira (asumsi saya tentunya) berjalan-jalan di atas meja kerja saya. Hal itu membuat saya sangat bingung karena saya tidak menyimpang makanan di sana. Lebih lagi, saya sudah memeriksa di sekelilingnya dan tidak ada remah-remah makanan di sana.

Ketika saya menuliskan hal tersebut di salah satu situs jejaring sosial yang saya ikuti, ada beberapa orang teman yang berkomentar dengan nada bercanda. Satu komentar teman saya membuat saya agak cemas karena dia berkomentar bahwa jangan-jangan saya ada masalah dengan kadar gula saya.

Hal ini sedikit banyak membuat saya kuatir. Mengapa? Karena setelah saya perhatikan lagi dengan lebih seksama, gerombolan semut yang riang gembira itu ternyata berkumpul mengelilingi gelas saya. Hal yang membuat saya lebih tercengang lagi, mereka ternyata menuju ujung gelas tersebut. Ujung gelas merupakan tempat saya meminum air yang ada di dalamnya.

Saat itu air yang ada di dalamnya adalah air mineral biasa tanpa saya berikan apa-apa di dalamnya. Saya jadi berpikir-pikir dan cemas, mengingat komentar teman saya tersebut. Ketika pulang, saya lalu berpikir-pikir untuk menguji mengenai kebenaran hal tersebut.

Lewat satu eksperimen yang saya lakukan, terbukti ternyata saya tidak memiliki kadar gula yang tinggi dalam darah. Hal yang lebih melegakan lagi adalah beberapa hari kemudian ketika saya perhatikan, semut-semut tersebut sudah tidak terlalu banyak lagi berkerumun di meja saya, spesifiknya di gelas saya.

Peristiwa kedua terjadi baru-baru ini. Seorang teman memberikan informasi bahwa saat ini sedang terjadi radiasi sinar matahari dalam skala yang besar. Dengan demikian dihimbau untuk tidak keluar rumah dan berada dalam paparan sinar matahari secara langsung.

Itu sebabnya ketika saya berada di luar rumah dan sinar mataharinya terasa terik, saya segera membuka payung dan memakainya. Waktu-waktu yang lalu saya juga seringkali mendapati matahari begitu teriknya, tetapi saya tidak membuka payung saya.

Maklum saya termasuk tipe wanita yang tidak terlalu memusingkan masalah warna kulit saya. Mungkin ini termasuk kelemahan saya juga, tapi saya pikir masalah di dunia ini sudah terlalu banyak kalau mau ditambah lagi dengan urusan warna kulit.

Saya berpikir kecantikan fisik itu bukan ditentukan oleh masalah warna kulit, tetapi merupakan harmonisasi antara tubuh, jiwa, dan roh. Seorang teman baru saya mengatakan sesuatu pada saya yang menguatkan hal itu. Bahwa pada dasarnya kecantikan itu bukan dari masalah kurus atau gemuk seorang wanita, tapi dari proporsionalitasnya.

Toh foto model tidak harus selalu berkulit putih. Foto model kelas dunia pun banyak sekali yang berkulit hitam. Itu sebabnya saya santai saja dengan sinar matahari terik itu. Itu terjadi karena saya juga mendapatkan informasi bahwa warna kulit gelap itu relatif lebih aman terhadap paparan sinar matahari dibandingkan warna kulit terang karena pigmen yang dimilikinya lebih banyak.

Tetapi informasi yang saya dapat bahwa bukan panas matahari yang akan menyengat, tetapi radiasi dalam skala besar membuat saya jadi berjaga-jaga dengan memakai payung saya. Untunglah saya selalu membawa payung kemanapun saya pergi. Jadi hujan atau panas tidak masalah bagi saya.

Dari kedua peristiwa tersebut, pengaruh informasi itu sangat penting karena akan memberikan kekuatan sugesti pada seseorang. Seseorang yang mendapatkan informasi tertentu dan percaya akan hal itu biasanya akan bertindak sesuai dengan sugesti yang diterimanya.

Setiap hari begitu banyak sugesti yang kita terima, entah itu sugesti positif atau negatif. Kalau kita mendapatkan begitu banyak sugesti yang positif dan hal itu kita proyeksikan dengan positif juga, maka hidup kita juga akan menjadi positif. Sebaliknya jika sugesti yang kita terima itu kebanyakan adalah sugesti negatif dan kita proyeksikan juga dengan negatif, maka idup kita juga akan menjadi negatif.

Ada satu klien (sebut saja demikian) saya yang memiliki kecenderungan untuk menyerap sugesti negatif. Pola pikirnya begitu negatif sehingga hal positif pun yang dia terima selalu dia proyeksikan secara negatif. Alhasil, berkat yang ia peroleh pun tidak dapat ia syukuri. Sungguh sangat disayangkan.

Lebih menarik lagi adalah klien ini menolak segala macam bentuk sugesti positif dalam bentuk firman Tuhan. Jadi kalau dia sudah mulai dengan segala proyeksi negatifnya, saya akan meninggalkannya dan membiarkan dia tersadar dengan sendirinya.

Kejamkah saya? Mungkin bisa jadi demikian. Tapi dari hasil sekian banyak hal yang saya sudah alami dengan berbagai macam orang dengan kecenderungan yang sama (kecenderungan menangkap dan memproyeksikan sugesti negatif dengan sangat kuat- sebut saja negatif-negatif), kalau saya terus memberikan sugesti positif, maka yang bersangkutan secara otomatis akan menolak hal itu.

Biasanya kalau itu terjadi, di waktu lalu saya akan berkeras untuk terus memberikan sugesti positif dan frustasi. Tapi setelah melihat sekian banyak pola yang sama, saya hanya akan mundur dan memberikan sugesti positif pada waktu yang lain saat yang bersangkutan dalam kondisi mental yang lebih dapat menerima hal itu.

Kelihatannya saat seseorang memiliki kecenderungan negatif-negatif, ia membuat semacam blok mental yang akan menahan segala jenis masukan dan sugesti positif apapun. Semakin kuat blok mentalnya, semakin sulit untuk menasihati yang bersangkutan.

Itu sebabnya saya bersyukur dalam perjalanan saya menghadapi berbagai macam orang di dunia maya, saya bisa mempelajari berbagai hal ini. Dengan demikian, saya tidak perlu frustasi untuk berkeras memberikan sugesti positif kepada yang bersangkutan dan menghemat waktu dan tenaga saya untuk orang lain yang lebih bisa menerima dan menyerap sugesti positif yang saya berikan.

Memang kalau pasien konseling akut yang saya tangani itu kecenderungannya biasanya adalah negatif-negatif (menerima sugesti positif, memproyeksikan secara negatif pula). Kalau yang negatif-positif (menerima sugesti negatif, memproyeksikan secara positif) itu ada juga, tapi relatif sangat mudah ditangani dan saat yang bersangkutan mau membuka diri untuk menerima sugesti positif, biasanya proyeksinya juga positif.

Bagi yang memiliki tipe negatif-positif (menerima sugesti negatif, memproyeksikan secara positif) atau positif-positif (menerima sugesti positif, memproyeksikan secara positif pula), biasanya tidak menjadi pasien konseling saya. Ya, biasanya yang bersangkutan sudah dapat memikirkan, menganalisis, dan memecahkan sendiri masalahnya.

Sangat penting bagi kita untuk senantiasa berhati-hati dengan informasi yang kita terima. Itu sebabnya sangat penting untuk perenungan pribadi setiap harinya dengan firman Tuhan sebelum memulai segala aktivitas di hari itu. Perenungan firman Tuhan setiap harinya itu akan membentengi kita terhadap segala macam pengaruh sugesti negatif yang terdapat di sekitar kita.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:1-2)

Nasihat orang fasik dan perkataan pencemooh adalah bentuk sugesti negatif yang bisa jadi hadir begitu saja dalam kehidupan kita. Kalau kita tidak membentengi diri dengan firman Tuhan, bisa jadi sugesti negatif itu masuk dan terproyeksikan secara negatif juga dalam diri kita. Akibatnya kita melakukan hal yang negatif dan hidup kita menjadi negatif pula.

Oleh karena itu dikatakan di Mazmur 1 tersebut berbahagia orang yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam. Mengapa demikian? Karena memang hal itu akan memasukkan dan memproyeksikan sugesti positif dan membuat hidup kita menjadi positif. Perenungan dan penerimaan firman Tuhan juga akan membuat kita sanggup untuk mengatasi sugesti negatif yang muncul di sekeliling kita dan memproyeksikannya secara positif.

Menghadapi begitu banyaknya sugesti di sekitar kita, tinggal terserah kita untuk menanganinya dan memproyeksikannya dalam hidup kita. Apakah kita akan menjadi tipe orang yang negatif-negatif atau lebih mengerikan lagi positif-negatif? Apakah kita justru akan menjadi tipe orang yang positif-positif atau bahkan negatif-positif? Selamat memilih.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: