All for Glory of Jesus Christ

Saat Teduh (Quiet Time)

Berikut ini akan saya tampilkan cuplikan pembicaraan saya dengan seseorang yang saya kenal. Supaya singkat untuk pembicaraan yang dilakukan oleh kenalan saya akan saya tulis sebagai K sementara pembicaraan yang dilakukan oleh saya akan saya tulis sebagai S.

K: Ada suatu pola yang menarik yang gua temui sama orang-orang yang suka curhat sama gua.
S: Apa tuh?
K: Hal yang menariknya tuh pas mereka curhat, ujung-ujungnya kalau gua bilang, “Gimana dengan saat teduh, rajin ga?” Mesti mereka bilang, “Iya sih, suka bolong-bolong” atau “Iya, udah lama engga.”
S: Ooo gitu ya.
K: Iya, dan menariknya lagi waktu gua tanya lagi, ternyata mereka juga sebenernya ngerti kalau saat teduh itu penting tapi ga dilakuin.

Oh ya, siapa tahu ada yang belum familiar dengan istilah saat teduh (quiet time). Quite time adalah waktu khusus yang memang sengaja kita kosongkan untuk benar-benar digunakan untuk berdoa, untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan untuk pada akhirnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi pada quiet time ini, kita benar-benar memfokuskan diri untuk berkomunikasi dengan Tuhan lewat doa dan firman-Nya.

Quite time ini ada baiknya dilakukan pada waktu yang sama setiap hari. Mengapa? Karena hal yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi suatu kebiasaan dan kebiasaan itu yang akan membentuk karakter kita. Secara tidak langsung, dengan melakukan saat teduh ini kita hendak mengungkapkan bahwa berkomunikasi dengan Tuhan, membaca, mendengarkan, merenungkan, dan menyimpan Firman-Nya dalam hati, untuk pada akhirnya melakukan firman-Nya merupakan suatu yang menjadi prioritas hidup kita setiap hari.

Dari sepenggal pembicaraan itu, saya berpikir alasannya quiet time ini menjadi sesuatu yang kelihatannya menjadi alat P3K (pertolongan pertama pada kehidupan) terakhir. Aktivitas yang semakin sibuk, pergerakan dunia yang semakin cepat, dan terutama memang saat itu kehidupan yang bersangkutan baik-baik saja sebelumnya; bisa jadi menjadi salah satu alasan quiet time bukan menjadi prioritas utama dalam hidup, bahkan tidak menjadi prioritas sama sekali.

Tidak bisa disangkal, aktivitas kita semua semakin sibuk setiap harinya. Pergerakan dunia juga semakin cepat setiap harinya karena bantuan dari teknologi dan juga pengaruh tuntutan jaman. Kalau kehidupan saat itu baik-baik saja, bukankah hal itu baik adanya?

Kalau begitu, bukankah sah-sah saja untuk tidak memprioritaskan quiet time setiap harinya? Bukankah alasan yang menjadi biang kerok untuk tidak melakukan quiet time itu alasan yang masuk diakal? Jawabannya: tidak juga.

Ada tertulis demikian:

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yoh 14:15)

Tuhan Yesus sendiri mengatakan demikian. Jika kita mengasihi Dia, maka kita akan menuruti segala perintah-Nya. Apa saja perintah-Nya? Semua perintah-Nya dapat kita lihat dalam Alkitab. Untuk merangkum perintah-perintah-Nya, dapat disimpulkan dalam 2 hal:

  1. “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu“ (Matius 22:37)
  2. “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. (Matius 22:39)

Kalau kita mengasihi Tuhan, kita akan melakukan perintah-Nya.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Nah ini juga merupakan perintah Tuhan. Bagaimana kita bisa mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya? Dengan melakukan saat teduh: berdoa, membaca, merenungkan, menyimpannya dalam hati, dan akhirnya melakukannya.

Ibarat perang, kalau kita tidak membentengi diri kita dengan Firman Tuhan, saat ada masalah maka kita sulit bertahan. Dengan adanya Firman Tuhan dalam hidup kita, masalah akan tetap datang tapi kita akan dapat bertahan.

Bukan saja untuk mengatasi masalah, tapi quiet time juga untuk mendapatkan kepenuhan dalam hidup. Saat kita bersekutu dengan Tuhan, mencari wajah-Nya, berbicara dan mendengarkan-Nya, itulah saat kita menjalin hubungan dengan Tuhan. Pada saat kita bisa hidup dekat dengan-Nya, itulah inti dari kehidupan ini. Mengapa demikian? Karena memang kita diciptakan untuk bersekutu dengan Tuhan.

Jadi, apakah Tuhan menempati suatu posisi yang penting di hati kita? Jawabannya mudah: apakah kita mau memberikan hal yang kita miliki untuk dia, termasuk salah satunya waktu kita untuk bersaat teduh?

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: