All for Glory of Jesus Christ

Cerita Foto Jam Dinding

Suatu kali saya melihat foto profile picture teman saya. Fotonya itu menggambarkan teman saya dengan latar belakang ada foto jam dinding di sebuah toko. Fotonya biasa saja dan tidak menarik perhatian. Hal yang menarik perhatian adalah status teman saya itu.

Tulisan statusnya kurang lebih adalah:

“Berapa harga jam ini? Bagi yang berhasil menebak dalam 1 kali tebakan dikasih hadiah.”

Saya pun berpikir-pikir. Biasanya kalau ada yang menanyakan harga suatu barang untuk ditebak, mestinya harga barang tersebut tidak terlalu mahal. Jadi saya pun menebak harganya.

Ternyata setelah beberapa kali menebak pun, saya tidak berhasil menebak harganya dengan benar. Saya menanyakan kepada teman saya mengenai sudah ada atau tidaknya orang yang berhasil menebak harga jam tersebut. Ternyata jawabannya tidak ada.

Lalu karena penasaran, saya pun bertanya mengenai harga jam tersebut. Jawabannya sungguh mencengangkan saya. Harga jam tersebut adalah 5 juta rupiah. Saya sungguh tidak mengira sama sekali!

Mengapa saya tidak mengiranya sama sekali? Jam tersebut terlihat sangat biasa. Betul-betul tidak terlihat keistimewaannya sama sekali untuk bisa dihargai begitu mahal. Lalu saya juga bertanya mengenai keistimewaan jam tersebut sehingga bisa berharga begitu mahal.

Ternyata jam tersebut adalah jam raksasa. Jadi harganya mahal. Ternyata pengaruh foto membuat jam tersebut tidak terlihat besar. Ukurannya terlihat sama saja dengan jam pada umumnya.

Setelah itu saya pun merenung. Seringkali kita seperti jam tersebut. Setiap kita bernilai begitu mahal, sangat berharga. Hanya saja, sayangnya ada kalanya kita tidak bisa melihat nilai diri kita yang begitu mahal tersebut.

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Petrus 1:18-19)

Begitu berharganya diri kita, sampai-sampai kita ditebus dengan darah Kristus, sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan apapun juga karena begitu berharganya. Karena Tuhan begitu mengasihi kita, Ia menilai diri kita begitu berharga.

Apakah kita juga menilai diri kita sama berharganya seperti Tuhan menilai diri kita? Ini saatnya bagi kita untuk bisa menghargai diri sendiri sama seperti Tuhan telah menghargai diri kita. Bagaimana caranya? Dengan sungguh-sungguh mengenal diri kita sendiri: kelebihan dan kelemahan kita. Karena tanpa sungguh-sungguh mengenal diri sendiri, sulit bagi kita bisa menghargai hal yang kita miliki, diri kita sendiri.

Bagaimana untuk bisa mengenal kelebihan dan kelemahan kita? Ada banyak cara, namun ada satu cara yang paling mendasar. Saat kita sungguh-sungguh hidup dekat Tuhan, hal itu akan membuat kita semakin mengenal diri kita sendiri.

Bagaimana untuk bisa hidup dekat dengan Tuhan? Dengan rutin bersaat teduh (quiet time) setiap hari: membaca, merenungkan, mengingat-ingat, menanamkan dalam hati Firman Tuhan, dan pada akhirnya menerapkan Firman tersebut.

Tidak pernah ada cara yang mudah dan instan untuk mendapatkannya selain dengan cara tersebut. Jika kita menginginkan sesuatu yang berharga, maka harus ada harga yang harus kita bayar. Kalau kita ingin menghargai diri sendiri, mulailah dari quiet time.

Maukah kita menghargai diri sendiri yang bahkan lebih berharga dari jam dinding yang berharga mahal? Jawabannya akan kita dapatkan jika kita mau meluangkan waktu untuk bersaat teduh setiap hari.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: